|
|
Minggu Prapaskah Kelima 6 April 2025 Pembacaan Alkitab Yohanes 12:1-8 Nas Pembimbing Yesaya 58:6-7 Mazmur Mazmur 126:1-6 Pokok Doa Mendoakan orang-orang yang miskin, terlantar, dan sakit Mendoakan Jemaat Kampung Tengah (4 April 1971) Mendoakan Jemaat Bojongsari Nyanyian Tema PKJ 185:1,3,5 “Tuhan Mengutus Kita” Warna Liturgis Ungu MENGHIDUPI HOSPITALITAS Pengantar Kisah Maria yang meminyaki Yesus dengan minyak narwastu murni yang sangat mahal dinilai sebagai sebuah pemborosan tak berguna oleh Yudas Iskariot. Komentar Yudas ini tampak masuk akal. Namun, Yesus justru menimpali Yudas dengan komentar satire. Mengapa Yesus justru membela pemborosan yang dilakukan oleh Maria? Mengapa Yesus menyebut-nyebut kata “penguburan-Ku”? Apakah ada pesan khusus dengan menyebut nama kota Betania? Apa pesan yang dapat direfleksikan di Minggu Prapaskah kelima ini? Penjelasan Teks Kisah mengenai Yesus diurapi di Betania dicatatkan di tiga Injil, yakni Matius, Markus, dan Yohanes. Ada beberapa persamaan, tetapi sekaligus ada beberapa perbedaan pada detailnya. Salah satu persamaannya adalah baik Matius, Markus, dan Yohanes sama-sama menyebutkan peristiwa ini terjadi di Betania. Perbedaan yang mencolok antara lain: 1) Matius dan Markus menyebut bahwa Yesus berada di rumah Simon, penderita sakit kulit yang menajiskan, sedangkan Yohanes menyebut Yesus berada di rumah Lazarus. 2) Matius dan Markus tidak menyebutkan nama perempuan itu, sedangkan Yohanes menyebut nama Maria. Lebih lanjut, mari kita membedah berbagai hal terkait narasi Yesus diurapi ini. Pertama, mari kita mendalami latar tempat yang disebutkan, yakni Betania. Kota Betania sendiri merupakan kota kecil (atau semacam desa) di dekat Yerusalem (berjarak sekitar 3 km). Ada beberapa pemaknaan atas nama “Betania” ini sendiri. Ada yang menerjemahkannya sebagai rumah saya (beth-ani), rumah pohon ara (beth-te’ana), dan ada juga yang menerjemahkan sebagai rumah miskin/perawatan (beth-ania). Terkait dengan terjemahan terakhir, ada yang mengaitkan Betania dengan banyaknya tempat (semacam rumah singgah) bagi orang-orang miskin, sakit, serta orang-orang yang memang membutuhkan pertolongan yang disediakan oleh komunitas Eseni. Tampaknya, terjemahan terakhir dapat diterima jika dikaitkan dengan adanya nama Simon si penderita sakit kulit menajiskan dalam paralel kisah ini (dalam Matius dan Markus). Jika memang ada banyak rumah singgah, maka dapat dibayangkan bahwa ada cukup banyak orang miskin, sakit, dan dalam kelemahan di kota tersebut, dan besar kemungkinan mereka yang tinggal di kota itu sudah terbiasa berinteraksi dengan orang miskin dan lemah. Betania juga seringkali menjadi tempat persinggahan orang-orang yang hendak ke Yerusalem karena konon biaya akomodasi di sana tergolong murah. Kedua, mari kita lihat latar belakang waktu. Secara khusus, Injil Yohanes menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi enam hari sebelum Paskah (Yoh. 12:1). Di hari-hari menjelang Paskah ini, ketiga Injil yang menceritakan peristiwa ini, sama-sama menyebutkan bahwa imam-imam kepala, orang-orang Farisi, tua-tua Yahudi, dan ahli-ahli Taurat sedang menyusun persepakatan jahat untuk membunuh Yesus. Konflik semakin meruncing dan situasi semakin mencekam, karena mereka sampai mengeluarkan perintah supaya setiap orang yang tahu di mana Yesus berada untuk memberitahukan kepada mereka, supaya mereka dapat menangkap-Nya (bdk. Yoh. 11:57). Yohanes 11:54 menyebut, bahwa dalam situasi seperti itu, Yesus tidak lagi tampil di depan umum. Situasi tegang atau mencekam seperti ini tentu dipahami dan dirasakan juga oleh murid-murid-Nya, bahkan sejak peristiwa kematian Lazarus (lih. Yoh. 11:8; 11:56). Ketiga, mari kita memahami sedikit keunikan Injil Yohanes. Injil Yohanes memiliki cara tersendiri untuk menceritakan kisah Yesus, yakni menceritakan adanya relasi yang intim antara Yesus dengan orang-orang di sekitarnya. Ada banyak percakapan yang dicatatkan dalam Injil Yohanes, yang mengesankan betapa hangat dan akrabnya Yesus dengan lawan bicaranya. Maka, dengan keunikan Injil Yohanes ini, kita dapat memahami jika Yesus diceritakan berada di tempat tinggal Lazarus saat Ia singgah di Betania karena “tiga bersaudara” (Maria, Marta, dan Lazarus) itu diceritakan sebagai sahabat-sahabat Yesus (bdk. Yoh. 11:3). Sekarang, mari kita masuk pada narasinya. Injil Yohanes menceritakan suasana yang terjadi di tempat tinggal Lazarus ini begitu hangat dan akrab. Tiga bersaudara itu bukan hanya menerima Yesus datang singgah ke tempat mereka, tetapi juga mengadakan perjamuan untuk Dia (Yoh. 12:2). Informasi ini menarik! Karena, di kota yang hanya berjarak 3 km dari Yerusalem dan di tengah banyak orang sedang “memburu” Yesus, tiga bersaudara ini justru dengan ramah dan hangat menerima Yesus singgah di tempat mereka dan menjamu-Nya. Yang dilakukan oleh tiga bersaudara ini sungguh berani! Keramahtamahan atau hospitalitas yang mereka tunjukkan merupakan suatu tindakan yang berisiko tinggi! Sebab, bukan tidak mungkin, mereka menanggung risiko yang “sama besarnya” dengan apa yang akan diterima Yesus. Kekhawatiran ini terkonfirmasi dalam perikop berikutnya, bahwa orang banyak ini juga bersekongkol untuk membunuh Lazarus demi membungkam berbagai cerita mukjizat yang dilakukan oleh Yesus. Di dalam suasana yang seperti disebutkan di atas, tiga bersaudara ini mengekspresikan hospitalitasnya dengan cara mereka masing-masing. Marta dengan sigapnya melayani Yesus. Melayani yang dimaksud adalah diakonei (pelayanan meja), di mana Marta melakukan sebaik mungkin segala sesuatu berkaitan dengan jamuan. Lazarus mengekspresikan hospitalitasnya dengan menemani Yesus. Cara lain dilakukan oleh Maria. Maria mengambil minyak narwastu murni yang sangat mahal harganya"yang ditaksir oleh Yudas Iskariot seharga 300 dinar. Minyak senilai gaji 10 bulan kerja itu digunakan untuk satu momen berharga bersama dengan Yesus, yakni untuk meminyaki kaki Yesus. Tentu, bagian ini dapat dibedah dengan kritik atas tradisi patriarki yang ada. Namun, terlepas dari itu semua, mereka masing-masing mengekspresikan hospitalitasnya dengan sangat baik dan saling melengkapi"ada yang meminyaki/mencuci kaki, menemani bercakap-cakap, dan menyiapkan jamuan terbaik. Salah satu bentuk hospitalitas yang ditekankan oleh para penulis Injil adalah tindakan Maria yang meminyaki Yesus dengan minyak narwastu murni. Tindakan Maria ini kemudian memancing reaksi sinis Yudas Iskariot. Yudas Iskariot berkomentar alih-alih meminyaki Yesus, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” (Yoh. 12:5). Secara khusus, narator Injil Yohanes memberi keterangan, bahwa komentar Yudas ini bukanlah didasari oleh empati atau keberpihakan pada orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri. Atas sindiran itu, Yesus menyebutkan bahwa apa yang dilakukan oleh Maria adalah untuk hari pekuburan-Nya. Bahkan, sikap sok empati Yudas dibalas oleh Yesus dengan, “Sebab, orang-orang miskin selalu ada bersama kamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama kamu.” Dari respons Yesus atas komentar Yudas Iskariot, kita dapat melihat beberapa hal: Pertama, Yesus tampak ingin mengkritisi quality time yang terjadi di dalam circle diri-Nya dan para murid. Murid-murid Yesus sudah bersama-sama Yesus cukup lama. Mereka juga ikut merasakan ketegangan atau situasi krisis ketika orang banyak sedang “memburu” Yesus. Akan tetapi, situasi itu tampaknya tidak serta-merta membuat para murid menggunakan waktu sebaik-baiknya (berkualitas) dengan Yesus, Guru mereka. Hospitalitas yang ditunjukkan oleh tiga bersaudara itu (dan khususnya tindakan Maria) justru menjadi tamparan keras bagi para murid. Hospitalitas menjadi salah satu bentuk merayakan quality time bersama Yesus. Hal ini perlu menjadi refleksi bagi kita, gereja-Nya, di masa prapaskah ini. Masa-masa prapaskah acap kali dimaknai sebagai kesempatan khusus untuk mengalami quality time dengan Allah melalui puasa, doa, dan perenungan sabda. Hal ini benar dan baik. Namun, quality time dengan Allah juga harus diekspresikan melalui hospitalitas kepada sesama (dan seluruh makhluk). Gereja yang hanya berkutat pada ritus-seremonial tanpa menghidupi keramahtamahan pada sesama, bisa jadi keliru memahami apa yang Allah kehendaki. Bukankah Yesus sendiri berkata, “Segala sesuatu yang telah kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat. 25:40) Kedua, tindakan Maria meminyaki Yesus dengan minyak narwastu murni tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan hospitalitas yang ditunjukkan oleh tiga bersaudara ini. Ketiganya sama-sama menunjukkan keberanian mengambil risiko dan berani berkorban. Bahkan, sikap pengorbanan dalam hospitalitas sudah menjadi nilai hidup umat Allah sejak Perjanjian Lama. Kita bisa mengingat misalnya, kisah Abraham menyambut tiga orang musafir (Kej. 18:1-15). Umat Allah sejak zaman PL dididik untuk menyambut dengan ramah setiap orang asing (bdk. Kel. 22:21; 23:9; Im. 19:33-34). Umat biasanya akan menyiapkan tumpangan dan jamuan yang layak (bahkan terbaik), serta perlindungan bagi siapa pun yang mereka sambut. Mereka dibiasakan untuk rela berkorban bagi orang yang mereka sambut. Inilah nilai hospitalitas sesungguhnya! Oleh sebab itu, jika dikaitkan dengan apa yang dilakukan oleh Maria, Maria sendiri tidak merasa rugi untuk memberikan minyak yang sangat mahal itu untuk meminyaki kaki Yesus, sebab bagi Maria, inilah bentuk hospitalitasnya. Di masa prapaskah ini, hospitalitas kita juga diasah dengan kesediaan untuk berkorban bagi sesama. Pengorbanan tidak melulu tentang pemberian materi. Pengorbanan juga dilakukan dalam tindakan menjaminkan rasa aman bagi mereka yang membutuhkan perlindungan, dalam sikap memberi naungan bagi mereka yang terlantar, dalam setiap kesediaan untuk mendengar suara keluh kesah orang lain. Ketiga, jika terdapat banyak rumah singgah di Betania, maka persislah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, bahwa “orang-orang miskin selalu ada bersama kamu”. Komentar Yesus ini tampaknya menjadi respons satire kepada Yudas. Tiga bersaudara itu sudah lebih terbiasa untuk menunjukkan empati, perhatian, dan keberpihakan kepada orang miskin dibandingkan Yudas Iskariot yang justru mencuri uang dari kas yang dipegangnya. Di masa prapaskah ini, gereja kembali diingatkan agar empati dan keberpihakan kepada orang miskin tidak berhenti sebagai sekedar diskusi atau wacana. Gereja juga dipanggil untuk berani menegur dan mengecam setiap tindakan “pencurian”. Kita tidak bisa memungkiri bahwa ada “Yudas-Yudas” di sekitar kita, yakni orang-orang yang justru menggunakan uang yang seharusnya dipergunakan untuk menolong mereka yang miskin dan lemah. Gereja yang mengupayakan hospitalitas berarti menjadi gereja yang tidak tutup mata dan tutup mulut atas penyelewengan. Akhirnya, di masa prapaskah sebagai masa pertobatan, kita kembali mengingat Yesaya 58:6-7 yang menjadi nas pembimbing kita, bahwa “Berpuasa yang Kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecahkan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu, orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” Pokok Pikiran Masa prapaskah seringkali dimaknai sebagai masa pertobatan. Umat diajak untuk memiliki quality time bersama Allah dengan berpuasa, doa, dan perenungan sabda. Namun demikian, masa prapaskah juga menjadi masa yang baik untuk merefleksikan panggilan untuk menghidupi hospitalitas. Hospitalitas juga menjadi salah bentuk quality time kita dengan Allah melalui perjumpaan yang ramah dengan sesama. Hospitalitas merupakan nilai hidup yang berisiko tinggi. Di dalamnya dibutuhkan kesediaan untuk berkorban. Pengorbanan menjadi nilai dasar dari semua tindakan hospitalitas. Hospitalitas tidak dapat dinyatakan jika dimulai dengan pola pikir untung-rugi. Gereja dipanggil untuk menghidupi hospitalitas, bukan justru menjadikan keramahan sebagai beban pelayanan gereja. Orang-orang yang kita sambut, memang tidak selalu menjadi “tamu” yang baik. Ada kalanya mereka justru menjadi “musuh” yang jahat. Namun, gereja dipanggil untuk tetap hidup dalam hospitalitas, sekalipun hal tersebut berisiko tinggi. Hospitalitas dapat diwujudkan melalui tindakan gereja yang senantiasa berpihak kepada mereka yang miskin dan lemah. Hospitalitas gereja juga dinyatakan dalam keberanian untuk menegur dan mengecam setiap tindakan pencurian atau perampasan hak orang lain. Gereja tidak boleh membiarkan “Yudas-Yudas” menindas orang-orang di sekitar kita, terlebih lagi mereka yang tidak memiliki daya untuk melawan atau mempertahankan diri. (Dedanimrod Simatupang) Minggu Prapaskah Keenam 13 April 2025 Pembacaan Alkitab Lukas 19:28-44 Nas Pembimbing Lukas 19:37 Mazmur Mazmur 31:9-16 Pokok Doa Persiapan Paskah di Jemaat masing-masing Mendoakan Jemaat Cakung Nyanyian Tema KJ 162:1,2 “Hosiana! Putra Daud” Warna Liturgis Ungu RAJA YANG SEJATI Pengantar Setelah menyelesaikan masa tugasnya sebagai Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo mengatakan akan kembali ke rumahnya di Solo dan menikmati waktu untuk beristirahat. Sepuluh tahun pengabdiannya telah membawa perubahan besar bagi Indonesia dan ketika tongkat kepemimpinan dilanjutkan ia merasa tugasnya sudah selesai dan kini waktunya beristirahat. Sejarah perjalanan mantan presiden Indonesia bermacam-macam setelah pensiun dari tugasnya memimpin negeri. Ada yang menikmati waktu dengan melakukan hobi yang tidak bisa dilakukan ketika masih menjabat sebagai presiden. Ada juga yang tetap berperan mengawal pemerintahan agar tetap berjalan dengan baik lewat partai. Dalam kehidupan ini, seorang dikatakan berhasil jika ia mendapatkan kesuksesan. Kesuksesan itu sendiri diukur dengan capaian kehidupan yang lebih baik dari pada sebelumnya, jika diibaratkan, seseorang yang meraih kesuksesan seperti seseorang yang sedang meniti anak tangga. Kehidupan ini terus naik tidak mengalami penurunan. Tidak ada yang mau turun dari jabatan yang sedang diduduki karena terdapat penghormatan dan penghargaan di sana. Sementara itu berbeda dengan Yesus, untuk menyelesaikan tugas-Nya Ia rela untuk turun menghadapi sengsara dan kematian-Nya. Raja yang sejati, yang saat ini dipuji diagungkan, namun beberapa hari kemudian diteriaki “Salibkan Dia!”. Penjelasan Teks Minggu Prapaskah keenam ini mengandung dua dimensi, yaitu Minggu Palmarum dan Minggu Sengsara. Minggu Palmarum mengisahkan tentang Yesus dan murid-murid-Nya memasuki kota Yerusalem dan Yesus mengendarai seekor keledai serta banyak orang menyambutnya dengan menghamparkan pakaian mereka. Sementara Minggu Sengsara mengisahkan tentang kehidupan Yesus menjelang dan sampai penderitaan serta kematian-Nya. Bagian awal perikop pembacaan Alkitab saat ini menceritakan latar tempat di mana Yesus dan murid-murid-Nya berada. Mereka berada di sebuah gunung bernama Bukit Zaitun dan Yesus menyuruh kedua orang murid-Nya pergi ke sebuah kampung untuk mendapati seekor keledai (bdk. Ay. 28-31). Gunung menjadi sebuah tempat yang nyaman dan menenangkan untuk berdoa dan beristirahat. Udara yang sejuk, pemandangan yang indah, dan keadaan yang tenang dapat membuat orang terlena ketika berada di atas gunung. Yesus dan murid-murid tidak mau berlama-lama berada di atas Bukit Zaitun. Ia harus segera menuntaskan misi-Nya dengan pergi ke Yerusalem. Dalam Injil Lukas, Yerusalem adalah tujuan dari seluruh pelayanan Yesus sebab di Yerusalemlah Ia akan menghadapi penderitaan dan kematian-Nya. Yesus mengetahui bahwa Ia akan berhadapan dengan kematian, tetapi Ia sama sekali tidak takut dan gentar. Yesus turun gunung membuktikan bahwa Ia siap dengan semua yang akan diterima-Nya. Sebagai Raja yang sejati, Yesus tidak mau terus berada di atas gunung. Bersembunyi di balik indahnya pemandangan dan sejuknya udara. Selanjutnya kedua murid Yesus mendatangi pemilik keledai seperti yang dikatakan oleh Yesus. Ia menyampaikan tepat seperti apa yang Yesus perintahkan. Ketika pemilik keledai muda itu bertanya dan menjawab bahwa, “Tuhan (kyrios) memerlukannya.” Ketika mendengar hal itu, pemilik keledai (kyrioi) itu memberikannya. Kita dapat memahami mengapa pemilik keledai ini begitu mudah menerima jawaban para murid. Teks ini nampaknya menyoroti fakta bahwa Kyrios Yesus memiliki otoritas tertinggi di atas semua kyrioi manusia. Yesus tidak mengajarkan para murid-Nya untuk mencuri. Tetapi lewat peristiwa ini kita diingatkan bahwa yang dapat meminta sesuatu milik orang lain hanya bisa dilakukan oleh raja dan orang yang diambil barangnya oleh raja tidak akan memprotesnya melainkan justru sangat senang bisa memberi kepada raja. Pemilik keledai mungkin merasa bangga dan senang karena keledai miliknya yang sederhana mau dipakai oleh Yesus, Raja sejati. Yesus berjalan masuk ke Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai muda, dan apa yang dilakukan oleh Yesus merupakan penggenapan nubuatan Zakharia (lihat Zak. 9:9). Keledai adalah hewan yang lemah dan lambat berbeda dengan kuda yang kuat, cepat dan gagah. Namun, masyarakat Israel saat itu lebih memilih keledai jika hendak bepergian jauh. Karena keledai dapat menempuh perjalanan yang cukup jauh sambil membawa beban. Pemilihan keledai menunjukkan bahwa Yesus mau memproklamasikan diri-Nya sebagai seorang raja yang datang membawa damai. Berbeda dengan raja-raja lain yang memasuki Yerusalem dengan menunggang kuda, Yesus menegaskan bahwa diri-Nya datang bukan untuk berperang. Yesus tampil sebagai sosok Mesias yang dinantikan oleh banyak orang sehingga mereka menyambut Yesus dengan mengalasi jalan dengan pakaian mereka. Melihat orang banyak berseru-seru memuji Yesus, beberapa orang Farisi menjadi resah. Orang banyak memuji Yesus karena perbuatan-perbuatan penuh kuasa yang telah mereka saksikan. Apalagi seruan Yesus sebagai raja yang datang untuk menyelamatkan mereka adalah harapan yang selama ini mereka nantikan. Belenggu penjajahan orang Romawi telah membuat mereka berani berseru bahwa Yesus adalah raja yang datang dengan kedamaian dan kemuliaan. Teguran orang Farisi kepada Yesus tentu bukan tanpa alasan. Mereka tentu mengetahui nubuatan dalam Alkitab dan agaknya mereka dapat memaklumi seruan dan harapan Mesianik terhadap Yesus. Akan tetapi, orang Farisi takut seruan dan kerumunan orang banyak ini mengundang perhatian penguasa saat itu. Mereka yang berkuasa di Yerusalem di antaranya: Sanhedrin (penguasa dalam bidang keagamaan) dan Herodes atau Pilatus (penguasa politis). Jika mereka terganggu dengan seruan orang banyak terhadap Yesus, bukan tidak mungkin mereka akan bertindak represif. Oleh sebab itu, orang Farisi meminta Yesus membungkam seruan subversif murid-murid dan orang banyak itu. Sekali lagi Yesus tidak gentar berhadapan dengan penguasa-penguasa yang mungkin “terganggu” dengan kehadiran-Nya. Yesus tahu betul akan tantangan yang Ia hadapi namun tak sedikit pun Ia gentar untuk terus melanjutkan misi-Nya. Selanjutnya kita melihat Yesus menangisi Yerusalem. Kitab Injil mencatat 2 kali Yesus menangis, yaitu saat Ia menangisi Yerusalem (Luk. 19:41) dan menangisi Lazarus (Yoh. 11:35). Ketika Yesus menangisi Yerusalem hati-Nya sedih karena orang menolak-Nya. Penduduk Yerusalem belum memahami arti kedatangan-Nya yang membawa damai sejahtera. Kedatangan-Nya ke Yerusalem untuk menegaskan kembali arti kota itu yaitu Kota Damai. Meskipun artinya Kota Damai, tapi rupanya kedamaian tidak ada di sana. Berbagai peristiwa mencatat justru kengerian yang terjadi. Herodes Agung yang pernah berkuasa, memerintahkan untuk membunuh anak-anak di bawah usia 2 tahun di Betlehem dan sekitarnya (Mat. 2:16). Karena seorang raja yang enggan kehilangan singgasananya membuat para ibu menangis kehilangan anak-anak mereka. Yohanes Pembaptis yang mati bukan karena keberaniannya menyampaikan seruan pertobatan, melainkan karena seorang raja yang malu menarik titahnya di hadapan para tamu (Mat. 14:1-12). Belum lagi ahli Taurat dan orang Farisi yang sibuk menafsirkan Kitab Suci di sisi yang lain mengabaikan sesama yang menderita. Kita mengetahui makna tangisan Yesus, bahwa Ia sebagai raja yang berempati terhadap sesama. Raja yang berpihak kepada mereka yang tersingkir dan menderita karena kekuasaan dan sistem yang tidak adil. Peristiwa Yesus masuk ke Yerusalem membuktikan kepada setiap orang bahwa Ia adalah Raja yang sejati. Raja yang mau turun menjalani misi-Nya dengan ketaatan dan kesungguhan. Raja yang sederhana, namun dalam kesederhanaan-Nya Ia memiliki otoritas. Otoritas yang Ia miliki tidak membuat-Nya jatuh pada sikap otoriter. Raja yang tidak gentar terhadap kekuasaan yang tidak adil dan membuat sesama menjadi menderita. Raja yang mau berbela rasa dan berpihak kepada yang lemah dan terpinggirkan. Raja yang pada akhirnya mengorbankan diri-Nya menjadi penebusan setiap orang berdosa. Dalam pengorbanan-Nya kita melihat keagungan sekaligus kesahajaan Yesus Kristus, Sang Raja Sejati. Pokok Pikiran Pengkhotbah dapat memulai dulu dengan 2 dimensi yang terkandung dalam Minggu Prapaskah VI ini, yaitu Minggu Palmarum dan Minggu Sengsara. Minggu Palmarum mengingatkan kita pada peristiwa Yesus dielu-elukan oleh banyak orang. Dimensi ini mengajak kita melihat kemuliaan dan keagungan Yesus Kristus, yang menjadi harapan bagi banyak orang. Di sisi yang lain kita juga mempersiapkan diri kita memasuki Minggu Sengsara, di mana terjadi perubahan 180 derajat dari semula memuji Yesus menjadi seruan penghakiman. Yesus adalah Raja Yang Sejati. Berbeda dengan raja-raja atau penguasa-penguasa yang ada di dunia ini yang mendapatkan kekuasaan dengan berbagai cara, salah satunya dengan peperangan dan menindas sesama. Yesus justru hadir dalam kesederhanaan dan membawa damai sejahtera bagi setiap orang yang mau menerima-Nya. Kedatangan Yesus mungkin bukan seperti yang diharapkan oleh orang-orang Israel yaitu raja yang gagah dengan menunggangi kuda, tetapi Yesus datang menunggangi keledai muda. Justru dalam kedatangan-Nya inilah Ia menegaskan bahwa diri-Nya Raja Yang Sejati. Raja yang tidak mau tinggal diam tenang di atas singgasana, tapi rela turun ke bawah. Raja yang berotoritas. Raja yang tidak gentar terhadap tantangan sekaligus mau berpihak kepada mereka yang lemah dan terpinggirkan. Kita merenungkan bahwa cinta kasih Yesus membuat-Nya rela melakukan ini semua. Ia enggan menghindari tantangan namun berani menghadapinya. Ia juga rela datang dalam kesederhanaan untuk membawa damai sejahtera. Tidak bersikap otoriter sekalipun memiliki otoritas, dan berpihak pada yang lemah. Spiritualitas kerendahan hati inilah yang juga mesti kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Di mana setiap orang ingin menjadi yang berkuasa namun dalam spiritualitas kerendahan hati kita belajar menahan diri dalam ketaatan kepada Tuhan dan berbela rasa terhadap sesama. Daftar Acuan www.workingpreacher.org/commentaries/resived-common-lectionary/sunday-of-the-passion-palm-sunday-3/commentary-on-luke-1928-40-2 (Felix Prasetyo Adi) Kamis Putih 17 April 2025 Pembacaan Alkitab 1 Korintus 11:17-34 Nas Pembimbing 1 Korintus 11:26 Mazmur Mazmur 116:1-19 Pokok Doa Mendoakan persiapan Jemaat pada Jumat Agung dan Paskah 2025 Nyanyian Tema KJ 345:1,2 “Sertai Kami Tuhan” Warna Liturgis Ungu MENGINGAT & BERSYUKUR Pengantar Penurunan kemampuan mengingat atau bahkan kehilangan ingatan biasanya terkait dengan penuaan. Namun, ada juga beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan hilangnya kemampuan mengingat, seperti stres, gangguan fungsi saraf (seperti penyakit Alzheimer), hormon, dan lingkungan. Memori adalah kemampuan mental seseorang untuk menerima, menyimpan, dan kemudian mengingat kembali informasi, pengalaman, atau pengetahuan dari masa lalu. Memori sangat penting untuk fungsi sehari-hari dan perkembangan kognitif karena memungkinkan seseorang untuk belajar, membuat keputusan, dan memahami dunia di sekitarnya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang telah disimpan. Tahapan-tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut: Pengkodean (Encoding): Pada tahap awal ini, informasi yang diterima dari lingkungan diubah menjadi bentuk yang dapat diproses oleh otak. Pengkodean ini bisa berbentuk visual (gambar), akustik (suara), dan semantik (makna). Pengalaman sehari-hari diubah menjadi sinyal dalam sistem saraf otak. Menurut Robert H. Singer, Ph.D., seorang profesor dan ahli biologi RNA di Albert Einstein College of Medicine, kemampuan untuk mempelajari informasi baru dan mengingatnya dalam waktu yang lama adalah salah satu kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh otak. Penyimpanan (Storage): Setelah informasi dikodekan, informasi tersebut disimpan dalam otak. Penyimpanan memori bisa bersifat sementara (memori jangka pendek) atau bertahan lama (memori jangka panjang). Memori jangka pendek adalah kapasitas penyimpanan sementara yang biasanya hanya bertahan beberapa detik hingga menit, contohnya mengingat nomor telepon yang baru saja dilihat. Sedangkan, memori jangka panjang adalah penyimpanan informasi untuk waktu yang sangat lama, mulai dari beberapa hari hingga seumur hidup. Proses penguatan ingatan ini disebut konsolidasi, yang melibatkan perubahan struktur dan fungsi sinapsis otak (koneksi antara neuron), dan biasanya memerlukan waktu beberapa jam. Struktur seperti hipokampus berperan penting dalam pembentukan memori jangka panjang, sedangkan korteks prefrontal membantu dalam memori jangka pendek dan pemrosesan informasi baru. Pengambilan (Retrieval): Pengambilan adalah proses mengakses kembali informasi yang telah disimpan di otak saat dibutuhkan. Proses ini bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kualitas pengkodean dan penyimpanan informasi serta petunjuk lingkungan yang membantu mengingat. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses ingatan meliputi perhatian, emosi, stres, dan kesehatan otak. Misalnya, stres berlebihan dapat menghambat kemampuan mengingat, sementara emosi yang kuat dapat memperkuat ingatan. Maka, dengan tiga tahap terkait dengan memori yang ada dalam otak kita, kita dapat menyimpan segala hal dan peristiwa. Peristiwa baik suka maupun duka, tertawa maupun menangis, saat kelebihan maupun kekurangan. Di balik setiap peristiwa itu, kita diajak untuk memaknai kebaikan Tuhan sekaligus mendorong rasa syukur pada Tuhan yang telah mencurahkan kasih sayang-Nya pada kita, terlebih dalam penghayatan kembali akan Kamis Putih. Penjelasan Teks Secara garis besar, dalam 1 Korintus 11:17-34, Paulus membahas tiga hal, pertama, masalah-masalah yang tampaknya muncul ketika umat Allah berkumpul; kedua, tujuan utama dari Perjamuan Kudus; dan ketiga, bahaya dari ‘menyantap’ janji-janji Allah dengan ‘cara yang tidak layak.’ Penekanan utama dari 1 Korintus 11 dapat direduksi menjadi pertanyaan tentang tempat. Paulus berbicara tentang perpecahan, yaitu beberapa orang dianggap ‘tidak pada tempatnya’ di tengah-tengah Jemaat, atau tidak diterima di sana. Jadi, bagian kedua dari bacaan ini adalah yang ‘paling penting’, di mana merayakan Perjamuan Tuhan menjadi sebuah momen, sebuah tempat dalam pertemuan orang Kristen, di mana kematian Tuhan diberitakan. Pada Perjamuan Tuhan, di dalam rumah dan hadirat Tuhan, kita dipanggil, dipilih, dan didekatkan, untuk dipuaskan dengan karunia-karunia Tuhan. Kita dapat melihat bagian-bagian sebagai berikut: Ayat 17-22 “… aku tidak dapat memuji kamu”, bandingkan juga dengan bagian yang tertuang di ayat 2. Ketika Jemaat berkumpul bahkan pada kesempatan yang paling khidmat, justru mereka melakukannya bukan untuk yang lebih baik yakni untuk memperoleh keuntungan rohani dengan meningkatkan imanmu dan kasih karunia lainnya, melainkan untuk yang lebih buruk; yang artinya malah memperburuk keadaan jiwa mereka yakni dengan memicu perselisihan dan permusuhan yang berdampak pada perpecahan. Jemaat diperingatkan ketika dalam perilaku yang mereka tunjukkan tidak mencerminkan ketidaktertiban dan ketidakpantasan. Dalam pertemuan dengan banyak orang, mereka tidak menunjukkan rasa hormat pada Tuhan dan kasih satu sama lain. Padahal pertemuan tersebut menjadi sebuah kesempatan berharga untuk saling menopang sebagai bagian dari Jemaat Korintus. Perpecahan yang dimaksud ialah bukanlah pemisahan dari gereja, melainkan perpecahan di internal mereka sendiri. Meski dalam perjalanan gereja, Jemaat-jemaat yang bertumbuh ada yang mengalami pemisahan yang disebabkan gereja-gereja yang korup yang kemudian dicap sebagai perpecahan dan telah menyebabkan kekejaman, penindasan, dan pembunuhan yang paling keji, yang telah mengganggu perkembangan kekristenan. Juga, baik bidah maupun skisma disebutkan yang memiliki pengertian yang hampir sama: kecuali jika skisma yang dimaksudkan sebagai permusuhan batin yang menyebabkan bidah; yaitu, perpecahan atau golongan luar: sehingga sementara yang satu berkata, “Aku dari Paulus”, yang lain berkata, “Aku dari Apolos”, ini menyiratkan baik skisma maupun bidah. Namun, kelompok-kelompok terbentuk itu, sebagaimana kata αιρεσεις secara tepat mengartikannya merupakan proses yang biasa harus terjadi, sebagai akibat dari perselisihan dan menurunnya kasih satu sama lain. Ayat 20-22 “Apabila kamu berkumpul, … bukan untuk makan Perjamuan Tuhan”. Dengan dalih merayakan Perjamuan Tuhan, terjadilah perselisihan dan pertengkaran di antara Jemaat dan mereka bertindak tidak tertib. Semestinya makan Perjamuan Tuhan merupakan peringatan khidmat atas kematian-Nya. Apa yang mereka lakukan jauh dari kata layak, terlebih ketika mereka makan bersama-sama. Selain itu juga, ada kasih timbal balik yang mestinya dinampakkan dalam diri mereka sebagai murid-murid dari satu Guru. Alih-alih menganggapnya dengan sudut pandang religius, mereka beranggapan apa yang mereka makan ialah makanan biasa dan tidak berperilaku dengan sopan. Kristus menetapkan Perjamuan-Nya setelah Ia makan Paskah dan para pengikut-Nya sejak awal membuat aturan untuk berpesta bersama sebelum mereka makan Perjamuan Tuhan. Pesta-pesta ini disebut αγαπαι, charitates, pesta kasih. Mereka disebutkan di Yudas 1:12, seperti juga oleh beberapa penulis Kristen kuno. Ada catatan yang menyebutkan kita belajar bahwa orang Yunani, ketika mereka makan malam bersama, masing-masing membawa perbekalannya sendiri yang sudah disiapkan, yang mereka makan bersama-sama. Mungkin Jemaat Korintus mengikuti praktik yang sama dalam pesta-pesta mereka sebelum Perjamuan Tuhan. Sementara itu, ada yang seorang lapar dan yang lain mabuk - atau lebih tepatnya diterjemahkan dengan kenyang atau diberi makan dengan berlimpah, “seperti yang dilambangkan μεθ...ειν, yang berlawanan dengan lapar. Kata itu digunakan dalam pengertian ini oleh LXX (Septuaginta). Menurut para ahli tata bahasa, μεθ...ειν secara harfiah berarti makan dan minum, μετά το θύειν, setelah mempersembahkan kurban; pada saat-saat seperti itu orang kafir (tidak percaya pada Allah) sering minum berlebihan. Tindakan mereka dipandang sebagai bentuk meremehkan Jemaat Allah, terlebih Jemaat yang di dalamnya orang miskin menjadi bagian yang lebih besar dan lebih baik. Apakah mereka mesti menunjukkan pesta mewah terhadap mereka yang tidak mampu Maka, teguran dan kritik Rasul Paulus: apakah dia harus memuji Jemaat Korintus, justru mereka harus memperbaiki tindakan mereka yang keliru. Ayat 23 “… telah aku terima dari Tuhan” menjadi sebuah pernyataan yang meneguhkan dalam pengalaman Rasul Paulus. Ia bisa saja mendapat sebuah wahyu. Bahkan melalui pemberitaan mengenai Yesus. Yesus adalah Anak Allah yang mati dan bangkit pada hari ketiga. Ia menetapkan perjamuan-Nya untuk dipelihara oleh murid-murid-Nya sampai Ia kembali untuk menghakimi dunia. Ia melihat sebelumnya bahwa kematian-Nya akan selalu diingat oleh murid-murid-Nya, bersama dengan kebangkitan-Nya, dan harapan akan kedatangan-Nya kembali. Lebih jauh, jika Kristus tidak bangkit dari kematian sesuai janji-Nya, yang sering diulang-ulang, mungkinkah murid-murid-Nya akan mengabadikan ingatan di mana kematian-Nya diwartakan kepada dunia? Oleh karena itu, karena para rasul dan murid pertama lainnya, yang menjadi saksi mata atas kematian dan kebangkitan Guru mereka dan penerus mereka melanjutkannya dari waktu ke waktu, mereka telah mewartakan kepada dunia tentang kematian dan kebangkitan Guru mereka sebagai hal-hal yang diketahui dan diyakini oleh semua orang Kristen sejak awal. Hal ini merupakan bukti yang tak terbantahkan tentang kenyataan kematian dan kebangkitan Kristus, dan mengukuhkan klaim-Nya sebagai Anak Allah, Mesias, dan Juruselamat dunia. Selain itu, sakramen ini telah menjadi sumber penghiburan yang tak terhingga bagi para pengikutnya di setiap zaman, meyakinkan mereka bahwa semua ajaran-Nya benar dan semua janji-Nya akan digenapi pada waktunya. Dari perspektif ini, penetapan perjamuan, pada malam ketika Ia dikhianati, adalah contoh besar kasih Kristus kepada manusia. Kita terikat untuk melanjutkan pelayanan yang luar biasa ini di dunia, untuk mewariskan penghiburan yang tak terhingga ini kepada generasi berikutnya, yang kita sendiri nikmati melalui pemeliharaan para pendahulu kita yang percaya kepada Kristus sebelum kita. Ayat 24 Dan sesudah Ia mengucap syukur, kata ε...χαριστησας, yang diterjemahkan sebagai berkat kepada Allah atas keselamatan bagi orang berdosa melalui kematian-Nya. Yesus memecah-mecahkan roti itu menjadi beberapa bagian dan membaginya kepada murid-murid-Nya yang hadir, sambil berkata dengan khidmat, "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu". Klausa "yang dipecah-pecahkan" tidak dapat dipahami secara harfiah, karena ini akan menyiratkan bahwa tubuh Kristus dipecah-pecahkan atau dibunuh di kayu salib pada saat Ia mengatakannya. Namun, hal ini dimaknai bahwa roti ini adalah gambaran tubuh-Ku yang akan dipecah-pecahkan untukmu. "Lakukan ini sebagai peringatan akan Aku" merupakan pernyataan akan adanya kenangan yang secara mendalam yang didasari dengan kerendahan hati, penuh syukur, dan taat akan kasih-Nya yang besar, akan penderitaan-Nya yang luar biasa demi kita, akan berkat-berkat yang telah diperoleh-Nya bagi kita, dan akan kewajiban untuk mencintai dan melayani yang telah diberikan kepada kita melalui semua ini. Ayat 25-27 “Demikian juga, Ia mengambil cawan, sesudah makan ...” Pernyataan ini disebutkan untuk menunjukkan bahwa Perjamuan Tuhan bukan dimaksudkan untuk menyegarkan tubuh, melainkan seperti yang diberitahukan dalam 1 Korintus 11:26, untuk mengabadikan kenangan akan kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus sampai akhir zaman, serta menyatakan harapan kita akan kedatangan-Nya kembali dari surga untuk menghakimi seluruh umat manusia. Dengan melakukan hal ini secara terus-menerus dan dilakukan dengan sungguh-sungguh, iman, harapan, dan rasa syukur para pengikut-Nya dapat dipupuk. Agar tujuan-tujuan ini dapat tercapai, perayaan Perjamuan Tuhan harus dilakukan oleh seluruh anggota gereja secara bersama-sama, bukan dalam kelompok-kelompok terpisah. Kematian Guru mereka tidak hanya diingat, tetapi juga dinyatakan kepada dunia sebagai fakta yang diketahui dan diyakini oleh semua orang Kristen sejak awal. Ia mengatakan, "Cawan ini adalah perjanjian baru" menjadi sebuah pernyataan akan lambang dari perjanjian baru yang ditetapkan dalam darah-Nya, yang melaluinya semua berkat yang tak ternilai diperoleh. Semua dilakukan untuk mengenang Aku. Tindakan tersebut untuk menjaga kenangan akan kasih-Nya yang menyelamatkan. Ditambahkan dengan “… setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini” artinya bahwa setiap orang percaya dari generasi ke generasi berupaya untuk terus melakukan tindakan pengenangan tersebut dan mewartakan kematian-Nya sampai Ia datang. Selain itu, hal ini juga menggambarkan keteguhan iman tiap-tiap generasi dengan tantangan yang berbeda. Oleh karena itu, mereka diharapkan untuk makan roti dan minum cawan dengan cara yang patut/ layak. Ayat 28-32 “… karena itu, hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri …” melalui pernyataan ini menjadi sebuah tantangan apakah Jemaat Korintus sungguh-sungguh berkeinginan untuk mematuhi sepenuhnya serta menghormati Kristus dengan hidup mereka, sesuai dengan firman dan teladan-Nya. Jika di antara mereka, ada yang makan dan minum dengan tidak layak atau dengan cara yang tidak hormat, ceroboh, dan tidak senonoh, maka mereka akan menerima Κριμα (terjemahan: kutukan) yaitu hukuman bagi dirinya sendiri atau berbagai jenis penghakiman duniawi. Demikianlah Jemaat Korintus dihukum dengan kelemahan, penyakit, dan kematian karena makan dengan tidak layak. Tidak membedakan tubuh Tuhan bahkan tidak mengakui bahwa kematian Kristus, dan manfaat yang diperoleh-Nya bagi kita dengan kasih-Nya yang besar, terwakili dalam sakramen tersebut; serta tidak membedakannya dari makanan biasa. Artinya bahwa Jemaat Korintus diperingatkan sekali lagi untuk melakukan Perjamuan Tuhan dengan kesungguhan dan ini diwujudkan dengan keselarasan watak, perkataan, dan tindakan dalam hidup serta kesediaan untuk memperbaiki diri dan bertobat. Ayat 33-34 2 ayat terakhir ini merupakan bagian kesimpulan. Ketika Jemaat Korintus berkumpul untuk bersama merayakan Perjamuan Tuhan, maka mereka mesti mewujudkan sikap bersabar dan penuh kasih antara satu dengan yang lain. Segala sesuatu dilakukan dengan tertib, hormat, dan layak. Semuanya diatur dengan baik sampai Rasul Paulus datang ke Jemaat Korintus. Pokok Pikiran Dalam 1 Korintus 11:17-34, Rasul Paulus berbicara kepada Jemaat di Korintus mengenai cara yang tepat untuk merayakan Perjamuan Tuhan. Kamis Putih kita tidak hanya diingatkan mengenai pembasuhan kaki sebagai bentuk untuk terus memelihara kasih satu sama lain, tetapi juga kesiapan dan kesediaan kita dalam Perjamuan Kudus yang kita hayati di Jumat Agung. Sebagaimana perjamuan terakhir antara Yesus dengan para murid-Nya yang kembali diceritakan dalam 1 Korintus 11:23-26 yang kemudian ini diteruskan dari generasi ke generasi, termasuk Jemaat di Korintus, dengan menekankan pentingnya mengingat pengorbanan Yesus. Jemaat Korintus dan kita diajak untuk merenungkan bagaimana merayakan Perjamuan Kudus dengan benar, mengingat ajaran, dan pengorbanan Yesus. Maka, ajakan untuk memeriksa diri mesti dilakukan dengan benar. Minggu-minggu Prapaskah yang dijalani merupakan upaya yang dilakukan secara untuk melakukan pertobatan bahkan juga keterbukaan hati bagi mereka yang membutuhkan kasih kita. Dengan cara demikian, ketika kita melakukan Perjamuan Kudus, ada gambaran persatuan orang-orang percaya, yang dilambangkan dengan berbagi roti dan anggur. Selain itu juga, mengingatkan kita untuk terus mewartakan kematian Tuhan Yesus sampai kedatangan-Nya kembali. Dengan cara demikian, kita sedia untuk menunjukkan hidup yang mengingat dan bersyukur untuk setiap karya Allah dalam hidup kita. Daftar Acuan https://hellosehat.com/saraf/alzheimer/bagaimana-ingatan-dalam-otak-bisa-terbentuk/ https://biblehub.com/commentaries/benson/1_corinthians/11.htm (Titin Meryati Gultom) Jumat Agung 18 April 2025 Pembacaan Alkitab Ibrani 10:16-25 Nas Pembimbing Ibrani 10:20 Mazmur Mazmur 22:1-32 Pokok Doa Mendoakan korban ketidakadilan Mendoakan pelaku tindak kekerasan Nyanyian Tema KJ 158: 1,4 “Ku Ingin Menghayati” Warna Liturgis Hitam KRISTUS TELAH MEMBUKA JALAN YANG BARU DAN YANG HIDUP Pengantar Hidup beriman itu ibarat sebuah perjalanan yang di dalamnya ada banyak rute untuk menghantarkan kita sampai pada tujuan. Pilihan untuk menentukan rute mana yang akan kita tempuh adalah kembali ke dalam diri kita masing-masing. Saat ini sebagian besar orang sudah menggunakan aplikasi google maps atau waze sebagai sarana penunjuk arah untuk menghantarkan kita ke tempat tujuan. Ada yang menarik dari aplikasi google maps yaitu, penggunaan aplikasi tanpa jaringan internet. Maksudnya ketika kita terhubung dengan jaringan internet dan mencari tempat tertentu di aplikasi tersebut maka akan ada penyaranan rute yang diberikan. Setelah berjalan mengikuti sesuai rute yang diberikan (sekitar 20-50 meter) lalu kemudian kita matikan data internetnya, rute tersebut tetap bisa diakses (biasanya hal ini dilakukan ketika kondisi baterai sudah lemah). Harus diakui jika ada kelemahan dari kondisi tersebut, yakni ketika kita keluar dari rute yang seharusnya maka tidak ada alternatif rute baru yang diberikan. Berbeda ketika ada jaringan internet, sekalipun kita keluar dari rute yang seharusnya, aplikasi tersebut akan memberikan rute baru untuk sampai ke tujuan. Demikian pula dengan hidup beriman, jika kita selalu terhubung dengan Tuhan sekalipun kerap kali kita berjalan menurut kehendak sendiri maka Tuhan akan mengarahkan kita untuk menggunakan “jalan yang baru yang memberikan kehidupan” (BIS LAI). Penjelasan Teks Surat Ibrani merupakan surat yang ditujukan kepada orang-orang Kristen Yahudi untuk menanggapi godaan meninggalkan iman Kristen akibat penganiayaan dan pengejaran yang mereka derita. Bagian pembacaan Alkitab kita hari ini secara khusus berpusat pada dua hal, yakni gagasan tentang Perjanjian Baru dan nasihat untuk bertahan dalam iman kepada Kristus. Penulis Surat Ibrani hendak mengingatkan kembali kepada para pembacanya bahwa gagasan Perjanjian Baru sudah ia bicarakan dalam pada pasal 8:8-12. Sekalipun pada bacaan kita saat ini, yakni ayat 16-17 terdapat beberapa perubahan yang cukup signifikan terkait kutipan nubuat nabi Yeremia tentang kedatangan Perjanjian Baru. Perhatikan perubahan kalimat “Inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel…” (Yer. 31:33) diubah menjadi “….Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka..” (Ibr. 10:16). Perubahan ini menunjukkan bahwa gagasan Perjanjian Baru dapat dikenakan pada semua manusia dan bukan hanya orang Israel. Selain itu, kalimat “Aku tidak lagi mengingat dosa mereka” (Yer. 31:34) diubah menjadi “Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan pelanggaran mereka”. Perubahan ini merupakan pengingatan seperti yang tertulis dalam pasal 1:9 bahwa Anak Allah membenci pelanggaran. Karena itu, darah Kristus membersihkan manusia dari apa yang Dia benci. Jadi dari perubahan kutipan tentang Perjanjian Baru tersebut, penulis Surat Ibrani hendak menyatakan bahwa sekarang melalui Yesus Kristus yang merupakan Kurban yang sempurna tidak ada lagi kurban penebusan dosa lainnya (ay. 18). Dengan kata lain, darah-Nya telah mengesahkan Perjanjian Baru, suatu perjanjian yang benar-benar membangun relasi baru antara manusia dan Allah. Pada bagian selanjutnya ada beberapa nasihat dan larangan yang disampaikan oleh penulis Surat Ibrani sebagai konsekuensi logis dari apa yang sudah diuraikan sebelumnya. Sebelum memberikan nasihat-nasihat dan larangan, terlebih dahulu diberikan pengantar yang mendasarinya. Ada dua hal yang ditegaskan, yakni orang-orang yang percaya kepada Kristus memiliki keyakinan bahwa mereka boleh masuk ke dalam tempat kudus di surga yang menjadi tujuan akhir hidup mereka dan saat ini mereka sudah memiliki seorang “Imam Agung sebagai Kepala Rumah Allah.” Karena Yesus sudah membuka jalan yang baru dan yang hidup, maka muncullah nasihat agar orang Kristen memperhatikan tiga hal mendasar dalam kehidupannya, yakni iman, pengharapan, dan kasih. Berkaitan dengan iman, penulis menghubungkannya dengan ibadah kepada Allah. Pertama, seseorang yang sudah menerima pengampunan dosa melalui pengorbanan Yesus Kristus sejatinya ketika beribadah kepada Allah datang dengan “hati yang tulus ikhlas” (Yun. alethines), yang berarti sejati, sesuai kebenaran, tidak palsu. Kedua, dibutuhkan “keteguhan iman” mengingat konteks mereka yang pelik dan bisa saja mereka meninggalkan imannya kepada Kristus karena penderitaan yang dialami. Ketiga, “hati nurani mereka sudah diubahkan” menjadi bersih dengan air yang murni. Jika semula hati nurani mereka dikuasai oleh yang jahat (perasaan bersalah yang menggelisahkan hati manusia atau perbuatan yang sia-sia), kini sudah dibersihkan menjadi hati nurani yang baru karena darah Kristus telah dipersembahkan sebagai kurban yang sempurna. Berkaitan dengan pengharapan penulis mengingatkan bahwa pengharapan kepada Allah tidak pernah sia-sia sebab Allah yang menjadi sumber pengharapan orang-orang percaya adalah setia. Ketika seseorang memiliki pengharapan, maka itulah bentuk imannya kepada janji-janji Allah. Selanjutnya berkaitan dengan kasih. Penulis Surat Ibrani menasihati agar orang-orang Kristen hidupnya saling mendorong dalam mempraktikkan cinta kasih dan perbuatan baik. Yesus sudah menunjukkan arti cinta kasih dan perbuatan baik yang nyata melalui pengorbanannya di atas kayu salib. Oleh karena itu, sebagai orang-orang yang percaya kepada Kristus sudah selayaknya hidup kita pun saling mewujudkan cinta kasih dengan berkorban satu dengan yang lain. Pada bagian akhir, disampaikan larangan agar mereka tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah. Larangan ini masih berkaitan dengan nasihat untuk saling mengasihi. Tantangan mereka untuk tetap bertahan dan percaya kepada Yesus bukan hanya berasal dari luar, tetapi juga dari dalam mereka diri sendiri. Artinya untuk bisa saling mendorong dan mempraktikkan cinta kasih, seseorang tidak bisa menjauhkan dirinya dari pertemuan-pertemuan ibadah, atau hidup mengasingkan diri dari yang lain. Pada momen Jumat Agung saat ini, kita diajak untuk melihat dan merenungkan kembali apakah kita sudah memaknai karya penebusan yang dilakukan oleh Yesus di atas kayu salib sebagai pembuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita semua? Lalu bagaimana respons kita? Sudahkah kita mendasari hidup kita dengan iman, pengharapan, dan kasih? Semuanya itu tidak mungkin dapat dilakukan jika kita tidak terhubung dengan Tuhan. Keterhubungan kita dengan Tuhan membawa kita pada sebuah kesadaran bahwa Tuhan telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita sekalipun kita ini adalah manusia berdosa (yang kerap kali keluar dari rutenya Tuhan). Sebagai responsnya, diperlukan kesediaan untuk senantiasa hidup berkomitmen dengan cara beriman secara teguh, berpengharapan hanya kepada Allah saja dan tidak kepada yang lain, berjuang untuk menghadirkan cinta kasih dan perbuatan baik kepada orang lain, serta selalu mendekatkan diri kepada Allah dan sesama melalui pertemuan-pertemuan ibadah. Pokok Pikiran Pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib merupakan karya penebusan yang sempurna yang tidak memerlukan korban lain untuk menebus dosa manusia. Melalui diri-Nya terbuka jalan yang baru dan yang hidup. Ketika saat ini orang Kristen kerap kali tidak berjalan sesuai dengan jalannya Tuhan, maka melalui momen Jumat Agung diingatkan kembali bahwa Yesus sudah membuka jalan yang baru yang memberikan kehidupan. Oleh karena itu, jalan baru itulah yang hendak diikuti dengan mengingat nasihat dalam Surat Ibrani untuk mendasari kehidupan dengan iman, pengharapan, dan kasih. Nasihat-nasihat penulis Surat Ibrani mengajak para pembaca untuk memperhatikan betapa pentingnya dalam kehidupan orang-orang Kristen mereka melakukan pertemuan-pertemuan ibadah dan saling menasihati satu sama lain. Mengingat bagaimana pun keberadaan setiap pribadi dalam sebuah komunitas iman itu rentan. Mereka akan mengalami pergumulan, tantangan, dan kondisi yang sewaktu-waktu bisa menggeruskan iman mereka kepada Kristus. Sadar akan hal yang demikian, penulis Surat Ibrani mengingatkan agar mereka tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah sebab melalui pertemuan-pertemuan tersebut orang-orang Kristen bisa saling menguatkan agar tetap memiliki keteguhan iman, pengharapan kepada Allah, dan mempraktikkan cinta kasih dalam kehidupan bersama dengan yang lain. Daftar Acuan Gunawa, H. P. (2021). TAFSIR ALKITAB KONTEKSTUAL-OIKUMENIS: SURAT IBRANI. Jakarta: BPK Gunung Mulia. (Ricki Albett Sinaga) Sabtu Sunyi 19 April 2025 Pembacaan Alkitab 1 Petrus 4:1-11 Nas Pembimbing 1 Petrus 4:2 Mazmur Mazmur 31:1-16 Pokok Doa Mendoakan persiapan Paskah 2025 Mendoakan penderita trauma dan gangguan kesehatan jiwa Nyanyian Tema NKB 134:1-4 “T’rima Kasih, Ya Tuhanku” Warna Liturgis Ungu WAKTU YANG TERSISA= WAKTU YANG BERHARGA Pengantar Ketika Anda mendengar kata “sisa” apa yang tebersit pertama kali dalam pikiran Anda? Kata tersebut terkesan kurang mendapatkan nilai positif di dalamnya. Jika melihat arti kata tersebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sisa berarti “apa yang tertinggal (sesudah diambil, dimakan, dan sebagainya)”. Namun, di sisi lain kata tersebut bisa menjadi sangat bermakna dan bernilai positif jika dikaitkan dengan kata “waktu” atau yang dimaksud di sini adalah menjadi “waktu tersisa”. Misalnya dalam pertandingan sepak bola selalu ada waktu tambahan yang diberikan oleh wasit. Bagi wasit waktu tersebut adalah “tambahan”, tetapi bagi para pemain, pelatih, dan penonton waktu tersebut adalah “sisa”. Semua pemain pasti akan memanfaatkan waktu yang tersisa semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik. Lalu bagaimana dengan sikap kita dalam menjalani hidup ini ketika diberikan waktu oleh Tuhan? Seandainya kita diberitahu jika hari esok adalah hari terakhir kita hidup di dunia ini, dapat dipastikan bahwa kita pun akan memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik mungkin. Dalam menghayati pengorbanan Kristus di atas kayu salib, sudahkah kita menggunakan waktu dengan sebaik mungkin dan menyadari bahwa waktu tersebut adalah berharga? Penjelasan Teks Surat 1 Petrus cukup banyak menyinggung soal penderitaan, baik yang sedang dan akan ditanggung oleh Jemaat. Penulis menghendaki agar orang yang membaca surat ini sadar bahwa karena iman mereka kepada Yesus Kristus, mereka akan menanggung penderitaan. Nampaknya surat ini ditulis ketika pemerintahan Romawi mulai menganiaya Jemaat Kristen, di mana pada masa kaisar Domitianus orang-orang Kristen menolak untuk menyembah kaisar yang menganggap dirinya sebagai dewa. Maka dari itu, dalam surat ini penulis mengajak Jemaat untuk mengikuti teladan Kristus, hidup dengan baik, dan siap sedia menanggung penderitaan. Sekalipun penderitaan harus dialami oleh orang-orang Kristen, tetapi penderitaan itu tidak mengalahkan mereka karena Yesus telah menderita dan mati untuk mengampuni dosa mereka. Apa yang disampaikan oleh penulis dalam pasal 4:1-11 merupakan hal-hal yang harus diperhatikan oleh orang-orang Kristen, yakni menguasai diri dengan baik dan merawat kehidupan bersama dengan cara melayani satu sama lain berdasarkan karunia yang telah diberikan oleh Allah. Menguasai diri menjadi bagian yang penting dalam kehidupan seorang pengikut Kristus. Dalam hal ini, menguasai diri berarti bersedia untuk melepaskan diri dari kemelekatan duniawi yang di dalamnya ada hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum, dan penyembahan berhala yang terlarang (ay. 3). Tantangan yang demikian begitu dekat dengan konteks kehidupan orang-orang Kristen pada saat itu, sehingga perintah agar seseorang dapat menguasai dirinya menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan. Secara badani menguasai diri adalah hal yang menyiksa dan membuat diri orang-orang Kristen merasa menderita karena hal-hal yang diinginkan tidak bisa didapatkan. Tetapi, harus diingat juga bahwa Kristus telah menderita secara badani untuk menebus dosa manusia. Artinya orang-orang Kristen pun harus berhenti berbuat dosa dengan cara menolak hal-hal jahat yang timbul dari dalam diri sendiri maupun yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Bentuk kesadaran yang mendorong orang-orang Kristen untuk bisa menguasai diri adalah dengan menjadikan waktu yang tersisa sebagai waktu yang berharga. Dalam kesadaran tersebut waktu yang dipergunakan adalah untuk melakukan kehendak Allah bukan untuk keinginan diri sendiri. Di samping itu dan yang terutama yang harus dilakukan oleh orang-orang Kristen menurut penulis Surat Petrus adalah mempergunakan waktu yang ada untuk mengasihi orang lain dengan sungguh-sungguh dan melayaninya. Setiap orang telah diberikan karunia oleh Allah, maka dari itu pergunakanlah karunia tersebut untuk melayani orang lain. Karena dengan cara merawat kehidupan bersama satu dengan yang lain, maka hal tersebut bisa mengokohkan eksistensi orang-orang Kristen di tengah penderitaan. Segala upaya yang telah dilakukan untuk bertahan dalam penderitaan, baik itu melalui bentuk penguasaan diri maupun aksi kepedulian terhadap orang lain, itu semua adalah wujud perjuangan melakukan kehendak Allah. Dalam momen Sabtu Sunyi pada saat ini, kita diajak untuk menyadari keberhargaan waktu yang diberikan oleh Tuhan untuk kita jalani. Dengan meningat kembali pengorbanan Yesus di atas kayu salib, sudah selayaknya kita menggunakan waktu bukan untuk melakukan keinginan kita sendiri (hal-hal yang berpotensi merugikan bukan hanya sendiri tetapi orang lain), melainkan kehendak Allah. Kita diajak untuk menguasai diri dari segala kemelekatan duniawi dan melakukan aksi kepedulian secara sungguh-sungguh kepada orang lain. Ingat, waktu yang tersisa merupakan waktu yang berharga. Maknailah pengorbanan Yesus Kristus dengan cara hidup untuk selalu berupaya melakukan yang terbaik dalam melakukan kehendak Allah. Pokok Pikiran Penulis Surat Petrus sadar akan konteks keberadaan orang-orang Kristen yang berhadapan dengan penderitaan. Orang-orang Kristen yang dimaksud adalah mereka yang berada di daerah Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil, dan Bitinia (1 Ptr. 1:1). Penulis mengingatkan agar orang-orang Kristen mempergunakan waktu yang tersisa sebagai waktu untuk melakukan kehendak Allah, bukan mempergunakan untuk keinginan sendiri. Hal yang harus dilakukan adalah dengan cara menguasai diri dari segala kemelekatan duniawi. Cara hidup mereka akan menentukan tentang bagaimana kualitas diri mereka di tengah-tengah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Oleh karena itu, orang-orang Kristen harus melihat kedalaman kasih Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus dengan cara menggunakan waktu sebaik mungkin untuk menguasai diri dari cara hidup yang lama. Dalam momen Sabtu Sunyi ini mari kita berkontemplasi sejenak dan menoleh kembali terhadap pemaknaan pengorbanan Yesus Kristus dalam hidup kita. Apakah kita sudah mengasihi orang lain dengan sungguh-sungguh dan melayani mereka berdasarkan karunia yang diberikan oleh Allah kepada kita? Sudahkah kita memaknai waktu yang diberikan oleh Tuhan sebagai waktu yang berharga untuk terus membangun relasi yang sehat bersama dengan Tuhan dan sesama? Ingat, penderitaan Yesus Kristus di atas kayu salib adalah pengorbanan yang sempurna bagi pulihnya relasi manusia dengan Allah. Maka sebagai gereja kita perlu mempergunakan waktu untuk terus melakukan yang terbaik dalam pelayanan kita kepada sesama. Daftar Acuan Alkitab Edisi Studi, 2015. https://kbbi.web.id/sisa (Ricki Albett Sinaga) Minggu Paskah 20 APRIL 2025 Pembacaan Alkitab Kisah Para Rasul 10:34-43 Nas Pembimbing Kisah Para Rasul 10:40 Mazmur Mazmur 118:14-24 Pokok Doa Mendoakan Jemaat Cawang Mendoakan gerakan perempuan dan kesetaraan (Hari Kartini - 21 April) Mendoakan perempuan GKP Nyanyian Tema NKB 200:1-2 “Di Jalan Hidup Yang Lebar, Sempit” atau “Jadilah Terang” dipopulerkan oleh Glenn Fredly (https://www.youtube.com/watch?v=6CoULrDx0s0) Warna Liturgis Putih KEBANGKITAN YESUS MENERANGI KEGELAPAN Pengantar Paskah merupakan sukacita bagi dunia, karena dosa dihapuskan, penghukuman yang seharusnya diterima oleh manusia telah “diambil alih” dijalani oleh Yesus. Paskah menjadi “jalan” bagi manusia mensyukuri keselamatan itu dengan mengisi, memperjuangkan kehidupan ini menjadi lebih baik. Yesus yang sudah memberikan keselamatan membuka kesempatan bagi manusia mengalami pembaharuan dari manusia lama menjadi manusia baru. Manusia yang melanggar kehendak Tuhan menjadi manusia yang melakukan kehendak Tuhan, sehingga dunia ini yang penuh “kegelapan” karena tindakan-tindakan dosa menjadi “terang”. Pertanyaannya adalah siapakah yang memiliki peran untuk memberikan perubahan bagi dunia ini. Jawabnya adalah manusia, orang Kristen menjadi “alat” Tuhan, menjadi “agen” perubahan (agent of change) bagi dunia. Setiap orang adalah individu/pelaku yang dapat menciptakan perubahan di tengah masyarakat. Orang Kristen adalah agen perubahan pertama di keluarga, gereja, sekolah, tempat kerja, masyarakat. Tentu menjadi agen perubahan ini tidak mudah, pasti ada resiko yang harus siap sedia dihadapi. Penjelasan Teks Konteks Kisah Para Rasul 10 ini adalah kisah 2 (dua) orang laki-laki yang mempunyai latar belakang berbeda. Kornelius seorang Romawi, seorang Perwira batalyon Italia (Kis. 10:1) dan Petrus seorang Yahudi, pengikut Kristus dan kepala gereja Yerusalem. Kornelius tinggal di Kaesarea, sebuah kota di Yudea di jaman Para Rasul yang dibangun oleh Herodes. Kota ini dibangun oleh Herodes dengan maksud sebagai kota penyembahan bagi Kaisar. Karena itu orang Yahudi tidak mengakui kota ini, anti untuk masuk dan bergaul dengan orang Kaesarea, untuk menjaga kemurnian mereka sebagai umat pilihan Allah sekaligus menjaga kekudusan Hukum Taurat. Orang Yahudi dilarang keras untuk bergaul dengan orang-orang non Yahudi (10:28). Orang non Yahudi itu najis bagi orang Yahudi (bdk. 10:28 bahwa ada pandangan negatif tentang orang non Yahudi sebagai orang yang najis). Maka mengertilah kita bahwa ada perbedaan yang begitu tajam antara orang Yahudi dan orang non Yahudi (secara khusus dalam bacaan kita pada saat ini perbedaan antara Petrus dan Kornelius). Namun yang luar biasa menarik dari bacaan ini adalah: Setelah Malaikat Allah datang kepada Kornelius (10:4,5), supaya mencari dan memanggil seseorang yang bernama Petrus yang tinggal di rumah Simon di Yope. Kornelius yang adalah seorang saleh, ia beserta keluarganya takut kepada Allah, memberi banyak sedekah kepada orang Yahudi, dan senantiasa berdoa kepada Allah, tetap menunjukkan sikap terbuka terhadap orang yang berbeda latar belakangnya. Setelah Petrus diliputi kuasa ilahi (10:10) atau Roh (10:9) berbicara kepada Petrus (Petrus mengalami penglihatan). Langit terbuka dan turunlah sesuatu seperti kain lebar yang di dalamnya terdapat segala jenis binatang, lalu Petrus diperintahkan untuk menyembelih dan memakannya. Petrus melihat ada binatang yang haram yang menurut orang Yahudi adalah najis dan menolak untuk memakannya. Namun Roh Kudus memberikan “pencerahan” bagi Petrus yaitu: “apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh dinyatakan haram. Maka terjadilah perubahan pemahaman dalam memandang sesama, cara berpikir yang berubah (khususnya Petrus). Petrus diyakinkan tidak boleh menyebut seorang pun tidak tahir atau najis (10:28) dan bersedia datang ke rumah Kornelius. Tuhan telah bekerja untuk meruntuhkan pemahaman sempit Petrus dan “mengajak” Petrus masuk dalam karya keselamatan Kristus yang indah, keselamatan bagi semua orang, dari segala bangsa. Kuasa Allah telah bekerja dalam diri Petrus, sehingga ia dapat membagikan keyakinan imannya bukan saja kepada Kornelius tetapi juga bagi semua orang yang mendengarkan pemberitaan tentang Yesus saat itu (10:44-48). Petrus yang tadinya berpikiran sempit tentang sesama, setelah mendapatkan “pencerahan” kemudian menjadi alat Allah untuk menyampaikan berita keselamatan kepada banyak orang, bahwa Yesus tidak membeda-bedakan orang. Keselamatan yang dikerjakan melalui salib, telah menganugerahkan keselamatan bagi seluruh bangsa. Petrus telah menjadi “alat” Allah yang membagikan persahabatan kepada semua orang. Petrus yang telah “diubahkan” oleh Allah telah menjadi agen perubahan di tengah tengah dunia yang penuh dengan perbedaan, yang bisa menjadi “embrio” kebencian, permusuhan di antara umat manusia. Persahabatan, pertemanan, relasi indah sangat berharga di dalam kehidupan ini, yang bisa menjadikan manusia satu dengan yang lain bekerjasama untuk mengatasi, menyelesaikan persoalan, masalah yang membuat dunia ini berada dalam “kegelapan”. Keberadaan Petrus menjadi agen perubahan telah membuka jalan bagi banyak orang hidup dalam kegelapan (pikiran sempit tentang orang lain, permusuhan, kebencian), sehingga menjadi terbuka terhadap kehadiran orang lain dan bersedia menolong orang lain (hidup dalam terang). Situasi kehidupan kita juga berada dalam kenyataan tidak dapat lepas dari perbedaan, latar belakang yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Situasi ini bisa menjauhkan kita dari sesama, padahal hidup ini sudah penuh dengan persoalan. Jika manusia tidak bergandengan tangan untuk membantu menyelesaikan banyak persoalan, maka tidak mungkin kehidupan ini berada dalam terang kasih Yesus yang sudah bangkit. Peran orang Kristen sangat dibutuhkan untuk menjadi alat Allah yang mengatasi banyak persoalan itu. Di mana pun orang Kristen berada, kita menjadi agen perubahan Allah. Mari terus berjuang. Pokok Pikiran Pengkhotbah dapat mengawali renungannya dengan menyampaikan kenyataan kehidupan ini dipenuhi dengan banyak persoalan (dapat mengambil satu persoalan berat), yang menjadi bukti bahwa dunia ini sedang berada dalam kegelapan. Manusia akan terus diperhadapkan dengan situasi yang penuh masalah. Karena itu dibutuhkan kerjasama dengan sesama untuk menyelesaikan persoalan yang ada. Seringkali kerjasama itu terhambat karena perbedaan latar belakang satu dengan yang lain. Karena itu diperlukan sikap yang terbuka terhadap sesama, sekalipun berbeda latar belakang. Mampukah orang Kristen menjadi “alat” Allah yang bersedia diubahkan pemahamannya memandang perbedaan yang ada. Maukah orang Kristen diperbarui cara berpikir, cara memandang sesamanya, dan terbuka terhadap kepelbagaian yang ada. Dunia ini akan berada dalam kegelapan ketika manusia tidak mau peduli terhadap orang lain. Setiap manusia, termasuk orang Kristen sudah menerima keselamatan dari Allah, karena itu Tuhan memakai orang Kristen sebagai agen perubahan di mana pun berada. Pengkhotbah dapat mengambil contoh nyata tentang menjadi agen perubahan. Menjadi agen perubahan tentu tidak mudah. Ada risiko yang harus siap dihadapi, tantangan yang harus disikapi dengan bijak. Orang Kristen tidak berjuang sendirian, tetapi akan menerima pertolongan Tuhan. Tuhan akan selalu bekerja untuk menyelenggarakan damai sejahtera bagi dunia ini dan Ia melibatkan kita. (Rasima TEF Manalu) Minggu Kedua Paskah 27 April 2025 Pembacaan Alkitab Yohanes 20:19-31 Nas Pembimbing Yohanes 20:28 Mazmur Mazmur 118:13-21 Pokok Doa Pertumbuhan iman remaja dan pemuda Mendoakan pelestarian bumi Mendoakan keadilan dan kesejahteraan untuk para buruh (Hari Buruh Internasional - 1 Mei) Mendoakan Jemaat Dayeuhkolot (25 April 1950) Mendoakan Jemaat Cianjur Nyanyian Tema “Pertolongan-Mu” (https://www.youtube.com/watch?v=M_JuSEzL-5Q) Warna Liturgis Putih DARI KERAGUAN MENUJU IMAN YANG HIDUP Pengantar Apakah anda pernah merasakan keraguan di situasi yang membingungkan? Keraguan di situasi yang tidak pasti? Seorang anak lelaki bernama Jojo suatu kali diminta untuk naik ke panggung pada acara sekolahnya, tetapi dia merasakan takut. Ia ragu, takut tidak mampu melakukannya dengan baik. Di tengah kegelisahannya, tiba-tiba ibunya menggenggam tangannya, “Ibu di sini, Ibu percaya kamu bisa melakukannya.” Kata-kata ibunya, orang yang ia percayai, menguatkan hatinya, dan akhirnya Jojo bisa tampil dengan penuh keberanian di acara tersebut. Kisah Jojo ini menyiratkan akan kehidupan perjalanan iman kita. Ketika kita berhadapan dengan ketidakpastian, kegelisahan, atau keraguan, kita membutuhkan kehadiran dan penguatan seorang yang kita percayai. Hari ini, dalam Yohanes 20:19-311, kita akan belajar dari Tomas, seorang murid Yesus yang juga mengalami keraguan. Namun, melalui perjumpaannya dengan Yesus yang bangkit, Tomas mengalami perubahan dari keraguan menuju iman yang hidup. Tuhan memahami keraguan Tomas dan hadir untuk menjawabnya, sehingga Tomas dapat hidup dengan iman yang penuh harapan di dalam-Nya. Penjelasan Teks Dalam Yohanes 20:19-31, kisah kebangkitan Yesus menjadi landasan iman yang memperlihatkan transformasi dari ketakutan dan keraguan menuju iman yang hidup. Pada ayat 19, kita melihat para murid berkumpul dalam keadaan pintu terkunci karena ketakutan terhadap orang Yahudi. Kondisi ini menunjukkan perasaan kehilangan dan ketidakpastian yang melanda mereka setelah kematian Yesus. Di tengah ketakutan ini, Yesus hadir dengan salam, “Damai sejahtera bagi kamu.” Ucapan ini lebih dari sekadar sapaan, itu adalah pemberian kedamaian ilahi yang berasal dari kekuatan kebangkitan. Dari perspektif psikologi, kedamaian ini menyentuh aspek secure attachment 2 (keterikatan aman), yaitu perasaan aman yang muncul ketika seseorang merasa dicintai dan dijaga oleh figur terpercaya. Dengan kehadiran Yesus, para murid mendapatkan rasa aman yang meredakan ketakutan mereka, menunjukkan bahwa kebangkitan adalah sumber damai yang melebihi segala ketidakpastian. Yesus menunjukkan luka-luka di tangan dan lambung-Nya kepada para murid. Tindakan ini bukan hanya untuk meyakinkan mereka bahwa Dia benar-benar bangkit, tetapi juga menjadi bukti kasih-Nya yang luar biasa. Ketika para murid melihat tanda-tanda ini, mereka merasakan sukacita besar. Sukacita mereka adalah penggenapan janji Yesus dalam Yohanes 16:22, bahwa dukacita mereka akan diubah menjadi sukacita yang tak tergoyahkan. Dalam psikologi positif3, momen ini dapat dilihat sebagai kebangkitan emosi positif yang memberi ketahanan mental dan meningkatkan kualitas hidup. Sukacita ini bukan hanya perasaan sementara, tetapi juga tanda dari pemulihan dan kekuatan baru untuk menghadapi tantangan hidup. Yesus memberi mereka panggilan baru, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Amanat ini melibatkan para murid dalam misi yang sama yang diemban Yesus dari Bapa, menunjukkan bahwa kebangkitan Kristus adalah awal dari tanggung jawab besar. Dalam konteks sosial, panggilan ini dapat dipahami sebagai pemberian purpose 3 (tujuan hidup) kepada mereka. Tujuan yang diberikan oleh Yesus menjadi pendorong mereka untuk bangkit dari ketakutan dan kebingungan, menjalankan misi kasih dan pengampunan kepada dunia. Yesus kemudian menghembusi mereka dengan Roh Kudus, yang memperkuat dan memampukan mereka untuk memenuhi tugas ini. Dari perspektif psikologi, purpose adalah elemen penting dalam kesejahteraan dan kepuasan hidup, karena manusia akan lebih bahagia dan termotivasi ketika merasa memiliki tujuan yang jelas dan bermakna. Namun, tidak semua murid segera menerima kebangkitan Yesus dengan iman penuh. Tomas, yang tidak hadir dalam perjumpaan pertama, meragukan kesaksian murid-murid lain dan meminta bukti fisik. Tomas berkata, “Jika aku tidak melihat bekas paku pada tangan-Nya dan mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu, serta mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Keraguan Tomas mencerminkan sikap skeptis yang alami dalam psikologi, di mana manusia seringkali merasa perlu melihat bukti langsung untuk mempercayai hal-hal yang tidak biasa atau menakjubkan. Sikap Tomas ini menunjukkan bahwa keraguan bukanlah hal yang asing dalam perjalanan iman; bahkan para murid pun mengalami pergulatan ini. Delapan hari kemudian, Yesus menampakkan diri kembali, kali ini ketika Tomas berada di antara mereka. Dengan penuh kasih dan pengertian, Yesus mengundang Tomas untuk menyentuh bekas luka-Nya. Tindakan ini adalah contoh nyata dari compassionate leadership 3 (kepemimpinan yang penuh kasih). Yesus memahami keraguan Tomas tanpa menghakimi, tetapi menghadapinya dengan empati dan kesabaran. Tindakan ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak menolak keraguan kita, tetapi justru hadir untuk meneguhkan iman dengan cara yang menguatkan. Melihat Yesus, Tomas mengakui, “Tuhanku dan Allahku!” Pengakuan Tomas menunjukkan perubahan dari keraguan menuju iman yang hidup. Dari perspektif sosial, pengalaman Tomas ini menunjukkan pentingnya dukungan dalam perjalanan menuju kepercayaan penuh, dan bahwa keraguan dapat menjadi jalan menuju pengakuan yang lebih mendalam. Yesus berkata, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.” Pernyataan ini mengundang semua orang yang tidak melihat Yesus secara langsung untuk percaya melalui kesaksian para murid. Dalam psikologi agama, ini disebut faith-based trust,4 di mana seseorang meyakini sesuatu bukan karena bukti fisik langsung, tetapi karena relasi dan keyakinan dalam sosok yang dipercaya. Yesus mengajak generasi berikutnya untuk memiliki iman yang tidak tergantung pada bukti fisik, tetapi yang bertumbuh melalui hubungan pribadi dengan-Nya. Pada akhir perikop, Yohanes menyatakan bahwa tujuan Injil ini ditulis agar pembaca percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, dan dengan iman ini memperoleh hidup dalam nama-Nya. Dalam psikologi eksistensial, memiliki iman pada sesuatu yang lebih besar membawa sense of coherence5 (rasa keteraturan hidup), yang membantu seseorang menemukan makna di tengah kesulitan. Yohanes tidak hanya memberikan catatan sejarah, tetapi juga mengajak pembaca untuk mengalami kehidupan yang diperbarui melalui iman kepada Yesus. Secara keseluruhan, Yohanes 20:19-31 menggambarkan perjalanan iman yang mencakup ketakutan, sukacita, keraguan, dan akhirnya iman yang hidup. Dari perspektif psikologi dan sosial, kehadiran Yesus memberi para murid kedamaian, harapan, dan tujuan, yang menjadi landasan mereka untuk hidup dalam iman dan menjadi saksi kebangkitan. Kisah Tomas mengingatkan kita bahwa Tuhan memahami dan menghadapi keraguan kita dengan kasih yang penuh pengertian. Kebangkitan Yesus bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi juga undangan bagi kita semua untuk menemukan kedamaian, tujuan, dan iman yang hidup, sehingga hidup kita menjadi saksi kasih dan kebesaran Tuhan. Pokok Pikiran Damai di Tengah Ketakutan. Yesus hadir di tengah para murid yang mengunci diri dalam ketakutan. Ketakutan merupakan suasana diri yang memengaruhi bagaimana cara kita menjalani hidup ini. Bagaimana situasi yang menakutkan atau tidak pasti kita akan jalani? Sebagai seorang yang percaya kepada Yesus yang bangkit, ketakutan harus diganti dengan damai yang Tuhan berikan. Karena sumber damai kita adalah kebangkitan Yesus, yang mengatasi ketakutan dan membuka pintu untuk kepercayaan yang lebih dalam. Ada banyak alasan membuat kita takut dalam menjalani hidup ini, tetapi harus kita tegaskan juga dalam diri sendiri bahwa ada juga alasan kita tidak boleh takut menjalani hidup yaitu damai sejahtera yang Tuhan berikan menguasai hati, pikiran dan jiwa kita. Menghidupi Misi Kasih dan Pengampunan. Kebangkitan Yesus bukan hanya undangan untuk umat mengalami damai, tetapi juga panggilan untuk melanjutkan misi-Nya. Yesus mengutus murid-murid untuk menjadi saksi akan kasih dan pengampunan, sebagaimana yang sudah dilakukan-Nya kepada mereka. Kini kehadiran kita patut menjadi pembawa damai dan saksi kebangkitan Yesus di keluarga, pekerjaan, atau komunitas kita. Berani mengasihi sesama tanpa membeda-bedakan bahkan mengampuni mereka yang merugikan atau menyakiti. Bersikap kasih dan mengampuni merupakan identitas seorang murid Yesus. Itu bukan pilihan, apalagi selera semata. Iman yang Mengatasi Keraguan. Keraguan Tomas menggambarkan pergumulan banyak dari kita. Namun Yesus tidak menolak keraguan itu; Dia datang menjawabnya dengan kasih. Kasih yang merangkul keraguan kita. Seorang yang ragu, bahkan soal imannya sebaiknya datang kepada Tuhan dan bukan melarikan diri dari-Nya. Yesus tidak pernah menyalahkan seorang yang masih ragu imannya. Yesus mau membuka diri untuk seorang dapat mengalami kebenaran iman di dalam pelukan kasih-Nya, supaya seorang yang telah mengaku percaya kepada-Nya akan menjadi pembawa misi damai, kasih dan pengampunan kepada dunia. Kita diajak untuk datang kepada-Nya dan beriman bahkan ketika kita tidak melihat, untuk beralih dari keraguan menuju iman yang hidup. Daftar pustaka Alkitab (TB) Ainsworth, M. D. S., Blehar, M. C., Waters, E., & Wall, S. (1978). Patterns of Attachment: A Psychological Study of the Strange Situation. Hillsdale, NJ: Erlbaum. Frankl, V. E. (1985). Man's Search for Meaning. New York: Washington Square Press. Pargament, K. I. (1997). The Psychology of Religion and Coping: Theory, Research, Practice. New York: Guilford Press. Seligman, M. E. P. (2002). Authentic Happiness: Using the New Positive Psychology to Realize Your Potential for Lasting Fulfillment. New York: Free Press. (Thomas Raharjo Prihartono)
Daftar Label dari Kategori DPA Minggu GKP 2025 | NEXT: DPA Minggu GKP Mei 2025 PREV: DPA Minggu GKP Maret 2025 | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |