|
|
Minggu Ketujuh Paskah 1 Juni 2025 Pembacaan Alkitab Kisah Para Rasul 16:19-40 Nas Pembimbing Kisah Para Rasul 16:25 Mazmur Mazmur 97:1-12 Pokok Doa Mendoakan pancasila menjadi inspirasi dan fondasi yang menyatukan keberagaman di Indonesia (Hari Lahir Pancasila - 1 Juni) Mendoakan Jemaat Cikampek Nyanyian Tema KJ 64:1-2 “Bila Kulihat Bintang Gemerlapan” Warna Liturgis Putih ADAKAH YANG MEMBUATMU BERHENTI MEMUJI TUHAN? Pengantar Istilah 4 L (loe lagi, loe lagi) sering terdengar dalam persekutuan Jemaat untuk menggambarkan situasi dalam gereja yang seakan kekurangan orang. Data anggota Jemaat seakan tidak sesuai dengan jumlah kehadiran atau keaktifan dalam berbagai kegiatan gereja, mereka yang aktif adalah mereka yang biasa aktif, itu-itu saja seakan tidak ada yang lain. Berbagai cara coba gereja lakukan untuk menarik anggota Jemaatnya agar aktif, tetapi sejauh ini belum ada cara yang efektif. Akibatnya banyak anggota Jemaat yang mulai apatis, menyerah atas kondisi yang ada dan kembali menjalani rutinitas gereja dengan orang yang seadanya saja. Jika orang-orang yang ada dalam sebuah persekutuan merasa bosan, tidak bersemangat dan tidak bersukacita, maka tidak ada alasan bagi orang-orang yang ada di luar persekutuan untuk bergabung. Bagaimana bisa sebuah persekutuan menarik bagi mereka yang ada di luar persekutuan, jika persekutuan tersebut terasa membosankan bagi mereka yang sudah ada di dalamnya? Melalui pembacaan hari ini, kita akan melihat bagaimana gereja mula-mula bertumbuh, mengapa begitu banyak orang tertarik bergabung dalam persekutuan. Penjelasan Teks Paulus tiba di Filipi yang merupakan salah satu kota di Makedonia, daerah luar Israel. Di hari Sabat mereka pergi ke luar pintu gerbang kota, menyusuri tepi sungai untuk mencari tempat sembahyang Yahudi. Hal ini menunjukan bahwa hanya sedikit orang Yahudi di Filipi, belum ada Sinagoge disana, akibatnya pada hari Sabat orang Yahudi akan berkumpul bersama di tempat yang jauh dari keramaian, sehingga Paulus menduga bahwa mereka akan ada di tepi sungai. Di tempat tersebut ada seorang budak perempuan yang mempunyai roh tenung. Dengan tenungan-tenungannya itu tuan-tuannya memperoleh penghasilan yang besar. Perempuan ini mengikuti Paulus selama beberapa hari sambil berseru, “Orang-orang ini hamba Allah Yang Maha Tinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan keselamatan.” Rupanya setelah beberapa hari mengikuti Paulus dan berseru-seru, membuat Paulus tidak tahan lagi dan kemudian mengusir roh tenung dari perempuan itu. Seketika itu juga keluarlah roh itu. Terbebasnya perempuan itu dari roh tenung menjadi kerugian yang besar bagi tuan-tuan perempuan tersebut. Selama ini mereka mengambil keuntungan yang besar dari penderitaan perempuan itu saat ia dikuasai oleh roh tenung. Mereka tidak peduli akan apa yang perempuan ini alami, mereka hanya peduli akan keuntungan yang mereka peroleh dari perempuan ini. Sehingga terbebasnya perempuan ini dari penderitaan membuat para tuannya ini marah besar, sehingga mereka menangkap Paulus dan Silas, menyeret mereka ke pasar dengan tujuan menghasut orang banyak agar para pembesar-pembesar kota melakukan apa yang mereka inginkan. Mereka menuduh Paulus dan Silas yang adalah orang Yahudi, mengacaukan kota dengan mengajarkan adat istiadat Yahudi bagi orang Roma. Melihat begitu banyak orang yang bangkit menentang mereka, para pembesar pun mengambil keputusan untuk mendera Paulus dan Silas, menjebloskannya ke dalam penjara. Seakan tidak cukup, kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh, sehingga mereka ditempatkan di ruang penjara paling tengah dan membelenggu kaki mereka. Para pembesar kota memperlakukan Paulus dan Silas seperti penjahat yang melakukan kejahatan serius, bahkan memperlakukan mereka dengan semena-mena tanpa melalui proses peradilan yang jelas. Paulus dan Silas tidak melakukan pelanggaran atau kejahatan apapun, mereka justru melakukan kebaikan yaitu melepaskan seorang perempuan dari penguasaan roh tenung. Perbuatan baik yang mereka lakukan bukannya mendatangkan kebaikan bagi mereka tapi justru mendatangkan penderitaan yang teramat besar, mereka difitnah, disiksa berkali-kali, diperlakukan tidak adil bahkan semena-mena dan harus mendekam di dalam penjara. Tapi rupanya Paulus dan Silas tidak menyesali pilihan mereka atau apapun yang terjadi terhadap mereka. Justru doa dan nyanyian kepada Allah yang keluar dari mulut mereka, meskipun mereka harus melalui semua penderitaan itu. Fitnah, penderitaan bahkan berada di tempat terburuk tidak menghentikan Paulus dan Silas untuk berdoa dan memuji Allah. Sebuah sikap dan tindakan yang membingungkan bagi para tahanan lain yang mendengarkan. Sebab doa dan nyanyian tersebut bukanlah doa dan nyanyian ratapan atau kesedihan, tetapi doa ungkapan syukur dan nyanyian pujian. Mengapa mereka bisa bersyukur dan memuji Tuhan di tengah kondisi yang begitu buruk ini? Sehingga ketika gempa terjadi dan semua pintu penjara terbuka, para tahanan bukan mencari jalan untuk keluar dari penjara melainkan mencari Paulus dan Silas untuk menemukan alasan mengapa mereka berdoa dan bernyanyi. Doa dan nyanyian tersebut begitu menyentuh hati dan diri para tahanan, sehingga pintu penjara yang terbuka lebar pun tidak menarik bagi mereka. Kepala penjara yang melihat pintu-pintu penjara terbuka pun menyangka bahwa para tahanan telah melarikan diri, sehingga ia menghunus pedangnya dan hendak membunuh diri. Karena memang sebagai kepala penjara ia bertanggung jawab penuh atas para tahanan, kaburnya para tahanan berarti hukuman yang seharusnya dijalani tahanan akan menjadi hukuman yang harus ia tanggung. Tapi justru terdengar suara dari dalam penjara, “Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!”. Kepala penjara pun berlari masuk dan dengan gemetar bersujud di depan Paulus dan Silas yang telah menyelamatkan nyawanya. Menyadari bahwa hidupnya dapat berubah dalam seketika dari semula sebagai kepala penjara dan hampir kehilangan semuanya itu, ia pun merasa memerlukan jaminan atas hidupnya, sehingga ia bertanya kepada Paulus dan Silas, “Tuan-tuan, apa yang harus aku perbuat, supaya aku diselamatkan?” Mereka pun menjawab, “Percayalah kepada Tuhan Yesus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Maka setelah ia dan semua orang yang ada di rumahnya mendengar Firman Tuhan, mereka semua dibaptis dan menjadi sangat bergembira. Pokok Pikiran Kisah ini menggambarkan situasi yang terjadi baik di masa lalu dan masa kini, bagaimana pada umumnya orang bersukacita berdasarkan pada apa yang terjadi dalam hidupnya. Para tuan dalam kisah ini bersukacita ketika mendapatkan begitu banyak penghasilan dari perempuan yang kerasukan roh dan menjadi begitu marah ketika semuanya itu lenyap. Bahkan kebahagiaan yang mereka terima selama ini datangnya dari penderitaan orang lain. Mereka tidak peduli akan apa yang perempuan ini alami, akan apa yang perempuan ini derita, yang mereka pedulikan hanyalah diri mereka sendiri. Mereka pun melakukan berbagai cara dengan memfitnah dan menghasut untuk dapat melepaskan amarahnya. Namun Paulus dan Silas menunjukan sikap yang berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Meskipun mendapat fitnah, dipermalukan, dianiaya bahkan berada di tempat yang buruk justru karena melakukan kebaikan, mereka tidak berhenti memuji Tuhan. Sikap yang mungkin sulit umat Tuhan lakukan baik di masa lalu maupun di masa kini. Orang melakukan kebaikan dengan harapan mendapat balasan yang baik pula, jika bukan datang dari manusia, ia berharap mendapat balasan setimpal dari Tuhan. Ketika balasan yang ia terima justru bukanlah kebaikan, tetapi penderitaan dan Tuhan mengijinkan itu terjadi, maka ia akan kecewa, mengeluh dan marah atas ketidakadilan yang terjadi. Paulus dan Silas menunjukan bahwa kebahagiaan yang ada pada mereka bukanlah karena apa yang baru saja terjadi. Doa dan puji-pujian yang mereka sampaikan bukanlah karena peristiwa yang sedang mereka alami. Ada sukacita yang lebih besar melebihi apa yang baru dan sedang mereka alami. Penderitaan mereka memang luar biasa, tetapi alasan mereka bersukacita jauh lebih luar biasa. Alasan mereka bersukacita datangnya dari Tuhan, kasih dan kebaikan Tuhan melalui pengorbanan Yesus Kristus memenuhi hati dan diri mereka. Kebaikan Tuhan jauh lebih besar dari penderitaan yang mereka alami, sehingga penderitaan apapun tidak dapat menghentikan mereka untuk memuji Tuhan. Lihatlah dampak dari ucapan syukur mereka, banyak orang tertarik untuk mengenal Tuhan lebih dekat lagi. Jangan biarkan sesuatu apapun menghentikan saudara untuk mengucap syukur, biarlah ungkapan syukurmu menjadi jalan bagi orang-orang untuk datang dan mengenal Tuhan. (Sri Yusuf Wibowo) Minggu Pentakosta 8 Juni 2025 Pembacaan Alkitab Kisah Para Rasul 2:1-13 Nas Pembimbing Yohanes 14:27 Mazmur Mazmur 104:24-35 Pokok Doa Mendoakan Upaya pelestarian laut (Hari Laut Sedunia - 8 Juni) Membangun Relasi Persahabatan Mendoakan Jemaat Garut (4 Juni 1900) Mendoakan Jemaat Cikarang Nyanyian Tema PKJ 97:1-4 “Roh Kudus Kuatkanlah Kami” atau NKB 104:1,2,4 “Apinya Berkobar Dalam Hatiku” Warna Liturgis Merah KUASA YANG MENSEJAHTERAKAN Pengantar Kuasa adalah kata benda dalam KBBI yang berarti kemampuan atau kesanggupan untuk berbuat sesuatu, juga dapat berarti kekuatan. Kuasa juga berarti wewenang atas sesuatu untuk menentukan (memerintah, mewakili, mengurus, dan sebagainya) sesuatu. Kuasa artinya pengaruh (gengsi, kesaktian dan sebagainya) yang ada pada seseorang karena jabatannya (martabatnya). Roh Kudus adalah sebutan yang diberikan kepada pribadi ketiga dari Tritunggal yang digunakan untuk membedakan pribadi yang pertama yaitu Bapa dan Pribadi yang kedua yaitu Anak. Ketiga Roh Kudus Pribadi yang setara dengan Anak dan Bapa. Tuhan Yesus telah menjanjikan kepada murid-murid-Nya akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas mereka. Kuasa yang diterima oleh para murid akan membuat mereka menjadi saksi Kristus mulai dari Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. (Kis. 1:8) Kesaksian yang penting untuk disampaikan oleh para murid adalah Kristus itu sendiri. Tuhan Yesus juga mengingatkan para murid bahwa Roh Kudus akan mengajarkan segala sesuatu dan mengingatkan akan semua yang Tuhan Yesus katakan (Yoh 14:26). Tuhan Yesus Sang Raja Damai (Yes 9:6) meninggalkan dan memberikan Damai Sejahtera bagi para murid-Nya (Yoh 14:27). Mari kita renungkan perayaan Hari Pentakosta di tahun 2025 dalam terang tema GKP di tahun 2025/2026 Sejahteraku, Sejahteramu, Sejahtera Bersama” (Yes. 32:17; Yer. 29:7) Penjelasan Teks Hari Raya Pentakosta yang dimaksudkan pada ayat 1 adalah hari raya yang dirayakan oleh orang Yahudi seperti ketentuan hukum Taurat (Ul. 16:1-17, Im. 23:15-21). Hari di mana sudah dipersiapkan oleh orang Yahudi bahkan mereka yang telah ke luar dari tanah air mereka menjadi perantau ke negeri-negeri lain. Mereka berziarah datang ke Yerusalem pada pesta itu untuk merayakan Allah membangun kembali umat-Nya dengan memberi mereka hukum di Gunung Sinai. Pada saat itu pula para murid dan semua orang yang percaya berkumpul di suatu tempat. Orang-orang Yahudi sejak Perjanjian Lama menghubungkan angin dengan roh (bdk. Kej. 1:2). Sedangkan mengenai mengenai api maupun roh sudah dinubuatkan Yohanes pembaptis dalam Luk 3:16 (ditunjukkan dalam Kis. 1:5 dan 11:16). Penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul membuat pola yang menunjukkan bagaimana sebuah nubuat pada masa lalu menjadi kenyataan. Kehadiran Roh Kudus digambarkan dengan tiga kondisi. Pertama, terdengar bunyi dari langit seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah tempat mereka duduk (ay. 2). Kedua, Ada terlihat lidah-lidah seperti lidah api yang bertebaran hinggap pada mereka masing-masing (ay. 3). Ketiga, mereka semua dipenuhi Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain (ay. 4). Kondisi ini bisa dikatakan sebagai kondisi fisik yang bisa dirasakan oleh panca indera. Kepenuhan Roh Kudus (ay. 4) membuat para murid yang merupakan orang-orang sederhana, bukan golongan cendekiawan ataupun orang yang berasal dari luar Yudea yang berbahasa asing, mereka adalah orang Galilea - dapat berbicara dalam bahasa di luar bahasa mereka sendiri. Kemampuan ini terjadi sebagai reaksi setelah lidah-lidah seperti api hinggap pada mereka. Roh Kudus membuat mereka memiliki kuasa/ kemampuan berbicara dengan bahasa lain sesuai dengan pemberian Roh itu kepada masing-masing mereka. Roh Kudus juga membuat mereka bicara dengan fasih dalam bahasa yang sebelumnya mereka tidak kuasai. Roh Kudus membuat mereka berbicara dengan penuh kuasa sehingga memukau setiap orang yang mendengarnya (ay. 12) Para murid yang kepenuhan Roh Kudus sehingga mampu berbicara dengan bahasa yang berbeda-beda ini, mengingatkan kita peristiwa menara Babel di mana Allah mengacaukan bahasa manusia sehingga mereka tidak lagi mengerti bahasa satu sama lain. Bahasa yang berbeda satu sama lain membuat mereka terserak ke seluruh bumi dan pembangunan menara Babel pun terbengkalai (Kej 11:7-8). Ada kemiripan peristiwa tetapi memberikan dampak yang berbeda. Dalam peristiwa di hari Pentakosta ini kemampuan para murid berbicara dengan bahasa yang berbeda ada kesatuan informasi yang disampaikan yaitu perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah (ay.11), sedangkan perbedaan bahasa pada peristiwa menara Babel membuat mereka tercerai berai. Bahasa-bahasa yang diucapkan para murid tersebut dimengerti oleh orang-orang Yahudi yang sedang berziarah dari seluruh dunia dan tinggal di Yerusalem (ay.5). Mereka berasal dari Partia, Media, Elam, dan penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan bagian-bagian Libya milik Kirene, dan pengunjung dari Roma, baik orang Yahudi maupun proselit, Kreta dan Arab (ay 5-11). Pada kesempatan inilah para murid yang kepenuhan Roh Kudus diberikan kuasa untuk bersaksi tentang perbuatan Allah yang besar. Peristiwa tersebut tidak ditanggapi oleh semua orang dengan cara yang sama. Mereka semua orang kagum dan bingung, ada yang mencari makna dari kejadian yang mereka saksikan. Namun juga ada yang mereka malah mencibir dan berkata: "Mereka dipenuhi dengan anggur baru." Di tengah kekaguman dan sekaligus kebingungan mereka, Petrus berkhotbah (ay.14-40) menguraikan dengan jelas bahwa perstiwa yang terjadi merupakan penggenap terhadap firman Tuhan melalui Nabi Yoel (2:17-21, Yl. 2:28-32). Ia juga memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus dengan panjang lebar. Banyak di antara mereka yang kemudian menjadi percaya dan dibaptis. Mereka membawa pulang berita Injil itu ke negeri tempat asal mereka. Kehadiran Roh Kudus sama dengan kehadiran Yesus, karena Roh Kudus diutus oleh Yesus dan Allah Bapa. Tuhan Yesus sendiri yang menjanjikan penolong yaitu Roh Kudus yang diutus oleh Bapa dalam nama-Nya untuk mengajarkan segala sesuatu dan mengingat semua perkataan-Nya (bdk. Kis 1:8, Yoh 14:26). Bagi para Murid melalui pekerjaan Roh Kudus ini akan menghasilkan damai sejahtera dari Yesus. Damai sejahtera yang Dia berikan berbeda dengan yang diberikan oleh dunia ini (bdk. Yoh. 14:27). Damai sejahtera bukan sekedar basa-basi pengantar saat kita bertemu dengan orang. Damai sejahtera dari Tuhan Yesus tidak sama dengan yang diberikan dunia. Damai sejahtera dari Tuhan Yesus adalah berkat bagi yang menerimanya. Berkat yang bukan hanya terkait hal fisik dan terbatas waktu, melainkan berkat yang merupakan anugerah yang abadi. Sebagai murid-murid Kristus masa kini, kita juga mewarisi janji-Nya. Roh Kudus hadir dalam kehidupan kita. Kehadiran Roh Kudus menolong dan memberi kuasa kepada kita untuk menjadi saksi-saksi Kristus di tengah dunia. Seperti para murid dikaruniai berbicara dalam bahasa yang tidak mereka kenal. Namun, karena kuasa Roh Kudus melingkupi mereka, banyak orang yang terpanggil dengan ketakjuban dan keajaiban berita Injil yang mereka ucapkan dalam bahasa asing. Berita yang membuat mereka mengenal Kristus, bertobat dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Mereka pulang dari Yerusalem dengan berkat dari Tuhan Yesus yang selama ini mereka nantikan sebagai bangsa Yahudi. Di tengah-tengah kehidupan masyarakat kita yang majemuk. Kehadiran Roh Kudus dalam setiap pribadi orang yang percaya dan persekutuan orang percaya sudahkah membuat orang yang kita jumpai mengalami damai sejahtera? Kuasa yang kita terima dari Roh Kudus apakah sudah mensejahterakan? Perlu kita renungkan dalam keseharian di dalam keluarga, persekutuan dan masyarakat hal-hal yang membuat orang-orang di sekitar kita merasakan damai sejahtera. Kuasa Roh Kudus yang mengajarkan dan mengingatkan kita tentang ajaran yang diajarkan kepada kita selaku orang yang percaya perlu kita wujudkan dalam program-program kerja Jemaat yang mensejahterakan. Pelatihan ataupun pembinaan Jemaat yang mengubah kebiasaan kita sehingga baik pribadi kita maupun orang lain mengalami damai sejahtera dari Kristus. Bersama dengan segenap bagian GKP, kita mewujudnyatakan damai sejahtera yang diberikan oleh Yesus Kristus Sang Raja Damai. GKP dalam segala keadaan, didorong untuk turut mengusahakan kesejahteraan kota (tempat) di mana Tuhan menghadirkan kita (bdk. Yer. 29:7). Kita turut ambil bagian dalam persoalan-persoalan sosial yang terjadi di sekitar kita sebagai kelanjutan dari ritual ibadah kita kepada Tuhan. Kita juga memberikan perhatian dan bertidak pada ketidakadilan dan kekerasan dengan segala bentuknya, pengabaian hak-hak anak, pencemaran lingkungan alam. Kesejahteraan juga tidak hanya berbicara tentang kecukupan secara finansial tetapi mencakup dengan kesehatan, kesuburan tanah, keamanan/selamat dari bahaya, kerukunan/ keselarasan (bdk. pengertian dari kata ‘sejahtera’=syalom). Dengan Kuasa Roh Kudus segenap bagian GKP memiliki kuasa untuk dapat mengusahakan dan memperjuangkan kesejahteraan yang berdampak lingkup Gereja Kristen Pasundan, lingkup oikumenis, dan kebangsaan. Pokok Pikiran Hari Raya Pentakosta yang dimaksudkan pada ayat 1 adalah hari raya yang dirayakan oleh orang Yahudi seperti ketentuan hukum Taurat (Ul. 16:1-17, Im. 23:15-21). Pada saat itu pula para murid dan semua orang yang percaya berkumpul di suatu tempat. Kemudian kehadiran Roh Kudus digambarkan dengan tiga kondisi. Pertama, terdengar bunyi dari langit seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah tempat mereka duduk (ay. 2). Kedua, Ada terlihat lidah-lidah seperti lidah api yang bertebaran hinggap pada mereka masing-masing (ay. 3). Ketiga, mereka semua dipenuhi Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain (ay. 4). Kondisi ini bisa dikatakan sebagai kondisi fisik yang bisa dirasakan oleh panca indera. Kehadiran Roh Kudus sama dengan kehadiran Yesus, karena Roh Kudus diutus oleh Yesus dan Allah Bapa. Tuhan Yesus sendiri yang menjanjikan penolong yaitu Roh Kudus yang diutus oleh Bapa dalam nama-Nya untuk mengajarkan segala sesuatu dan mengingat semua perkataan-Nya (bdk. Kis. 1:8, Yoh. 14:26). Bagi para Murid melalui pekerjaan Roh Kudus ini akan menghasilkan damai sejahtera dari Yesus. Damai sejahtera yang Dia berikan berbeda dengan yang diberikan oleh dunia ini (bdk. Yoh. 14:27). Kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan murid-murid Kristus berdampak pada kuasa untuk menjadi saksi-saksi-Nya di tengah dunia. Kuasa yang diterima dari Roh Kudus dapat membuat orang-orang di sekitar kita merasakan damai sejahtera dari Tuhan Yesus Kristus. Pelayan Firman dapat membuat paling banyak tiga uraian penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Damai sejahtera dari Yesus Kristus mewujudnyatakan kesejahteraan dalam kehidupan pribadi, persekutuan ekumenis dan masyarakat. Daftar Acuan https://www.workingpreacher.org/commentaries/narrative-lectionary/preaching-series-on-the-creeds-4/31582 diunggah: Jumat, 4 Oktober 2024 Diane Bergant, CSA, dkk, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. hal 215 (Erna Demosti Butar Butar) MINGGU TRINITAS 15 JUNI 2025 Pembacaan Alkitab Yohanes 16:1-5 Nas Pembimbing 2 Korintus 12:9a Mazmur Mazmur 8:1-10 Pokok Doa Mendoakan pendonor dan resipien yang membutuhkan darah (Hari Donor Darah Sedunia - 14 Juni) Mendoakan Jemaat Immanuel Karawang (11 Juni 1955) Mendoakan Jemaat Cimuning (13 Juni 2011) Mendoakan Jemaat Cikembar Nyanyian Tema KJ 245:1-3 “Tritunggal, Sinar Abadi” atau PKJ 120:1-3 “Allah Bapa Kami Puji Engkau” Warna Liturgis Putih MENGENAL ALLAH TRINITAS, MERASAKAN KASIH SEUTUHNYA Pendahuluan Doktrin Trinitas merupakan ruang berteologi yang tak pernah selesai, paling tidak sampai tulisan ini dibuat. Namun demikian, hakikat Allah dalam tiga pribadi yang bisa dibedakan namun tak terpisahkan itu tidak pernah berubah. Atas rupa-rupa pemahaman dan pengajaran mengenai Allah Trinitas terdapat berbagai respons yang bisa kita temukan dan mungkin kita alami juga. Ada yang semakin meyakini dan mengasihi Allah Trinitas, ada yang masih berproses menikmati keindahan persekutuan Allah Trinitas, tapi ada juga yang terang-terangan menolak iman kepada Allah Trinitas. Yesus Kristus sendiri telah menyatakan tentang penolakan ini dalam bacaan Injil Yohanes pada Minggu Trinitas yang kita rayakan hari ini. Yesus memberikan semacam pendekatan untuk menerima undangan Allah Trinitas, yakni bukan dengan mengutamakan nalar manusia; kemampuan berpikir dan melogiskan semua bahasa iman, melainkan melalui pengalaman mengenal dan merasakan kehadiran Allah Trinitas itu dalam kehidupan sehari-hari. Kiranya melalui Firman Tuhan hari ini, umat memiliki pemahaman yang semakin utuh tentang ajaran Trinitas. Penjelasan bahan Yesus dengan penuh kasih memberikan kepada murid-murid-Nya sebuah peringatan untuk menjaga kita agar tidak terpengaruh oleh mereka yang menolak percaya kepada Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Mereka adalah orang-orang yang hanya menerima pribadi Allah yang Maha Besar dan Maha Tinggi. Allah yang disembah di singgasana yang tak terjangkau, yang hanya bisa didekati melalui perantara imam-imam yang telah mencuri kemuliaan Allah. Provokasi para penolak itu ialah kontradiksi antara kasih Allah dengan penderitaan yang diberitakan oleh Yesus dan juga akan dialami oleh para pengikut-Nya. Tidak mungkin Allah menderita, jikapun Allah datang, sebagai Mesias yang dijanjikan, maka Allah akan memerintah manusia dan membebaskan manusia dari penderitaan, bukan malah menjadi Allah yang menderita dan mengajak umat-Nya untuk ikut menderita juga. Yesus memberi peringatan kepada murid-murid-Nya agar “tidak terguncang dan jatuh” (ayat 1). Kata “terguncang” ” yang digunakan dalam ayat pertama bacaan hari ini ” diterjemahkan dari kata Yunani “Skandalizo” yang secara harfiah berarti “perangkap atau batu sandungan; pemicu jebakan tempat umpan dipasang, dan yang bila disentuh binatang, akan meloncat dan menutup, sehingga menjebak korbannya; untuk memikat atau membawa kepada kehancuran, membiarkan seseorang mengambil suatu tindakan yang tanpa disadari ia akan mengalami kenakalan dan kehancuran.” Perlu kita pahami bahwa yang dimaksud “perangkap” yang bisa membuat terguncang, atau “kecewa” (dalam Alkitab TB1) dan jatuh, bukanlah penderitaan atau penganiayaan yang kita alami. Perangkap yang dimaksud adalah keputusasaan atau keraguan yang dihembuskan oleh si jahat kepada pikiran para pengikut Yesus agar berbalik dan menolak Yesus. Yesus mengingatkan para murid bahwa orang-orang yang menolak-Nya menunjukkan sikap yang sangat berani untuk menarik orang yang sudah percaya berpaling dari Yesus dan bagi mereka yang tetap bertahan akan digiring pada penghukuman. Itu semua terjadi karena mereka tidak mengenal Allah. Yesus tidak mengajak murid-murid-Nya untuk memiliki kemarahan dan kebencian, sebaliknya Yesus memerintahkan para pengikut-Nya untuk bangkit dengan kemurahan hati, dengan ketabahan dan keberserahan pada kehendak Allah. Yesus berupaya meyakinan murid-murid-Nya untuk bertahan, baik ketika Dia masih bersama murid-murid, ataupun ketika Dia telah naik ke Surga. Kehadiran Allah tidak berubah, Allah tetap setia melalui kehadiran-Nya dalam Roh Kudus. Menghadapi penderitaan dalam hidup dengan pengenalan yang benar akan Allah Trinitas, harusnya menjadikan kita menerima dan menghadapi penderitaan itu dengan lapang dada dan ketabahan. Anne Johnson Flint, seorang penyair yang diadopsi oleh keluarga Fllint sejak kecil, menuliskan “Jika diijinkan bertambah kesengsaraan, Dia menambahkan rahmat-Nya, jika berlipat ganda cobaan, Dia melipatgandakan damai sejahtera-Nya.” Anne Flint bukan hanya menderita karena ditinggalkan kedua orangtuanya yang meninggal saat ia masih kecil, melainkan juga harus menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di kursi roda. Meskipun tubuh fisiknya berubah bentuk dari tahun ke tahun, Kristus dengan penuh kuasa terbentuk dalam diri Anne melalui penderitaan dan kepedihannya. Meskipun jari-jarinya yang bengkok merasakan sakit yang amat sangat, Anne menjadi penulis dan penyair yang produktif. Dalam puisi dan prosa, ia secara teratur merenungkan Firman Tuhan, janji-janji-Nya, dan kehadiran-Nya yang kekal dalam hidupnya. Meskipun sebagian besar harinya dihabiskan di dalam kamar kecilnya di Sanatorium, ia jarang mengeluh tentang kondisinya. Orang-orang yang paling mengenalnya sering berkomentar tentang kepribadiannya yang ceria, memberi semangat, dan sangat humoris. Dan hatinya terhadap teman-teman inilah yang memulai karier menulisnya saat ia membuat kartu dan buku hadiah berisi puisi-puisinya sebagai sarana penyemangat. Baik Kristus, para rasul, orang seperti Anne Flint, dan masih banyak lagi dalam kehidupan masa kini, menjadikan penderitaan sebagai alat untuk bisa mengalami kasih Allah secara utuh. Mengalami Allah, sebagai Bapa yang adalah sumber kasih dan pemberi kehidupan, Kristus yang telah berkorban bagi kita, serta Roh Kudus yang memberi kita hikmat, penghiburan dan pertolongan, membuat orang percaya bukan hanya kokoh berdiri dalam segala penderitaan tapi juga tidak meminta agar datang balasan setimpal berupa kesenangan, kekayaan, kemuliaan atau apapun yang menjadi ukuran kepuasan dalam dunia. Di sinilah kita kembali menyambut perkataan Kristus sebagaimana disampaikan kepada Paulus, “Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Kor. 12:9a). Tuhan tidak selalu mengangkat kesulitan atau kelemahan yang kita alami, tetapi Dia memberikan kasih karunia yang memampukan kita bertahan. Kasih karunia Tuhan tidak hanya cukup tetapi juga berlimpah. Dia tahu seberapa besar yang kita butuhkan, dan Dia memberikannya sesuai dengan kebutuhan kita. Dunia mengajarkan kita untuk menghindari kelemahan dan penderitaan, serta berlomba memperoleh kesenangan dan kejayaan. Akan tetapi, Tuhan menyatakan bahwa justru dalam penderitaan dan kelemahan, kuasa-Nya menjadi nyata. Maksud firman Tuhan tersebut dalam penderitaan dan kelemahan kita menyadari keterbatasan diri sehingga kita akan berserah pada Allah. Inilah misteri Trinitas yang perlu kita selami dengan hikmat dari Allah, bahwa kasih Allah kita alami secara utuh bukan pada berkat kesenangan dan kejayaan, melainkan melalui kasih Allah Bapa, Anak, Roh Kudus yang tak pernah berhenti memberi kita penyertaan, kekuatan dan damai sejahtera. Pokok pikiran Yesus memberi kita peringatan yang jelas tentang pencobaan dan kesengsaraan ” Dia mempersiapkan pengikutnya di segala zaman agar tidak terguncang dan jatuh karena keputusasaan dan keraguan karena penderitaan yang mungkin dialami oleh orang-orang yang beriman. Sebuah konsekuensi bagi pengikut Yesus, bukan karena kesalahan, melainkan karena berpegang pada kebenaran, karya keselamatan Allah Trinitas, dan undangan bagi seluruh ciptaan untuk masuk dalam persekutuan kasih yang telah ada sebelum dunia diciptakan, di kekinian zaman, dan kekal selamanya. Penganiayaan bisa datang dari tangan orang-orang yang mengaku mengenal Allah namun menolak Sang Anak dan Roh Kudus. Mereka yang berpegang pada konsep Allah yang Mahatinggi dan tidak terjangkau, tidak dapat menerima Allah yang berinkarnasi dan menderita. Kehadiran Yesus yang lahir sebagai Anak Manusia, jalan penderitaan dan penyaliban-Nya dipandang sesuatu yang hina dan tidak masuk akal. Maka melalui perenungan hari ini diundang untuk mengenal Allah Trinitas dan seluruh karyanya bukan hanya melalui akal budi semata, melainkan melalui pengalaman beriman setiap hari yang melibatkan rasa dan seluruh indera kita. Semua orang percaya dapat merasakan kekuatan dan damai sejahtera dalam rupa rupa penderitaan karena sungguh mengenal Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Inilah kasih seutuhnya, yakni kasih yang merengkuh penderitaan dan menjadikannya sebagai sarana bagi kuasa Allah bekerja dalam hidup kita, sebab pada diri kita sebagai manusia, sehebat apapun, harus kita akui bahwa kita adalah insan yang rapuh dan penuh keterbatasan. (Yoga Willy Pratama) Minggu Kedua Sesudah Pentakosta 22 Juni 2025 Pembacaan Alkitab Lukas 8:26-39 Nas Pembimbing Lukas 8:28 Mazmur Mazmur 22:20-32 Pokok Doa Mendoakan YBRS GKP (20 Juni 1949) Mendoakan Jemaat Kampung Sawah (16 Juni 1874) Mendoakan Jemaat Cimahi Nyanyian Tema KJ 388:1-3 “S’lamat di Tangan Yesus” atau “Pertolongan-Mu” https://www.youtube.com/watch?v=M_JuSEzL-5Q Warna Liturgis Hijau YESUS MENOLONG ORANG YANG TERSIKSA Pengantar Di tengah perkembangan pengetahuan saat ini, kita semakin banyak mengenal kondisi yang disebut dengan gangguan kesehatan mental. Ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Salah satunya lingkungan yang tidak sehat sehingga orang merasa tersiksa. Seorang Psikolog Klinis, Yanny Elok Wulandari, menuliskan: Banyak orang merasa tersiksa dengan rasa kesepian. Lagi sendirian, bisa kesepian. Di tengah keramaian, juga bisa kesepian. Kesepian, itu masalahnya ada pada konektivitas, alias keterhubungan. Perasaan tersiksa ini memang dapat mengganggu kesehatan mental seseorang. Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, kata “tersiksa” dipahami sebagai: teraniaya, tersakiti, tertekan, tertindas. Dalam bacaan hari ini diceritakan kondisi seseorang yang sedang tersiksa karena gangguan roh jahat dan kesepiannya, namun Yesus menolongnya. Penjelasan Teks Injil Lukas mencatat bahwa suatu hari Yesus naik perahu dan berkata kepada para murid untuk mereka pergi ke seberang danau Galilea (Luk. 8: 22). Perjalanan itu penuh dengan kesulitan, karena saat Yesus sedang tidur, tiba-tiba angin topan menerpa perahu dan membuat air danau kemasukan air, namun mujizat terjadi karena Yesus meredakan angin itu (Luk. 8: 23-25). Perahu mendarat di tanah orang Gerasa, dan seorang yang tidak berpakaian menghampiri-Nya. Orang itu sudah lama dirasuki setan dan tinggal di kuburan, bukan di rumah. Karena Yesus memerintahkan roh jahat untuk keluar dari orang itu, ia berkata pada Yesus: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Maha Tinggi? Aku mohon, janganlah menyiksa aku.” Ungkapan ini seolah-olah menunjukkan bahwa saat itu ia tidak sedang tersiksa, ia seperti sedang baik-baik saja. Padahal, menurut tafsiran Enduring World, orang itu hidup lebih seperti hewan liar daripada manusia, tinggal di kuburan yang menunjukkan ia seperti berada di antara orang hidup dan orang mati. Hidupnya begitu tersiksa karena roh jahat itu sering menyeret-nyeret tubuhnya, sehingga ia seperti menyakiti diri sendiri. Jika kita membandingkan dengan gambaran yang ditulis dalam Markus 5: 5, ia sering teriak-teriak dan memukul diri sendiri dengan batu. Ia memiliki perilaku yang tidak terkendali, bahkan punya kekuatan yang besar/super hingga mampu memutuskan belenggu yang sering diikatkan pada tangan dan kakinya. Tentu saja mengikatnya dan mengusirnya dari lingkungan masyarakat akan lebih membuat penduduk merasa aman, sehingga akhirnya ia tidak mengganggu orang lain, tetapi dia semakin tersiksa. Orang itu disiksa oleh roh jahat yang ada dalam dirinya, namun juga disiksa oleh lingkungan yang tidak peduli padanya dan menyingkirkannya. Dan ketika ucapan: “janganlah menyiksa aku,” merupakan ucapan roh jahat yang mengidentifikasi diri dengan nama “Legion.” Legion sesungguhnya bukanlah nama setan, melainkan pernyataan dari roh-roh jahat yang menguasai orang itu. Legion merupakan istilah sekelompok prajurit Romawi dengan jumlah pasukan 6000 infanteri (pasukan tempur darat yang berjalan kaki) dan 120 kavaleri (pasukan berkuda). Kata “legion” juga digunakan dalam Matius 26:53 untuk menjelaskan tentang pasukan malaikat sehingga ini tidak menunjukkan bahwa ada sekitar 6000 setan dalam diri orang itu, melainkan roh-roh jahat itu hendak menunjukkan kekuatan mereka. Dapat dibayangkan betapa tersiksanya hidup orang itu selama ini. Namun, para setan meminta pada Yesus agar mereka tidak disiksa dengan disuruh untuk masuk ke dalam jurang maut atau dalam bahasa Yunani abusson yang berasal dari kata abyssos. Kata ini berarti lubang yang tidak ada dasarnya, dan menggambarkan tempat setan-setan, tempat orang mati (Rm. 10:7), dan tempat siksaan (Why. 9:11, dll). Mereka memohon kepada Yesus untuk memperkenankan mereka memasuki sekawanan besar babi yang ada di sekitar tempat itu. Meski jumlah setan-setan ini sangat banyak, namun mereka tidak memiliki kuasa yang lebih besar daripada kuasa Yesus, bahkan mereka harus meminta izin untuk pindah ke tubuh binatang. Sebagaimana ketika merasuki tubuh manusia, setan-setan itu menyiksa tubuh manusia yang dirasukinya, ketika memasuki tubuh kawanan babi, mereka pun menyiksa tubuh babi-babi itu hingga kawanan babi itu terjun dari tebing yang curam, masuk dalam danau dan mati. Orang yang sebelumnya kerasukan roh jahat itu pun sembuh. Kita dapat membayangkan betapa bersyukurnya ia bahwa bukan ia yang mati, melainkan babi-babi, meski secara manusiawi hidupnya tidak terjamin dan tidak sehat serta dapat mati kapan saja. Apalagi setan-setan itu cukup lama menyiksa tubuhnya. Yesus tahu apa yang dialaminya sehingga Yesus nampak sengaja datang ke tempat itu hanya untuk menyelamatkannya, membebaskannya dari siksaan roh-roh jahat dan penderitaan hidup. Sebab, setelah orang itu sembuh, para penjaga babi pergi ke kota dan menceritakan pada para penduduk kota tentang apa yang terjadi. Para penduduk kota (bisa kita bayangkan pula, mungkin ada keluarga dari orang yang pernah kerasukan itu) datang ke lokasi dan melihat Yesus dengan orang itu yang kini sudah berpakaian dan sudah waras. Bukannya mereka bersyukur, mereka malah merasakan takut, bahkan ayat 37 menyebutkan bahwa mereka “sangat ketakutan” sehingga akhirnya mereka mengusir Yesus. Yesus pun pergi tanpa berargumen. Yesus hanya fokus menolong orang yang tersiksa itu. Tidak ada catatan yang jelas juga mengenai mengapa para penduduk merasa takut, namun kemungkinan besar karena mereka melihat kuasa Yesus yang besar. Mungkin saja mereka sudah pernah melakukan berbagai cara menolong orang itu, tetapi setan-setan yang ada dalam diri orang itu terlalu besar. Ketika Yesus bisa mengusir setan-setan yang banyak itu, perasaan takut muncul dalam diri mereka karena mereka cukup kaget dan tidak siap dengan perubahan yang terjadi pada orang itu. Sebagaimana orang ketika mengalami ketakutan, solusi yang dicari adalah menghindar dari sumber ketakutan atau mengusir sumber ketakutan itu, demikian pula yang dilakukan penduduk Gerasa dalam cerita ini. Ketika orang yang kerasukan membuat mereka takut, mereka mengusirnya dari kota dan membuat dia berada di kuburan. Ketika Yesus yang memiliki kuasa besar mengusir setan, mereka takut dan akhirnya mengusir Yesus pula. Mereka mengira bahwa itulah solusi atau jalan keluar terbaik, namun tentu saja itu tidak akan mengubah dan memulihkan kehidupan mereka. Oleh sebab itu, meski nampak baik bagi orang yang telah pulih itu untuk mengikut Yesus, Yesus memintanya untuk pulang ke rumahnya dan menceritakan kepada semua orang di kota itu tentang apa yang telah dilakukan Yesus untuk dirinya. Injil terus disampaikan. Kabar baik tentang kasih Tuhan Yesus terus disampaikan. Entah apa yang akan terjadi ketika orang itu pulang ke rumah, ke keluarganya. Namun yang pasti, bila ia selama ini bisa bertahan dengan kehidupan yang penuh penderitaan dan siksaan dari para roh jahat yang menguasainya selama ini, ia pasti bisa menghadapi tantangan apapun dan akhirnya menjadi pemberita Injil yang luar biasa untuk keluarganya dan seluruh penduduk yang selama ini telah menolaknya dan menempatkannya di kuburan. Pokok Pikiran Kasih dan perhatian Tuhan Yesus yang mencari, menemukan, dan memulihkan orang yang kerasukan pasti akan ditunjukkan-Nya pula bagi setiap orang yang menderita dan tersiksa. Mereka yang mengalami pemulihan hidup diharapkan terus bersaksi tentang kasih dan pertolongan Tuhan Yesus dalam kehidupannya. Kuasa Tuhan Yesus yang begitu besar dapat menaklukkan pasukan setan. Artinya, tidak ada kuasa yang lebih besar dari kuasa Tuhan Yesus. Dengan demikian, setiap anak-anak Tuhan diharapkan memiliki iman percaya yang besar kepada Tuhan Yesus yang mampu melawan segala bentuk ketakutan dalam hidup dan intimidasi setan/iblis. Seringkali orang mencari solusi yang mudah, tetapi bila persoalan terasa semakin mengganggu, maka persoalan itu diabaikan, dihindari atau disembunyikan. Misalnya, orang-orang dengan disabilitas atau senang protes dan memberi kritikan dianggap mengganggu. Mereka dikucilkan, disingkirkan, diabaikan, sehingga mereka merasa menderita/tersiksa dalam kesendiriannya. Daftar Acuan https://www.threads.net/@psikolog_yanny/post/DBVE8paycmw https://tesaurus.kemdikbud.go.id/tematis/lema/tersiksa https://enduringword.com/bible-commentary/luke-8/ Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 1, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta: 1994 (cet. Ke-2). (Elsa Novita Tureay) Minggu Ketiga Sesudah Pentakosta 29 Juni 2025 Pembacaan Alkitab Lukas 9:51-62 Nas Pembimbing Lukas 9:62 Mazmur Mazmur 77:1-20 Pokok Doa Mendoakan Kesejahteraan Keluarga Indonesia (Hari Keluarga Berencana-29 Juni) Mendoakan Jemaat Cipatat (24 Juni 2019) Mendoakan Jemaat Smirna Cikarang (25 Juni 2002) Mendoakan Jemaat Cimuning Nyanyian Tema KJ 422:1-2 “Yesus Berpesan” Warna Liturgis Hijau MENGIKUT YESUS: SEBAGAI PRIORITAS? Pengantar Setiap tujuan yang ingin dicapai membutuhkan strategi pencapaian. Strategi tersebut di antaranya menetapkan prioritas, di samping aspek perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, monitoring, dan evaluasi. Prioritas adalah hal yang kita anggap paling penting untuk diutamakan dibandingkan dengan yang lainnya. Mengapa penting? Karena prioritas akan menjadi pemandu dalam mencapai tujuan yang ditargetkan dengan jalan menyusun perencanaan dan menetapkan langkah apa yang akan dilakukan, serta menggunakan sumber daya yang tersedia. Dengan prioritas bisa lebih memiliki arah dan fokus. Lebih produktif, efektif, dan efisien. Akan tetapi kenyataannya, seringkali kita diperhadapkan pada godaan yang membawa kita keluar dari jalur dan peta yang ada dan membawa kita keluar dari prioritas. Godaan bisa membawa kita tidak fokus atau keluar dari prioritas itu bisa datang dari dalam diri sendiri, misal kenyamanan jangka pendek, takut gagal dll. Namun bisa juga dari luar diri kita, seperti tekanan sosial. Demikian juga halnya dalam mengikut Yesus membutuhkan tekad, motivasi dan komitmen yang kuat dalam menjalaninya. Penjelasan Teks Dimulai ayat 51, perkataan “hampir genap waktunya Yesus diangkat ke surga”. Kata diangkat atau pengangkatan Yesus perlu dipahami dalam arti yang luas dan dilihat secara keseluruhan yakni dalam konteks penderitaan, kematian, kebangkitan dan kemuliaanNya. Bahkan konteks ini dipertegas dengan menyebutkan tujuan kepergian-Nya untuk menggenapi tugas di Yerusalem. Dengan penuh kesadaran dan komitmen Yesus menerima dan menempuh jalan yang menuju penderitaan dan kematian untuk mewujudkan karya Agung Allah yaitu penebusan dan penyelamatan manusia. Selanjutnya dalam perikop dicatat, untuk menuju ke Yerusalem Yesus memilih untuk melewati Samaria dan bahkan bermalam di situ. Pilihan Yesus melewati Samaria tentu bukan pilihan pada umumnya, karena biasanya orang-orang Yahudi tidak memilih melewati daerah Samaria meskipun jalur tersebut lebih dekat menuju Yerusalem. Hal ini disebabkan hubungan kedua bangsa ini tidak harmonis. Kemudian Yesus mengirimkan beberapa utusan untuk mendahuluiNya dan mempersiapkan segala sesuatunya. Tetapi orang-orang Samaria menolak (tidak mau menerima) mereka. Sikap penolakan ini dapat dijelaskan dalam konteks orang Samaria memandang orang Yahudi sebagai musuh dan sebaliknya. Hubungan antara orang Yahudi dan orang Samaria sangat buruk. Di mata orang Yahudi orang Samaria adalah bangsa campuran, “murtad” dan dianggap hina. Pada ayat 54-56, ketika beberapa orang utusan yang mendahului itu tidak diterima (ditolak) sebagaimana yang dicatat ayat 53, maka bangkitlah amarah Yakobus dan Yohanes. Mereka menganggap sikap orang-orang Samaria itu sebagai penghinaan terhadap Yesus, dan karenanya merasa berhak untuk menghukum mereka. Kemudian mereka berkata sebagaimana yang dicatat pada ayat 54:”Tuhan apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?”. Tetapi Yesus menegur murid-murid itu (ay. 55) dan mencari tempat penginapan ke desa yang lain, maksudnya tentu suatu tempat di mana orang-orang bersedia menerima Yesus. Dalam hal “desa lain”, penting untuk mendapat perhatian bahwa dalam ayat 56 tidak disebutkan bahwa Yesus pergi ke suatu desa Yahudi. Sebaliknya, mungkin yang dimaksudkan “desa lain” adalah suatu desa orang-orang Samaria. Tindakan Yesus mengingatkan sikap respek, inklusif dan toleransiNya. Implementasi dari sikap ini tidak saja ditujukan kepada orang-orang sebangsa (Yahudi), tetapi juga terhadap “orang luar” seperti orang-orang Samaria yang dianggap sebagai orang kafir. Penulis Injil Lukas ingin memberikan perhatian bagaimana Yesus membela orang-orang Samaria dan menentang anggapan orang-orang Yahudi yang memandang rendah orang Samaria. Pada ayat 57-62 merupakan bagian pengajaran mengenai hal mengikut Yesus. Dicatat dalam teks bahwa Yesus dan murid-muridNya melanjutkan perjalanan ke Yerusalem. Di sepanjang perjalanan itu terjadi percakapan yang sangat menarik mengenai pokok pengajaran mengikut Yesus. Ada satu catatan yakni seseorang yang tidak diceritakan dalam Injil Lukas, tetapi disebutkan dalam paralelnya yakni Injil Matius 8:19-22 bahwa ada seorang Ahli Taurat yang menyatakan isi hatinya kepada Yesus dan berkata:” Aku akan mengikut Engkau kemana saja Engkau pergi”. Tetapi Yesus berkata, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya”. Melalui perkataan-Nya ini Tuhan Yesus ingin menyatakan bahwa hal mengikut-Nya jangan karena dorongan keinginan daging (hawa nafsu), sikap tergesa-gesa dan tanpa perhitungan yang matang. Hal mengikut Yesus harus didasarkan pada kesadaran diri penuh dalam mengambil keputusan tanpa paksaan. Harus ada kejujuran, ketulusan dan kerendahan hati. Mengikut Yesus seharusnya merupakan hasil sebuah ketetapan dan kebulatan hati, sehingga tidak mudah digoyahkan oleh oleh goncangan dan tekanan apapun. Yesus menyampaikan suatu peringatan penting mengenai hal mengikut-Nya, yakni bahwa Ia tidak menjanjikan sesuatu yang bersifat material, namun sebaliknya, dalam menjadi muridnya seseorang harus siap sedia menanggung kemiskinan dan penderitaan. Karena itu Yesus menyatakan Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepalaNya. Kemudian ada seorang lagi yang menyatakan diri ingin mengikut Yesus, tetapi ia meminta izin terlebih dahulu untuk menguburkan bapaknya. Merespon keinginan Yesus berkata: ”ikutlah Aku”. Jawaban Yesus atas permintaannya (ay. 60): “biarlah orang mati menguburkan orang mati”. Perkataan ini tidak boleh diartikan bahwa Yesus mengajarkan para pengikutNya untuk bersikap tidak wajar (tidak etis/ tidak sopan) kepada orangtua. Relasi dan tata-hubungan kekeluargaan tetap harus dijaga dengan baik selaku pengikut Yesus. Inti yang dimaksud melalui pengajaran ini Yesus ingin menegaskan bahwa selaku murid-Nya jangan seseorang membuat dalih dan argumen apapun untuk meninggalkan kewajibannya terhadap Allah. Murid-murid dipanggil untuk menjadi pelayan, dan jangan lagi memusingkan diri lagi dengan soal-soal lain. Yang terakhir, “meminta untuk berpamitan dengan keluarganya”. Yesus menegaskan bahwa pelayanan Injil harus ditempatkan sebagai yang prioritas. Perkataan Yesus ini dimaksudkan untuk memperingatkan orang-orang supaya mereka memiliki kesadaran dan motivasi benar jika mereka mau mengikut Yesus. Mengikut Yesus berarti melepaskan diri dari berbagai ikatan lain yang terkadang dipandang memberikan keamanan dan ketentraman. Mengikut Yesus bukan berarti dipuji dan disambut dengan penghormatan. Tetapi hal mengikut Yesus itu bagai seorang musafir yang dianggap sebagai orang asing yang tidak disukai, karena terkadang harus memilih berbeda dari dunia-nya karena ketaatan dan loyalitasnya kepada Tuhan. Bahkan hal mengikutbYesus haruslah bersikap radikal. Radikal dalam pengertian bersedia memutuskan ikatan-ikatan yang paling akrab dengan sekitarnya (menguburkan ayah, pamitan dengan keluarga dll), bila ikatan-ikatan itu berlawanan dengan norma Kristus. Pokok Pikiran Manusia yang pada dirinya telah mengalami kerusakan total akibat dosa “hamartia” yaitu telah melenceng dari tujuan yang diharapkan, sehingga selalu gagal melakukan yang baik dan benar di hadapan Allah. Manusia diperhadapkan pada situasi paradoksal, yakni situasi ingin melakukan kehendak Allah dengan segala usaha terbaiknya, namun selalu gagal untuk melakukannya. Sebagaimana Rasul Paulus nyatakan dalam Roma 7:19 “Sebab bukan apa yang aku kehendaki yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat yang aku perbuat”. Sehingga jalan keselamatan umat hanya melalui percaya dan iman kepada penebusan Kristus. Keselamatan adalah Anugerah Allah (Kasih Karunia) sebagai “a gift of grace” yaitu kemurahan, pemberian, dan belas kasihan Allah. Oleh sebab itu, sebagai orang-orang yang telah menerima Kasih Karunia Allah/ Anugerah Allah, maka umat harus memaknai hidup dalam Anugerah Allah tersebut. Hidup selaku murid/ pengikut Yesus adalah hidup dalam Anugerah Allah. Hidup dalam kelimpahan kemurahan, kasih. dan kerahiman Allah. Umat tidak lagi hidup dalam perspektif spiritualitas yang membawa daya kematian, baik bagi sesamanya dan lingkungan. Namun sebaliknya, umat menghidupi spiritualitas yang menghidupi. Umat memiliki kesadaran dan motivasi yang benar dalam mengikut Yesus. Hal mengikut Yesus itu bagai seorang musafir yang dianggap sebagai orang asing yang tidak disukai, karena terkadang harus memilih berbeda dari dunia-nya karena ketaatan dan loyalitasnya kepada Tuhan. Mengikut Yesus berarti melepaskan diri dari berbagai ikatan lain yang terkadang dipandang memberikan keamanan dan ketentraman. Ketaatan dan loyalitas kepada Tuhan menjadi prioritas bukan kepada yang lainnya, sehingga dimampukan untuk melakukan tugas panggilan dengan penuh tanggungjawab. Hidup dalam Anugerah Allah adalah cara hidup yang memiliki sikap respek, inklusif, dan toleran terhadap semua orang. Daftar Acuan Alkitab (Edisi Studi, Lembaga Alkitab Indonesia, 2011. Barclay, William. Pemahaman Alkitab Setiap Hari Injil Markus. Jakarta BPK Gunung Mulia, 2006. Tafsir Alkitab Injil Lukas, BJ. Boland, P.S. Naipospos William Barclay, Pemahaman Alkitab setiap hari Cepreaching.org/commentary (Agustria Empi)
Daftar Label dari Kategori DPA Minggu GKP 2025 | NEXT: DPA Minggu GKP Juli 2025 PREV: DPA Minggu GKP Mei 2025 | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |