gkp.lagu-gereja.com

DPA Minggu GKP 2025
DPA Minggu GKP Mei 2025
#tag:

Minggu Ketiga Paskah

4 Mei 2025
Pembacaan Alkitab
Yohanes 21:1-19
Nas Pembimbing
2 Timotius 4:2
Mazmur
Mazmur 30:1-13
Pokok Doa
Mendoakan pendidikan di Indonesia (2 Mei)
Mendoakan bulan pendidikan GKP & YBPK GKPB
Mendoakan sekolah-sekolah Kristen di Indonesia
Mendoakan Jemaat Cibubur
Nyanyian Tema
NKB 210: 1-3 “Ku Utus Kau” 
Warna Liturgis
Putih


MARI SARAPANLAH!

Pengantar 
    Sarapan kelihatannya hal sepele, dan banyak orang tidak melakukannya. Namun penjelasan medis menunjukkan bahwa sarapan wajib dilakukan seseorang karena ia akan memberi energi dan kekuatan untuk melakukan dan mengawali segala pekerjaan di hari yang baru itu. Anak-anak yang tidak sarapan akan cenderung mengantuk dan tidak bisa konsentrasi, akhirnya tidak maksimal menyerap pelajaran di sekolah sekaligus mengerjakan tugas-tugasnya. Dengan demikian sarapan menjadi bekal awal mengerjakan segala tugas.
    Namun demikian ahli gizi juga menyarankan agar sarapan mempunyai nilai gizi yang cukup sehingga memberi energi mengerjakan tugas-tugas. Yesus mengajak murid-murid-Nya sarapan karena tahu murid-murid-Nya membutuhkan hal itu untuk pelaksanaan tugas-tugas mereka. Mengajak dan mempersiapkan sarapan bagi murid-murid menjadi tanda kebangkitan dan sekaligus tanda bahwa Yesus tidak meninggalkan murid-murid-Nya. Sepele tapi bermakna, karena dengan itu Yesus membuktikan bahwa Ia bangkit secara utuh termasuk fisiknya, tetapi juga mempersiapkan tugas pengutusan kepada murid-murid-Nya. Perjumpaan Yesus dengan murid-murid-Nya di danau Tiberias benar-benar menunjukkan bahwa Ia bangkit, dan bersiap meng-estafet-kan penggembalaan Jemaat kepada murid-murid.

Penjelasan Teks
    Dalam Injil Yohanes penampakkan Yesus di danau Tiberias merupakan penampakkan yang ke-4 setelah Yesus menampakkan diri kepada Maria, lalu kepada murid-murid di tempat yang tertutup dan kepada Tomas. Narasi Injil Yohanes sebenarnya hendak berakhir di pasal 20:30-31, tetapi ternyata ada tambahan kisah penampakan Yesus yang membuat injil Yohanes bertambah satu pasal, dan isinya khusus tentang cerita penampakkan Yesus di danau Tiberias dan lanjutannya berupa penugasan Yesus kepada murid-murid-Nya. Kemudian ada penutup lagi di bagian akhir pasal 21. Pertanyaannya adalah apa pentingnya cerita Yesus makan ikan bersama murid-murid di danau Tiberias dijadikan bukti kebangkitannya? Bukankah itu peristiwa biasa yang terjadi dalam hidup murid-murid sehari-hari bersama dengan Yesus? Apa yang menarik dengan kisah tersebut. 
    William Barclay menuliskan bahwa kisah-kisah penampakkan Yesus sebelumnya sering dianggap hanya visi (vision) murid-murid saja, jadi bukan realitas, bukan kejadian benar, bukan kejadian fisik, atau pendeknya Yesus tidak benar-benar bangkit. Yesus hanya bangkit pada ‘visi’ murid-murid yang berhasil mengubah semangat dan keterpurukan mereka.  Visi berarti murid-murid sedang berimajinasi, dipengaruhi oleh kondisi psikologis tertentu sehingga membayangkan Yesus ada bersama mereka. Yesusnya sendiri belum tentu benar-benar bangkit. Memang ada cukup banyak orang berpendapat bahwa Yesus tidak benar-benar bangkit. Yang bangkit bukan Yesus tetapi kondisi psikologis murid-murid pasca kematian Sang Guru. Mereka berhasil bangkit dari kondisi terpuruk pasca kematian Yesus, ke optimisme yang baru. Karena itu kisah penampakkan Yesus didominasi oleh peristiwa-peristiwa Ajaib seperti Yesus yang tiba-hati datang padahal semua ruangan tertutup atau Yesus yang mendadak menghilang dari pandangan mata mereka. 
Sementara cerita penampakkan Yesus di pasal 21:1-19 mempunyai karakter yang sangat berbeda. Apa itu? Yesus makan ikan dan roti, Yesus sarapan di pinggir danau bersama murid-murid. Kejadian yang amat biasa, yang mungkin sering dilakukan Yesus bersama murid-murid-Nya. Namun justru kejadian biasa ini menjadi bukti kuat kebangkitan Yesus. Pada pihak lain pembaca teks ini biasanya lebih menekankan pada unsur mukjizat yang dilakukan Yesus. Murid-murid yang tadinya tidak mendapatkan ikan setelah menebar jala semalaman, akhirnya mendapat ikan yang sangat banyak karena suruhan dari Yesus. Ini mukjizat. Namun, sisi lain dari apa yang disampaikan Barclay cukup menarik untuk menjadi bahan renungan. 
    Semua aspek yang terdapat dalam kisah ini amat bernuansa sehari-hari seperti Yesus berteriak kepada murid-murid, lalu Dia menyalakan api, membakar ikan, menyiapkan roti akhirnya mengajak mereka sarapan. Peristiwa makan ikan dan roti, sarapan bersama murid-muridnya merupakan peristiwa yang sangat menonjolkan unsur ‘kedagingan’ Yesus, unsur fisik, seolah Yesus hendak menunjukkan bahwa Ia sungguh-sungguh bangkit juga secara fisik karena itu ia bisa makan roti dan ikan bersama murid-murid. Yesus benar-benar membutuhkan makanan, dan itu terjadi pasca kebangkitan-Nya. 
    Jika kita perhatikan kisahnya dari awal. Jelas ada kelesuan di dalam diri murid-murid karena mereka tidak berhasil menangkap ikan padahal sudah semalaman mereka menjala, dan tentu saja faktor kematian Yesus yang belum lepas dari benak mereka. Di tengah situasi seperti itu, Yesus muncul dan meminta mereka menebar jala di sebelah kanan. Bagaimana suara Yesus bisa terdengar oleh mereka? Biasanya para nelayan mencari ikan tidak terlalu jauh dari pantai, paling jauh 100 m. Jadi suara orang berteriak masih bisa didengar. Teriakan Yesus menyuruh mereka menebar perahu di sebelah kanan menghasilkan kegembiraan dan semangat. Petrus segera bisa mengenali bahwa itu adalah Yesus. Petrus segera menyongsong dan menyambut Yesus. Spontanitas Petrus menggambarkan kegembiraan, tetapi bukan karena mendapatkan ikan yang banyak, melainkan karena kedatangan Yesus menemui mereka. 
Pada pihak lain, soal tangkapan ikan yang banyak, nampaknya tidak menjadi perhatian utama Yesus. Yesus mempunyai misi sendiri kepada murid-murid-Nya, tetapi Ia sadar bahwa murid-murid-Nya masih lelah setelah semalaman menangkap ikan tanpa hasil. Karena itu Yesus mempersiapkan sarapan bagi murid-murid-Nya. Ia menyiapkan api, membakar ikan dan menyiapkan roti, lalu ia mengajak murid-muridnya sarapan. Sarapan menjadi bagian penting penyiapan yang dilakukan Yesus kepada murid-murid-Nya, tetapi sekaligus penulis Injil Yohanes mau menunjukkan bahwa dengan sarapan itu, Yesus benar-benar bangkit. Yesus tahu persis murid-murid perlu kekuatan dan kesiapan, konsentrasi, dan fokus pada apa yang akan disampaikannya. Karena itu sarapan menjadi bagian penting tindakan Yesus sekaligus pembuktian kebangkitan-Nya. 
    Setelah sarapan, Yesus lalu menyampaikan tugas pengutusannya kepada mereka. Tugas itu adalah menggembalakan domba-domba. Yesus menegaskan bahwa salah satu tanda mengasihi-Nya adalah dengan menggembalakan domba-domba. Domba-domba menunjukkan pada orang-orang percaya yang harus digembalakan oleh para murid. Tiga kali Yesus bertanya kepada Petrus tentang apakah Petrus mengasihi Yesus, yang kemudian dijawab Yesus dengan perintah “gembalakanlah domba-dombaku”. Mengapa Yesus mengawali dengan pertanyaan “apakah engkau mengasihi Aku?”. Mengapa Yesus tidak langsung saja memberi perintah kepada Petrus agar menggembalakan domba-domba-Nya? Pertanyaan “apakah engkau mengasihi Aku” menjadi prasyarat untuk menggembalakan domba-domba. Hanya orang yang mengasihi Yesus, dia akan menggembalakan domba-domba dengan kesungguhan hati. Mengapa? Karena yang dilihat bukan domba semata-mata, melainkan Yesus sendiri. Kasih kepada Yesus menjadi dasar pelayanan menggembalakan domba-domba. 
Kasih yang dimaksud adalah kasih yang sempurna dan utuh, yaitu agape. Namun apakah murid-murid bisa mencapai kasih yang agape itu? Bukankan kepentingan diri sendiri akan selalu ada dan mengganggu, atau paling tidak mendatangkan dilema pada diri murid-murid? Kasih agape adalah orientasi yang harus dituju oleh murid-murid. Pikiran, motivasi dan perbuatan menggembalakan orientasinya adalah agape. Dengan demikian Yesus menentukan standard yang sangat tinggi untuk pelayanan yang harus dilakukan murid-murid pasca kebangkitan-Nya. Siapapun yang mengasihi Yesus, ia akan menggembalakan domba-dombanya dengan sepenuh hati dan jiwa, dan tentunya kerelaan mengorbankan diri. 

Pokok Pikiran
Yesus tidak pernah memberikan tugas tanpa membekali murid-murid-Nya terlebih dahulu. Sarapan yang disiapkan Yesus merupakan tanda penyertaan dan bekal yang diberikan Yesus kepada murid-murid-Nya sekaligus tanda bahwa Ia benar-benar bangkit. Sama halnya kepada kita saat ini. Yesus memberikan banyak bekal untuk melangkah dalam pelayanan mewartakan kebangkitan-Nya. Kita pun demikian. Yesus memberikan berbagai bekal agar kita bisa menjadi saksi kebangkitan-Nya. Bekal itu berupa apa? Anda bisa mendaftar karya Tuhan dalam hidup kita, itulah bekal yang diberikan Tuhan. Mulai dari makanan, minuman sampai yang paling inti yaitu hidup. Pada saat yang sama, gereja pun diminta menyiapkan bekal kepada setiap warga agar mereka bisa menjadi saksi kebangkitan Yesus. Istilahnya gereja memberi ‘sarapan’ kepada warganya agar siap menjadi saksi kebangkitan Yesus. Ini menjadi tanggung jawab penting bagi gereja kepada warganya.
Tugas murid-murid adalah menggembalakan domba-domba sebagai wujud kasih mereka kepada Yesus. Demikian juga dengan kita saat ini. Setelah Yesus mempersiapkan kita, maka setiap orang percaya diberi tugas menggembalakan bukan hanya anggota Jemaat sebenarnya, melainkan dalam skala yang lebih luas, masyarakat dengan penuh kasih. Seringkali masyarakat dilupakan, padahal memberi contoh dan teladan menjadi bagian penting bagaimana kita menggembalakan masyarakat. Dengan demikian menggembalakan dalam arti mendampingi, membimbing, menyertai dan menjadi teladan. Pertanyaan Yesus yang berulang kepada murid-murid menyiratkan keinginan Yesus agar mereka bersungguh-sungguh menggembalakan Jemaat dan masyarakat sebagai wujud kasih mereka. 

Daftar Acuan 
William Barclay, Tafsir Sehari-hari Injil Yohanes pasal
Bibleworks, 10 ed.

(Wahju S. Wibowo) 

Minggu Keempat Paskah

11 Mei 2025
Pembacaan Alkitab
Yohanes 10:22-39
Nas Pembimbing
Yohanes 10:25
Mazmur
Mazmur 23:1-6
Pokok Doa
Mendoakan masyarakat modern dalam mempraktikkan hidup empati dan rendah hati (Hari Kesadaran Ego Sedunia-11 Mei)
Mendoakan ketekunan dan ketulusan kerja Para Perawat (Hari Perawat Internasional-12 Mei)
Mendoakan Jemaat Pangalengan (9 Mei 1965)
Mendoakan Jemaat Cicalengka 
Nyanyian Tema
KJ 405:1-2 “Kaulah Ya Tuhan Surya Hidupku” atau PKJ 221:1-2 “Kasih Allah pengikatnya”
Warna Liturgis
Putih 


JALINAN RELASI DALAM KARYA CINTA

Pengantar 
Hidup manusia sosial di tengah konteks dunia modern saat ini membuat jalinan relasi manusia semakin meriah penuh warna dan dinamika, terutama ketika relasi dibangun demi mencapai suatu tujuan hidup dan pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Dengan media sosial dan internet, satu dengan yang lain saling terhubung tanpa hambatan, kapan pun dapat berinteraksi sesuai kebutuhan ataupun karena tuntutan kewajiban. Di satu sisi, setiap hubungan timbal balik atau interaksi dapat saling memberi pengaruh yang sangat berarti, baik bagi pembentukan pribadi maupun perkembangan iman, tanpa harus terancam kehilangan identitas diri. Di sisi lain, dampak dari jalinan relasi yang semakin meluas dengan kecanggihan internet dan informasi yang terbuka juga dapat mengakibatkan jurang pemahaman menjadi semakin lebar sehingga terjadi kebimbangan, ketidakpastian hidup bahkan konflik karena salah paham. 
    Maraknya penipuan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) semakin mengancam banyak relasi dan kesejahteraan batin. Dari mulai meniru wajah, meniru suara dan bahkan menguasai data diri dengan sangat baik, orang menjadi sulit membedakan mana kebenaran dan kebohongan. Tidak hanya dalam perilaku kriminal, kebingungan tersebut bahkan dapat menyerang dasar keyakinan kita melalui berbagai pengajaran yang muncul dengan ajakan untuk menjadi bagian dari komunitas yang dibangunnya. Lalu bagaimana kita dapat membedakan kebenaran dan kebohongan di tengah situasi saat ini? Yesus juga mungkin bertanya kepada kita, “Apakah kau sungguh mengenal-Ku?” 

Penjelasan Teks 
Injil Yohanes.
Injil Yohanes ditulis sekitar tahun 100 M. Injil ini ditulis bukan sebagai suatu rangkuman laporan atau peristiwa kronologis seperti yang Injil Lukas miliki. Penulis Injil Yohanes menegaskan maksud tujuannya yakni sebagai sebagian kisah dari tanda mukjizat yang diperbuat oleh Yesus secara langsung di depan mata murid-murid-Nya agar setiap pembaca Injilnya menjadi percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan setiap yang percaya mendapatkan hidup kekal dalam nama-Nya, sekalipun tidak turut melihat secara langsung (Yoh. 20:30-31). Gaya penulisannya sangat khas sebagai saksi mata yang sedang bercerita, yakni menceritakan apa yang berkesan dari suatu peristiwa atau dari apa yang disaksikannya. Penekanan gaya tulisannya bukan pada urutan kronologis suatu kejadian melainkan pada suatu ekspresi iman dari setiap peristiwa yang memberikan kesan kuat tentang siapa Yesus dan disajikan dalam bentuk sastra hikmat (misalnya kiasan: firman Allah, firman telah menjadi manusia, roti, air kehidupan, gembala baik, dsb.) Oleh karena bentuknya sastra hikmat, maka setiap pembaca perlu memiliki ketajaman batin untuk memahami setiap ungkapan dan kisah yang dituliskan untuk mendapatkan pesan atau apa yang maksud dari pengajaran yang disampaikan. 
Penerima Injil : Jemaat Kristen - generasi kedua. 
Para ahli meyakini bahwa pembaca atau penerima Injil Yohanes adalah Jemaat Kristen Yahudi dari generasi kedua dan ketiga yang berada di perantauan (di luar Palestina) dan berbahasa Yunani. Sebagai orang Yahudi yang tinggal di luar Palestina, mereka tidak hanya menerima pengaruh budaya Yahudi dari leluhur mereka tetapi juga pengaruh lingkungan tinggal mereka, yakni alam pikiran Yunani melalui aliran filsafat dan keagamaannya (seperti mistik atau aliran kebatinannya). Hal tersebut mengakibatkan alam pikiran mereka sebagai Jemaat Kristen bercampur dengan berbagai unsur, baik yang asli Yahudi maupun dari alam pikiran Yunani. Kepada mereka itulah Injil Yohanes disajikan dengan kekhasan corak bahasa “wejangan/ renungan” dan penulisannya agar dapat diterima atau dipahami dengan mudah oleh Jemaat.
Sekalipun secara sosial sama-sama berada di perantauan, namun kehidupan Jemaat Kristen Yahudi tersebut dikucilkan oleh saudaranya, yakni sesama orang Yahudi, oleh karena perbedaan keyakinan mereka dalam menerima atau percaya kepada Yesus sebagai Mesias (bdk. Yoh. 9:22). Kebanyakan orang Yahudi lainnya masih meragukan bahkan tidak percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Dalam Injil Yohanes, keraguan tersebut tampak jelas dari sikap para pemimpin agama Yahudi, kaum Farisi dan ahli-ahli Kitab. Itu sebabnya corak nasehat/ wejangan yang muncul seringkali berupa dialog dan pertengkaran. 
Cara Yesus Memperkenalkan diri-Nya
Dialog berawal dari suatu ‘kebimbangan’ (suspense, bhs. Ing) orang-orang Yahudi yang berharap agar Yesus segera berterus terang jika memang diri-Nya adalah seorang Mesias yang dinantikan. Rasa bimbang mereka mengisyaratkan suatu kondisi mental/ jiwa yang risau, gelisah, perasaan tegang, ragu terhadap keberadaan Yesus di tengah situasi kehidupan yang mereka jalani. Di satu sisi mereka ingin meyakini bahwa Yesus datang dari Allah ketika mereka melihat ada banyak karya pekerjaan baik yang Yesus lakukan. Namun di sisi lain, para pemimpin agama mereka berusaha untuk mengusir bahkan membunuh Yesus karena dipandang sebagai penyesat ajaran agama dan penghujat Allah. Dalam kebimbangan tersebut, Yesus konsisten untuk memberi respons dalam bentuk nasehat agar mereka fokus pada pengalaman apa yang telah mereka lihat dari pekerjaan yang Yesus telah lakukan, untuk mengenali dan memahami arti setiap perkataan dan jati diri Yesus. 
Pada bagian yang kita baca terdapat pernyataan tegas dari Yesus kepada kita saat ini tentang siapa diri-Nya. Sekalipun melalui suatu perkataan yang tidak mudah untuk dipahami sehingga menimbulkan pertentangan, namun di balik pernyataan diri-Nya berlaku suatu nasehat kepada kita sebagai berikut:
Akulah gembala yang baik. Orang-orang telah melihat semua pekerjaan baik yang dilakukan-Nya dalam nama Bapa adalah ibarat domba-domba yang mendengar dan mengenal suara gembala yang baik lalu kemudian mengikuti-Nya (ay. 25-27).
Tradisi di Inggris maupun sebagian besar Eropa dan Asia, kawanan domba biasanya dipelihara untuk dibunuh dan diambil dagingnya sebagai salah satu kebutuhan pangan. Hal ini berbeda dalam tradisi di Palestina, kawanan domba adalah suatu aset berharga yang diambil bulunya sebagai bahan baku tekstil kain wol yang bernilai ekonomi tinggi. Oleh karena itu kawanan domba di Palestina akan dipelihara dan dijaga untuk jangka waktu yang panjang. Peran gembala yang menjaga kawanan domba selama bertahun-tahun lamanya tidak hanya sekedar mengantarkan mereka ke tempat yang banyak terdapat rumput untuk dimakan, tetapi juga berperan untuk melindungi dengan cara memberi nama demi mengenali setiap dombanya satu persatu. Interaksi dalam jangka waktu yang intens dan panjang tersebut membuat kawanan domba mengenali suara gembala dengan sangat baik. 
Dibalik perumpamaan tersebut, Yesus hendak memberi nasehat (sebagaimana pada pasal 10:1-18) bahwa karya Yesus sebagai gembala yang baik hanya akan dipahami oleh pengikut setianya yang selalu rajin mendengarkan pengajaran-Nya, sehingga mengenal suara-Nya dan mengikuti-Nya (bdk. Mzm. 23). Untuk mengenali siapa Yesus kita membutuhkan sikap kesetiaan dalam mendengar dan mengikuti ajaran-Nya. Dengan memiliki pengalaman personal dengan Tuhan Yesus, iman kita menjadi kokoh dan tidak bimbang untuk mengimplementasikannya dalam karya nyata setiap hari. Sebaliknya, orang yang bimbang adalah mereka yang tidak setia mendengarkan pengajaran Yesus sehingga tidak mengenali cara-Nya dalam menuntun kita dalam jalan hidup kita.

Aku dan Bapa adalah satu. Terbatasnya kata-kata dalam mengekspresikan rasa dan iman membuat para ahli kitab mengaku kesulitan dalam menjelaskan maksud perkataan Yesus yang menggambarkan kesatuan-Nya dengan Allah tersebut. Sekalipun demikian, metafora yang digunakan Yesus dalam bahasa asli menjadi jalan bagi kita untuk mencoba memahami maksud perkataannya tersebut. Yesus menyebut Allah dengan cara atau sebutan yang unik, yakni abba (kata asli bahasa Aram). Yesus menggunakan abba yang khas dalam relasi kekeluargaan Yahudi untuk mengungkapkan intimitas, kedalaman relasi. Allah digambarkan sebagai sosok orang tua yang mengasihi, dengan memeluk, mendekap dan melindungi anak-Nya. Kasih Allah digambarkan sebagai suatu cinta orang tua yang hangat dan tanpa syarat. Dalam konteks pekerjaan yang dilakukan-Nya (ay.32, 37-38), Yesus hendak memberikan pandangan tentang diri-Nya sebagai seorang anak yang sedang belajar meniru (imitate/ mirroring) ayah-Nya: belajar mengampuni seperti yang dilakukan Allah, belajar murah hati seperti Bapa yang murah hati, dan sebagainya. 
Oleh karena itu, kata ‘satu’ (ayat 30) hendak merujuk pada makna kualitas keintiman atau kedalaman relasi Yesus dengan Bapa. Kualitas relasional itulah yang menjadi sumber kesadaran ego-Nya (psikologi: aku) dalam bekerja dan dalam menyikapi berbagai situasi yang dihadapinya. Sekalipun pernyataan diri-Nya dituduh sebagai penghujatan terhadap Allah, Yesus tidak bereaksi secara emosional. Ia bahkan memandang orang-orang tersebut sebagai orang bimbang yang harus diarahkan perhatiannya pada petunjuk yang benar (yakni semua karya pekerjaan-Nya) agar tidak menjadi salah paham dalam mengenali Yesus. 
Hal tersebut seolah mengulas kembali perkataan Yesus pada bagian sebelumnya tentang relasi anak dan bapa dalam hal pekerjaan (8:39-44). Sebagaimana halnya setiap anak yang dekat dengan ayahnya pasti akan meniru/ melakukan apa pun yang dikerjakan oleh ayahnya, maka demikian pula panggilan hidup kita sebagai anak-anak Allah agar menjaga keintiman relasi dengan Bapa demi menjaga kualitas hidup (iman, mental, dan moralitas) kita di tengah tantangan dunia modern saat ini. 

Pokok Pikiran 
Kita harus semakin menjalin dan memelihara relasi personal kita dengan Yesus, melihat karya-Nya setiap hari dan mendengar suara-Nya setiap saat kebimbangan datang. Sebagaimana domba yang dijaga oleh gembala yang baik, semakin lama dan bergaul akrab dengan-Nya seharusnya membuat kita semakin mampu mengenali suara-Nya yang menuntun kita untuk mengetahui kebenaran dan berjalan dalam kebenaran. Memelihara relasi personal kita dengan-Nya dapat melalui aktivitas meditasi doa dan pujian, membaca dan berdiskusi merenungkan firman-Nya, mengikuti setiap sakramen dan ritual kudus di tengah persekutuan dengan tulus hati, setia dalam perbuatan baik kepada sesama dan lingkungan, atau bahkan berinteraksi/ berjumpa dengan orang-orang berhikmat yang kita yakini sebagai perantara kuasa/ petunjuk Tuhan bagi hidup kita. 
Ketika Yesus mengatakan “Aku dan Bapa adalah satu”, yang berarti mengajak kita untuk masuk dalam suatu dimensi kualitas “kesatuan hati” yang berangkat dari relasi personal/ hubungan pribadi yang intim. Fakta menunjukkan bahwa kesatuan Yesus dengan Bapa tampak dari kasih-Nya yang sempurna dan ketaatan-Nya yang sempurna. Begitu pun panggilan-Nya kepada kita gereja masa kini. Bersatu dengan Yesus dalam kebangkitan-Nya berarti kita mampu/berani mengasihi dengan sempurna dan taat bekerja dengan sempurna. Gereja yang memelihara relasi intim dengan Yesus sebagai Kepala Gereja tidak hanya menunjukkan ketulusan dan kerendahan hati dalam melayani sesama, tetapi juga berani untuk bersikap adil, berani menyuarakan kebenaran di tengah kebimbangan hidup dan berani mengasihi seperti Bapa mengasihi umat-Nya. Keberadaan gereja yang seperti itulah yang akan membimbing orang lain untuk mengenal suara Allah Yang Benar di tengah kepalsuan jalan yang marak ditawarkan dunia.

Daftar Acuan 
Injil menurut Yohanes: Kita telah melihat kemuliaan-Nya, Dr. C. Groenen OFM, Pengantar Ke Dalam Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius, 2005
John 10, Barclay’s Daily Study Bible, Bible Commentaries, StudyLight.org,   https://www.studylight.org/commentaries/eng/dsb/john-10.html 

(Maria Aprina) 


Minggu Kelima Paskah 

18 Mei 2025


Pembacaan Alkitab
Kisah Para Rasul 11:1-18
Nas Pembimbing
Kisah Para Rasul 11:18
Mazmur
Mazmur 148:1-18
Pokok Doa
Mendoakan minat baca masyarakat Indonesia (Hari Buku Nasional - 17 Mei)
Mendoakan Jemaat Cideres
Nyanyian Tema
PKJ 212:1-2 “Ya Allah, Kasihmu Besar”
Warna Liturgis
Putih 


GEREJA YANG TERBUKA BAGI SEMUA ORANG 

Pengantar 
Kita pasti sering mendengar kata eksklusif dan inklusif dalam keseharian kita. Kata  eksklusif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti terpisah dari yang lain, khusus atau tidak termasuk. Sedangkan kata inklusif memiliki arti termasuk atau terhitung. Sikap eksklusif beragama adalah pandangan bahwa ajaran agama yang dipeluk seseorang diyakini yang paling benar, sehingga agama lain dianggap sesat dan harus dikikis. Sedangkan sikap inklusif beragama adalah sikap terbuka dan mau berdialog dengan agama-agama lain. Dalam sebuah renungan harian edisi Selasa, 02 Oktober 2007 seseorang menceritakan tentang pandangan Anne Graham Lotz. Renungan itu berjudul “Apakah Yesus adalah pribadi yang eksklusif?” Di bawah ini adalah kutipan dari renungan tersebut.  
Suatu kali saya melihat Anne Graham Lotz, putri Billy Graham, dalam acara bincang-bincang yang populer di televisi. Si pewawancara bertanya, "Apakah Anda termasuk orang yang percaya bahwa Yesus secara eksklusif menjadi satu-satunya jalan ke surga?" Ia menambahkan, "Anda tahu itu menyulut kemarahan orang akhir-akhir ini!" Tanpa berkedip, Anne menjawab, "Yesus tidak eksklusif. Dia mati supaya semua orang bisa datang kepada-Nya untuk menerima keselamatan." Jawaban Anne sangat luar biasa bukan. Kekristenan itu bukan sebuah klub eksklusif yang terbatas bagi sekelompok orang elit yang memenuhi syarat tertentu. Masih menurut Anne bahwa semua orang disambut oleh Yesus. Dia mau menerima semua orang  tanpa membedakan warna kulitnya, dari kelompok sosial mana atau apapun jabatannya.

Betapa pun indahnya kebenaran ini, pernyataan Yesus dalam Injil Yohanes 14:6 yang berbunyi bahwa Dialah satu-satunya jalan kepada Allah, bukankah hal itu masih membuat orang tersinggung. Namun, Yesus memang adalah satu-satunya jalan dan pilihan. Faktanya kita semua sudah bersalah di hadapan Allah. Kita semua adalah pendosa, dan kita tidak dapat menolong diri kita sendiri. Bukankah permasalahan dosa kita harus diselesaikan. Kita percaya bahwa Yesus, sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia, mati untuk membayar hukuman dosa kita, kemudian Dia bangkit dari antara orang mati. Bukankah tidak ada  pemimpin agama lain yang menawarkan apa yang telah Yesus sediakan dalam kemenangan-Nya atas dosa dan maut. Injil Kristus menyinggung sebagian orang, tetapi itulah kebenaran yang indah, bahwa Allah sangat mengasihi kita, sehingga Dia bersedia datang dan menyelesaikan masalah terbesar kita, yaitu dosa. Dan, selama dosa masih menjadi masalah, dunia masih membutuhkan Yesus. 

Penjelasan Teks
          Melalui  Kisah Para Rasul penulis  hendak menyampaikan  kepada para pembacanya bahwa tidak ada yang dapat menghalangi siapapun untuk melakukan penyebarluasan Injil Yesus Kristus ke seluruh dunia pasca kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Kisah Para Rasul menceritakan tentang pergulatan Gereja Perdana. Pergulatan itu terjadi ketika mereka harus menentukan siapa saja yang dapat menjadi anggota umat Allah. Hal itu didasari oleh kondisi anggota Gereja Perdana yang sebagian besar adalah orang Kristen dengan berlatar belakang Yahudi, atau biasa disebut orang Kristen Yahudi. Maka sudah sewajarnya jika sebagian besar dari antara mereka beranggapan bahwa amanat Yesus hanya berlaku untuk orang Kristen yang berlatar belakang Yahudi saja. Orang Kristen yang berlatar belakang Yahudi ini disebut  sebagai orang yang bersunat. Sementara itu kepada orang  di luar Yahudi mendapat sebutan sebagai orang yang tak bersunat atau orang kafir.  Bahkan keberadaan orang-orang bukan Yahudi itu dianggap sebagai orang yang najis. Keyakinan seperti itu tentunya  berdasarkan keyakinan  bahwa mereka adalah bangsa pilihan Tuhan. Selain itu mereka masih memberlakukan hukum Taurat dengan kuat. Sekalipun mereka sudah mengalami pertobatan ketika menerima Injil Kristus.
Pada waktu itu sebagian besar penganut Kristen Yahudi tinggal di wilayah Yudea. Yudea  merupakan pusat dari kekristenan Gereja Perdana. Kekristenan hadir di dunia ini   sebagai karya Roh Kudus termasuk di wilayah Yudea. Masyarakat di sana mengenal kekristenan melalui pengajaran yang disampaikan oleh Rasul Simon Petrus. Sebelum sampai ke Yudea Rasul  Petrus rupanya  sudah melakukan penyebaran Injil Kristus  ke wilayah Kaisarea (Pasal 10).
Suatu hari Rasul  Petrus memasuki  Gereja di Yerusalem.  Di  sana ia mendapat reaksi keras dari kelompok Kristen Yahudi. Ia mendapat kecaman keras. Apakah yang menjadi alasan sehingga Rasul  Petrus mendapatkan perlakuan seperti itu? Apakah karena khotbah yang ia sampaikan salah? Ternyata bukan karena khotbahnya. Atau karena baptisan yang ia lakukan? Ternyata juga bukan karena prosesi baptisan kepada orang bukan Yahudi.  
Orang Kristen Yahudi mengecam  Rasul  Petrus karena ia memiliki relasi yang sangat baik dengan orang-orang bukan Yahudi. Rasul Petrus sudah melakukan perkunjungan kepada orang bukan Yahudi.  Dalam  perkunjungan itu ia mendapat sambutan yang hangat dari orang bukan Yahudi. Ketika berkunjung ia juga mendapat jamuan makan. Hal itu menggambarkan adanya interaksi sosial dan relasi yang baik antara Rasul Petrus dengan kelompok bukan Yahudi. Namun orang Kristen Yahudi menganggap bahwa tindakan Rasul Petrus itu sudah melanggar batasan atau  jarak yang berlaku antara orang Yahudi dengan orang bukan Yahudi. Ia dianggap sudah menodai statusnya sebagai seorang rasul Tuhan. Dan konsekuensinya ia mendapat dakwaan dari warga Jemaat Gereja Perdana. 
 Lalu Rasul Petrus menjelaskan kepada mereka mengapa ia berubah. Ia berubah karena Allah datang kepadanya melalui penglihatan. Tiga  kali Allah datang kepadanya. Ketika itu Allah memerintah Rasul Petrus untuk menyembelih dan memakan hewan yang dinyatakan haram. Rasul Petrus bergumul karena hal itu. Allah meyakinkan Rasul Petrus bahwa apa yang sudah tahir tidak dapat dikatakan haram. Roh Kudus pun menopang dan menguatkan Rasul Petrus untuk menyampaikan kabar keselamatan ke wilayah Kaisarea. Dengan penuh keyakinan Rasul Petrus melaksanakan perintah Allah. Itulah respons Rasul Petrus sesuai perintah-Nya untuk tidak membeda-bedakan orang. 
  Dalam pasal 11:1, para rasul mendengar bahwa bangsa-bangsa lain atau bangsa-bangsa bukan Yahudi ternyata sudah menerima Injil Kristus. Bukankah hal itu menunjukkan bahwa bangsa-bangsa lain pun berhak menerima karya keselamatan Allah di dalam kehidupan mereka. Kenyataan ini membuat  orang Kristen Yahudi yang menyertai Rasul Simon Petrus tercengang (bdk. 10:45). Namun, kenyataan itu tidak mengubah sikap mereka dalam memperlakukan orang-orang di luar Yahudi. 
Orang Yahudi adalah bangsa pilihan Tuhan. mereka mengklaim sebagai orang yang istimewa. Mereka merasa bahwa status mereka lebih tinggi dibandingkan dengan bangsa bukan Yahudi. Mereka menjadi bangsa yang sangat eksklusif. Mereka tertutup terhadap bangsa bukan Yahudi. Mereka menolak bergaul dengan orang di luar Yahudi. Dalam pergaulan mereka suka membeda-bedakan sesamanya. Dalam Injil, Yesus secara terbuka menerima orang yang ditolak masyarakat Yahudi. Misalnya, penolakan terhadap perempuan Samaria (Yoh. 4:4-26), orang yang sakit kusta (Luk. 17), para perempuan dan anak-anak, dsb.  Dalam Injil, Yesus seringkali dengan keras menegur dan mengingatkan orang Yahudi  melalui  pengajaran, khotbah atau perumpamaan. Namun orang Yahudi tidak pernah mau berubah dalam memberlakukan sesama mereka. 
Gereja Kristen Pasundan (GKP) sebagai persekutuan umat Tuhan hidup dan berada di lingkungan yang memiliki kemajemukan dalam berbagai hal, misalnya agama, budaya, sosial dan lain sebagainya. Sebagai orang percaya kita bersyukur atas anugerah keselamatan yang Allah nyatakan di dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Tapi hati-hati jangan sampai kita tergoda untuk menjadi orang yang sombong dan arogan atas anugerah keselamatan itu. Jangan sampai kita merasa diri lebih tinggi dibanding saudara-saudara penganut agama lain. Firman Tuhan mengajak kita untuk merenungkan kembali apakah kita termasuk Gereja yang eksklusif atau inklusif?


Pokok Pikiran 
Sikap inklusif dalam kekristenan berarti sikap menerima semua orang tanpa membeda-bedakan mereka. Sikap inklusif  juga  berarti mau menerima orang-orang yang ditolak oleh masyarakat. Di sekitar kita banyak orang mengalami penolakkan hanya karena berbeda dengan kita. Misalnya, berbeda status sosial, suku, ras, agama, orientasi seksual, usia, jenis kelamin, kaum disabilitas dan lain-lain. 
Penulis Kisah Para Rasul menggambarkan bahwa anggota Gereja Perdana terdiri dari Kristen Yahudi (bersunat) dan Kristen bukan Yahudi (tidak bersunat). Yang menarik adalah kelompok Kristen Yahudi itu sudah bertobat (menjadi Kristen) namun mereka masih memegang tradisi agama Yahudi agama mereka terdahulu. Tradisi keyahudian masih mereka pegang sangat kuat. Dalam Ulangan 14:12 mengatakan bahwa orang Yahudi adalah umat pilihan Allah. Status sebagai umat pilihan Tuhan itu rupanya membuat mereka merasa paling berhak mendapat kasih dan keselamatan dari Tuhan. Mereka merasa diri lebih baik dibandingkan bangsa lain. Mereka sulit menerima orang yang berbeda dengan mereka. Sehingga mereka tampil menjadi bangsa yang eksklusif. Rasul Petrus yang sudah menunjukkan sikap inklusif  kepada orang di luar Yahudi.  Mereka  dengan keras menentang Rasul Petrus. Mereka menolak sikap inklusif Rasul Petrus.
Firman Tuhan mengingatkan kita sebagai Gereja agar kita mau menunjukkan sikap inklusivitas kepada semua orang. Sebagai Gereja kita ditantang untuk selalu terbuka untuk menerima orang-orang yang berbeda dengan kita termasuk orang-orang yang ditolak dan dipinggirkan dalam masyarakat. Gereja yang terbuka sepantasnya siap merangkul semua orang tanpa terkecuali. Bukankah melalui Yesus, Allah Bapa di Surga juga menerima semua orang apapun keadaan mereka agar dapat masuk ke dalam   Kerajaan-Nya. 
       
Daftar Acuan 
Alkitab Edisi Studi. Lembaga Alkitab Indonesia. 2012 
https://www.workingpreacher.org/commentaries/revised-common-lectionary/fifth-sunday-of-                 easter-3/commentary-on-acts-111-18-4 
https://www.workingpreacher.org/commentaries/revised-common-lectionary/fifth-sunday-of-easter-3/commentary-on-acts-111-18-5 

(Adholfina Tamberongan)

Minggu Keenam Paskah

25 Mei 2025


Pembacaan Alkitab
Kisah Para Rasul 16 : 9-15
Nas Pembimbing
Kisah Para Rasul 19 : 15
Mazmur
Mazmur 67:1-8
Pokok Doa
Mendoakan gerakan oikumene di Indonesia (HUT PGI-25 Mei)
Mendoakan Jemaat Telukjambe (25 Mei 2002)
Mendoakan Jemaat Tanjung Barat (27 Mei 1947) 
Mendoakan Jemaat Cigugur
Nyanyian Tema
“Semua Karena Anugerah-Nya” (https://www.youtube.com/watch?v=jIxmYUKKxHk)
Warna Liturgis
Putih


GEREJA YANG TAAT DAN BERSEDIA DIPAKAI SEBAGAI ALAT-NYA

Pengantar 
    Ada banyak cara yang bisa kita demonstrasikan untuk menyatakan kasih kepada Tuhan. Salah satunya adalah ketika kita bersedia taat kepada tuntunan dan kehendak-Nya. Jika kehendak Tuhan itu sesuai selaras atau sejalan dengan kehendak kita, maka akan mudahlah jalan ketaatan itu. Namun manakala kehendak Tuhan itu bersebrangan bahkan berlawanan dengan harapan kita, maka di sanalah ketaatan itu sungguh teruji. Ketaatan kepada Tuhan akan membuat Tuhan berdiam dalam diri kita. Kita harus menjaga ketaatan itu, memegang teguh dan menyimpannya dalam hati kita. 
    Ketaatan sangat dekat dengan kepatuhan dan kesetiaan. Jika kita bersedia taat, maka itu artinya kita bersedia dengan sadar untuk patuh dan setia. Itu berarti meluruhkan ego kita dan menihilkan pengakuan diri kita. Hal ini sangat sulit dijumpai. Dalam kehidupan ini, yang kerap kita temukan justru orang yang tidak mau taat kepada apapun, baik pada aturan, arahan, atau nasehat orang lain. Sebagian lagi, taat namun dengan motivasi yang salah. Sebagian orang taat hanya supaya tidak dihukum, supaya tidak dipecat, supaya tidak terusik kenyamanannya atau supaya tidak mendapat konsekuensi buruk. 
    Kita diajak taat dengan penuh kesadaran melaksanakan panggilan sebagai alat Tuhan. Kerika kita taat kepada Tuhan, hidup kita bukan untuk kepentingan kita sendiri lagi. Kita memilih untuk taat kepada tuntunan suara melalui firman-Nya sebagai salah satu bentuk kasih kepada-Nya. Karenanya, untuk menjadi taat, kita perlu mengingat kasih Tuhan yang sudah kita alami dalam kehidupan ini. di tengah keadaan yang menyesakkan sekalipun, kita harus tetap mengasihi Allah dan bersedia dipakai sebagai alat-Nya. Jangan pernah katakan kita terlalu kecil, terlalu lemah, terlalu terbatas. Tuhan berdaulat untuk memakai kita sebagai alat-Nya.
Seorang perempuan luar biasa pernah berbicara lantang pada konferensi mahasiswa sebuah universitas terkenal di Amerika Serikat. Memulai orasinya, perempuan itu berkata, “Saya adalah anak haram. Ibu saya adalah seorang bisu tuli yang sangat miskin. Suatu hari ibu saya diperkosa oleh seorang pria. Saya tidak pernah tahu siapa ayah saya. Kami hidup sangat miskin sehingga dari masa remaja saya harus bekerja bersama ibu saya, sebagai buruh kasar di sebuah perkebunan kapas. Awalnya saya membenci keadaan saya. Awalnya saya kecewa kepada Tuhan karena bagi saya, Dia tidak adil. Saya merasa tidak berguna hidup di dunia ini.” Suatu hari ada sesuatu di dalam hati saya yang berkata-kata: “Acy, kamu dapat memilih, mau tetap seperti ini, atau kamu mau keluar dari perasaan tidak berguna ini. pilihan ada di tanganmu. Akhirnya aku memilih keluar dari perasaan tidak berguna”. Singkat cerita, dalam hidup perempuan ini, Allah punya rencana indah. Perempuan ini bersedia menjadi alat Tuhan. Dia bekerja dengan giat untuk mencari uang demi membiayai sekolah bahkan membiayainya ibunya sehingga Tuhan memberkatinya dengan kesuksesan. Tahukah kita siapa perempuan ini dan sebagai alat seperti apakah Tuhan pakai perempuan taat ini? Perempuan itu adalah Azie Taylor Morton, perempuan yang pernah menjabat menteri keuangan Amerika Serikat.


Penjelasan Teks 
    Kisah para Rasul mewartakan perjalanan Gereja perdana dan penyebaran Injil ke tempat yang lebih luas. Nyata sangat, Allah melalui Roh-Nya menuntun Gereja-Nya untuk menyebarkan Injil. Teks ini secara khusus berbicara mengenai penyebaran Injil ke daratan Eropa. Perjalanan penyebaran Injil itu dimulai ketika rasul Paulus mengalami penglihatan akan seorang Makedonia yang datang kepadanya lalu meminta Rasul Paulus menyeberang ke Makedonia dan menolong orang-orang di sana. Rasul Paulus memaknai mimpinya tersebut sebagai suara Tuhan memanggilnya memberitakan Injil kepada orang-orang Makedonia. Karenanya, Paulus bersama Silas segera bergegas berangkat ke sana manakala mereka memperoleh kesempatan baik. Ini adalah perjalanan pekabaran Injil kedua yang dilaksanakan oleh Rasul Paulus. Dalam perjalanan tersebut, sebenarnya Paulus memiliki rencana awal untuk berangkat ke Asia dan masuk ke tanah Bitinia. Namun Roh Kudus melarang mereka ke sana. Ketaatan Paulus teruji ketika suara Tuhan mengarahkannya ke tempat yang berbeda. Paulus dan Silas mengurungkan niat awal mereka.
    Paulus dan Silas akhirnya sampai di Makedonia yang merupakan pintu masuk ke wilayah Eropa. Kota pertama di distrik Makedonia yang dikunjungi mereka adalah kota Filipi. Kota ini seringkali dijuluki sebagai miniature Roma karena banyaknya penduduk kota Filipi yang merupakan perantau dari Roma. Tidak heran dari banyak sisi, kota Filipi sangat mirip dengan kota Roma. Di kota ini, Paulus dan Silas mencari rumah sembahyang Yahudi. mengapa Rasul Paulus dan Silas memilih pergi ke tempat sembahyang orang Yahudi? Tentu harus kita pahami, pada masa Gereja perdana, kekristenan belum dianggap kelompok yang berdiri sendiri tetapi masih dilihat sebagai bagian dari agama Yahudi.di sana mereka mulai menyebarkan Injil dan memulainya dengan berbincang-bincang bersama perempuan-perempuan di tempat itu. Dengan latar belakangnya sebagai seorang Yahudi dari kelompok Farisi, Rasul Paulus tentu diberi kesempatan menjalankan perannya sebagai guru Yahudi yaitu mengajar. 
    Di antara perempuan-perempuan yang tekun mendengarkan pengajaran Rasul Paulus, ada seorang perempuan bernama Lidia. Perempuan ini bekerja sebagai penjual kain ungu. Lidia berasal dari Tiatira. Lidia percaya kepada Allah. Karena itulah, ketika dia mendengarkan pengajaran Rasul Paulus, hatinya menjadi terbuka dan percaya kepada Yesus. Berita Injil masuk ke dalam dirinya. Sungguh, pemberitaan Injil yang dilakukan Rasul Paulus dan Silas, dipakai oleh Allah untuk berkarya. Lidia dan keluarganya lalu dibaptis oleh Rasul Paulus. 
    Berita Injil direspon dengan baik oleh Lidia dan keluarganya. Lidia juga membuka rumahnya bagi Rasul Paulus dan Silas untuk mereka tinggali selama mereka memberitakan Injil di Filipi. Dari pembaptisan Lidia inilah, Injil tersebar ke seluruh wilayah Eropa. 

Pokok Pikiran 
Sebagai Gereja-Nya, kita harus hidup lebih taat lagi menghadirkan kehidupan Kristus dan menjalankan tanggung jawab sebagai alat-Nya dengan sukacita. Rasa sukacita selalu berkaitan dengan kerelaan hati, keikhlasan, kelegaan, kegembiraan dan tidak terpaksa.
Sebagai Gereja-Nya, kita adalah perpanjangan tangan-Nya. Ang Tek Khun pernah menulis sebuah puisi indah nan sarat makna berjudul “Yesus Tak Punya Tangan Lagi.” Di dalam bukunya yang berjudul “The Wings of Love”, Ang Tek Khun menuliskan puisinya :
Yesus Tak Punya Tangan Lagi
        Yesus tak punya tangan lagi, setiap kitalah tangan-Nya
        Karena itu ingatlah selalu hal ini, sebelum kita bertindak lebih jauh,
        Setiap kali telunjuk tangan kita memainkan perintah lalim,
        Sesungguhnya kita sedang mempermalukan-Nya.
        Setiap kali tangan kita menampar hidup orang lain, 
        Sesungguhnya kita sedang menghancurkan nama-Nya
        
        Setiap kali jemari tangan kita bertindak kotor dan menjijikkan,
        Sesungguhnya kita sedang menumpas kekudusan-Nya,
        Setiap kali tinju tangan kita membuat babak belur sesama,
        Sesungguhnya kita sedang mencoreng wajah-Nya
        Setiap kali daun tangan kita mengibas hina kaum papa,
        Sesungguhnya kita sedang mencemari reputasi-Nya,
        
        Karenanya, sebelum kita lupa diri dan berharap
        Tangan kita mendatangkan berkat, bukan petaka, 
        Ingatlah selalu hal ini,
        Bahwa Yesus tak punya tangan lagi, 
        Setiap kitalah tangan-tangan-Nya
        
Daftar Acuan 
Kisah Azie Taylor Morton, Adikurnias’s Journey, 2020
The Wings Of Love, Ang Tek Khun, Jogjakarta, Gloria Cyber Ministries, 2003
'Memahami Perjanjian Baru, John Drane, BPK Gunung Mulia, 2000

(Heryanto Pakpahan) 

KENAIKAN TUHAN YESUS KE SURGA

29 Mei 2025
Pembacaan Alkitab
Kisah Para Rasul 1 : 1-11
Nas Pembimbing
Kisah Para Rasul 1 : 8
Mazmur
Mazmur 93 : 1-5 
Pokok Doa
Pelaksanaan panggilan Gereja-gereja di dunia
Panggilan anggota Jemaat dan kelembagaan GKP di Jawa Bagian Barat
Nyanyian Tema
NKB 210:1-2 “Ku Utus Kau"
Warna Liturgis
Kuning Emas


TUHANLAH YANG MEMBERI KUASA MENJADI SAKSI

Pengantar
GKP mengaku dan menghayati sebagai bagian utuh dan tak terpisahkan dari realitas Gereja Tuhan yang esa, kudus, dan am di dunia ini. Atas dasar pengakuan tersebut, sebagaimana para murid-Nya menjelang dan setelah kenaikan-Nya ke surga telah menerima mandat dan kuasa Roh Kudus untuk menjadi saksi Kristus, maka setiap anggota Jemaat GKP telah menerima mandat dari Tuhan Yesus untuk menjadi saksi-Nya di dunia ini. 
Kini kita hidup di lingkungan sosial dan lingkungan alam yang sangat dinamis dan penuh tantangan. Segala hal begitu cepat berubah, penuh ketidakpastian, sangat kompleks dan banyak makna, sebagai dampak revolusi iptek dan perubahan alam. Revolusi iptek di bidang komunikasi dan informasi telah mentransformasi pemahaman, sikap dan perilaku hidup manusia di segala sektor kehidupan. Terjadi pemanasan global, perubahan iklim, dan bencana alam, baik yang dipicu oleh perilaku dan gaya hidup manusia yang merusak dan mencemari alam, maupun terjadinya perubahan alami yang luar biasa pada struktur, kegiatan dan sifat alam itu sendiri.
Kesaksian apa yang kita laksanakan di tengah masyarakat perkotaan dan pedesaan di Jawa bagian barat? Apakah yang paling baik dan optimal sudah kita lakukan? Pada Hari Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga ini mari kita evaluasi dan kokohkan komitmen kesaksian kita. 
  
Penjelasan Teks
Kisah 1 : 1-2b. 
Kitab Kisah Para Rasul sebagai buku kedua yang ditulis Lukas dan dikirimkan kepada Theofilus, merupakan kelanjutan kesaksian buku pertanya, Injil Lukas, yang berisi segala berita yang berhubungan dengan apa yang dikerjakan dan diajarkan oleh Yesus sampai pada hari Ia terangkat ke surga (bdk. Luk. 1:1-2a). Tidak dijelaskan siapa Theofilus, namun sebagaimana diungkap dan diinformasikan oleh para saksi mata dan pelayan Firman kepada mereka berdua, maka diduga kuat bahwa Theofilus adalah tokoh yang dikenal luas oleh masyarakat, baru menerima baptisan, dan mereka bersahabat. 

Kisah Para Rasul ini disusun Lukas setelah menyelidiki dengan seksama berbagai berita dan informasi yang diterima dan dimilikinya, supaya semua yang disampaikan dan diajarkan Lukas kepada Theofilus mengenai seluk beluk pribadi Yesus dengan segala pengajaran, perbuatan hingga kematian dan kebangkitan-Nya, bahkan tentang pemberitaan-Nya oleh para murid-Nya ke segala kota dan tempat, benar adanya dan dapat dipercaya (bdk. Luk. 1 : 1b-4). 
Kisah 1 : 2b-11
Ayat 2b-5. Bagian ini diawali berita terkait penampakan Yesus kepada para murid-Nya untuk memantapkan pemahaman dan keyakinan mereka, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Kristus yang menderita dan mati, kini benar-benar telah bangkit dan hidup; Kerajaan Allah yang diberitakan segera datang dan bagaimana seharusnya merespon kedatangannya; perintah Yesus agar para murid tetap tinggal di Yerusalem untuk menantikan penggenapan janji Allah Bapa berkenaan pencurahan Roh Kudus. 

Ayat 6-8. Di kalangan umat dan masyarakat Israel saat itu ada pemahaman, harapan dan gerakan mesianis, antara lain yang mewujud dalam bentuk perlawanan dan pemberontakan terhadap penguasa Romawi dengan para penguasa bonekanya di Kerajaan Yudea. Tujuan gerakan tersebut untuk merebut kemerdekaan serta dipulihkannya kerajaan dan kejayaan Israel pada masa raja Daud, suatu kerajaan politis dengan batas-batas teritorial tertentu. Ketika para murid bertanya “maukah memulihkan kerajaan bagi Israel”, mengungkapkan harapan mesianis tersebut, dan mempersepsi mereka bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan itu (bdk. Luk. 24:21). Jawaban Yesus bukan saja menepis harapan mereka soal masa dan waktu terwujudnya, juga mengoreksi secara menyeluruh pemahaman dan harapan mereka yang keliru. Memperhatikan apa yang sudah disampaikan Yesus (dalam Injil Lukas), ada beberapa hal terkait Kerajaan Allah yang diberitakan-Nya. Pertama, mengenai masa dan waktu pemulihan kerajaan tidak perlu menerka-nerka atau mereka-reka menurut hitungan/perkiraan manusiawi, karena Allah sendiri yang menentukan menurut kuasa-Nya (Kis 1:7; Luk 4:43; 17:20). Kedua, Kerajaan Allah yang dimaksud-Nya berbeda dengan kerajaan di masa lalu yang terbatas bagi Israel, yang meliputi teritori wilayah dan kurun waktu yang terbatas, melainkan suatu kerajaan yang tak berkesudahan waktunya serta terbuka semua orang dari segala bangsa di muka bumi (Luk. 1:31-33). Ketiga, masuk dalam Kerajaan Allah mensyaratkan adanya pertobatan, yakni keterbukaan diri untuk bersedia berubah pikiran, kembali kepada Allah, berdamai dengan Allah serta hidup dalam damai dengan keluarga dan sesama (Luk. 1:16-17), bersedia menerima baptisan air dan siap dibaptis Roh Kudus sebagai tanda ia bertobat kepada Allah, diampuni oleh Allah dan layak di hadapan Allah (Kis 1:5; Luk 3:3). Keempat, kekuasaan Kerajaan Allah tidak berbentuk kedudukan atau jabatan pemerintahan dengan otoritasnya seperti pada kerajaan umumnya, melainkan ditandai dengan kehadiran Juruselamat dunia yaitu Yesus (Luk 2:10-11), yang menerima baptisan air dan pengurapan Roh Kudus sebagai Anak yang kepada-Nya Allah berkenan (Luk 3:22), yang kuasa-Nya nyata dalam pengajaran dan perbuatan-Nya yang penuh keajaiban, serta kerelaan-Nya menjalani penderitaan, kematian di kayu salib, serta kebangkitan-Nya untuk keselamatan seisi dunia. Kelima, menjelang mengakhiri karya dalam kemanusiaan-Nya, Yesus memberi amanat dan mandat kepada para rasul/murid untuk menjadi saksi-Nya manakala sesuai janji Allah Bapa menerima kuasa (δ...ναμιν, power) Roh Kudus, mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ujung bumi (bdk. Luk 24:46-49).  

Ayat 9-11. Yesus memberkati para murid-Nya, baik dalam masa penantiannya maupun untuk pelaksanaan mereka sebagai Saksi-Nya. Ia kemudian terangkat ke atas dan awan menghalangi pandangan para murid, sehingga mereka tidak melihat-Nya lagi. Memperhatikan khotbah Petrus, peristiwa kenaikan ini adalah peristiwa peninggian dan pemuliaan Yesus, Anak Allah, Mesias, Kristus, Tuhan (bdk. Kis 2:22-24; 3:34-36). Tentu saja, bagi para murid saat itu, peristiwa kenaikan/terangkatnya Yesus sangat mengejutkan dan mengherankan para murid Yesus, sehingga mereka terpana, tetap menatap ke langit dengan penuh tanda tanya. Mereka bertanya-tanya bagaimana Yesus terangkat, kemana arah dan tujuannya, dan bagaimana dapat berjumpa kembali dengan Yesus? Mereka tentu merasa sedih, kuatir, dan takut untuk melanjutkan kehidupan sebagai murid Yesus. Dua sosok berpakaian putih yang tiba-tiba hadir, menjelaskan bahwa Yesus pergi surga, dan Ia akan datang Kembali dengan cara Ia terangkat. Penjelasan inilah yang menggerakkan para murid menyembah Dia dan menjadikan para murid bersukacita (bdk. Luk 24:51-52). Bahkan kemudian mereka melakukan berbagai kegiatan dalam masa penantian kedatangan Roh Kudus, dengan senantiasa bertekun dalam doa bersama (Kis. 1:12-14), bersama Jemaat memilih Matias sebagai pengganti Yudas Iskariot yang telah berkhianat, menerima upahnya dan menuai kematian (Kis 1:15-26), menerima Roh Kudus yang dengan kuasa-Nya mulai tampil dengan penuh keberanian untuk secara terbuka memberitakan Injil Yesus Kristus di Yerusalem (Kis 2:1-dst). 

Selebihnya isi kitab Kisah Para Rasul menyaksikan kegiatan pekabaran Injil yang dilakukan para rasul dan murid-murid lainnya ke berbagai kota dan tempat di wilayah mediterania, bertambahnya orang-orang dari bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa lain yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka, serta kisah tentang berbagai macam kesempatan, tantangan dan perlawanan dari berbagai pihak termasuk para pemimpin agama dan pemerintahan di berbagai kota dan desa, baik terhadap Injil maupun terhadap para rasul dan pemberita Injil, hingga diakhiri kisah tentang perjalanan rasul Paulus dalam rangka pembelaan hukumnya hingga harus menyewa tempat tinggal dan memberitakan Injil selama 2 tahun di kota Roma (Kis. 28:16,30-31).
 
Pokok Pikiran
Peringatan kenaikan Yesus ke surga mengingatkan kita semua selaku saksi-saksi Kristus untuk senantiasa bersyukur dan bersukacita. Kita bersyukur dan bersukacita karena kita mengetahui dengan pasti bahwa Yesus Kristus hidup dan berkuasa sebagai Kristus dan Raja dalam Kerajaan Allah, yang menyertai dan memelihara kehidupan dan pelayanan kita dalam pekerjaan Roh Kudus. 
Mandat dan kuasa untuk menjadi saksi Kristus di dunia adalah anugerah dan kehormatan yang sangat berharga dari Kristus, yang harus dijaga, dipertahankan dan dilaksanakan hingga akhir hidup kita. Tidak ada alasan atau kekuatan apapun (personal, organisasional, sosial, legal, politis, bahkan alam) yang dapat membenarkan kita untuk melalaikan atau menghentikan pelaksanaan mandat dan kesaksian kita. Jika hanya mengandalkan kekuatan diri dan lembaga yang ada, tidak mungkin kita/ gereja memiliki kemampuan untuk menjalankan kesaksian kita di dunia yang sangat kompleks dan dinamis ini. Namun mengingat janji dan jaminan penyertaan Roh Kudus bagi orang-orang yang membuka diri, merindukan kehadiran dan membutuhkan pertolongan-Nya, akan beroleh kekuatan besar yang meneguhkan serta memampukan kita untuk melaksanakan tugas sebagai saksi Kristus. Maka, pengharapan, sukacita dan keselamatan yang disediakan Allah melalui hidup dan karya Yesus dan semua saksi-Nya akan didengar, dilihat dan dialami oleh setiap orang yang ada di sekeliling kita. 
Pelajaran berharga dari pernyataan dan tindakan Tuhan Yesus pada peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke Surga ini :
Yesus Kristus memberikan mandat (kepercayaan dan tanggung jawab) kepada para para rasul dan murid-Nya untuk menjadi saksi atas karya kasih-Nya yang dirintis dan dikerjakan-Nya. GKP mengenal berbagai mandat pelayanan, yang hakikatnya Tuhan sendiri yang memanggilnya, dalam rangka panggilan bersekutu, melayani dan bersaksi di lingkungan GKP (pada aras Jemaat, Klasis, Sinode), lingkungan badan pelayanan GKP (organ-organ yayasan/perseroan dan satuan kerja), lingkungan oikumenis (wadah/lembaga oikumenis) dan lingkungan masyarakat (eksekutif, legislatif, yudikatif). Tuhan Yesus meminta setiap murid-Nya untuk melaksanakan mandatnya dengan baik, benar dan tepat, selaras dengan kebenaran dan kehendak Tuhan, dengan segenap hati, pikiran dan kemampuan yang dimiliki oleh diri serta para penerusnya yang akan melanjutkannya. 
Tuhan mengetahui setiap murid-Nya, termasuk warga GKP, memiliki berbagai keterbatasan pada aspek fisik, mental, sosial dan spiritual. Karena itu, Tuhan mengajar kita untuk mempersiapkan diri dalam doa dan persekutuan, siap sedia untuk menerima mandat dan kuasa dari Tuhan, serta membuka diri menerima kehadiran Roh Kudus, sehingga tidak lagi merasakan kesedihan, kekuatiran dan kebimbangan untuk melanjutkan kehidupan dan panggilannya sebagai murid-murid Tuhan Yesus.  

(Krisna L. Suryadi)







Daftar Label dari Kategori DPA Minggu GKP 2025





NEXT:
DPA Minggu GKP Juni 2025



PREV:
DPA Minggu GKP April 2025

Arsip DPA Minggu GKP 2025..

Register   Login