|
|
Minggu Kedua Sesudah Epifania 19 Januari 2025 Pembacaan Alkitab Yohanes 2:1-11 Nas Pembimbing Yohanes 2:11 Mazmur Mazmur 36:1-13 Pokok Doa Berdoa bagi keluarga-keluarga dan harapan akan pemulihan dan pengembangan usaha warga jemaat. Mendoakan Jemaat Tasikmalaya Nyanyian Tema PKJ 289 : 1, 2 “Keluarga Hidup Indah” Warna Liturgis Hijau KRISTUS DAN KELUARGAKU Pengantar “Keluarga hidup indah, bila Tuhan di dalamnya...” Lagu ini sudah akrab dengan kita. Sering kita nyanyikan. Lagu yang memberikan pengingatan bahwa keindahan hidup keluarga ditentukan oleh adanya Tuhan di tengah keluarga. Dengan kasih yang sempurna, Tuhan membimbing keluarga. Masalah mungkin saja datang. Tantangan dan ancaman dapat silih berganti memasuki kehidupan keluarga dan rumah tangga. Namun, pertolongan dari Tuhan terhadap keluarga yang mengandalkan Tuhan tidak pernah terlambat. Hari ini kita mau kembali belajar dan disegarkan oleh firman Tuhan. Kita akan melihat bagaimana Tuhan hadir dan memberikan pertolongan tepat pada waktunya. Tuhan tidak mengecewakan. Kristus selalu mencukupkan. Bahkan, Ia tahu dan selalu mau melakukan yang terbaik bagi setiap keluarga. Soalnya adalah apakah kita mau terus menghadirkan Kristus di tengah keluarga kita? Kisah Yesus Kristus yang hadir dalam pembentukan keluarga atau perkawinan di Kana menjadi kisah inspiratif kita. Kisah ini sudah ditulis lama, tetapi selalu relevan untuk Anda dan saya dalam membangun kehidupan keluarga dan rumah tangga. Penjelasan Teks Yohanes menghadirkan kisah pesta perkawinan di Kana. Mengapa Yesus dan murid-murid-Nya hadir di situ? Injil Yohanes mempersaksikan bahwa Yesus dan murid-murid-Nya datang karena diundang. Kalau diundang, berarti masih kenal atau memiliki hubungan keluarga. Ibu Yesus juga ada di pesta itu. Karenanya, kemungkinan pengantin ini masih memiliki hubungan keluarga dengan ibu Yesus. Mendapat undangan untuk hadir dalam jamuan seperti ini adalah sebuah kehormatan. Dalam budaya ketimuran, kalau diundang, pantang untuk tidak datang. Yesus dan murid-murid-Nya memperlihatkan adat ketimuran itu dengan sangat baik. Akan tetapi, satu hal yang patut diapresiasi adalah tuan dan nyonya rumah ini mengundang Yesus. Kehadiran Yesus Kristus itu seolah sudah mengantisipasi kesulitan yang akan mereka alami. Dalam pesta itu, terlihat ibu Yesus menyibukkan diri. Saat pengantin tidak memiliki persediaan anggur yang cukup, Maria, Ibu Yesus, justru yang datang kepada Yesus dan menyampaikan kondisi tersebut kepada-Nya. Sebagai bagian dari keluarga, tentu ibu Yesus tidak ingin pengantin dan keluarga besar menjadi malu. Membuat pesta, mengundang banyak orang, tetapi anggur tidak cukup? Itu akan menjadi aib bagi keluarga. Ibunda Yesus menyadari hal itu, dan dengan gesit ia bertindak. Pesta harus menjadi perayaan yang menggembirakan untuk semua. Pengantin bahagia karena ada banyak orang yang datang memberikan selamat dan mendoakan mereka, dan pada sisi lain tamu yang datang juga senang, sebab mereka dapat ambil bagian dalam sukacita pengantin dan mendapatkan hospitalitas yang cukup. Maria yang mengetahui kondisi keterbatasan anggur, dengan cepat datang kepada Yesus, dan dia juga meminta kepada pelayan-pelayan agar segera melakukan apa yang Yesus katakan bagi mereka. Sikap gesit Maria ini menandakan sebuah kepedulian yang mendalam, dan sebagai ibu, Maria tahu, Yesus pasti akan berbuat sesuatu. Yesus Kristus tidak mungkin membiarkan kesulitan dan kesusahan berlangsung. Benar saja. Meskipun Yesus berkata bahwa waktu-Nya belum tiba, tetapi Yesus merespons permintaan Sang bunda. Yesus yang hadir dalam pesta itu pun tentu tidak ingin pengantin dan keluarganya kehilangan muka. Kekurangan mereka harus diisi dan dicukupkan. Karena itu, Ia meminta agar tempayan-tempayan diisi penuh dengan air. Setelah itu, Ia meminta mereka mencedoknya dan membawa air yang sudah berubah menjadi anggur kepada pemimpin pesta. Yesus memenuhi kekurangan yang ada dengan anggur terbaik. Tindakan Yesus ini menegaskan bahwa Ialah tuan dan nyonya pesta. Ia menjadi host dan sekaligus guest di dalam keluarga. Pemimpin pesta yang tidak mengetahui bahwa air telah Yesus ubah menjadi anggur, menyampaikan pujian kepada pengantin laki-laki. Dari awal sampai akhir, pengantin mempersiapkan anggur yang baik. Sungguh, pujian tersebut adalah sesuatu yang melegakan. Kehormatan pengantin terselamatkan, sekaligus para tamu dapat menikmati suasana gembira dengan anggur yang nikmat. Kalau Yesus yang adalah guest yang diundang dan sekaligus menjadi host di dalam keluarga dan rumah tangga, maka sudah pasti seisi keluarga tidak dilanda kecemasan. Mereka tidak takut dengan kekurangan, sebab akan selalu ada kecukupan. Sesuatu yang biasa, akan Ia ubah menjadi luar biasa. Yang Yesus lakukan di pesta perkawinan itu adalah sebuah mukjizat. Ia mengubah air menjadi anggur. Hal itu dicatat oleh Yohanes sebagai tanda yang pertama. Mujizat yang pertama ternyata Yesus lakukan di dalam keluarga. Apa artinya? Artinya, keluarga mendapatkan tempat yang spesial di hati Yesus. Dan, hal ini sekaligus membuktikan bahwa perkara-perkara besar dalam hidup terjadi mulai dari keluarga. Di dalam dan melalui keluarga kehidupan tercipta. Manusia lahir dan bertumbuh di dalam keluarga. Di dalam keluarga pula nama Tuhan diperkenalkan. Doa-doa disampaikan, dan firman Tuhan diperdengarkan melalui berbagai nasihat dan nilai-nilai yang terus diturun-alihkan dari satu generasi ke generasi yang lain. Keluarga menjadi basis utama dalam membangun sebuah peradaban. Karena itu, keluarga membutuhkan Kristus. Hanya bersama Kristus, keluarga dapat dibangun dan menjadi kekuatan utama perubahan dan kemajuan. Pesan ini yang sesungguhnya hendak disampaikan kepada para pembaca. Asal kita memiliki Kristus, maka kita sudah memiliki segalanya. Yesus Kristus selalu cukup bagi setiap keluarga. Keluarga dapat memiliki ini dan itu, tetapi kalau keluarga tidak memiliki dan dimiliki oleh Kristus, maka sebetulnya keluarga tidak memiliki apa-apa. Dengan mudah keluarga akan terjebak di dalam ketakutan dan kecemasan, meskipun keluarga itu ada dalam kelimpahan materi. Keluarga akan mudah retak dan rusak, walaupun mereka dibangun atas nama cinta. Mengapa? Karena cinta itu harus selalu diletakan dalam kaitan dengan sang sumber cinta. Dan sang sumber cinta adalah Allah yang manusia kenal di dalam Kristus. Di dalam Kristus Allah mengalirkan cinta bagi setiap orang dan keluarga. Hanya di dalam Kristus kita dapat selalu merayakan cinta dengan limpahnya, sehingga kita tidak akan pernah takut untuk kekurangan atau kehilangan. Karena itu, kehadiran Kristus di tengah keluarga sesungguhnya adalah mujizat yang paling besar dalam kehidupan keluarga. Mujizat itu bukan karena kita dapatkan ini atau itu, tetapi karena Kristus yang hadir dalam keluarga. Ia bukan hanya menjadi guest, tetapi sekaligus Ia adalah host-nya. Karena itu, Ia akan selalu menjamu keluarga dengan hospitalitas-Nya. Pokok Pikiran Keluarga adalah lembaga yang menjadi dasar dan pilar penting kehidupan. Bila keluarga kuat, gereja dan masyarakat akan kuat. Bila keluarga sehat, maka gereja dan masyarakat akan sehat. Di awal tahun 2025 ini, kita kembali diingatkan untuk menghidupkan semangat dan kasih mula-mula di tengah keluarga, yang tercipta dalam momen indah perkawinan. Momen Yesus Kristus yang hadir dalam kisah perkawinan di Kana, menandakan dua hal penting. Pertama Yesus memang menjadikan keluarga sebagai home base untuk manusia melihat dan merasakan tanda-tanda-Nya yang heran dan penyertaan-Nya yang luar biasa. Yang kedua, setiap keluarga diingatkan bahwa kita membutuhkan Yesus Kristus. Kita tidak bisa hidup di luar Dia. Karena itu, kunci kebahagiaan keluarga tidak terletak pada kita memiliki apa. Bukan karena memiliki rumah atau mobil dan deposito yang besar. Puji Tuhan kalau kita memiliki semua itu. Namun, yang jauh lebih penting adalah sikap dan tindakan kita yang mau selalu menghadirkan Kristus dalam kehidupan keluarga kita, sebab sejatinya kita dan keluarga kita adalah milik Kristus. Aku, kamu, dan anak-anak kita, keluargaku dan keluargamu adalah tempat kediaman Kristus. Keluarga kita adalah kepunyaan Kristus. Maka, dalam segala hal yang kita hadapi dan alami, undanglah Kristus untuk selalu hadir di tengah suka-duka keluarga kita. Niscaya, Dia akan mengubah air biasa, menjadi anggur nikmat. Ia bukan hanya guest, tetapi juga menjadi host yang akan menjamu kita dengan hospitalitas-Nya yang tak terbatas. (Hariman A. Pattianakotta) Pembacaan Alkitab Lukas 4:14-21 Nas Pembimbing Lukas 4:18 Mazmur Mazmur 19 : 1-15 Pokok Doa Peringatan Holocaust Internasional (27 Januari) Pemulihan Korban Konflik Perang Mendoakan Jemaat Teluk Jambe Nyanyian Tema PKJ 97 : 1-3 “Buka Mataku” atau KJ 436 : 1-2 “Lawanlah Godaan” Warna Liturgis Hijau MENGHAYATI ROH YANG MEMAMPUKAN UNTUK MEWUJUDKAN INJIL Pengantar The International Holocaust Remembrance Day atau Hari Holocaust Internasional diperingati setiap 27 Januari, dengan latar belakang pembebasan kamp konsentrasi di Auschwitz, Polandia, tahun 1945. Diperingatinya hari Holocaust International untuk mengingatkan kelamnya sejarah pembunuhan sebuah bangsa, serta mencegah untuk tidak berulang kembali kejadian semacam itu. Paus Fransiskus menyampaikan bahwa hal tersebut menjadi pengingat, sekaligus kabar baik untuk mengupayakan pembebasan bagi korban-korban dari negara-negara yang sedang berkonflik atau perang (https://www.antaranews.com/berita/3934776/hari-holocaust-internasional-dan-genosida-gaza). Apa yang disampaikan oleh Paus Fransiskus ini tentunya memiliki dampak bagi pemikiran manusia di dunia, termasuk tokoh-tokoh yang berkepentingan untuk benar-benar mengupayakan damai dan kesejahteraan, walaupun responsnya bisa saja ada yang cenderung negatif. Situasi kekerasan dan penderitaan tersebut bisa terjadi karena orang-orang yang tidak mampu (atau tidak mau) mengendalikan egonya. Padahal hidup bukan hanya untuk kepentingan sendiri saja, tetapi juga berdampak bagi orang lain, walaupun ada tantangannya. Situasi seperti itu bisa terjadi di mana saja, termasuk di sekeliling kita. Maka, jika hanya mengandalkan sisi manusiawi saja, orang percaya bisa kehilangan panggilan dan semangat untuk terus menyatakan kabar baik karena begitu beratnya tantangan yang harus dihadapi. Orang percaya memerlukan kuasa lebih besar dari dirinya sendiri, yang dihayati melalui penyertaan kuasa Roh Allah untuk mewujudkan Injil/kabar baik. Penjelasan Teks Pada bagian ini, Yesus kembali ke Galilea setelah berada di padang gurun selama 40 hari. Pada bagian sebelumnya, Injil Lukas menuturkan bahwa “Yesus penuh dengan Roh Kudus” (Ay. 1), dan Yesus memulai pelayanan-Nya dalam kuasa Roh itu (Εν τá-- δ-...ναμει το-... πνε-...ματος/ in the power of the spirit) (Ay. 14). Dalam kuasa itu, Yesus kembali ke tempat diri-Nya bertumbuh besar, yaitu Nazareth. Di tempat ini Yesus memberikan pengajaran di rumah ibadat. Yesus membuka gulungan kitab Yesaya, dan mengutip bagian kitab Yesaya sebagai pengajaran, sekaligus menjelaskan misi-Nya di dunia sesuai dengan nubuatan nabi. Gulungan bagian dari kitab Yesaya yang dibacakan, tertera tentang Roh Tuhan yang hadir untuk memampukan utusan-Nya memberitakan kabar baik kepada orang miskin, pembebasan bagi yang tertawan, tertindas, terbelenggu. Penulis Injil Lukas memiliki kekhasan dalam menyoroti karya Yesus dan Roh Kudus dengan memfokuskan perhatian bagi penderitaan orang-orang miskin, terbelenggu dan terpinggirkan. Dalam penjelasan nubuatan Yesaya, Yesus menyampaikan bahwa penggenapan terkait dengan pembebasan itu telah terjadi dan ada dalam karya yang dikerjakan oleh diri-Nya. Ketika Yesus menyampaikan bahwa “Roh Tuhan ada pada-Ku…” (Ay. 16), Yesus dalam tubuh manusiawi-Nya berada dalam kesatuan karya bersama dengan Roh Tuhan. Roh Tuhan/ Roh Kudus adalah kehadiran aktif Allah/ daya Allah yang terkait dengan karya pengampunan dan pembebasan dimulai dari hati manusia (Veldhuis, 2010). Kepenuhan Roh itu hadir secara penuh dalam diri Yesus Kristus. Roh yang berkarya dimulai dari dalam hati, senantiasa akan berdampak keluar memberikan pengaruh dalam kehidupan. Sehingga, apa yang disampaikan oleh Yesus, memberikan sebuah pengharapan bagi orang-orang yang mengalami penderitaan atau keterbelengguan untuk mengalami pembebasan. Kebersatuan dengan Roh yang memampukan itu, mengerjakan misi pembebasan bagi para pendengar Yesus pada saat itu yang sangat membutuhkan pembebasan. Dalam diri Yesus yang penuh dengan Roh itu, karya pembebasan bagi manusia diwujudnyatakan. Yesus dalam kemanusiaan-Nya, menghayati aspek Roh Allah yang memampukan dalam melakukan misi-Nya di tengah-tengah dunia. Misi-Nya bukan terkait dengan aspek keselamatan yang “jauh di awang-awang”/ berkaitan dengan hal-hal setelah kematian saja, tetapi mengerjakan keselamatan yang konkret terkait dengan pembebasan bagi orang/kelompok yang tertindas. Gerrit Singgih menyampaikan bahwa kabar Injil keselamatan yang dibawa oleh Yesus tidak bisa diartikan hanya bersifat spiritual, vertikal dan “di seberang sana”, tetapi juga bersifat holistik menyeluruh meliputi rohani dan jasmani atau vertikal maupun horizontal (Singgih, 2000). Kabar baik keselamatan yang konkret itu memungkinkan terciptanya kehidupan yang damai dan sejahtera. Orang yang digambarkan miskin, tertawan/terbelenggu, tidak bisa melihat, tertindas (Ay. 18) akan sulit untuk bisa menghayati kedamaian dan kesejahteraan yang konkret dalam kehidupannya. Karena bukan saja adanya tantangan dari aspek internal diri, tetapi juga aspek dari eksternal/sosial yang menambah tekanan dalam menjalani kehidupan dengan kondisi tersebut. Jika dilihat dari sisi psikologis, kondisi yang dialami oleh orang-orang yang mengalami keterbelengguan, ketertindasan atau penderitaan bisa menyebabkan rendahnya kesejahteraan psikologis (Psychological Well-Being) seseorang. Hal ini mengakibatkan gangguan emosional/mental, penurunan kesehatan fisik, kehidupan sosial yang terganggu, tidak produktif, dan ketidakpuasan hidup karena realitas yang dialami tidak sesuai dengan harapan. Ilmuwan psikologi bernama Ryff, mendefinisikan Psychological Well-Being/Kesejahteraan Psikologis yaitu keadaan psikologis individu yang mampu untuk meningkatkan fungsi/peran diri secara optimal dan positif dalam menghadapi tantangan kehidupan (Ryff, 1989). Peningkatan kesejahteraan psikologis ini, salah satu faktor pendukungnya yaitu Religiusitas (Pargament, 1997). Kabar baik yang dibawa oleh Yesus dalam kebersatuan dengan Roh Allah merupakan sisi religius yang berdampak konkret dalam kehidupan sehari-hari. Dampaknya memberikan harapan sehingga meningkatkan kesejahteraan dan memampukan seseorang menjalani kehidupan. Dalam penderitaan yang dihadapi umat, umat tidak sendirian menggunakan daya terbatas yang ada pada dirinya ketika menghadapi realitas yang terjadi. Umat tertolong dengan daya di luar dirinya, yaitu daya Ilahi (Roh) dalam diri Yesus yang berkarya secara konkret. Hal itu menjadi kabar baik bagi umat. Yesus tidak saja mengajar, tetapi juga melakukan tindakan yang konkret, seperti memberi makan, menyembuhkan yang sakit, dll., untuk menghadirkan pengharapan bagi manusia dalam kehidupannya. Keselamatan yang konkret dan membumi itu, tidak bisa dilakukan dengan hanya mengandalkan aspek manusiawi saja. Aspek kehadiran Roh dalam diri manusiawi, menentukan bagaimana sisi manusiawi bisa berkomitmen dalam mengusahakan kabar baik itu walaupun harus menghadapi dan mengalami konsekuensi penderitaan bahkan sampai kematian. Dalam kerapuhan manusia melakukan tugas perutusan mengabarkan kabar baik, harus melibatkan Roh Tuhan yang memberikan kuasa/daya tidak terbatas pada diri manusia yang terbatas. Tanpa melibatkan Roh Tuhan, manusia akan mudah kelelahan, kecewa, marah bahkan meninggalkan tugas panggilannya untuk mewujudkan Injil seperti Yesus. Panggilan orang percaya untuk mewujudkan kabar baik, dalam keterbatasannya menjadi lengkap dengan kekuatan dan pertolongan dari Roh Kudus. Dengan apa yang dihayati Yesus, yaitu kebersatuan dengan Roh Tuhan yang berkarya, maka orang percaya diteguhkan untuk menghayati kehadiran Roh Tuhan dalam kehidupan Iman orang percaya. Penghayatan akan hadirnya Roh Tuhan memampukan kita untuk setia dan berkomitmen dalam mewujudkan Injil/kabar baik yang berdampak positif dan membebaskan, walaupun mengalami berbagai macam tantangan kehidupan. Pokok Pikiran Firman Tuhan mengingatkan umat untuk hidup menghayati misi Allah di tengah dunia yaitu mengabarkan Injil, sama seperti Yesus Kristus yang menampakkan diri dalam menjalankan misi-Nya mengabarkan Injil/kabar baik. Kabar Injil keselamatan itu harus secara konkret terwujud dalam dunia ini, seperti: menghadirkan kemanusiaan yang setara, pengentasan kemiskinan, pembebasan dari ketertindasan, dll. Kabar baik harus menembus liturgi dan tembok gereja sehingga konkret dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tindakan yang konkret dalam mewujudkan Injil, orang percaya memberitakan tahun rahmat Tuhan bagi banyak orang, menghadirkan kedamaian dan kesejahteraan bagi orang-orang yang tertindas dan menderita. Kecenderungan mementingkan diri sendiri, cari aman, menjauhi risiko penderitaan atau tantangan serta apatis terhadap kondisi penderitaan orang lain, bisa menghambat misi Allah sehingga tidak tersampaikan. Maka di tengah-tengah kesadaran penuh bahwa manusia memiliki kelemahan, orang percaya harus bergantung penuh pada Roh Kudus yang memberikan kekuatan. Penghayatan Roh Kudus yang hadir dan berkarya dalam hidup orang beriman melengkapi keterbatasan/kekurangan yang dimiliki. Orang yang sadar akan hakikat dan keberadaannya sebagai manusia yang rapuh, akan berupaya untuk selalu terkoneksi pada Roh Kudus. Kesatuan orang percaya dengan Roh Kudus, dimulai dengan relasi yang intim. Maka, orang percaya harus terus membangun relasi dengan Tuhan dalam kehidupan kesehariannya. Waktu yang berkualitas dengan Tuhan dalam doa dan perenungan firman Tuhan memampukan orang percaya bisa merasakan kehadiran dan penyertaan Roh Kudus yang memampukan dan memberikan kekuatan. Orang yang hidup dalam Roh Kudus memulai penghayatan dan pemaknaannya dalam hati dalam sebuah relasi yang eksklusif bersama Tuhan, kemudian meluap keluar dalam tindakan-tindakan inklusif dan berdampak positif. Daftar Acuan Pargament, K.I (1997). The Psychology Of Religion And Coping: Theory, Research, Practice. Journal Guilford Press. Ryff, C.D (1989). Happiness Is Everything, Or Is It? Exploration On The Meaning Of Psychological Well-Being. Journal Of Personality And Social Psychology Singgih, Emanuel Gerrit (2000). Berteologi Dalam Konteks. Jakarta: BPK Gunung Mulia & Yogyakarta: Kanisius Veldhuis, Henri (2005). Kutahu Yang Ku Percaya. Jakarta: BPK Gunung Mulia https://www.antaranews.com/berita/3934776/hari-holocaust-internasional-dan-genosida-gaza. (Daniel Adi Priyatmoko)
Daftar Label dari Kategori DPA Minggu GKP 2025 | NEXT: DPA Minggu GKP Februari 2025 | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |