|
|
Minggu Transfigurasi 2 Maret 2025 Pembacaan Alkitab Lukas 9:28-36 Nas Pembimbing Lukas 9:35 Mazmur Mazmur 99:1-9 Pokok Doa Mendoakan Anak-anak (Hari Anak GKP - 3 Maret) Mendoakan Jemaat “Ebenhaezer” Cawang (3 Maret 1946) Mendoakan Jemaat Bandung Nyanyian Tema PKJ 2:1-2 “Mulia, Mulia Nama-Nya” Warna Liturgis Putih KEMULIAAN KRISTUS MEMBAWA PERUBAHAN Pengantar Pernahkah saudara mengalami suatu peristiwa yang membuat saudara tidak berhenti untuk memandang peristiwa itu? Peristiwa yang membawa kekaguman, suasananya begitu menyenangkan, dan seolah-olah tidak mau berakhir dari suasana tersebut? Meskipun tidak dapat disamakan, namun kita dapat membayangkan suasana tersebut terjadi pada Petrus, Yohanes dan Yakobus tatkala mereka melihat kemuliaan Kristus. Petrus berkata bahwa “sungguh baik berada di tempat ini” dan hendak mendirikan 3 kemah yaitu untuk Yesus, Elia dan Musa. Kemuliaan Kristus yang terpancar dari rupa wajah-Nya yang berubah dan bagi Petrus dan kawan-kawannya peristiwa itu merupakan pengalaman yang pastinya tidak dapat terlupakan dan merupakan peristiwa khusus yang mereka alami. Pada Minggu ini kita memasuki Minggu Transfigurasi. Sejauh apakah saudara memahami peristiwa Transfigurasi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) transfigurasi diartikan sebagai: 1) perubahan bentuk atau rupa; metamorfosis; 2) penjelmaan. Lalu apakah transfigurasi Kristus? Transfigurasi adalah sebuah Teofani yakni sebuah manifestasi Tuhan, khususnya keilahian Kristus melalui sebuah pertunjukan energi Ilahi-Nya yang tidak diciptakan. Dengan berubah rupa wajah dan jubah-Nya menjadi putih berkilau-kilauan, Yesus menunjukkan siapa Dia sebenarnya. Penjelasan Teks Setiap tahun kita memperingati Minggu Transfigurasi dengan memahami secara sederhana bahwa Minggu transfigurasi adalah Minggu di mana Kristus dimuliakan. Kristus pada saat itu bersama ketiga murid-Nya, Petrus, Yohanes dan Yakobus berada di atas gunung untuk berdoa. Tatkala Kristus sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan jubah-Nya menjadi putih berkilau-kilauan (ay. 29). Dalam Injil Markus disebutkan bahwa tidak ada seorang pun di dunia yang dapat memutihkan pakaian seperti itu (lih. Mrk. 9:3). Lukas menceritakan bahwa saat Yesus berdoa, tampak dua orang berbicara dengan Dia yaitu Musa dan Elia. Musa dan Elia adalah tokoh besar dalam kehidupan bangsa Israel. Peristiwa yang terjadi di atas gunung menjadi sebuah peristiwa khusus karena baik Musa maupun Elia telah menerima wahyu di gunung. Musa menerima sepuluh perintah (Kel. 20:1-17) dan Elia melarikan diri ke Gunung Horeb dan di sana Allah berbicara kepadanya dalam “suara keheningan total” (1 Raj. 19:12). Dalam Alkitab TB2 ditulis dengan “suara embusan yang lembut”. Gunung kerap menjadi tempat yang dijadikan simbol kekuatan, kemahakuasaan, kehebatan, kebesaran, dan kemuliaan Allah. Gunung menjadi simbol keberadaan Allah yang penuh kuasa, mulia dan besar. Gunung dianggap mempesona dan suci (bdk. Ul. 11:29). Itu adalah kelanjutan dari mitologi Kanaan, yang ilahnya Baal, penguasa badai dengan kilat dan petir, dikira hidup di Gunung Zafon; juga bagi orang Ibrani, Allah adalah Allah gunung (1 Raj. 20:23-28). Tatkala percakapan Yesus dengan Musa dan Elia terjadi di atas gunung maka semakin nyatalah bahwa mereka bukanlah orang biasa saja tetapi merupakan tokoh yang sangat bersejarah dalam perjalanan umat Tuhan. Meskipun sudah lazim untuk menganggap mereka mewakili hukum dan para nabi, yang tidak dapat diabaikan, mungkin ada hal-hal yang lebih penting tentang mereka dalam kisah ini. Mereka telah berada di gunung untuk menerima wahyu; mereka diharapkan muncul pada kedatangan zaman mesianik (lih. Ul. 18:15 tentang Musa; Mal. 4:5 tentang Elia); dan keduanya telah diangkat ke surga dan karenanya mendapat hak istimewa untuk mengenal Allah secara langsung dan mengetahui kehendak-Nya. Kisah tentang Elia yang naik ke surga diceritakan dalam 2 Raja-raja 2:11-12. Kisah tentang Musa yang naik ke surga tidak ada dalam Perjanjian Lama itu sendiri, tetapi dalam tradisi Yahudi. Sebagai orang yang telah mengetahui persekutuan dan pikiran Tuhan, mereka dapat memberikan wahyu ilahi kepada Yesus. Pengungkapan Lukas mengenai percakapan itu sangat penting untuk kisahnya. Ia mengatakan bahwa Musa dan Elia “berbicara tentang kepergian-Nya, yang akan digenapi-Nya di Yerusalem” (Luk. 9:31). Istilah Yunani yang diterjemahkan sebagai “keberangkatan” adalah exodus (“exodus” dalam bahasa Inggris). Mereka berbicara tentang keluarnya Yesus dari dunia ini melalui penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga, tempat di mana mereka tinggal bersama Allah. Keluaran itu hanya dapat terjadi sesuai dengan apa yang Yesus sendiri telah nubuatkan ketika Ia berkata, tepat sebelum kisah ini, bahwa Ia harus menderita, dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga (Luk. 9:22). Sementara terjadi percakapan itu, Petrus dan teman-temannya telah tertidur dan ketika mereka terbangun, mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya dan kedua orang yang berdiri di dekat-Nya itu. apa yang dilihat oleh Petrus dan kedua temannya tentu sangat berkesan sehingga Petrus berinisiatif untuk membuat kemah dan menyampaikan hal tersebut kepada Yesus. Tiga "tempat tinggal" (Luk. 9:33, menurut New Revised Standard Version, atau "pondok" dalam versi Revised Standard Version) mengingatkan kita pada tempat-tempat yang digunakan pada Hari Raya Pondok Daun (atau Tabernakel), sebuah hari raya panen tahunan. Hari raya ini memperingati perlindungan Allah selama pengembaraan di padang gurun (Im. 23:39-43). Dengan demikian, pondok-pondok daun juga melambangkan waktu istirahat, yang dapat ditafsirkan secara alegoris sebagai istirahat mesianik. Ucapan Petrus itu berarti bahwa, karena zaman mesianik sudah tiba, kelompok itu harus "berkemah" secara permanen di gunung. Namun, itu tidak boleh terjadi. Ada suara dari surga, yang menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah, mengingatkan kita pada pernyataan yang sama saat pembaptisan-Nya (Luk. 3:22), diikuti dengan perkataan bahwa para murid harus mendengarkan Yesus (Luk. 9:35). Kisah itu berakhir dengan keheningan yang dipaksakan sendiri (Luk. 9:36). Bagaimana jika kita berada bersama Yesus saat itu? Tentu akan mengalami hal yang sama seperti Petrus dan kedua temannya. Mereka takjub akan kemuliaan yang dialami Yesus dan mereka menyaksikannya secara langsung Kemuliaan itu. Ketakjuban Petrus dan kedua temannya merupakan hal yang wajar terjadi setelah sebelumnya mereka disuguhkan berita tentang hal yang akan dialami oleh Yesus yaitu penderitaan-Nya dan berujung pada kematian-Nya. Secara manusia, ketakjuban itu adalah hal yang wajar saat suasana lain terjadi ketika mereka melihat Yesus dalam situasi yang berbeda dengan yang diceritakan sebelumnya. Meskipun mereka juga harus mengalami ketakutan saat awan datang menaungi mereka dan mendengar suara yang menyampaikan perintah untuk mendengarkan Yesus. Pokok Pikiran Setiap orang tentunya mengharapkan kehidupan yang selalu berada dalam kedamaian dan menyenangkan. Namun nyatanya kehidupan ini terjadi dengan dinamikanya. Seseorang tidak akan pernah mengalami terus keadaan yang diharapkan terjadi. Suka dan duka akan silih berganti, susah dan senang akan berdampingan dalam hidup. Air mata menandakan baik duka maupun suka merupakan dua sisi koin berbeda yang selalu bersama. Peristiwa Transfigurasi Yesus yang ‘membius’ atau mempesonakan Petrus, Yakobus dan Yohanes pun kemudian berubah menjadi peristiwa yang membuat mereka takut dan mereka kemudian mendengar suatu perintah untuk mendengarkan Yesus. Ketakjuban, ketakutan dan akhirnya mereka terdiam. Kondisi itu tentu membawa diri mereka pada pikiran dan refleksi masing-masing. Minggu Transfigurasi bukan hanya sebuah perayaan akan kemuliaan Yesus dan berhenti pada ketakjuban. Namun yang paling penting bagaimana merayakan kemuliaan Yesus dengan tetap pada tugas tanggung jawab kita untuk selalu mendengarkan DIA. Dalam kemuliaan-Nya, Yesus mau turun ke dalam dunia. Maka dalam pemahaman kita akan kemuliaan Kristus, mari kita turun dari “gunung” untuk terus melanjutkan tugas dan tanggung jawab yang belum kita selesaikan dalam dunia ini. Memandang kemuliaan-Nya, memandang teladan-Nya, kemahakuasaan-Nya yang mau turun ke dalam dunia yang fana. Yesus adalah pilihan Allah, karena Yesus mendengarkan-Nya. Semua ajaran tentang kasih kepada Allah dan manusia harus ditaati. Maka, marilah kita dengarkan Dia! Daftar Acuan https://www.workingpreacher.org/commentaries/revised-common-lectionary/transfiguration-of-our-lord-3/commentary-on-luke-928-36-37-43 https://st-ignatius.net/what-was-the-transfiguration-of-jesus-bible-story-and-meaning/ https://alkitab.sabda.org/dictionary.php?word=gunung (Yusi Sri W) Rabu Abu 5 Maret 2025 Pembacaan Alkitab Yoel 2:1-17 Nas Pembimbing Yoel 2:13 Mazmur Mazmur 51:1-21 Pokok Doa Mendoakan persiapan diri dan Jemaat dalam menjalani minggu-minggu Prapaskah Nyanyian Tema KJ 392:1-3 “Ku Berbahagia” atau “Baliklah Pada Bapa” (https://youtu.be/0tEUftr8aNo?feature=shared) Warna Liturgis Ungu PERTOBATAN: LANGKAH MENUJU TRANSFORMASI DIRI Pengantar Kembali di hari ini kita menghayati Rabu Abu sebagai permulaan dari minggu-minggu Prapaskah. Minggu-minggu ini dihayati dan dimaknai dengan pertobatan dan perubahan untuk menjadi pribadi, persekutuan, dan komunitas yang setia pada Tuhan. Pertobatan berasal dari kata Ibrani "teshuvah," תשו'", yang sering diterjemahkan sebagai "pertobatan," namun lebih tepat diartikan sebagai "berbalik" (shuv) kepada Tuhan. Kata kerja ini muncul hampir 1.000 kali dalam Kitab Suci Ibrani, pertama kali ketika Tuhan memberi tahu Adam bahwa dia akan "kembali ke tanah" (Kej. 3:19). Secara spiritual, shuv dapat dipahami sebagai tindakan praktis untuk menjauhi kejahatan dan berbalik menuju kebaikan, meskipun dalam pemikiran Yahudi, berbalik kepada Tuhan dianggap sebagai cara utama untuk menjauhi kejahatan. Tindakan berbalik ini memiliki kekuatan untuk mengubah arah hidup seseorang dan mempengaruhi seluruh jiwa. Sebagaimana yang ditulis oleh Abraham Heschel, "Tidak ada kata yang merupakan kata terakhir Tuhan. Penghakiman, jauh dari mutlak, bersifat bersyarat. Perubahan dalam perilaku manusia membawa perubahan dalam penghakiman Tuhan" (Heschel: The Prophets, 194). Dalam terjemahan Yunani kuno dari Kitab Suci Yahudi (Septuaginta, atau LXX), shuv diterjemahkan dengan kata "strepho" (στρέφω), yang berarti berbalik atau kembali kepada Tuhan. Sejalan dengan itu mengutip dari kamus Merriam Webster yang menyatakan pertobatan memiliki 2 (dua) arti. Pertama, pertobatan merupakan sikap berpaling dari dosa dan mengabdikan diri untuk memperbaiki hidup seseorang. Kedua, pertobatan berarti ungkapan penyesalan dan berharap ada perubahan pikiran. Dengan kata lain, pertobatan bukan hanya perubahan pola pikir, melainkan perubahan hidup yang mengarah pada kebaikan bukan kejahatan. Penjelasan Teks Yoel merupakan salah seorang nabi dalam Alkitab yang berulang kali memohon kepada Israel untuk kembali kepada Tuhan dan meninggalkan dosa-dosa mereka. Para ahli kerap memperdebatkan kapan Yoel hidup. Jika ia hidup sebelum atau selama masa pembuangan, ia memperingatkan Israel tentang perang yang akan datang dengan Asyur atau Babel - perang yang mereka pasti kalah. Jika ia hidup pada masa Bait Suci Kedua, penggambaran itu menjadi pengingat akan perjanjian Israel dengan Allah. Namun, apapun periode waktunya, pesan Yoel jelas: dosa komunal memiliki konsekuensi. Pasal 2 dapat dibagi ke dalam 4 (empat) bagian. Pertama, gambaran kehancuran yang akan dialami tanah Yehuda sebagai dampak serangan belalang dan ulat (ay. 1-11). Kedua, seruan untuk kembali kepada Tuhan, bertobat, berpuasa, berdoa, dan memohon belas kasihan-Nya di tengah hukuman yang berat ini, beserta petunjuk tentang cara melakukannya dengan benar (ay. 12-17). Ketiga, janji bahwa setelah mereka bertobat, Tuhan akan menghapus hukuman tersebut, memperbaiki kerusakan yang terjadi, dan memulihkan berkat-berkat bagi mereka (ay. 18-27). Keempat, nubuat tentang pendirian Kerajaan Mesias di dunia melalui pencurahan Roh Kudus pada akhir zaman (ay. 28-32). Kita melihat bagian pertama dalam ayat 1-11 memaparkan kemurkaan Tuhan yang menakutkan, tetapi berakhir dengan jaminan kemurahan-Nya. Perubahan ini terjadi melalui pertobatan. Ayat 1 diawali dengan “tiuplah sangkakala di Sion …” sebagai tanda untuk memanggil pasukan atau tanda perang. Hal ini merupakan peringatan bagi Yehuda dan Yerusalem akan penghakiman yang akan datang, agar mereka bersiap untuk menghadapi Tuhan dalam penghakiman-Nya. Sebagaimana yang diatur dalam ketentuan bahwa imam bertanggung jawab untuk meniup sangkakala/nafiri (Bil. 10:8), sebagai seruan kepada Tuhan di hari kesusahan mereka dan sebagai panggilan kepada umat untuk mencari wajah-Nya. Sebagaimana kita mengingat bahwa para nabi dan orang yang telah diurapi Tuhan bertanggung jawab memberi peringatan dan teguran ketika umat Tuhan melakukan tindakan jahat dan fasik. Meskipun Sion dan Yerusalem tidak bebas dari penghakiman Allah jika mereka memberontak, mereka memiliki hak istimewa untuk diperingatkan agar bisa berdamai dengan-Nya. Bahkan di gunung yang kudus, sangkakala harus dibunyikan, dan itu akan sangat menakutkan (Am. 3:2, 6). Bak hari peperangan yang datang mendekat dan tidak dapat dihindari. Hari Tuhan, hari penghakiman, di mana Ia akan menyatakan dan memuliakan diri-Nya. Hari itu ditandai dengan kegelapan dan kesuraman (ay. 2). Sebagaimana pengalaman yang dicatat dalam Keluaran 10:15, kawanan belalang dan ulat akan datang dalam jumlah yang banyak hingga menggelapkan langit. Hal ini dapat diartikan secara harafiah maupun kiasan bahwa hari itu akan penuh dengan kesedihan dan penderitaan mendalam. Pasukan yang dikerahkan digambarkan sebagai bangsa yang besar dan kuat (ay. 2). Barang siapa yang menyaksikan jumlah belalang dan ulat yang menyerang dan menghancurkan negeri itu akan berkata, "Tidak pernah ada sebelumnya, dan tak akan pernah ada lagi yang serupa dengan ini." Penghakiman luar biasa ini jarang terjadi, menunjukkan betapa sabarnya Tuhan. Saat Allah menenggelamkan dunia sekali, Dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tentara belalang ini digambarkan sebagai: Sangat berani dan gagah berani: Seperti kuda perang yang maju tanpa rasa takut (ay. 39:22), dan seperti pasukan berkuda yang berlari dengan semangat dan amarah (ay. 4). Beberapa orang kuno mencatat bahwa kepala belalang mirip dengan kepala kuda. Suara yang dikeluarkan sangat keras dan berisik: Seperti suara banyak kereta perang yang melaju kencang di atas tanah kasar dan di puncak gunung (ay. 5). Gambaran belalang yang dilihat Yohanes keluar dari jurang maut berasal dari deskripsi belalang ini (Why. 9:7, 9). Bentuk belalang-belalang itu seperti kuda siap perang, dan suara sayap mereka seperti bunyi kereta-kereta perang, seperti banyak kuda yang berlari ke medan perang. Tindakan berikutnya ialah eksekusi yang mengerikan yang digambarkan dengan nyala api yang memakan habis jerami (ay. 5). Barisan pasukan itu siap menyerang dan menghanguskan segala jalan yang ada di dalam negeri. Dampak yang ditinggalkan ialah kehancuran. Ladang yang sarat dengan buah-buahan, seperti taman Eden yang menjadi kebanggaan, berubah menjadi padang gurun sunyi. Tidak ada lagi kesuburan dan keindahan. Begitu juga di kota. Pasukan ini akan memanjat tembok kota (ay. 7), berlari ke rumah-rumah, dan masuk melalui jendela-jendela seperti pencuri (ay. 9). Hal ini mengingatkan kita ketika Mesir diserang belalang, belalang-belalang itu memenuhi rumah-rumah Firaun dan rumah-rumah para pegawainya (Kel. 10:5-6). Tidak ada yang dapat menghalangi ketika penghakiman Allah itu datang. Banyak penderitaan dan kemuraman, sehingga orang-orang mengalami keputusasaan dan ketakutan. Seluruh bagian merasakan ketakutan ketika penghakiman itu terjadi. Tidak ada seorang pun yang dapat lolos dari murka Allah. Ayat 11 diakhiri bagaimana tidak ada siapa pun yang dapat menahan ketika hari penghakiman, hari Tuhan itu terjadi. Kehancuran itu benar-benar dialami oleh umat ketika mereka memilih untuk tidak berbalik pada-Nya. Kini kita beralih ke ayat 12-17. Ayat 12-13 diawali dengan “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu... koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu” Pada masa itu, mengoyak pakaian merupakan tanda kesedihan besar atas dosa dan kemarahan terhadap kebodohan diri sendiri. Namun, apa yang ditunjukkan ialah kehati-hatian sehingga bukan hanya penampilan luar semata, tetapi melihat ke dalam hati. Mengoyak hati ialah apa yang dicari dan dituntut Tuhan; itulah hati yang hancur dan remuk yang tidak akan diremehkan-Nya (Mzm. 51:17). Ketika kita mengungkapkan dengan kesungguhan akan keberdosaan dan kesungguhan untuk menjauhi dosa, maka kita mengoyak hati dan berharap akan belas kasih Tuhan. Ajakan agar orang memilih untuk berpaling kepada Tuhan dengan sepenuh hati mereka. Ketika seseorang merasa bahwa ia/ mereka sangat berdosa dan hati mereka terkoyak karenanya, mereka menjadi siap untuk kembali sepenuhnya kepada Allah. Hal ini mengantarkan pada sebuah keyakinan yakni Allah pada dasarnya adalah Tuhan yang baik. Kita harus berpaling kepada Tuhan bukan hanya karena Ia adil dalam menghukum dosa-dosa kita, yang seharusnya membuat kita takut kepada-Nya, tetapi juga karena Ia adalah penuh rahmat dan kasih, yang membuat kita berharap kepada-Nya. Allah penuh belas kasihan dan tidak senang dengan kematian orang berdosa, tetapi ingin mereka bertobat dan hidup. Pertobatan sejalan dengan adanya pemulihan. Allah yang dengan kemurahan hati-Nya mengubah penghakiman menjadi menghadirkan belas kasih pada manusia yang berdosa. Sekali lagi, dilandasi dengan keyakinan sepenuhnya. Tidak hanya dari sisi Allah saja, melainkan dari sisi manusia. Mereka tidak boleh menunjukkan keraguan, setengah hati ketika melakukan pertobatan. Hal ini mengingatkan kita pada Niniwe yang menunjukkan pertobatan (Yun. 3:9). Selain itu, ada harapan juga bahwa Allah menghadirkan berkat, yang karena penghakiman semuanya ada dalam kehancuran. Maka, berkat yang berupa makanan dan minuman, kelimpahan daging itulah yang kemudian menjadi kurban sajian dan korban curahan bagi Allah. Pertobatan yang dilakukan merupakan pertobatan yang dilakukan secara komunal dan dilaksanakan dalam sebuah pertemuan yang khidmat. Tindakan ini dilakukan sebagai tindakan komunal nasional demi kemuliaan Allah dan kesukacitaan bersama, serta agar bangsa-bangsa lain dapat melihat dan memahami alasan yang membuat mereka layak menerima kasih karunia Allah. Kita telah membaca di ayat 1, sebelumnya sangkakala menjadi tanda perang atau peringatan, kini berubah makna menjadi sebuah tanda perjanjian damai. Allah bersedia menunjukkan belas kasihan kepada umat-Nya jika mereka berada dalam kondisi yang sesuai. Oleh karena itu, mereka harus berkumpul, mengadakan puasa, dan menguduskan Jemaat. Menurut hukum Taurat, ada banyak perayaan tahunan, tetapi hanya satu hari dalam setahun yang diharuskan sebagai puasa, yaitu hari penebusan. Namun, karena dosa mereka mendatangkan penghakiman Allah, mereka sering dipanggil untuk berpuasa. Hal ini juga diulangi dalam Yoel 1:14: "khususkanlah hari puasa, umumkanlah perkumpulan raya … yang hadir ialah para tua-tua dan seluruh penduduk negeri. Semua orang harus ikut ambil bagian, tidak ada yang terkecuali, termasuk anak-anak bahkan yang masih menyusui. Mengikutsertakan anak-anak kecil dalam pertemuan keagamaan adalah baik agar mereka terlatih sejak dini. Tangisan anak-anak yang menyusui dapat menggerakkan hati orangtua untuk bertobat atas dosa mereka, yang mungkin mengundang hukuman Allah atas anak-anak mereka. Dengan demikian, Allah mungkin berkenan kepada mereka seperti yang dilakukan-Nya kepada bayi-bayi di Niniwe (Yun. 4:11). Selain itu, mereka yang baru menikah tidak boleh dikecualikan: Pengantin laki-laki harus keluar dari kamarnya dan pengantin perempuan dari kamar tidurnya. Mereka tidak boleh bermegah-megahan atau mengenakan perhiasan, tetapi harus menghadapi kewajiban puasa bersama seluruh umat dengan kesungguhan dan kesedihan yang sama seperti yang lain. Sukacita pribadi harus digantikan oleh dukacita umum, baik karena kesengsaraan maupun dosa. Para imam, pelayan Tuhan, harus memimpin Jemaat, menjadi mulut Allah bagi umat, dan sebaliknya. Mereka bertugas untuk menjadi perantara bagi umat. Mereka harus bertugas di antara serambi dan mezbah, tempat biasa mengurus kurban. Karena kini hampir tidak ada kurban untuk dipersembahkan, mereka harus mempersembahkan kurban rohani di sana. Orang-orang harus melihat mereka menangis dan bergumul agar tergerak untuk kembali kepada kesalehan. Mereka mesti menyatakan permohonan akan belas kasih Tuhan. Dengan cara demikian, relasi mereka dengan Tuhan menjadi lebih baik dan pulih. Dari apa yang kita pelajari melalui bagian ini menolong kita melihat ada perubahan yang diawali dari penghakiman mengarah pada belas kasih dan kemurahan yang Allah tunjukkan dibarengi dengan tindakan manusia yang menunjukkan penyesalan akan kesalahan dan keberdosaannya. Pokok Pikiran Umat diajak untuk memaknai pertobatan baik secara individu maupun bersama. Rabu Abu sebagai tanda dimulainya minggu-minggu Prapaskah 46 hari sebelum Paskah. Rabu Abu menjadi momen sekaligus pengingat bagi kita untuk merenung, bertobat, dan mempersiapkan diri untuk merayakan Paskah, kebangkitan Yesus Kristus. Ketika kita melaksanakan kebaktian Rabu Abu, kita familiar ketika menaruh abu di dahi dengan menyatakan ‘Ingatlah bahwa kamu adalah debu, dan akan kembali menjadi debu. Tindakan tersebut tidaklah dipandang sebagai formalitas belaka, melainkan merenungkan kembali pernyataan yang terkandung di dalamnya. Kamu adalah debu menandakan bahwa manusia itu fana dan tidak luput dari tindakan ketidaksetiaan dan kecenderungan melawan kehendak Allah dan karenanya manusia membutuhkan pertobatan. Pertobatan merupakan undangan untuk introspeksi diri, pengakuan dosa dan disiplin rohani dalam persiapan Paskah. Banyak di antara kita yang menghayati minggu-minggu Prapaskah dengan berpuasa, berdoa, dan menyisihkan sebagian dari harta untuk mendukung salah satu program Jemaat. Kesemuanya dilakukan sebagai upaya untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Masa ini merupakan waktu untuk pembaruan dan pertumbuhan rohani, dengan fokus pada pengorbanan dan kebangkitan Kristus. Rabu Abu mengingatkan kita semua akan kefanaan dan keterbatasan manusia dan harapan dalam kebangkitan Kristus. Daftar Acuan https://www.hebrew4christians.com/Holidays/Fall_Holidays/Elul/Teshuvah/teshuvah.html https://www.merriam-webster.com/dictionary/repent https://biblehub.com/commentaries/mhcw/joel/2.htm (Titin Meryati Gultom) Minggu Prapaskah Pertama 9 Maret 2025 Pembacaan Alkitab Lukas 4:1-13 Nas Pembimbing Lukas 4:8 Mazmur Mazmur 91:1-16 Pokok Doa Memasuki Minggu Prapaskah Mendoakan kaum perempuan untuk hidup bijak (Hari Perempuan Internasional-8 Maret) Mendoakan Jemaat Bandung Nyanyian Tema Ujilah Aku Tuhan - Symphony Worship (https://www.youtube.com/watch?v=2bT5Rndlvjo)atau KJ 436:1,2 “Lawanlah Godaan” Warna Liturgis Ungu SWIPE LEFT PADA GODAAN : MENGHADAPI UJIAN DENGAN BIJAK Pengantar Di zaman yang modern ini segala hal dapat diakses melalui media sosial, mulai dari transportasi, pengantaran barang, sampai kepada mencari pasangan. Aplikasi Kencan atau Dating Apps adalah platform yang dirancang dan digunakan khusus untuk seseorang yang memiliki masalah dalam hubungan interpersonal dan romantis. Aplikasi ini juga dapat digunakan untuk mencari pasangan romantis, teman kencan, dan relasi. Terdapat berbagai macam jenis aplikasi kencan yang menggunakan metode Swipe Left (Geser ke kiri) untuk menolak jika merasa tidak tertarik dengan opsi pilihannya atau Swipe Right (Geser ke kanan) yang berarti menyukai atau menerima seseorang. Jika kedua orang saling menggeser ke kanan, mereka akan cocok dan dapat mulai mengirim pesan. Dalam konteks yang lebih luas, penggunaan kata "swipe left" digunakan secara kiasan untuk menggambarkan tindakan menolak atau menjauhi sesuatu yang tidak sesuai atau tidak diinginkan seperti godaan, pilihan buruk, atau hal-hal negatif dalam kehidupan sehari-hari. Ini menekankan pentingnya membuat keputusan yang bijak dan selektif dalam memilih apa yang kita terima atau ikuti. Dan pada minggu prapaskah pertama ini, kita akan melihat kembali bagaimana Yesus meng-swipe left godaan dari Iblis, Yesus dapat menghadapi godaan-godaan dari Iblis dengan bijak. Penjelasan Teks Lukas, dalam Injilnya, memberikan landasan teologis bagi penulisan karyanya. Setelah itu, narasi beralih pada peristiwa inkarnasi dan kelahiran Yesus Kristus. Kisah kelahiran Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu Yesus menjadi jembatan menuju peristiwa pembaptisan di Sungai Yordan, yang menandai dimulainya pelayanan publik Yesus. Bagian ini ditutup dengan gambaran tentang Yesus yang digoda di padang gurun, sebuah peristiwa untuk mempersiapkan Mesias yang menggarisbawahi sifat manusiawi dan misi ilahi-Nya yang akan lebih kita pelajari lebih lanjut dalam Lukas 4 : 1 - 13. Setelah Yesus dibaptis, diakui oleh suara dari langit, dan turunnya Roh Kudus ke atas-Nya. Sekarang, dalam Lukas 4 : 1-13 ini kita melihat persiapan selanjutnya bagi pelayanan-Nya di hadapan umum melalui pencobaan di padang gurun. Yesus dituntun Roh Kudus untuk berpuasa selama 40 hari lamanya di Padang Gurun Yudea yang tandus yang memang hanya dihuni oleh hewan buas dan para penyamun. Padang gurun sering dianggap menjadi tempat iblis (Yes 13:21, 34:14). Maka dari itu tidak mengherankan jika Yesus bertemu iblis di situ. Ia terus berpuasa dan puasa seperti ini adalah puasa yang ajaib dan menakjubkan, sama seperti puasa yang dilakukan oleh Musa dan Elia. Hal ini menunjukkan bahwa sama seperti mereka, Ia sungguh seorang Nabi yang diutus Allah. Dengan menyingkir ke padang gurun, Ia menunjukkan bahwa Ia sama sekali tidak tertarik pada dunia. Yesus hanya berfokus pada misi-Nya walau Ia dicobai. Iblis mencobai Yesus tiga kali, dengan menantang identitas-Nya sebagai Anak Allah. Pencobaan pertama di ayat 3-4 Ketika Yesus dalam keadaan lapar, Iblis mengatakan “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah batu ini menjadi roti.” Namun Kristus tidak tunduk pada pencobaan itu. Dalam ayat 4 Yesus mengatakan “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.” Beberapa naskah kuno menambahkan dalam ayat 4 “melainkan dari setiap Firman Allah”. Yesus tidak ingin memenuhi keinginan Iblis karena hal itu akan membuat orang-orang salah paham. Mereka mungkin akan berpikir bahwa Yesus memiliki kesepakatan rahasia dengan penguasa kejahatan. Yesus tidak mau tunduk pada godaan Iblis karena Ia ingin menunjukkan bahwa kuasa-Nya berasal dari Allah, bukan dari setan. Hal ini menegaskan bahwa kebutuhan rohani lebih penting daripada kebutuhan fisik, yang memperkuat ketergantungan pada firman Tuhan (Ul. 8:3). Lalu godaan kedua terjadi pada ayat 5-8, ketika Iblis membawa Yesus ke tempat yang tinggi sehingga terlihatlah segala kerajaan dunia. Di sini Iblis mencoba untuk menawarkan Yesus otoritas atas semua kerajaan jika Ia menyembahnya, kerajaan yang seharusnya akan Ia terima dari Bapa-Nya sendiri karena Ia adalah Anak Allah. Namun seperti godaan pertama, Yesus tetap menolak godaan dari Iblis itu. Penolakan Yesus terhadap godaan Iblis ini mau menegaskan komitmen mutlak-Nya kepada Allah. Ia menolak segala bentuk kesepakatan yang dapat mengkompromikan misi Ilahi-Nya. Tidak menyerah, Iblis melakukan pencobaan yang ketiga kalinya dengan membawa-Nya ke Yerusalem dan menempatkan Dia di pinggir atap bait Allah. Di sini Iblis mencobai Yesus agar menjadi pembunuh diri-Nya sendiri, dengan menyuruh Dia mencobai perlindungan Bapa-Nya yang tidak pernah menjamin perlindungan dengan cara seperti itu. Iblis mencoba meragukan identitas Yesus sebagai Anak Allah. Iblis mau mengatakan bahwa, "Bukti kamu sebagai Anak Allah itu lemah. Coba saja kamu lompat dari atap Bait Allah, pasti semua orang akan langsung percaya. Dengan begitu, kamu akan membuktikan bahwa kamu benar-benar istimewa." Iblis ingin Yesus mencari pengakuan dengan cara yang spektakuler, padahal ia seharusnya percaya pada rencana Allah. Namun dengan bijaksana, Yesus tetap menolak Iblis dengan mengatakan pada ayat 12 “Ada firman: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”. Ini mengajarkan bahwa iman tidak boleh digunakan sebagai sarana untuk memanipulasi Tuhan atau mencari bukti perlindungan-Nya. Setelah menyelesaikan godaan-godaan ini, iblis pergi, tetapi ia akan mencari kesempatan yang lain dan akan kembali mencobai Dia sekali lagi pada saat yang dianggapnya baik. Ini menunjukkan bahwa godaan adalah pertempuran yang terus-menerus, bukan hanya peristiwa satu kali. Tetapi Yesus berhasil meng swipe-left ketiga ujian itu dengan bijaksana dengan memakai sabda Allah yang terambil dari Kitab Ulangan (Ul 8:3; 6:13-16), Yesus menunjukkan otoritas dan relevansinya dalam melawan godaan, dan menunjukkan teladan bagi orang percaya. Bila saat ini kita memasuki Minggu Prapaskah pertama, namun masa Prapaskah sudah dibuka saat hari Rabu kemarin dalam ibadah Rabu Abu. Pada hari Rabu beberapa Jemaat mengadakan puasa/pantang yang sudah ditentukan selama 40 hari kedepan. Puasa dan pantang Paskah dilakukan sebagai bentuk pertobatan dan penyangkalan diri. Puasa juga merupakan latihan rohani untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama. Misalnya, kita berpantang untuk marah dalam satu hari, ada banyak hal yang membuat kita sebagai manusia biasa gampang tersulut emosi namun dalam masa Prapaskah ini kita diajak untuk bisa swipe left pada godaan untuk marah-marah, sekalipun kita sangat ingin melakukannya. Pokok Pikiran Memasuki minggu prapaskah pertama dan menyambutnya dengan melatih iman kita pada pantang/puasa selama 40 hari, seharusnya mengingatkan kita juga akan pengorbanan Yesus (sacrifice) di kayu salib dan dapat menang melawan ujian-ujian dari iblis. Yesus diuji iblis dengan menawarkan diantaranya (1) untuk membuat batu menjadi roti, (2) untuk menjatuhkan diri dari bubungan bait Allah, dan (3) akan memberikan semua kerajaan dunia bila mau menyembah iblis. Sungguh tawaran yang menggiurkan tetapi dengan tegas Yesus menolak itu semua! Istilah Swipe Left (geser ke kiri) yang populer dalam aplikasi kencan di generasi muda, dapat kita gunakan untuk menghalau godaan yang membuat kita jauh dari Tuhan. Contohnya ketika kita diuji dengan diberikan pilihan untuk pergi jalan-jalan atau pelayanan, dan atau ketika tidak memikirkan Tuhan saat sedang dalam pekerjaan sehingga pekerjaan yang dilakukan berlandaskan kecurangan dan penghasilan yang didapatkan pun merupakan hasil kecurangan. Seharusnya kita sebagai orang Kristen tahu harus meng-swipe right pilihan yang terbaik dan berlandaskan firman Tuhan. Dengan mencontoh Yesus yang sudah menunjukkan pada kita cara swipe left pada godaan, seperti keinginan akan harta, kekuasaan, atau ingin dipuji. Dia mengalahkan godaan itu dengan bijaksana mengingat Firman Tuhan walaupun iblis akan kembali pada waktunya untuk menguji ia kembali. Ujian akan selalu ada, bahkan tak jarang ujian sebelumnya belum selesai, tetapi sudah ada ujian baru yang terkadang membuat putus asa dan tidak bersemangat dan membuat kita tergoda memilih jalan pintas yang menyesatkan. Maka dari itu tetap berpeganglah pada Firman Tuhan agar dapat menghadapi ujian dengan bijaksana, karena Tuhan juga tidak pernah meninggalkan umatnya betul-betul sendirian dalam segala kondisi. Daftar Acuan Wicaksono, N. A., & Abadi, T. W. (2023). Online dating phenomenon in dating apps. The Journal of Society and Media, 7(2). Henry, M. (2009). Tafsiran Matthew Henry: Injil Lukas 1-12 (Terj. H. Apriliani, L. Murtihardjana, P. A. Rajoe, & T. Susilawati). Surabaya: Penerbit Momentum. Bergant, D. (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. Yayasan Perpustakaan Injil Indonesia. (1998). Perjanjian Baru (Dengan catatan versi pemulihan) (Edisi 2). Jakarta: LAI. (Nia Mardyanti Sirait) Minggu Prapaskah Kedua 16 Maret 2025 Pembacaan Alkitab Lukas 13:31-35 Nas Pembimbing Lukas 13:33a Mazmur Mazmur 27:1-23 Pokok Doa Relasi Gereja dengan umat beragama Mendoakan Para Perawat (Hari Perawat Nasional - 17 Maret) Mendoakan Jemaat Bekasi Nyanyian Tema “Jejak-Mu Tuhan” (https://www.youtube.com/watch?v=HX0WUMhJblw) atau PKJ 131:1-3 “Kuyakin Tuhan Tuntun Langkahku” Warna Liturgis Ungu MENERUSKAN JEJAK-NYA Pengantar “Engkau bukanlah segalaku bukan tempat tuk hentikan langkahku, usai sudah semua berlalu biar hujan menghapus jejakmu”. Lagu ini terkenal pada tahun 2000-an yang menggambarkan seseorang yang jenuh terhadap sikap pasangannya. Kejenuhan ini membuatnya ingin bebas dan menghapus jejak (tingkah laku atau perbuatan yang pernah dilakukan) pasangannya. Hal ini dikarenakan ada perbuatan yang tidak berkenan di hatinya. Berbeda dengan orang yang memiliki pasangan dengan banyak kenangan dan mendapatkan perlakuan yang baik dari pasangannya. Perlakuan ini memungkinkan orang-orang susah untuk berpindah hati, bahkan belasan atau puluhan tahun akan terus mengikuti perjalanan hidup orang yang dicintainya walaupun sudah lama berpisah. Jika kita sebagai manusia dapat melakukan ini kepada pasangan atau orang yang kita cintai, akankah kita melakukan hal yang sama kepada Kristus yang sudah terlebih dahulu mencintai kita? Tema bacaan Minggu ini “Meneruskan Jejak-Nya” mengingatkan kita bahwa kita perlu mengingat dan mengikuti jejak-Nya yang baik, bukan menghapus jejak-Nya. Melalui pembacaan ini (Luk. 13:31-35), kita akan melihat jejak baik yang pernah dilakukan Kristus dan kita meneruskan jejak itu dalam konteks kita saat ini. Penjelasan Teks Injil Lukas berbicara tentang peristiwa-peristiwa penting dan pengajaran Yesus. Lukas 13:31-35 merupakan bagian teks dari pengajaran Yesus (LAI 2012). Teks ini diawali dengan pernyataan orang Farisi kepada Yesus: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau” (Luk. 13:31b). Orang Farisi sedang mengingatkan Yesus tentang rencana Herodes yang akan membunuh-Nya. Ada dua pandangan berbeda dari para penafsir tentang hal ini. Tindakan orang Farisi ini bukan sebagai bentuk kepedulian orang Farisi terhadap Yesus. Mereka mencoba untuk menakuti Yesus agar meninggalkan Yudea. Namun, ada yang mengatakan mereka mengutamakan keselamatan Yesus (Coursen 2003, 6297). Dalam kisah ini, hal penting ialah bukan pada motif orang Farisi melainkan kabar yang beredar tentang Herodes akan membunuh Yesus. Alasan Herodes ingin membunuh Yesus ialah Herodes merasa terganggu dengan laporan-laporan tentang mukjizat Yesus. Dengan demikian, tersiar kabar tersebut dan disampaikan orang-orang Farisi kepada Yesus. Jika kita berada di posisi Yesus, kita mungkin akan ketakutan, khawatir dan depresi, bahkan melarikan diri supaya Herodes tidak membunuh kita. Melarikan diri merupakan respons alamiah manusia ketika menghadapi ancaman. Manusia akan melakukan dua hal; fight (melawan) and flight (melarikan diri) ketika menghadapi ancaman (Kumparan 2021). Kita dapat melihat bahwa Yesus tidak melarikan diri. Yesus menanggapi situasi ancaman ini dengan menantang atau melawan. Dia memerintahkan orang Farisi untuk pergi dan mengatakan kepada si rubah. Kata rubah dipakai untuk menyebut Herodes. Rubah berarti kepintaran atau licik, tetapi rubah juga berarti ketidakberartian atau ketidakmampuan. Herodes dipanggil rubah karena kelicikannya dalam menghalalkan segala cara dalam tindakan politik (Longman 2009, 352). Yesus mengetahui perilaku Herodes ini sehingga Dia tidak mengubah rencana-Nya untuk tetap melayani yang tergambarkan dalam pembacaan kita. Melalui pembacaan ini, kita akan belajar tentang beberapa hal: Meneladani sikap keteguhan-Nya dan optimis dalam pelayanan “Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari ini yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi, hari ini, besok, dan lusa Aku meneruskan perjalanan-Ku” (Luk. 13:32b-33a). Yesus memiliki karakter yang teguh dan optimis dalam pelayanan. Kita dapat meneladani sikap Yesus dalam menghadapi tantangan pelayanan-Nya. Tantangan kita pada saat ini mungkin bukan diancam oleh Herodes melainkan ancaman dari luar dan diri sendiri. Kegagalan pelayanan tidak hanya datang dari orang lain sehingga kita menyalahkan pihak lain. Tantangan dari diri sendiri dapat mengancam pelayanan kita. Kita belum dapat mengelola waktu dan emosi, selalu berputus asa, menganggap diri tidak layak untuk melayani, dan lainnya. Hal ini mempengaruhi kinerja pelayanan kita. Oleh sebab itu, sebagai pengikut Kristus terutama para pelayan Tuhan, kita perlu meneladani keteguhan dan keoptimisan Yesus dalam melakukan pelayanan dengan berbagai tantangan yang ada di depan. Dalam hal ini juga perlu diingat bahwa Yesus melakukan pelayanan-Nya dengan sempurna melalui penderitaan dan kematian-Nya. Dengan demikian, sikap teguh dan optimis dalam pelayanan ini tidak bernuansa keegoisan melainkan pelayanan yang totalitas bagi banyak orang. Kita dirawat-Nya Pesan teguh dan optimis dalam pelayanan memang tidak mudah untuk dilaksanakan setiap hari. Namun sebagai anak-Nya, kita meyakini bahwa Allah melindungi kita seperti induk ayam yang mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya. Kita bukan umat yang hidup pada masa itu, mereka tidak mau dikumpulkan di bawah naungan sayap induknya (Luk. 13:34). Pengandaian dalam teks ini mempunyai arti yang mendalam yakni menghibur, memelihara, dan melindungi (Coursen 2003, 6299). Pertanyaannya bagi kita: apakah kita menyambut tindakan baik tersebut atau kita selalu menolak untuk Allah hibur, pelihara, dan lindungi? Terkadang kita merasa hebat karena diri kita sendiri sehingga kita dapat melakukan segala pelayanan kita. Kita seolah dapat berdiri tanpa kehadiran Allah dan tidak memerlukan Allah. Tanpa kita sadari, kita terkadang melupakan bahwa Allah yang telah melindungi kita. Namun Allah selalu merawat kita setiap hari, menit, dan detik. Kita perlu membuka hati kita supaya Dia selalu memenuhi hati kita dengan keoptimisan, keteguhan, dan kemampuan dalam pelayanan kita. Kita dipakai untuk meneruskan jejak Kristus. Sebagai umat Kristen masa kini, kita dipanggil untuk meneruskan jejak Kristus. Kita sudah mengetahui jejak Kristus di masa lampau. Kini saatnya kita berkarya bagi dunia. Siapkah kita dipakai-Nya? Siap atau belum siap, kita diberikan tanggung jawab tersebut. Tuhan sudah melakukan karya besar dan baik bagi hidup kita. Karya itu bukan untuk dihapuskan dari ingatan kita dan generasi berikutnya, melainkan perlu diingat dan diteruskan supaya generasi kita mengikuti jejak Tuhan. Meskipun terkadang kita tidak mengerti maksud Tuhan, tetapi kita meyakini jejak-Nya baik bagi umat-Nya. Demi kebaikan itu pula, kita menyerahkan diri untuk dipakai dan berkarya bagi-Nya. Pokok Pikiran Sebagai manusia, kita dapat melupakan dan mengingat jejak orang lain dalam kehidupan kita. Kita memilih untuk melupakan ketika jejak itu memberikan kesan yang buruk. Sebaliknya kita akan mengingat, mengenang, dan mengikuti jejak tersebut karena kita melihat sesuatu yang baik. Jejak Kristus digambarkan dengan sangat baik, bahkan Dia tetap teguh dan optimis ketika menghadapi tantangan dan ancaman. Dalam kondisi ini pun, Dia bersedia untuk menjadi induk bagi umat-Nya yang melindungi, memelihara, dan menghibur. Kita sebagai anak pun perlu menyambut tindakan baik ini. Dengan menyambut, kita membuka hati kita untuk Tuhan rawat dan bersedia untuk dipakai-Nya. Jika kita bersedia, kita dapat mengikuti dan meneruskan jejak-Nya dalam kehidupan kita di lingkup gereja, masyarakat, dan keluarga. Meskipun kita menyadari kesediaan kita untuk meneruskan jejak, ini juga mempunyai tanggung jawab dan risiko yang besar di tengah pergumulan kehidupan kita masing-masing. Allah sebagai induk bagi kita akan memampukan niat baik dan komitmen kita untuk pelayanan kita. Keyakinan ini akan membantu kita untuk menghadapi tantangan dalam segala pelayanan kita. Melalui keyakinan ini, kita belajar untuk tidak mengedepankan keegoisan melainkan tujuan yang baik bagi semua orang sebagai umat Allah. Selayaknya Allah yang menjadi pelindung, pemelihara, dan penghibur, kita meneruskan jejak-Nya dengan berkarya untuk menjadi pelindung, pemelihara, dan penghibur bagi orang lain. Daftar Acuan Garland, David E dan Tremper Longman III. 2009. The Expositor’s Bible Commentary: Luke and Acts. Grand Rapids: Zondervan. Coursen, Jon. 2003. Jon Coursen’s Aplication Commentary: New Testament. Nashville: Thomas Nelson. Lembaga Alkitab Indonesia. 2012 Alkitab Edisi Studi. Jakarta: Percetakan Lembaga Alkitab Indonesia. https://kumparan.com/shaumi-diah/fight-or-flight-kenali-respons-manusia-terhadap-ancaman-1x6kqyxCMrf/full (Tasingkem) Minggu Prapaskah Ketiga 23 Maret 2025 Pembacaan Alkitab Lukas 13:1 ” 9 Nas Pembimbing Lukas 13:8 Mazmur Mazmur 63:1 ” 8 Pokok Doa Puasa atau pantangan yang dijalani Mendoakan perjuangan penghapusan diskriminasi rasial (21 Maret) Mendoakan Jemaat Bethesda Nyanyian Tema PKJ 239:1-2 “Perubahan Besar di Kehidupanku” Warna Liturgis Ungu MEMBERIKAN KESEMPATAN KEDUA Pengantar HiVi ” “Jatuh, Bangkit Kembali” Kita semua boleh jatuh, tapi harus bangkit, bangkit bangun kembali Kita semua boleh jatuh, tapi harus bangkit kembali Kita semua boleh jatuh, tapi harus bangkit, bangkit bangun kembali Kita semua boleh jatuh, tapi harus bangkit kembali Lirik lagu di atas merupakan salah satu kutipan dalam lirik lagu yang dipopulerkan oleh band pop dari Indonesia yaitu HiVi, dalam keseluruhan isi lagu tersebut sebetulnya menggambarkan untuk mengajak orang-orang tetap kuat dalam menghadapi segala masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, walaupun harus jatuh karena masalah yang dihadapi tapi tetap harus bangkit kembali untuk menghadapi permasalahan tersebut. Namun, lagu ini juga dapat kita refleksikan dalam kehidupan kita sehari-hari ketika menghadapi pergumulan, baik dalam permasalahan sehari-hari, atau juga dalam pergumulan kita untuk melepaskan diri kita dari belenggu-belenggu dosa yang sulit dilepaskan. Menghadapi pergumulan yang berat dan lepas dari belenggu dosa memang bukan hal yang mudah, seringkali akhirnya kita menjadi orang yang “ToMat” atau tobat kumat. Menghadapi masalah dekat ke Tuhan, tapi kalau tidak ada lupa Tuhan; sudah berusaha untuk berubah dan mau bertobat ternyata kumat lagi, walaupun begitu Tuhan senantiasa memberikan kita waktu untuk memperbaiki diri kita dan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Penjelasan Teks Pada teks yang kita baca kali ini, terdapat dua pembasahan yang menarik yang perlu kita refleksikan bersama. Pertama, Yesus mendapatkan kabar tentang orang-orang Galilea yang dibunuh saat mereka sedang mempersembahkan korban bakaran dan darah mereka dicampurkan di dalam korban bakaran mereka. Kedua, perumpamaan tentang buah ara yang tidak berbuah dan akan dipotong tapi diberikan waktu untuk kembali berbuah di tahun berikutnya. Sebelum membahas lebih jauh tentang perikop ini, kita perlu mengetahui terlebih dahulu bahwa Galilea merupakan sebuah wilayah di utara Israel, daerah Galilea kebanyakan dihuni oleh orang-orang Samaria. Pada masa itu, orang-orang Samaria adalah orang-orang yang dianggap najis oleh orang Israel karena kebanyakan dari mereka adalah orang yang berdarah campuran, karena dalam tradisi Israel kemurnian darah menjadi hal yang penting. Otomatis orang Samaria adalah orang-orang yang diasingkan dalam komunitas Yahudi. Pembacaan kita kali ini menggambarkan bahwa orang-orang Yahudi menghubungkan antara dosa dan penderitaan. Jadi, apa yang terjadi kepada orang-orang Galilea saat itu merupakan hasil dari kenajisan mereka dan mereka pantas mendapatkan ganjaran atas dosa mereka. Yesus membandingkan hal tersebut dengan kejadian tembok kolam Siloam yang roboh dan mengenai orang-orang Yahudi saat itu. Dari dua kejadian tersebut Yesus ingin menegur pendengar saat itu bahwa jangan sampai mereka mengaitkan apa yang terjadi dengan sebuah dosa besar yang mereka tanggung. Dengan jelas Yesus katakan, “Tidak!' kata-Ku kepadamu.” Jelas bahwa mereka harus merasakan penderitaan. Mengapa? justru disudutkan dengan menyatakan bahwa mereka adalah orang yang salah, oleh karena itu Yesus menyerukan pertobatan atas mereka, karena mereka tidak bisa mengukur dosa orang lain. Lebih lanjut Yesus memberikan mereka sebuah perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah. Pohon ara merupakan pohon yang cukup banyak di tanam di daerah Timur Tengah, terutama karena penanamannya yang tidak membutuhkan perlakuan khusus. Dalam perikop yang kita baca kali ini, diperlihatkan bahwa pohon ara tersebut ditanam di tanah dekat dengan pohon anggur. Berarti pohon ara tersebut dirawat dengan baik karena dirawat oleh seseorang, padahal biasanya pohon ara tumbuh di daerah dekat jalan yang tanahnya kurang baik dan tidak dirawat dengan baik juga. Dengan perlakuan seperti itu harusnya pohon ara tersebut dapat berbuah dengan baik, namun yang ditemukan oleh pemilik kebun tersebut adalah pohon ara yang tidak berbuah sehingga akan ditebangnya pohon ara tersebut oleh sang pemilik kebun. Injil Lukas melalui perumpamaan tentang pohon ara tersebut menggambarkan umat Tuhan (bangsa Israel) yang tidak berbuah (berdosa). Mereka sudah diberikan anugerah yang begitu luar biasa untuk menjadi umat kepunyaan Tuhan, mereka dirawat dan ditempatkan di tanah yang baik juga, namun justru mereka tidak berbuah (berdosa). Oleh karena itu, sudah sepantasnya mereka ditebang. Namun karena kasih-Nya justru umat Tuhan tidak ditebang (dihancurkan) tetapi justru diberikan kesempatan kedua (bertobat). Hal ini menggambarkan kasih Tuhan yang begitu luar biasa kepada umat Tuhan (bangsa Israel) dalam kehidupan mereka yang jatuh bangun dalam keberdosaan, namun Tuhan tetapi memberikan kesempatan kedua untuk mereka dapat bertobat dan berbalik kepada Tuhan. Dua perikop pembacaan kali ini mengingatkan umat Tuhan di masa kini, karena seringkali menjadi umat Tuhan yang mengaitkan segala sesuatu penderitaan dan pergumulan dengan kesalahan atau dosa yang dilakukan. Lebih parah lagi, kita bahkan menyatakan orang lain berdosa karena pergumulan yang dihadapi mereka. Dengan tegas Yesus justru menginginkan umat Tuhan untuk lebih mengintrospeksi diri. Keberdosaan yang dimiliki oleh umat Tuhan tidak bisa disandingkan dengan penderitaan yang dialami oleh umat, apalagi jika menakar dosa orang lain. Seringkali kita pun tidak sadar bahwa kita melakukan dosa ataupun membuat orang lain berdosa. Oleh karena itu, Yesus juga menekankan tentang pentingnya pertobatan yang dilakukan oleh umat, bukan hanya pertobatan yang instan, tetapi justru pertobatan yang tulus kita lakukan dari hati kita. Walaupun kita seringkali jatuh ke dalam dosa, namun oleh karena kasih-Nya saja kita senantiasa diberikan kesempatan kedua untuk bangkit kembali. Walaupun jatuh lagi, tetapi Ia senantiasa memberikan kesempatan bagi kita untuk dapat berubah menjadi lebih baik. Dalam masa Prapaskah yang kita jalani sekarang juga, ada beberapa dari kita melakukan puasa atau pantangan. Banyak jenis puasa atau pantangan yang kita lakukan, hal tersebut menjadi pemakanaan kita juga dalam merefleksikan perikop kita hari ini bahwa dalam kerapuhan kita sebagai manusia kita menyadari bahwa kita rentan untuk jatuh ke dalam dosa. Akan tetapi, kiranya kita dapat merefleksikan puasa atau pantangan kita di minggu Prapaskah kita ini dengan hati yang berfokus untuk pertobatan yang sejati, karena Ia sang pemelihara kehidupan kita senantiasa memberikan kesempatan bagi kita untuk bertobat. Pertobatan yang sejati bukan hanya pertobatan yang instan dan berbuat salah lagi, tetapi pertobatan sejati yang datangnya dari hati kita dan kita lakukan terus dalam kehidupan sehari-hari. Semuanya ada di tangan kita untuk memilih bertobat atau tidak. Pokok Pikiran Umat Tuhan diajak untuk melihat kembali pemikiran tentang dosa dan penderitaan seperti orang-orang Israel pada saat itu melihat dosa dan penderitaan. Jangan sampai kita hanya terjebak dengan konsep tersebut, namun yang menjadi fokus utamanya adalah kesadaran diri kita bahwa kita bisa saja melakukan dosa namun tidak menyadari kita melakukan dosa, padahal mungkin kita tidak sedang dalam penderitaan. Oleh karena itu, introspeksi diri menjadi hal yang penting dalam melihat kembali diri kita, bahwa diri kita ini adalah manusia yang rentan dan rapuh sehingga kita bisa sewaktu-waktu melakukan dosa. Dari ketidaksadaran kita akhirnya seringkali kita jatuh ke dalam dosa, namun kita tidak berani untuk berubah karena takut Tuhan akan memberikan balasan atas dosa-dosa kita. Oleh karena itu, kita diingatkan juga bahwa kasih Tuhan begitu luar biasa, melalui pengorbanan Yesus Kristus-lah umat ditebus. Kita sebagai umat Tuhan senantiasa diberikan kesempatan kedua untuk melakukan pertobatan. Pohon ara yang tidak berbuah saja diberi waktunya untuk berbuah, begitu pula kita diberikan kesempatan yang begitu besar untuk berubah; walaupun jatuh, tapi kita harus bangkit lagi dalam menghadapi semuanya. Dalam menjalani masa Prapaskah ketiga ini kita juga diajak untuk memperbaharui diri kita melalui puasa atau pantangan yang kita lakukan, baik dari diri kita sendiri atau yang disiapkan oleh Gereja. Namun, dari itu semua kita juga perlu menyadari kerapuhan kita sebagai manusia yang berdosa, sehingga kita menyadari juga bahwa pertobatan yang kita lakukan itu dimulainya dari diri kita sendiri dengan kita memperbaharui diri kita dimulai dari pemikiran kita terhadap segala sesuatu. Daftar Acuan Genius. Jatuh, Bangkit Kembali Lirik. https://genius.com/Hivi-jatuh-bangkit-kembali-lyrics (diakses 12 Oktober 2024) Alkitab Sabda. Teks"Lukas 13:1-9. https://alkitab.sabda.org/commentary.php?passage=Luk%2013:1-9 (diakses 14 Oktober 2024) Studylight.org. Bible Commentaries of Luke13 from Barclay’s Daily Study Bible. https://www.studylight.org/commentaries/eng/dsb/luke-13.html (diakses 10 Oktober 2024) Adamczewski, B. 2016. The Gospel of Luke A Hypertextual Commentary . Warsaw: Peter Lang GmBh (Williams D. Tanamal) Minggu Prapaskah Keempat 30 Maret 2025 Pembacaan Alkitab Lukas 15:1-7 Nas Pembimbing Lukas 15:7 Mazmur Mazmur 32:1-11 Pokok Doa Mendoakan Perdamaian bagi dunia utamanya wilayah yang masih rawan konflik Mendoakan Jemaat Bogor (31 Maret 1872) Nyanyian Tema PKJ 205: 1-3 “Alangkah Indahnya Kasih Setia-Mu” Warna Liturgis Ungu CINTA YESUS DIBERIKAN UNTUK SEMUA ORANG Pengantar Gambar di sebelah merupakan karya pelukis bernama Salvador Dali yang diberi nama Corpus Hypercubus. Lukisan tersebut diperkenalkan pada tahun 1954. Lukisan ini terkenal oleh karena bentuk dan teknis melukis Salvador Dali yang juga menggambarkan tentang pengkotak-kotakan manusia berdasarkan latar atau kategori tertentu. Manusia dipisahkan berdasarkan ‘kotak’ dalam dirinya. Dengan adanya pengkotak-kotakan membuat keterpisahan bahkan permusuhan di antara manusia yang pada akhirnya menjadi salib bagi Kristus. Dengan adanya kotak dalam kehidupan sosial, maka mesti ada yang tersisihkan. Terdapat golongan yang tertolak oleh karena latar sosial di dalam diri kelompok tertentu. Perbedaan menjadi sebuah fakta kehidupan sehingga bukan alasan untuk memusuhi atau merasa lebih hebat dari yang lain. Setiap orang lahir di dalam konteks tempat, waktu serta suasana yang berbeda-beda. Tuhan juga mengasihi setiap orang oleh karena keberadaan kita berharga. Dengan mengingat hal tersebut, seharusnya sikap yang dijaga dan dikembangkan adalah cinta kasih yang tidak memandang batasan. Namun, seringkali terjadi konflik oleh karena sikap merasa lebih baik atau benar dibanding yang lain. Sikap tersebut dapat memunculkan permusuhan atau pemisahan antar manusia. Melalui pembacaan Injil saat ini, kita dihantar untuk melihat sikap dan cinta kasih Yesus kepada manusia tanpa melihat latar belakang atau kehidupan sosial. Yesus memperagakan cinta bagi setiap orang sehingga membuka peluang perubahan pada diri seseorang. Penjelasan Teks Injil Lukas memperlihatkan sosok Yesus sebagai orang yang peduli kepada mereka yang tersisihkan. Setidaknya hal ini terlihat dalam Lukas 15:1-7. Tujuan penulis Injil dapat terlihat dengan memakai perbandingan teks Injil sinoptik. Isi perumpamaan Injil Lukas 15:1-7 juga dapat ditemukan dalam Injil Matius 18:12-14. Pembaca dapat langsung menemukan perbedaan di antara keduanya. Dalam Matius, perumpamaan Yesus langsung diceritakan tanpa pembaca mengetahui apa latar suasana perumpamaan tersebut disampaikan. Berbeda dengan Matius, Lukas menggambarkan terlebih dahulu latar suasana serta para tokoh yang terlibat dalam percakapan dengan Yesus. Melalui perbedaan tersebut pembaca dapat mengetahui bahwa Yesus memilih untuk berpihak pada orang yang tersisihkan oleh karena latar sosial mereka. Penulis Injil memunculkan orang-orang yang mendengar Yesus adalah mereka yang dianggap ‘tidak layak’. Secara eksplisit pembaca tahu siapa saja yang datang pada Yesus. Mereka adalah pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Tidak jelas apa dosa dari orang-orang tersebut, namun kita bisa paham bahwa sudah ada stereotip pada orang-orang tersebut. Keterangan pendengar Yesus hanya ada dalam cerita di Injil Lukas. Di sinilah pembaca menjadi tahu siapa-siapa saja yang mendengar Yesus sehingga memunculkan konflik di antara orang-orang saat itu, yang pada akhirnya ditanggapi oleh Yesus dengan perumpamaan domba yang hilang ditemukan. Penulis Injil Lukas memperlihatkan orang yang terkena stereotip mau datang untuk mendengar Yesus berbeda dengan orang yang menganggap dirinya benar. Stereotip kepada pemungut cukai dan orang-orang berdosa nampak dari komentar orang Farisi dan ahli-ahli Taurat kepada Yesus. Pembaca dapat menangkap semacam ironi ketika orang yang dianggap tidak baik dan layak dijauhi malah menjadi sosok yang menghampiri Yesus untuk mendengarkan-Nya. Hal implisit namun penting adalah sikap Yesus yang berlawanan dengan orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Yesus memilih sikap untuk menerima orang-orang dengan stereotip. Bahkan, dikatakan bahwa Yesus mau makan bersama mereka (ayat 2). Makan bersama menunjukkan Yesus sedang membangun relasi dan kebersamaan dengan orang yang dianggap tidak baik. Oleh karena itu, kita bisa melihat Yesus sebagai aktor yang mempromosikan cinta kasih kepada siapa pun yang mau datang kepada-Nya. Penafsir bernama Brendan Byrne condong melihat Injil Lukas sebagai cerita tentang keramahan Tuhan (hospitality of God). Melalui penerimaan Yesus kepada setiap orang dapat memunculkan transformasi pada seseorang. Yesus menyatakan keselamatan melalui penerimaan-Nya. Bagi Byrne pasal 15 menjadi bentuk perayaan hospitalitas atau keramahan dari Yesus (hospitality of God). Penerimaan Yesus terhadap orang berdosa serta perumpamaan yang dimunculkan merupakan gambaran cinta Tuhan kepada setiap orang tanpa terkecuali. Keramahan Yesus bagi orang berdosa membuka peluang pada transformasi diri. Dengan pendapat dari Byrne, kita juga bisa memaknai bentuk keramahan Yesus ditunjukkan melalui makan bersama dengan orang berdosa. Sikap dan keramahan Yesus menjadi penting. Hal ini dikarenakan pada pasal 9-19, Yesus ditampilkan sebagai sosok guru. Menurut St. Eko Riyadi, pada pasal 9-19, Injil Lukas menggambarkan Yesus sebagai guru yang memberi pengajaran kepada orang banyak termasuk mereka yang menentang-Nya. Merujuk pada pendapat Riyadi, maka pemungut cukai dan orang-orang berdosa yang datang pada Yesus memiliki pengakuan kepada Yesus sebagai guru bagi mereka. Dalam gambaran Yesus sebagai guru, selain keramahan yang diperlihatkan, pasal 15 menjadi kisah dari cara Yesus yang sedang mengajarkan nilai tertentu. Dalam hal ini nilai yang diajarkan adalah cinta kasih kepada siapapun tanpa terkecuali. Cinta Yesus tidak sekedar digambarkan melalui perumpamaannya, tetapi juga melalui tindakan makan bersama. Dengan begitu kita melihat korelasi apa yang disampaikan oleh Yesus dengan tindakan-Nya bagi orang-orang. Omelan orang Farisi dan ahli-ahli Taurat memunculkan perumpamaan Yesus yang menarik untuk direnungkan. Seperti sifat perumpamaan Yesus yang mudah dimengerti oleh pendengarnya pada saat itu, Yesus menggunakan sikap seorang yang kehilangan 1 ekor domba dari total 100. Ia mengajarkan mengenai cinta kasih-Nya kepada siapa pun orang yang mau datang atau berbalik kepada-Nya. Dalam perumpamaan tersebut terlihat perasaan sukacita yang luar biasa ketika domba yang hilang ditemukan. Bahkan, sukacitanya itu membuat dia memanggil tetangga-tetangga dan sahabat-sahabatnya. Perumpamaan domba yang hilang memunculkan beberapa refleksi. Pertama, ketika terdapat domba yang hilang, sikap dari pemilik tidak menyalahkan atau membiarkan domba itu tersesat. Tetapi, ia mencarinya agar bisa kembali. Inilah sikap yang ditunjukkan oleh Yesus. Setiap orang bisa saja memiliki kesalahan yang membuat dirinya hilang arah. Pemungut cukai dan orang berdosa bisa saja melakukan kesalahan namun bukan berarti Yesus membiarkan bahkan menolak mereka. Justru sebaliknya, dengan menerima mereka maka kesempatan untuk berubah muncul. Inilah sikap Yesus yang tidak akan membiarkan setiap orang terjerumus atau tenggelam. Yesus peduli kepada setiap orang. Kedua, kembalinya domba adalah sukacita bagi pemilik. Hal ini menandakan adanya kecintaan sebagaimana adanya domba, pemilik selalu mencintainya. Dalam rangka minggu Prapaskah, pertobatan atau kembalinya manusia ke jalan yang benar menjadi kesukacitaan bagi-Nya. Ketiga, 99 domba yang aman tidak perlu iri atas kembalinya domba yang hilang. Justru 99 domba yang aman seharusnya ikut bersukacita ketika 1 temannya berhasil berbalik ke tempat yang benar. 100 domba ibarat kepingan puzzle, satu hilang maka puzzle tidak akan jadi. Pokok Pikiran Pengkotak-kotakan dalam masyarakat merupakan sesuatu yang harus dihindari apalagi jika didasarkan pada perasaan lebih baik dan benar dari yang lain. Pengkotak-kotakan bisa saja terjadi di komunitas gereja. Gereja yang seharusnya menjadi tempat untuk saling mengasihi dapat berubah menjadi komunitas yang saling menyalahkan dan menolak satu sama lain. Melalui perenungan ini umat diajak untuk kembali mengingat dan memperjuangkan gereja sebagai komunitas yang saling mencintai dan menerima satu sama lain tanpa melihat latar tertentu. Gereja menjadi tempat di mana orang saling peduli satu sama lain sehingga perasaan diterima menjadi dasar dalam hidup bersama. Sikap Yesus yang menerima dan mau makan bersama pemungut cukai dan orang-orang berdosa merupakan bentuk dan wujud cinta-Nya yang tak terbatas. Melalui penerimaan Yesus, orang yang berdosa justru mendapatkan kekuatan untuk bertransformasi diri menjadi lebih baik. Yesus tidak menjauhi orang berdosa malah sebaliknya memberi kesempatan kepada orang untuk mengubah diri. Dengan keramahan Yesus, seseorang memiliki harapan untuk berubah serta diterima oleh-Nya. Perumpamaan Yesus mengajarkan tentang cinta-Nya yang mau mencari orang terhilang agar dapat kembali ke jalan yang benar. Cinta Yesus menjadi model bagi gereja yang juga berupaya untuk saling mengingatkan satu sama lain. Setiap orang bisa saja melakukan kesalahan namun bukan berarti dijauhi untuk dimusuhi. Dengan sikap yang tepat untuk mau berjalan bersama agar setiap orang dapat kesempatan untuk bertransformasi menjadi lebih baik. Cinta Yesus mengajarkan mengenai kepedulian lebih berharga daripada menyalahkan bahkan memusuhi orang-orang yang dianggap ‘berdosa’. Daftar Acuan Byren, Brendan 2000. Hospitality of God. A Reading of Luke’s Gospel. Minnesota: The Liturgical Press. Riyadi, St. Eko. 2011. Lukas “Sungguh, Orang ini Adalah Orang Benar”. Yogyakarta: Kanisius. https://en.wikipedia.org/wiki/Crucifixion(Corpus_Hypercubus) (Yakobus Givan Aditia Prasetyo)
Daftar Label dari Kategori DPA Minggu GKP 2025 | NEXT: DPA Minggu GKP April 2025 PREV: DPA Minggu GKP Februari 2025 | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |