|
|
Minggu Keempat Sesudah Epifania 2 Februari 2025 Pembacaan Alkitab Lukas 4:22-30 Nas Pembimbing Lukas 4:18-19 Mazmur Mazmur 71:1-11 Pokok Doa Korban pelanggaran HAM, kekerasan dan diskriminasi. Mendoakan penyintas dan penderita kanker (Hari Kanker Sedunia - 4 Februari) Mendoakan Jemaat Ujungberung Mendoakan Jemaat Sumedang (3 Februari 1879) Nyanyian Tema KJ 432:1-2 “Jika Padaku Ditanyakan” Warna Liturgis Hijau MEMBERITAKAN KABAR BAIK : TUGAS PANGGILAN PELAYANAN DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL GEREJA Pengantar Pada 20 Maret 1925, Frederick Lewis Donaldson, seorang pendeta Gereja Anglikan di Inggris pernah mengusulkan daftar tujuh dosa sosial sebagai berikut: Kekayaan tanpa kerja keras, Kesenangan tanpa hati nurani, Pengetahuan tanpa karakter, Perdagangan tanpa moralitas, Ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, Agama tanpa pengorbanan, dan Politik tanpa prinsip. Tujuh dosa sosial tersebut lahir dari keprihatinan terhadap realitas sosial, seperti unjuk rasa besar yang terjadi karena masalah pengangguran di Inggris. Terlebih lagi tujuh dosa sosial ini menjadi buah pemikirannya yang lahir dari prinsip dan nilai hidupnya yang secara terang-terangan menentang perang dan harapannya yang dalam akan lahirnya perdamaian bagi dunia. Tujuh dosa sosial ini seharusnya juga menggelisahkan kita sebagai pribadi dan komunitas gereja untuk selalu bertanya dan berefleksi apa yang telah dan harus kita lakukan bagi masyarakat dan kehidupan ini? Kemungkinan besar jawabannya ada dua. Pertama, gereja sebagai komunitas yang hadir dan berada di tengah dunia rentan dan turut melakukan tujuh dosa sosial tersebut. Persekutuan kita hanya terlihat saleh secara ritual, tetapi dalam praktik nyata turut menjadi pelaku kejahatan, kekerasan, ketidakadilan, dan diskriminasi terhadap orang dan kelompok yang berbeda. Kedua, gereja menyuarakan suara Allah dan kebenaran-Nya serta menyatakan dengan tegas prinsip dan nilai Kerajaan Allah. Gereja merangkul dan mencintai semua orang serta membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat dan di tengah dunia yang masih sangat marak dengan berbagai kejahatan, kekerasan, ketidakadilan dan diskriminasi. Penjelasan Teks Teks Injil Lukas 4 : 22-30 menjadi bagian yang utuh dari ayat sebelumnya. Perikop ini menceritakan Yesus yang mengalami penolakan di kampung halamannya di Nazaret. Kisah ini adalah salah satu kisah yang memperlihatkan sudut pandang tentang dimensi sosial yang kuat dalam Injil Lukas. Hal ini tergambar cukup jelas melalui visi dan misi Yesus untuk membawa kabar baik dan pembebasan bagi mereka yang sangat rentan, miskin, dan marginal. Kisah ini sangat kental dengan motif sosial yang memperlihatkan Yesus sebagai Mesias memiliki perhatian terhadap mereka yang lemah dan rendah secara sosial. Namun, nyatanya Yesus tidak luput dari perlakuan tidak adil, kekerasan, dan diskriminasi dari orang-orang sekampungnya. Penulis Injil Lukas mencatat bahwa sebelum Yesus hadir di Sinagoge, Ia telah lebih dulu bergumul menghadapi godaan selama 40 hari dan 40 malam di padang gurun. Ia berhasil melampaui godaan dan proses itu adalah sebuah momentum yang Allah izinkan Yesus alami untuk mempersiapkan-Nya hadir dan berkhotbah di kampung halaman-Nya sendiri. Setelah Ia merengkuh berbagai godaan tersebut, Ia hadir di rumah ibadah orang Yahudi dengan tujuan yang sangat murni, yaitu Ia hendak mewartakan kebenaran tentang Kerajaan Allah dan siap menghadapi konsekuensi apapun bentuk dan jenisnya. Roh Allah menuntun Yesus hadir di rumah ibadat pada hari Sabat karena Ia sungguh-sungguh ingin memperlihatkan dirinya sebagai seorang laki-laki Yahudi yang taat dan menghormati tradisi komunitasnya. Ia hadir dengan tujuan hendak memulai pelayanan publik perdananya dan memberitakan kabar baik. Pada awalnya, para pendengarnya terlihat sangat antusias dengan segala ucapan dan pengajaran yang diberikan oleh Yesus. Mungkin karena cara Yesus membaca dan berkhotbah sesuai dengan keinginan orang-orang sekampung halamannya itu. Dalam khotbahnya, Yesus menyatakan bahwa nubuat Nabi Yesaya itu telah tergenapi di dalam diri-Nya. Orang-orang yang mendengar itu merasa kagum dan membenarkan apa yang telah Yesus katakan. Namun beberapa saat kemudian reaksi para pendengar berubah seketika ketika Yesus menyampaikan sebuah topik mengenai bangsa-bangsa asing yang juga telah menerima anugerah keselamatan dari Allah. Ia mengingatkan mereka lagi tentang kisah janda di Sarfat dan Naaman yang berasal dari Siria. Dengan kata lain, Yesus hendak mewartakan bahwa keselamatan bersifat universal dan tidak tertuju hanya untuk orang Yahudi. Yesus memberitakan sebuah kebenaran bahwa keselamatan tidak boleh dibatasi, sebab Kerajaan Allah harus diwartakan pada semua orang. Akibatnya, orang Nazaret marah. Mereka menjadi gelisah, gusar, dan marah karena mereka yakin bahwa keselamatan adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Allah hanya untuk orang Israel. Dalam Injil Lukas 4:18-19 kita dapat melihat Yesus yang mengutip teks Yesaya 61:1-2 untuk menolong para pendengar melihat dimensi sosial yang ingin Yesus tampilkan kepada mereka: Lukas 4: 18-19, “Roh Tuhan ada padaku oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan.” Yesaya 61: 1-2, “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, karena TUHAN telah mengurapi aku. Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kelepasan dari penjara kepada orang-orang yang terkurung, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan dan hari pembalasan ALLAH kita, untuk menghibur semua orang yang berkabung,”. Ayat-ayat di atas dikutip dan dibacakan oleh Yesus dalam rumah ibadat adalah kebenaran Allah untuk membuka mata hati dan pikiran para pendengar yang masih terlalu dangkal dan sempit dalam memaknai esensi dari pemberitaan kabar baik. Yesus mengajar mereka tentang visi dan misi Allah dalam pemberitaan kabar baik yang bersifat dinamis dan universal. Yesus mengangkat dua kisah yang memperlihatkan tentang keselamatan yang mencerminkan dua nilai Kerajaan Allah tersebut. Kisah pertama tentang janda dari Sarfat. Allah mengutus nabi Elia kepadanya dan melakukan mukjizat. Kisah kedua tentang Elisa yang menyembuhkan seorang komandan Siria, bernama Naaman, yang mengalami sakit kusta. Melalui dua kisah itu, Yesus memperlihatkan suatu fakta bahwa pandangan kebanyakan orang tentang isi Injil sangat subjektif dan berpusat hanya pada diri dan kelompok sendiri. Yesus ingin agar pandangan mereka tentang siapa penerima Injil perlu diperluas dan diperdalam sesuai kehendak Allah. Janda di Sarfat adalah orang yang memiliki kedudukan dan status sosial lebih rendah di masyarakat dan Naaman, seorang komandan yang berkedudukan tinggi tetapi ia menderita penyakit kusta dan ia tidak tersentuh oleh siapapun. Mereka adalah contoh orang-orang yang membutuhkan pembebasan dan keselamatan yang dinamis dan universal dari Allah. Oleh sebab itu, Visi dan Misi Yesus adalah mewartakan kabar baik kepada orang-orang yang terbuang di tengah masyarakat. Penulis Injil Lukas melalui kisah-kisahnya fokus untuk menampilkan berbagai bentuk pelayanan Yesus yang sarat dengan dimensi sosial yang kuat. Injil ini memiliki fokus dan simpati kepada orang yang miskin, tertindas, dan mengalami diskriminasi di tengah komunitas. Bila melihat narasi Lukas secara utuh, maka kita akan mendapati bahwa keselamatan menjadi salah satu tema penting dalam Injil ini. Lebih spesifik, Lukas ingin menunjukkan bahwa keselamatan tersebut diperuntukkan tidak hanya kepada orang-orang tertentu melainkan untuk semua orang. Di dalam Injil Lukas, kita akan menemukan orang-orang yang berinteraksi dengan Yesus selama pelayanan-Nya pada umumnya adalah orang-orang yang secara sosial terabaikan dan terpinggirkan. Penulis Injil ini ingin menyampaikan bahwa keselamatan dari Allah hadir untuk orang-orang yang mengalami diskriminasi sehingga Injil ini memiliki dimensi praktis, yaitu perhatian kepada orang-orang yang lemah dan tertindas. Injil Lukas menolong kita sebagai pembaca masa kini untuk melihat bahwa karakteristik pelayanan Yesus dan signifikansi pemberitaan Kabar Baik harus mencakup tiga hal utama, yaitu menjadi tugas panggilan kita dan terlebih menantang gereja untuk membuktikan tanggung jawab sosialnya di tengah umat dan masyarakat yang beraneka ragam secara aktif dan konkret. Apa yang Yesus lakukan menunjukkan kepada kita bahwa relasi dengan Allah yang benar akan berdampak secara langsung dalam praktik hubungan sehari-hari kita dengan sesama manusia. Namun, relasi ini harus berkembang lebih spesifik dalam rangka menghadirkan pemulihan dan pembebasan bagi orang-orang yang membutuhkan. Penulis Injil ini juga mengajak kita sebagai pribadi maupun gereja untuk memperdalam iman dan memperluas wawasan kita tentang makna dan tujuan pemberitaan Kabar Baik. Tugas orang percaya dan gereja pertama-tama adalah memusatkan perhatian dan memperluas jangkauan terhadap orang-orang yang sakit, terlupakan, terpinggirkan, dan tertolak karena berbagai situasi dan kondisi sosial hari ini, secara khusus anak, perempuan, orang lanjut usia, penyandang disabilitas, dan mereka yang mengalami diskriminasi dan berbagai perlakuan tidak adil karena keunikan dan perbedaan yang mereka miliki. Namun, dalam pemberitaan kabar baik, kita perlu waspada dan bersikap tenang seperti Yesus karena ketika kita memberitakan Kabar Baik dan mewartakan kebenaran di tengah situasi dan kondisi yang tidak baik-baik saja, kita akan berhadapan dengan hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan. Sebagai pengikut Kristus yang mewarisi nilai-nilai dan ajaran sosial Yesus, kita punya tanggung jawab penuh dalam menyuarakan suara kenabian dan mewartakan tanda-tanda Kerajaan Allah di tengah dunia dan kehidupan ini. Pokok Pikiran Tugas panggilan kita adalah mendengar suara Allah dan melakukan kehendak-Nya dengan benar. Kita perlu belajar rendah hati dan menyadari bahwa terkadang kita mengabaikan suara kebenaran dan bertindak sama seperti orang-orang Nazaret yang menolak Yesus. Kita mendengar dengan telinga, namun tidak mendengarkan dengan hati sehingga kecenderungan yang terjadi adalah kita mengabaikan suara dan kebenaran Allah yang memanggil kita untuk memberitakan kabar baik kepada semua orang terutama kepada mereka yang membutuhkan. Sebagai pribadi dan komunitas, kita cenderung tidak mengerti tugas panggilan kita dengan benar dan terbiasa melakukan kesalahan karena mengandalkan pengetahuan dan suara hati nurani kita sendiri yang sangat terbatas. Kita sering terjebak dalam pemahaman yang keliru dan menolak orang yang berbeda bahkan nyaris mendorong orang lain ke dalam jurang hanya karena kebenaran yang mereka wartakan kepada kita membuat kita gelisah, tersinggung dan menyatakan kesalahan kita. Seringkali hanya karena suatu ajaran dan doktrin yang belum kita pahami dengan benar, kita menolak dan menyingkirkan orang lain menurut pandangan kita yang sangat subjektif dan terbatas. Kita menjadi pelaku kejahatan, kekerasan, ketidakadilan, dan diskriminasi terhadap orang lain. Tujuan Yesus datang ke dalam dunia adalah membawa kabar baik bagi mereka yang rendah hati; untuk membalut hati yang patah hati; untuk memberitakan kebebasan kepada para tawanan; untuk membuka mata mereka yang terikat. Yesus melakukan suatu karya pembebasan yang dimulai dari memerdekakan pola pikir kita yang selalu curiga dan berprasangka kepada orang yang berbeda dan membebaskan kita dari tingkah laku yang mudah menghakimi, menghina dan menolak orang lain yang tidak senilai dan sefrekuensi bahkan berbeda secara status sosial dan ekonomi. Sejatinya Yesus dan karya-Nya hadir di tengah dunia untuk menyembuhkan dan memulihkan kita yang sakit pikiran dan sakit hati terhadap Tuhan dan sesama. Dalam kesadaran seperti itu seharusnya kita perlu membangun pemahaman dan menanamkan keyakinan serta nilai bahwa pelayanan kita yang utama adalah menghadirkan pembebasan dan kemerdekaan secara sosial bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Kita belajar untuk melanjutkan karya Yesus dengan bersedia memberitakan kabar baik melalui aksi nyata yang memperlihatkan kesungguhan tanggung jawab sosial kita sebagai gereja Tuhan. Mewartakan kabar baik yang dilandasi dengan cinta kasih Allah akan menghadirkan berbagai realitas yang juga tidak menyenangkan, tetapi sedapat mungkin kita tidak turut menjadi pelaku penolakan, ketidakadilan, dan kekerasan terhadap orang lain. Kita harus memilih dan bersedia memberitakan kabar baik kepada semua orang sehingga kita akan menikmati berkat sukacita dan damai sejahtera. Berkat-berkat itu pertama-tama datang kepada pribadi dan komunitas yang dengan rendah hati menyadari dosa dan kebutuhan mereka akan Juruselamat. Sebagai pribadi dan komunitas, kita memberitakan kabar baik bukan dengan doktrin “selalu merasa baik” namun dengan rendah hati menyadari dosa-dosa sosial kita dan mengakui bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan untuk kita mengalami kesembuhan dan pembebasan di hadapan Tuhan. Kebenaran yang harus kita wartakan adalah bahwa Allah telah berkarya di dalam Yesus agar Allah dan kehadiran-Nya dapat dirasakan oleh semua orang, Ia mengasihi semua orang dan mengizinkan semua orang untuk merindukan dan merasakan suasana kerajaan Allah tanpa syarat dan tanpa batas. Daftar Acuan https://livingchurch.org/news/the-anglican-origin-of-the-seven-social-sins/ Esler, P.F (1987). Community and Gospel in Luke-Acts : The Social Motivations of Lucan Theology. Cambridge University Press. Fitzmayer, J (1985). The Gospel According to Luke : Introduction, Translation, and Notes. Doubleday. (Audra S. Rumsayor) Minggu Kelima Sesudah Epifania 9 Februari 2025 Pembacaan Alkitab Lukas 5:1-11 Nas Pembimbing Lukas 5:5 Mazmur Mazmur 138 : 1-8 Pokok Doa Mendoakan Para Wartawan dalam menyajikan informasi yang benar dan adil (Hari Pers Nasional - 9 Februari) Mendoakan Bakal Jemaat Cigelam Nyanyian Tema KJ 431 “Mari Menjadi Penjala Orang” atau KK 601 “Kumulai dari Diri Sendiri” Warna Liturgis Hijau MENJADI PEMBAWA KABAR BAIK YANG MENGANDALKAN FIRMAN TUHAN Pengantar Menurut Martiman Suazisiwa Sarumaha dkk, dalam buku “Pendidikan Karakter di Era Digital”, ada 4 ciri dari orang yang bekerja keras : 1) Berinisiatif tinggi, 2) Ketekunan, 3) Motivasi dan 4) Berkomitmen. Demikianlah Simon Petrus menyatakan bahwa mereka telah bekerja keras menjala ikan sepanjang malam di danau, namun tidak menangkap apa-apa. Simon dan teman-temannya (Yakobus dan Yohanes anak Zebedeus) adalah orang-orang yang berpengalaman dalam menjala ikan, karena menjala ikan adalah satu-satunya profesi mereka saat itu. Sebagai penjala ikan profesional, mereka memenuhi keempat kriteria yang disebutkan Martiman tadi: berinisiatif tinggi dengan ketekunan sepanjang malam, dengan motivasi kuat dan komitmen tinggi sebagai nelayan. Namun ternyata kapasitas mereka sebagai penjala ikan itu tidak mampu menjamin mereka selalu berhasil. Ternyata, sampai pagi hari itu, tidak ada seekor ikan pun yang dapat mereka tangkap. Mengapa hal itu bisa terjadi? Apa yang membuat mereka gagal? Injil Lukas memberi kesaksian bahwa saat itu mereka harus menerima panggilan khusus, satu pekerjaan pengganti yang harus mereka kerjakan bersama dengan Yesus yang mereka panggil Guru. Yesus saat itu sedang mengajar orang banyak, sampai ke tepi danau Genesaret, pantai di mana para nelayan membersihkan perahu dan jalan mereka. Alkitab menyaksikan bagaimana Yesus naik ke perahu Simon, dan menggunakan perahu itu menjadi sarana Ia mengajar. Yesus melanjutkan pengajaran-Nya tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan visualisasi tentang kuasa-Nya sebagai Anak Allah, sekaligus yang digunakan-Nya untuk penyiapan pemanggilan kepada ketiga nelayan tersebut menjadi murid pertama-Nya, memanggil para nelayan itu dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Penjelasan Teks Teks perikop Injil Lukas 5:1-10 yang kita baru saja baca saat ini merupakan kelanjutan dari kesaksian Injil Lukas mengenai berbagai peristiwa penting yang telah Yesus alami dan Yesus kerjakan di awal pelayanan-Nya. Beberapa hal tersebut adalah : Peristiwa Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Luk. 3:21-22), Peristiwa Yesus dicobai oleh Iblis (Luk. 4:1-13), Setelah melewati pencobaan itu, Yesus memulai pelayanan dan pengajaran-Nya dengan kembali ke Galilea (Luk. 41:14-15). Injil Lukas memberitakan, di Nazaret tempat Yesus dibesarkan, Yesus ditolak kehadiran-Nya (Luk. 4:16-30), Oleh karena itu, Yesus segera berangkat turun ke Kapernaum. Di Kapernaum, Lukas mencatat di dalam rumah ibadat, Yesus mengusir roh jahat dari dalam seorang yang kerasukan, peristiwa ini membuat Yesus yang penuh kuasa dan hikmat menjadi sangat terkenal (Luk. 4:31-37). Kemudian Injil Lukas menuliskan secara khusus bagaimana Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon dan karena banyak orang menyaksikannya, selanjutnya semakin banyak orang yang membawa orang sakit untuk disembuhkan-Nya, bahkan banyak setan yang dikeluarkan dari dalam diri orang-orang itu, dan setan-setan itu berseru dan mengaku :”Engkaulah Anak Allah”. (Luk. 4:38-41). Kemudian Yesus melanjutkan pengajaran-Nya ke tempat yang terpencil, sampai orang banyak menjumpai-Nya di tepi danau Genesaret, di mana kisah pemanggilan ketiga murid pertama Yesus disaksikan dalam perikop ini. Mengapa Yesus memilih perahu sebagai sarana untuk melanjutkan pengajaran-Nya? Perahu adalah tempat yang cukup berjarak dengan pantai, sehingga Yesus lebih mudah dilihat oleh banyak orang. Lalu mengapa Yesus memilih perahu Simon? Seperti kita ketahui sebelumnya, ibu mertua Simon sedang mengalami demam tinggi di rumahnya. Karena orang banyak mengetahui mengenai kuasa Yesus, maka mereka meminta Yesus untuk menolongnya. Yesus datang, menghardik demam itu dan serta merta demam itu meninggalkan ibu mertua Simon. Orang banyak menyaksikan bagaimana Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon dengan satu hardikan. Kemudian sebagai ungkapan terima kasih, Ibu mertua Simon segera bangun dan melayani Yesus dan orang-orang yang menyertainya. Melayani di sini berarti ibu mertua Simon menyediakan makanan dan minuman bagi Yesus dan orang banyak itu di rumahnya. Sementara Yesus makan dan minum, dari mulut ke mulut, atau bahkan beberapa orang dari antara orang banyak itu pulang menjemput anggota keluarga, teman atau tetangga mereka yang sakit, untuk di bawa ke rumah ibu mertua Simon, karena mereka semakin percaya akan kuasa Yesus untuk menyembuhkan. Injil Lukas bersaksi, mereka yang dibawa ke sana, semuanya disembuhkan Yesus. Berdasarkan kesaksian ini, andaikan Simon hadir di sana, bahkan sekalipun Simon tidak hadir di sana, sudah dapat dipastikan Simon mendengar juga berita tentang kuasa Yesus, sehingga tidak mengherankan ketika bercakap-cakap dengan Yesus, ia menyebut Yesus Guru. Ternyata, bukan hanya dengan mengaku dan menyebut Yesus sebagai Guru, berdasarkan keyakinan bahwa Yesus mempunyai kuasa seperti kuasa menyembuhkan, maka dengan tegas Simon mengatakan : “Namun karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala!”. Berbekal keyakinan itulah Simon menebar jalanya dan mendapatkan ikan dalam jumlah yang sangat banyak, sehingga harus dibantu oleh perahu lain. Injil Lukas bersaksi, begitu banyaknya ikan yang didapat, sehingga membebani kedua perahu itu hingga kedua perahu itu hampir tenggelam. Bagaimana selanjutnya sikap Simon atas kejadian luar biasa itu? Tentu saja Simon menjadi sangat takjub. Namun ternyata hal luar biasa itu tidak membuatnya menjadi gembira dengan bersorak-sorak gembira, tetapi justru ia menjadi sangat takut dan akibatnya Simon bersujud di depan Yesus. Rasa takutnya ini bahkan membuat Simon memohon agar Yesus pergi darinya karena ia adalah seorang berdosa. Di sini kita melihat Simon memiliki sikap tidak menjadi sombong atas peristiwa yang dialaminya, tetapi merasa betapa kecil dirinya di hadapan Yesus yang penuh kuasa. Tentu saja perasaan takut juga melanda diri kedua teman Simon, Yakobus dan Yohanes. Perasaan kecil dan tidak berharga di hadapan Yesus ini, justru membuat Yesus menilai ketiga penjala ikan ini layak untuk menjadi murid-murid pertama-Nya dalam memberitakan kabar baik manusia berdosa. Itulah sebabnya Yesus berkata kepada Simon: “Jangan takut! Mulai sekarang engkau akan menjala manusia”. Kata-kata Yesus : Jangan takut, menegaskan ulang tentang betapa takutnya Simon, Yakobus dan Yohanes, di tengah kelelahan semalaman dan kekecewaan tanpa ikan seekor pun di tepi danau, mereka kemudian berhadapan bahkan mengalami mukjizat itu. Setelah mendengar perkataan Yesus, mereka tidak bertanya-tanya lagi, apa maksud Yesus tentang penjala manusia, mereka langsung menarik kedua perahu itu ke darat, meninggalkan perahu itu dengan ikan-ikan di dalamnya, dan mereka langsung mengikut Yesus. Alkitab menyebutkan “mereka meninggalkan segala sesuatu”, artinya mereka meninggalkan keluarga, rumah, pekerjaan dan harta benda mereka untuk menjadi penjala manusia. Mengenai hal ini kita dapat melihat teks Markus 10:28, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!”. Simon, Yakobus dan Yohanes menjadi murid-murid pertama Yesus untuk melakukan perjalanan sebagai penjala manusia, berbekalkan percaya kepada Yesus yang mempunyai kuasa. Pokok Pikiran GKP sedang melaksanakan Tri Tugas panggilan dan dasawarsa pengembangan kemandirian menuju 100 tahun GKP tahun 2034. Janganlah kita mengandalkan kecerdasan, keterampilan, dan kecakapan dalam menggunakan teknologi modern, melainkan kita harus mengandalkan Firman Tuhan yang menjadi dasar dan sumber pelaksanaan pelayanan kita di tengah keluarga, gereja, dan masyarakat luas. Ada banyak kegagalan yang dapat membuat kita menjadi lemah dan tidak bersemangat untuk melanjutkan pelayanan. Firman Tuhan mengajar kita untuk hanya mengandalkan perintah Tuhan. Mungkin Firman Tuhan itu tidak masuk akal, tidak sejalan dengan perhitungan secara manusiawi, namun Firman Tuhan yang dinyatakan dalam bentuk perintah, larangan, ajaran, petunjuk, dan apa pun itu, harus kita yakini sebagai kehendak Tuhan yang sempurna dan disertai oleh kuasa-Nya yang sangat besar, yang mampu membuat kita dan banyak orang terkejut dan takjub dibuat-Nya. Kesetiaan dalam melaksanakan pelayanan berdasarkan Firman Tuhan merupakan kesaksian yang didengar, dilihat dan dialami oleh orang banyak di sekitar kita, sehingga mereka akan takjub dan mengakui kuasa yang Allah nyatakan di dalam Yesus Kristus, sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia ini. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan perkataan Yesus: “Jangan takut”, ketika kita berhadapan dengan badai kehidupan (Mat. 14:27, “Tenanglah! Ini Aku, jangan takut!”). Ketika kita dalam kesedihan: “Jangan takut, percaya saja!” (Mrk. 5:36). Dalam melaksanakan panggilan melayani, bersekutu dan bersaksi banyak hal yang membuat kita menjadi takut, utamanya ketika kita merasa kita tidak layak di hadapan Tuhan. Tuhan Yesus Kristus akan mengampuni kita, dan Ia akan selalu berkata : “jangan takut”, karena Dia akan menolong kita untuk tetap berharga dan dimampukan melanjutkan karya-karya kita. Daftar Acuan Martiman Suazisiwa Sarumaha dkk, “Pendidikan Karakter di Era Digital”, . T. 2023 (Engkih Gandakusumah) Minggu Keenam Sesudah Epifania 16 Februari 2025 Pembacaan Alkitab Lukas 6:17-26 Nas Pembimbing Lukas 6:22-23 Mazmur Mazmur 1:1-6 Pokok Doa Orang yang miskin, lapar, menangis, dan dilupakan. Mendoakan Anak-anak Penderita Kanker (Hari Kanker Anak Sedunia - 15 Februari) Mendoakan Jemaat “Betlehem” Kampung Teko Nyanyian Tema KJ 375:1-2 “Saya Mau Ikut Yesus” Warna Liturgis Hijau INVERSI BAHAGIA: RENGKUHAN KRISTUS BAGI KAUM PAPA Pengantar Punya banyak uang dan/atau tidak mengalami kelaparan adalah anggapan kebanyakan orang tentang bahagia. Seseorang yang disebut berbahagia adalah yang memiliki ini dan itu, menerima ini dan itu. Orang berupaya mencari untuk mendapatkannya. Namun demikian, pertanyaannya adalah: Apa ukuran bahagia? Benarkah kepuasan hidup yang namanya kebahagiaan"yang mendatangkan ketentraman secara lahir dan batin"adalah ketika seseorang memiliki ini dan itu? Yesus memiliki ukuran yang berbeda. Dalam khotbah di bukit, Ia memberi pengajaran tentang “bahagia” dan ukuran-Nya sangat berbeda dengan ukuran kebanyakan orang di dunia ini. Ukuran-Nya tidak lazim. Menurut-Nya, yang berbahagia justru adalah “yang tidak merasa berdaya” dan dalam ketidakberdayaannya, ia hanya bergantung pada Tuhan. Pengajaran Tuhan Yesus yang termuat dalam Lukas 6:17-26 menghadirkan permenungan: Bagaimana mungkin murid yang miskin, lapar, menangis, dan disingkirkan karena Yesus, dikatakan bahagia? Ketika berada dalam kesusahan, hal apa yang masih membuat seseorang berbahagia? Di sisi lain, mengapa murid yang kaya, kenyang, tertawa, dan dipuji-puji bisa disebutkan celaka? Penjelasan Teks Menurut tradisi Kristen kuno, Injil Lukas ditulis oleh Lukas, seorang tabib yang bukan keturunan Yahudi. Ia adalah seorang cendekiawan non-Yahudi yang selama beberapa tahun menjadi rekan sekerja Paulus. Lukas juga merupakan seorang penutur asli bahasa Yunani. Kebudayaan Yunani-Romawi sangat dikenalnya. Tulisannya memuat seni bercerita yang khas; gaya bahasanya matang. Melalui tulisannya, Lukas menekankan fokusnya pada pemberitaan Tuhan Yesus Kristus mengenai Kerajaan Allah. Kata kerja “memberitakan” sangat sering digunakan oleh Lukas apabila dibandingkan dengan Injil-injil yang lainnya. Selain “memberitakan”, kata kerja “mengajar” juga sering digunakan. Kata kerja “mengajar” dalam karya Lukas sering menunjuk pada pemberitaan Yesus. Pengajaran Yesus adalah bagian dari pemberitaan-Nya. Pemberitaan Yesus memuat tindakan penyelamatan Allah (bdk. 4:18-19). Pemberitaan Injil Yesus Kristus dipersaksikan oleh Lukas dan dihadirkan bagi semua orang, termasuk kepada orang miskin dan tertindas. Narasi Lukas 4:14-9:50 merupakan narasi perjalanan pelayanan Yesus Kristus yang dihadirkan-Nya di Galilea. Pelayanan Yesus di Galilea dibagi ke dalam tiga fase: permulaan pelayanan Yesus (4:14-6:15), ajaran dan tindakan belas kasihan (6:17-8:3), dan ajaran dan tindakan Yesus yang bermuara dalam pengungkapan identitas-Nya (8:4-9:50). Narasi Lukas 6:17-26 termasuk ke dalam fase yang kedua, yang memuat ajaran dan tindakan belas kasihan yang dihadirkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Setelah berkarya beberapa lama di Galilea, Ia menarik banyak murid dan orang banyak. Tidak sedikit pula lawan-lawan yang berusaha menjerat-Nya. Namun demikian, konflik yang termuat dalam Markus 3 tidak menjadi fokus Lukas. Lukas justru memusatkan perhatiannya pada banyaknya murid serta kelompok 12 rasul yang telah dipilih Tuhan Yesus dari antara mereka. Di suatu tempat yang datar, kala dalam perjalanan mengitari seluruh daerah Galilea untuk menyembuhkan banyak orang sambil mewartakan Injil tentang Kerajaan Allah ke semua kota, Tuhan Yesus Kristus memberi pengajaran kepada murid-murid-Nya tentang makna “bahagia”. Sabda Bahagia-Nya ditujukan bagi orang-orang yang miskin, orang-orang yang lapar, dan orang-orang yang menangis. Ketiganya mengarah pada kaum yang rentan; miskin, papa, dan melarat. Melalui pengajaran-Nya, peringatan yang menggunakan diksi “celakalah” justru ditujukan bagi para murid serta orang banyak. Mereka berasal dari “seluruh Yudea” yang bukan hanya wilayah Yudea, tetapi juga seluruh wilayah hunian orang Yahudi juga di Galilea, Idumea, dan dari seberang Yordan (bdk. Mrk. 3:7-8). Mereka pun ada yang datang dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Pengajaran Tuhan Yesus ini tampak sebagai versi singkat dari Matius 5-7, berisi tema sentral: Kebahagiaan bukan milik orang kaya yang diagungkan tetapi milik orang miskin yang disingkirkan. Belas kasih perlu dihadirkan, bukan sebagai pembalasan terhadap musuh-musuh melainkan karena Allah telah menyatakan belas kasih-Nya. Tampaknya, para murid mencerminkan Jemaat Lukas yang mengalami pertentangan kaya-miskin dan juga kebencian serta pengucilan yang terjadi bukan hanya dari luar Jemaat, tetap dari dalam Jemaat sendiri. Ucapan bahagia untuk yang miskin, lapar, menangis, dan karena Anak Manusia dibenci dan dicela disusul dengan empat ucapan celaka untuk yang kaya, kenyang, tertawa, dan dipuji semua orang (6:21-26). Kedua pihak ini ada di dalam Jemaat. Berdasarkan konteks yang tergambar di atas, pesan sentral Tuhan Yesus adalah kasih dan bukan kebencian terhadap mereka yang memusuhi. Menghadirkan kasih bukan hal yang sederhana di tengah pertentangan kaya-miskin"apalagi jika hal tersebut disebabkan oleh ketidakadilan dan penindasan di antara mereka sendiri (bdk. Yak. 2:5-6 dan 5:1-6). Namun demikian, pengalaman menerima belas kasih Kristus menghadirkan teladan kasih yang tidak menghakimi dan menghukum, melainkan mengampuni serta memberi. Pengajaran ini dihadirkan untuk dilakukan. Lukas tidak memberi ruang untuk menundanya. Akhir khotbah (6:43-39) menegaskan bahwa mendengar perkataan Tuhan dan menyerukan nama-Nya tidak membawa keselamatan sedikit pun apabila perkataan-perkataan yang telah didengar tidak menghasilkan buah berupa tindakan. Setelah mengajar tentang belas kasih Allah bagi orang yang rentan; papa dan tersingkirkan, bahkan musuh-musuh yang jahat, Tuhan Yesus mempraktikkan belas kasih itu dalam pelayanan-Nya. Para murid dan orang banyak yang mengikut Yesus melihat karya pelayanan-Nya yang ditujukan bagi orang yang lemah dan terabaikan. Sebuah rumusan berkat tradisional Irlandia kiranya meneguhkan langkah kita bersama: “May you see God’s light on the path ahead when the road you walk is dark. May you always hear, even in your hour of sorrow; the gentle singing of the lark. When times are hard may hardness never turn your heart to stone. May you always remember when the shadows fall, you do not walk alone.” Terjemahan bebasnya demikian: Semoga engkau melihat cahaya Tuhan di jalan gelap yang kau lalui. Semoga engkau selalu mendengar nyanyian lembut burung lark (burung branjangan/ pengicau) bahkan disaat kau berduka. Saat masa-masa sulit semoga itu tidak membuat hatimu mengeras menjadi batu. Ketika kau berjalan dan hanya melihat bayanganmu sendiri, semoga kau selalu ingat bahwa kau tidak pernah berjalan sendirian. Pokok Pikiran Dalam sejarah umat Israel, kata “orang miskin” memiliki makna sosio-religius. Kaum miskin dengan teguh berpegang pada Tuhan lebih daripada orang kaya. “Orang miskin” adalah model yang benar, tahu bahwa dirinya bergantung pada Tuhan sehingga mereka taat dan berkenan bagi-Nya. Orang miskin yang merasa lapar dan haus akan makanan dan minuman sehari-hari pun cenderung lapar dan haus akan kebenaran (bdk. Mat. 5:6) dan akan Firman Allah. Ucapan bahagia dan celaka berbicara tentang hormat dan status dalam Jemaat, pengakuan yang diberikan dan penolakan yang dihadirkan berdasarkan kepentingan, kedudukan, dan prestise publik. Tuhan Yesus Kristus membalikkan tata nilai itu. Yang bahagia bukan yang dipuji karena kedudukannya melainkan yang setia kepada Yesus serta jalan-Nya, sekalipun karena kesetiaan itu disingkirkan dari tengah komunitas karena dianggap sebagai gangguan. Tugas perutusan Tuhan Yesus Kristus mengarah pada “orang-orang miskin yang menangis karena kekurangan pangan dan dibebani penganiayaan”. Pengajaran tentang “bahagia” yang Ia hadirkan provokatif karena bertolak belakang dengan keadaan mereka yang nyata. Daftar Acuan Harun, Martin. Lukas: Injil Kaum Marjinal. Yogyakarta: PT Kanisius, 2019. Pakpahan, Heryanto. “Matius 5:3-10.” 2024. Susanto, Josep Ferry. “Injil Lukas: Mengenal Sang Teolog Keselamatan Yesus Kristus.” Jakarta, 2023. http://repo.driyarkara.ac.id/id/eprint/883. (Shella G.V. Mawene) Minggu Ketujuh Sesudah Epifania 23 Februari 2025 Pembacaan Alkitab Lukas 6:27-36 Nas Pembimbing Lukas 6:27 Mazmur Mazmur 37:1-11 Pokok Doa Mendoakan perjuangan keadilan sosial di seluruh dunia (Hari Keadilan Sosial Sedunia - 20 Februari) Mendoakan Jemaat Awiligar Nyanyian Tema Rohani Populer “Mengampuni” Maria Shandi. (https://www.youtube.com/watch?v=q6QI_J1iiz0) atau KJ 434 : 1-2 “Allah adalah Kasih” atau KJ 467 : 1-3 “Tuhanku, Bila Hati Kawanku” Warna Liturgis Hijau MENABUR BENCI MENAMBAH KEGELAPAN, MENABUR CINTA MENGHADIRKAN MASA DEPAN Pengantar Beberapa orang menganggap bahwa untuk dapat memberitakan Injil, seseorang harus memiliki kecakapan atau kepandaian berkata-kata. Memiliki kepandaian dalam menghafal/ menafsirkan kitab suci. Padahal jika memperhatikan Doa Santo Fransiskus dari Asisi: “Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai. Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih. Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.” Dari penggalan doa ini, kita menjumpai bahwa setiap orang dapat memberitakan Injil tanpa harus dibatasi oleh persyaratan bahwa seseorang harus memiliki kecakapan/ keterampilan berkata-kata, kepandaian menafsirkan atau menghafal Kitab Suci. Melalui kata “pembawa damai”, “pembawa cinta kasih”, dan “pembawa pengampunan”, Santo Fransiskus hendak menegaskan bahwa setiap orang percaya dapat menjadi pemberita Injil lewat aksi nyata. Seseorang yang sedang jatuh cinta, ia akan melihat segala sesuatu (menyenangkan/ tidak) dengan mata yang baru. Seorang yang sedang jatuh cinta dapat menjadi begitu murah hati, penuh maaf dan baik hati. Meskipun mungkin sebelumnya orang tersebut tidak demikian. Itu cara efektif memberitakan Injil menurut Santo Fransiskus. Dunia sekitar kita akan terlihat membahagiakan atau tidak, diciptakan oleh pikiran dan emosi kita sendiri. Bagaimana cara kita dapat menciptakan dunia yang bahagia, penuh cinta dan damai? Anthony de Mello, memberi penegasannya agar kita mau mempelajari seni yang sederhana, indah, tetapi menyakitkan, yang disebutnya seni melihat. Oleh Anthony de Mello, kita diajak untuk melihat orang yang telah menyakiti atau menghina dengan penuh cinta dan penuh kasih. Berhadapan dengan orang yang menaruh rasa benci, kita harus tetap menghadirkan cinta kasih. Berilah pengampunan kepada orang yang telah menghina kita. Itulah berita utama dari karya Allah. Itulah cara dan teladan hidup yang Kristus kehendaki dari kita. Penjelasan Teks Perikop bacaan Lukas 6:27-36, diawali dengan kata “Tetapi”. Kata “tetapi” digunakan Yesus untuk menunjukkan adanya perbedaan tajam dengan ayat sebelumnya (ay.24-26). Melalui Lukas 6:27, Yesus hendak menekankan pentingnya kasih dan melakukan yang baik kepada semua orang, termasuk kepada musuh. Yesus memberi perintah agar para murid mengasihi musuh. Perintah Yesus ini tentu saja menjadi standar moral yang sangat tertinggi. Standar yang menuntut para murid untuk menolak kekerasan, dendam dan kebencian kepada sesamanya. B.J. Boland, menyebut ajaran Yesus dalam Lukas 6: 27-36 ini sebagai ‘etika’ yang memiliki corak revolusioner dan radikal. Sebab perintah Yesus ini sangat bertentangan dengan kecenderungan sifat (watak) kemanusiaan kita. Dimana kecenderungan umum adalah “Mata ganti mata, gigi ganti gigi....” (Kel. 21:24). Umumnya seseorang yang mengalami perlakuan tidak menyenangkan, akan merancangkan hal yang sama untuk orang tersebut. Namun ajaran Yesus justru sebaliknya, itulah sebabnya disebut revolusioner dan radikal. Karena Yesus mengajarkan sikap dan reaksi yang justru berseberangan dengan kebiasaan umum. Perhatikan ayat 29 “Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu”. Reaksi kita terhadap perlakuan yang tidak adil haruslah diwarnai dengan kemurahan hati dan sikap yang menolak untuk membalas dendam (ay. 29). Bahkan ada kesan, berikanlah lebih dari apa yang orang lain inginkan atau kehendaki dari kita (ay. 30). Ini sisi etika yang sangat tinggi nilainya. Sebab itu, wajar bila kemudian ada pengikut Yesus yang taat dan patuh pada perintah ini, kemudian dinilai sebagai sebuah kebodohan atau disebut “tolol” dan “gila”. Dianggap aneh, karena berseberangan dengan kebiasaan pada umumnya. Yesus memberikan alasan yang sangat mengena, tentang mengapa para murid harus mengasihi musuh, harus memberi lebih? Menurut logika umum, tidak ada seorang pun dari antara kita yang ingin agar orang lain melakukan hal yang buruk kepada kita. Setiap orang pasti ingin diperlakukan dengan baik, penuh hormat dan penuh cinta. Karena itu, Yesus mengingatkan para murid: “Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka”. (ay. 31) Akan tetapi, apa yang orang lain perbuat, dengan yang harus diperbuat oleh para murid Yesus harus memiliki nilai lebih. Jangan perbuatan baik itu hanya untuk mereka yang telah berbuat baik, karena dengan begitu tidak ada kelebihan kita di sana. Sebab mereka yang jahat pun dapat melakukan hal yang baik kepada orang yang telah berbuat baik. Nilai lebih atau nilai unggul kita sebagai murid Yesus, justru terletak pada ajaran ini. “Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;” (ay. 27). Mengapa? Karena Allah sendiri bukan hanya mengasihi orang yang telah memberikan kegembiraan kepada-Nya, tetapi Allah juga mengasihi orang yang telah menyusahkan hati-Nya. Allah mengasihi orang benar maupun orang berdosa. Melalui ayat 32-35, Yesus kemudian menolong kita untuk memahami perbedaan antara orang yang telah dan belum mengalami anugerah Allah. Mereka yang telah menerima anugerah serta pengampunan Allah di dalam Yesus Kristus, haruslah tampil berbeda dari orang-orang pada umumnya. Sebab anugerah Allah itu adalah sesuatu yang baik. Anugerah Allah telah menghadirkan sukacita pada diri kita. Maka dengan mengasihi orang yang telah berbuat jahat. Dengan berbuat baik kepada mereka yang telah melontarkan hinaan, sesungguhnya kita sedang menghidupi anugerah Allah itu sendiri. Kitab Suci memberikan bukti otentik tentang hal itu lewat tindakan Esau yang menerima kembali sang adik yang pernah memperdayanya (Kej. 33:4), lewat pertobatan Zakheus yang penuh sukacita (Luk. 19:1-10). Karena itu, ketika kita mengasihi musuh, kita sedang membebaskan diri dari beban kebencian yang dapat merusak kedamaian di hati. Dengan mengasihi musuh, kita sedang membuka ruang untuk menghadirkan hidup bermakna. Dengan mengasihi musuh, hati dan penglihatan kita akan dibawa untuk menjelajahi masa depan penuh damai. Pada akhirnya kasih sayang menjadi kekuatan yang mendamaikan hati dan dunia di sekitar kita. Sekalipun orang dunia menganggap kita ‘bodoh’, ‘tolol’, dan ‘gila’ karena memilih untuk melaksanakan perintah Allah, dengan mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka. Sekalipun demikian kita harus tetap melakukannya. Sebab itulah bukti bahwa kita telah menerima anugerah Allah dan tahu cara menggunakan anugerah itu dengan tepat dan benar. Dengan mengasihi musuh, itu sama artinya dengan kita menabur cinta. Menabur cinta sama berarti menghadirkan harapan dan masa depan. Dengan melakukan hal yang berbeda dari kebiasaan umum, berarti kita sedang menjadi pantulan dari kehadiran Allah Bapa yang murah hati. Karena Yesus sendiri berkata, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (ay. 36). Memang melakukan apa yang menjadi perintah Allah ini, tidak semudah yang dibayangkan. Ajaran dan perintah Yesus ini, bukan semata-mata tentang menunjukkan kebaikan kepada orang lain. Melainkan tentang praktik konkret mengenai mengasihi dan mengampuni yang melampaui ego, rasa sakit dan dendam untuk menemukan kedamaian, menghadirkan cinta yang lebih dalam. Dengan berbuat demikian maka kita sedang menyenangkan Tuhan. Pokok Pikiran Hidup dalam perselisihan dan permusuhan sangat tidak menyenangkan; sangat tidak sejahtera. Oleh karena itu, Yesus mengajarkan sebuah keistimewaan dan keunggulan hidup sebagai orang percaya. Keistimewaan dan keunggulan tersebut menjadi pokok etika kristiani, yang membedakannya dengan pengajaran-pengajaran umum yang biasa ada di tengah masyarakat. Mengasihi musuh berarti mengampuni yang telah menghina dan mencela itulah perintah Yesus kepada murid-murid-Nya dulu dan sekarang, sekaligus menjadi etika tertinggi dalam kehidupan bersama yang harus diwujudkan oleh setiap pengikut Yesus. Setiap orang yang mau mengikut Yesus, sejak awal diingatkan bahwa panggilannya tidak menjadi serupa dengan dunia, ketika dunia menebar kejahatan maka pengikut Kristus harus menabur cinta dan kedamaian, sebagaimana Kristus hadir membawa damai sejahtera, maka demikian dengan kita sebagai pengikut-Nya. Untuk menghadirkan kedamaian dan harmoni, setiap pengikut Kristus diajak untuk memiliki cara pandang seperti Yesus, yakni “mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka”. Dengan mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka, kita menuntun diri kita untuk melihat masa depan yang lebih cerah dan penuh harapan. Dengan menghadirkan kedamaian, berarti kita menabur cinta dalam hidup kita sendiri dan orang lain. Dengan menabur cinta berarti kita menghidupi anugerah Allah yang nyata dalam hidup kita. Dengan mengasihi musuh, berarti kita merawat dan memelihara anugerah Allah. Dengan memelihara anugerah Allah kita juga menyenangkan Allah: menjadi orang yang tahu bersyukur dan berterima kasih atas kebaikan dan anugerah Allah dalam hidup kita. Daftar Acuan Anthony de Mello, SJ “ Dipanggil untuk Mencinta”, Kanisius, Semarang cetakan ke-13, 2005 LAI & Yayasan Karunia Bakti Budaya, “Pedoman Penafsiran Alkitab Injil Lukas”, Jakarta, 2005 Dr. B.J. Boland, “Tafsiran Alkitab Injil Lukas”, BPK GM, Jakarta, 2003 William Barclay, “Pemahaman Alkitab Setiap Hari Injil Lukas”, BPK GM, Jakarta, 2008 https://santapanrohani.org/2013/07/13/hidup-yang-kita-idamkan (Andris Suhana)
Daftar Label dari Kategori DPA Minggu GKP 2025 | NEXT: DPA Minggu GKP Maret 2025 PREV: DPA Minggu GKP Januari 2025 | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |