gkp.lagu-gereja.com

Renungan GKP 2022
Minggu, 28 AGUSTUS 2022
Renungan GKP Minggu, 28 AGUSTUS 2022 - Terlalu Sibuk untuk Tuhan? - Yeremia 2:1-13 - MINGGU XII SESUDAH PENTAKOSTA
#tag:

MINGGU XII SESUDAH PENTAKOSTA
Minggu, 28 AGUSTUS 2022
Pembacaan Alkitab Yeremia 2:1-13
Nas Pembimbing Efesus 1:4
Mazmur 112
Pokok Pikiran Jangan lupakan siapa kita di hadapan Tuhan!
Nyanyian Tema Disiapkan Penulis
Pokok Doa 1. Para pendeta pelayanan khusus dan pelayanan umum GKP
2. Para Vikaris dan lulusan teologi GKP yang sedang menjalan masa orientasi di jemaat
Warna Liturgis Hijau

Terlalu Sibuk untuk Tuhan?

PENDAHULUAN
Hari-hari kehidupan kita sering penuh dengan berbagai aktivitas yang menyita waktu. Tugas dan pekerjaan di tempat pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Tugas sekolah dan kuliah yang harus segera dikumpulkan. Pekerjaan dalam rumah tangga yang sepertinya tidak ada kata selesai. Hobi yang menyita waktu. Aktivitas di sosial media yang tidak kunjung ada jeda, seperti berselancar di internet dan update status di akun-akun sosial media yang dimiliki, atau getolnya berbagi informasi ke rekan satu grup tanpa kenal waktu.

Rapat, pertemuan, seminar, sarasehan, diskusi terarah dalam grup, pelatihan, ikut Webinar dan Zoominar tanpa kenal lelah. Semuanya ini sering membuat kita “kehabisan” waktu, dan kadang membuat ada pihak lain yang dianaktirikan dan terbengkalai. Entah itu keluarga, diri sendiri, kesehatan, kesempatan untuk beristirahat dan bersenang-senang, dan bahkan Tuhan dan momen membangun relasi dengan Tuhan.

Pertanyaannya adalah akankah kita selalu terlalu sibuk untuk justru hal-hal yang lebih prinsip ketimbang apa yang sekarang ini menyita waktu kita?

PENJELASAN BAHAN
Ada catatan penafsiran yang mengangkat adanya perubahan tema di dalam Kitab Yeremia. Awalnya adalah ratapan, lalu bergeser pada tema “tuduhan”. Awalnya adalah ratapan atas kehancuran Yehuda dan Yerusalem yang terjadi pada tahun 587-586 SM, lalu bergeser ke tema tuduhan. Tuduhan yang dimaksud di sini adalah tuduhan atas kesalahan yang telah dilakukan, sehingga menyebabkan kehancuran Yehuda dan Yerusalem.

Dalam Kitab Yeremia ini, tuduhan itu muncul dalam gambaran tentang Yerusalem yang melacurkan diri, tentang Yerusalem yang memiliki banyak kekasih yang belakangan berbalik justru menyerang dan menghancurkannya, dan tuduhan atas Yerusalem yang sudah melakukan perzinaan. Gambaran ini rupanya merujuk pada apa yang terjadi sebelum kehancuran Yehuda dan Yerusalem itu sendiri, yaitu pada adanya persekutuan-persekutuan

dengan bangsa-bangsa yang tidak percaya kepada Allah. Gambaran ini merujuk antara lain pada adanya persekutuan Yehuda yang berkompromi dengan negara adidaya pada saat itu, Babel dan Mesir. Tuduhan ini menyimpulkan betapa Yehuda tidak lagi percaya kepada YHWH (Yahwe), tetapi justru melacurkan diri dengan bangsa-bangsa asing. Tuduhan melacurkan diri karena Yehuda lebih mempercayakan keselamatannya pada adanya kompromi dan persekutuan dengan bangsa-bangsa asing, ketimbang pada Tuhan Allah.

Hal ini terungkap dengan jelas dalam ayat 13. Firman Tuhan mengatakan, “... mereka
meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri...”
Bahkan sebelumnya, tuduhan itu muncul dalam bentuk tuduhan yang mempertanyakan apa
yang telah Yehuda lakukan, “... pernahkah suatu bangsa menukar allahnya meskipun itu
sebenarnya bukan allah?” (ayat. 11). Ya, Yahwe disingkirkan dan dilupakan dengan sengaja
oleh bangsa Yehuda di dalam kehidupan mereka yang justru adalah umat Allah dan Allah
menjadi Allah bagi bangsa itu. Buah dari tindakan ini jelas, kehancuran Yehuda dan
Yerusalem.

POKOK PIKIRAN
1. Kadang memang tidak bisa dihindari akan adanya berbagai tugas, tanggung jawab,
dan pekerjaan yang harus dikerjakan, diselesaikan dan menjadi tanggung jawab kita.
Di satu sisi, hal ini berarti ada kepercayaan yang diberikan oleh pihak lain kepada
kita dan kepercayaan itu bisa jadi diberikan karena adanya kapasitas dan
kompetensi pada diri kita yang dihargai oleh orang lain. Di sisi lain, semuanya ini
kiranya tidak membuat kita melupakan hal-hal lain yang justru tidak kalah penting,
yaitu diri kita sendiri, keluarga dan terutama Tuhan.

2. Perlunya keseimbangan antara berbagai kesibukan sehari-hari dengan memberikan
kesempatan kepada diri kita sendiri untuk menikmati saat-saat berharga dengan
keluarga, dengan diri sendiri (kesehatan dan sebagainya), dan tentu saja saat-saat
paling berharga untuk bisa berkomunikasi dengan Tuhan. Meskipun ada berbagai
kesibukan, kita perlu menyediakan waktu untuk dapat membangun relasi yang intim
dengan Tuhan. Kita pun, meski berada di tengah-tengah berbagai kesibukan
tersebut, harus tetap ingat Tuhan yang ada Sumber Kehidupan bagi kita semua.
Harusnya tidak ada kata “terlalu sibuk” dan “tidak sempat” untuk terhubung
dengan Tuhan. Kita tidak boleh menempatkan Tuhan di samping. Tuhan harus selalu
menjadi fokus dan pusat dari segala sesuatu yang kita lakukan.

3. Tindakan “tidak melupakan Tuhan” dapat diwujudkan dalam melibatkan Tuhan
dalam setiap perencanaan (lihat Yakobus 4:13-16), terus bersandar pada kekuatan
Tuhan dan bukan kekuatan sendiri dalam melakukan segala sesuatunya, serta
belajar untuk mengucap syukur dalam segala hal. “Tidak melupakan Tuhan”
terwujud dalam kerinduan untuk terus mencari dan mengetahui apa yang Tuhan
kehendaki dari kita. Oleh karena itu, adalah penting untuk memiliki relasi yang intim
dengan Tuhan. (AAS)







Daftar Label dari Kategori Renungan GKP 2022




PREV:
Renungan GKP Minggu, 21 AGUSTUS 2022 - Yesaya 58:1-12 - MINGGU XI SESUDAH PENTAKOSTA

Arsip Renungan GKP 2022..

Register   Login