gkp.lagu-gereja.com

DPA Minggu GKP 2025
DPA Minggu GKP Juli 2025
#tag:

Minggu Keempat Sesudah Pentakosta

6 Juli 2025


Pembacaan Alkitab
Lukas 10:1-12
Nas Pembimbing
Lukas 10:3
Mazmur
Mazmur 66:1-12
Pokok Doa
Mendoakan sumber kekayaan alam di perairan Indonesia (Hari Kelautan-2 Juli)
Mendoakan Jemaat Cideres (1 Juli 1883)
Mendoakan Jemaat Ciranjang
Nyanyian Tema
NKB 210 : 1,4,5 ”Ku Utus Kau” 
Warna Liturgis
Hijau 


DIUTUS SEPERTI ANAK DOMBA DI TENGAH SERIGALA

Pengantar 
    Jim Elliot (1927-1956) adalah seorang misionaris Amerika yang berkomitmen untuk memberitakan Injil kepada suku Waodani di Ekuador. Walaupun Elliot tahu bahwa suku tersebut dikenal sebagai masyarakat yang agresif, tetapi Elliot dan rekan-rekannya tetap melanjutkan misi mereka. Elliot berkata, “Perintah bagi kami adalah: Injil bagi setiap makhluk.” Pada 8 Januari 1956, Elliot dan rekan-rekan lainnya dibunuh dengan cara ditombak saat mereka mencoba untuk menjangkau masyarakat suku Waodani. Meskipun tragis, kisah hidup dan pengorbanan mereka menginspirasi banyak orang untuk terus melanjutkan pekerjaan misi di tempat-tempat yang berbahaya. 
Memang tidak mudah untuk diutus mengerjakan pekerjaan Tuhan, terlebih kita tidak dapat menutup mata, ada banyak tantangan dan kesulitan yang mungkin dihadapi. Tantangan saat ini mungkin tidak seperti yang dialami oleh Elliot, tetapi tetap saja ada kesulitan misalnya persoalan jarak, ekonomi, kesiapan mental, dst., sebagaimana tema renungan saat ini, diutus seperti anak domba di tengah serigala. 

Penjelasan Teks 
    Bacaan ini adalah bagian perikop yang menunjukkan pola pengutusan dan metode penginjilan yang Tuhan Yesus kehendaki kepada para murid-Nya. Para murid diutus untuk menjadi pemberita Injil di setiap tempat yang hendak Tuhan Yesus kunjungi. Sebelum Tuhan Yesus mengunjungi tempat-tempat tersebut, diperlukan para murid yang mendahuluinya. Hal ini termasuk salah satu stategi penginjilan yang diawali dengan persiapan. Pada ayat 1, dikatakan bahwa murid-murid Yesus diutus mendahului Yesus dengan strategi berdua-dua. Dalam tradisi Yahudi, seseorang dapat diterima kesaksiannya jika ada minimal dua orang yang bersaksi serupa. Inilah yang dimungkinkan sebagai cara yang tepat bagi para murid diutus dengan metode berdua-dua. Tujuannya supaya mereka dapat saling menguatkan dan mendukung satu sama lain. Jika ada kesulitan, maka mereka dapat saling menolong. Tujuh puluh orang yang diutus itu harus mendahului Yesus dan mempersiapkan jalan. 
    Tuhan Yesus juga melihat sebuah realitas yang sangat mendesak untuk dikerjakan para murid-Nya. Tuaian banyak, tetapi pekerja sedikit. Ada ketidakseimbangan yang terlihat dari perkataan Yesus tersebut. Beberapa kemungkinan yang terjadi adalah karena pekerjaan untuk menuai memiliki risiko yang besar. Bahkan, Tuhan Yesus menggambarkan risiko tersebut seperti anak domba di tengah-tengah serigala (ay. 3). Anak domba menyimbolkan kesadaran adanya ketidakberdayaan, sedangkan serigala menyimbolkan ada banyak ancaman dan bahaya yang akan dihadapi. Banyak ancaman yang dimungkinkan terjadi, sehingga muncul jugalah keraguan banyak orang untuk memilih bekerja di kebun Tuhan (bdk. Luk. 9:57-62).  
    Dalam pengutusan tersebut, Tuhan Yesus juga mengingatkan untuk tidak membawa perbekalan. Tidak membawa kantong (dompet) yang berisi uang, karung kulit (tas), dan sandal (alas kaki). Beberapa benda yang dituliskan dengan jelas untuk tidak dibawa ini memiliki arti, supaya para murid tidak disibukkan dengan kebutuhan jasmani saat memberitakan Injil. Akan tetapi, mereka perlu fokus pada kabar baik yang harus diberitakan tersebut. 
    Kemudian, saat datang ke salah satu tempat atau rumah, maka perlu didahului dengan memberi salam damai sejahtera (ay. 5-6). Hal ini merujuk pada tujuan pemberitaan Injil. Di dalamnya, penginjilan perlu menghadirkan damai sejahtera. Dengan demikian, orang-orang yang belum percaya dapat mengenal Allah melalui Yesus Kristus. Memberi salam, artinya sedang disampaikan damai sejahtera kepada orang yang menerima salam. Jika salam itu disambut, maka ia telah menerima damai dalam Tuhan, jika tidak maka damai itu kembali kepada yang memberi salam. 
Tuhan Yesus juga memberikan gambaran bahwa dalam pemberitaan Injil, para murid akan menerima dua respons yang berbeda, yakni penerimaan atau penolakan. Masing-masing respons tersebut akan menimbulkan dampak, baik pada pendengar maupun pemberita Injil. Jika Injil diterima di suatu tempat tersebut, maka pemberita Injil harus tetap tinggal di sana. Artinya, tetap tinggal merujuk pada menetap, tidak pergi, dan terus hadir untuk menjaga secara berkelanjutan. Tujuannya, supaya para murid yang memberitakan Injil dapat memelihara dan membangun spiritualitas penerima Injil. Mereka harus terus mengajar dan menyatakan mukjizat (menyembuhkan yang sakit dan mengusir kuasa iblis). Akan tetapi, jika pemberitaan Injil itu mengalami penolakan, maka “kebaskanlah debu.” Frasa “kebaskan” berasal dari bahasa Yunani áπομáσσω (apomassō) dengan makna: untuk menghapus, untuk menghapus diri sendiri. Kebaskan debu ini merupakan adat dari Yahudi yang merupakan suatu peringatan bagi penduduk kota tersebut bahwa hal ini sebagai tanda dan kesaksian yang akan menjadi bukti dan memberatkan atas dosa mereka pada hari penghukuman Allah.

Pokok Pikiran 
Diutus seperti anak domba di tengah serigala. Ini adalah perkataan Tuhan Yesus yang menggambarkan bahwa tugas pengutusan tidaklah mudah untuk dijalani. Akan tetapi, tugas ini penting untuk dihayati dan direspons para pengikut Kristus. Walaupun ada tantangan, berita sukacita Injil harus terus dikabarkan dalam peran-peran yang dapat dinyatakan. 
Menjalani tugas pengutusan diperlukan persiapan. Tuhan Yesus mempersiapkan tujuh puluh pengikut-Nya untuk menjalani tugas pengutusan dengan peringatan-peringatan untuk tidak fokus pada pemenuhan jasmani. Dengan keyakinan bahwa Tuhan tetap memenuhi kebutuhan umat-Nya. Begitupun pengutusan berdua-dua yang menggambarkan dan mengingatkan bahwa kita tidak pernah sendirian dalam menjalani tugas pengutusan. Akan selalu ada rekan/sahabat yang berjuang bersama dalam menjalani tugas pengutusan tersebut. Dengan demikian, walaupun akan menjumpai kesulitan, masing-masing dapat saling menguatkan dan memberikan pertolongan. 
Ada konsekuensi yang dimungkinkan untuk diterima saat menjalani tugas pengutusan. Diterima atau ditolak. Jika berita sukacita itu diterima dengan baik, maka karya Tuhan sedang dinyatakan di sana. Akan tetapi, jika mengalami penolakan, maka tidak perlu patah hati berkelanjutan. “Kebaskanlah debu” memberikan pengajaran bahwa ada peringatan bagi orang-orang yang menolak kabar sukacita. Mereka akan menerima upahnya di hari penghukuman. 

Daftar Acuan 
Henry, Matthew. Tafsiran Injil Lukas 1-12. Edited by Johnny Tjia, Barry van der Schoot, and Irwan     Tjulianto. 2nd ed. Surabaya: Momentum Christian Literature, 2016
Masihoru, Olivia. “Relevansi LUKAS 10:1-12 Bagi Hamba Tuhan Sebagai Pelaksana Misi Allah.” Missio     Ecclesiae 5, no. 2 (2016).
Jim Elliot: Story and Legacy. 2022. Diakses melalui https://www.christianity.com/church/church-    history/timeline/1901-2000/jim-elliot-no-fool-11634862.html


(Alfa Gracia K. Setra)

Minggu Kelima Sesudah Pentakosta

13 Juli 2025

HPI GKP 
(11 JULI)
PERJAMUAN KUDUS


Pembacaan Alkitab
Lukas 10:25-37
Nas Pembimbing
2 Timotius 4:2
Mazmur
Mazmur 25:1-10
Pokok Doa
Mendoakan Pekabaran Injil GKP melalui Badan-badan Pelayanan
Mendoakan Jemaat “Immanuel” Pacet (15 Juli 1957)
Mendoakan Jemaat Cirebon
Nyanyian Tema
KJ 391:1,4 “Puji Tuhan, Haleluya” atau 
NKB 204:1,2 “Di Dunia Yang Penuh Cemar”
Warna Liturgis
Merah


PERGILAH, DAN PERBUATLAH DEMIKIAN!

Pengantar
Ada orang yang tidak berhenti belajar. Buku yang telah dibaca tidak lagi terhitung banyaknya. Waktu yang dihabiskan di bangku sekolah juga sudah banyak. Nilai diperoleh di akhir studi membuat orang lain berdecak kagum. Gelar akademis yang diraih dan dimiliki pun berbaris manis di belakang nama. Hal ini membuat dirinya menjadi dikenal sebagai orang yang pintar, berpengetahuan luas, dan berilmu tinggi. Yang jadi persoalan adalah bila semua pengetahuan dan ilmu yang diperoleh hanya berhenti sebagai pengetahuan dan tanpa diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari dan tanpa dipraktikkan dalam tindakan. Semuanya sebatas pengetahuan dan ilmu saja, tetapi tidak ada gunanya bagi orang lain. Sudah bergelar dokter bahkan spesialis, tetapi hanya duduk manis di rumah saja dan tidak buka praktik. Sudah bergelar insinyur teknik sipil, tetapi tidak pernah sekalipun membangun bangunan, bahkan yang sederhana sekalipun. Ini sama saja dengan seseorang yang melahap ratusan buku resep masakan, tetapi tidak pernah turun ke dapur dan mulai memasak resep yang ia pelajari. 
Kita sebagai orang Kristen sudah cukup banyak mendengar pemberitaan Firman Tuhan, entah itu melalui khotbah atau penelaahan Alkitab. Pertanyaannya adalah apakah kita mempraktikkan ajaran Firman Tuhan itu di dalam kehidupan sehari-hari? Kita tahu banyak tentang siapa Yesus, tetapi apakah kita belajar dari Tuhan Yesus dan meneladani hidup-Nya? Kita tuntas baca Alkitab mulai dari kitab Kejadian sampai Wahyu, bolak balik. Hanya saja, tidak ada satu ayat pun yang dipraktikkan di dalam kehidupan. Tahu tentang mengasihi, tetapi tidak mengasihi. Tahu tentang panggilan untuk melayani, tetapi maunya terus dilayani. Bisa jadi, pengetahuan isi Alkitab itu begitu luas dan dalam, sedangkan praktiknya kosong melompong. Tahu bermacam ragam teologi, tetapi hidupnya jauh dari kebenaran Firman Tuhan. Semua hanya teori. Jauh asap dari api.

Penjelasan Teks 
Teks bacaan Firman Tuhan hari ini bukanlah teks yang asing bagi kita. Teks ini sering menjadi teks yang diulas dalam khotbah, renungan, dan penelaahan Alkitab. Kita mungkin sudah punya asumsi tertentu tentang tema apa yang hendak diangkat. 
Lukas mencatat ada seorang ahli Taurat yang bertanya kepada Tuhan Yesus. Motivasinya jelas yaitu hendak mencobai Tuhan Yesus. Persoalan teologis yang ahli Taurat angkat adalah bagaimana cara ia dapat memperoleh hidup yang kekal. Sebenarnya, ahli Taurat ini tahu jawaban terhadap pertanyaannya tadi setidaknya dari sudut pandang sebagai seorang ahli agama Yahudi. Meskipun demikian, ia tetap bertanya tentang persoalan teologis itu kepada Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tahu betul apa yang menjadi motivasi si ahli Taurat. Tuhan Yesus menjawabnya dengan balik bertanya kepada si ahli Taurat. Dengan cerdas, Tuhan Yesus bertanya dengan memakai apa yang sebenarnya menjadi keahlian si ahli Taurat itu, yaitu hukum Taurat. Maka, pertanyaan Tuhan Yesus sepertinya sedang menguji balik si ahli Taurat, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” (LAI TB1). Kita yakin si ahli Taurat sepertinya “terjebak” ikut “permainan” Tuhan Yesus. Ia diduga berpikir, “Wah ini mah makanan saya sebagai seorang ahli Taurat. Ada segudang ilmu hukum Taurat yang saya kuasai.” Ia pun menjawab dengan mengutip isi Imamat 19:18 dan Ulangan 6:5, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Jawaban si ahli Taurat tepat, karena ia mengutip dari kitab Taurat yang ia kuasai betul. Tuhan Yesus merespons dengan tegas, lugas, dan tepat pada sasaran, “Jawabmu itu benar; berbuatlah demikian, maka engkau akan hidup”.
Sebenarnya, sampai di sini persoalan teologis tentang “memperoleh hidup  yang kekal” itu sudah terjawab sendiri oleh jawaban si ahli Taurat. Tuhan Yesus tahu betul akan kedalaman pengetahuan si ahli Taurat. Yang jadi persoalan adalah bukan hanya soal motivasi si ahli Taurat saja, melainkan juga bahwa kedalaman pengetahuan si ahli Taurat berhenti di pengetahuan. Si ahli Taurat dipastikan bukanlah orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati dan dengan segenap dan dengan segenap kekuatan, serta dengan segenap akal budi; apalagi mengasihi sesama manusia seperti ia mengasihi dirinya sendiri. Oleh karena itu, Tuhan Yesus mengatakan “perbuatlah demikian” maka persoalan hendak memperoleh “hidup kekal” itu pun selesai.
Rupanya si ahli Taurat tidak puas. Ia melihat ada celah mengangkat persoalan teologis selanjutnya, yaitu siapa yang dimaksud dengan sesamanya manusia. Untuk menjawab pertanyaan ini, Tuhan Yesus bercerita tentang ada seorang yang sedang dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho. Orang ini dirampok oleh penyamun-penyamun yang merampoknya habis-habisan dan meninggalkan orangnya hampir mati. Lalu, berturut-turut ada orang lain yang melewati tempat si korban, yaitu seorang imam, seorang Lewi, dan seorang Samaria. Dua orang pertama hanya lewat saja dan tidak menolong si korban. Sementara itu, orang Samaria yang dipandang sebelah mata oleh orang-orang Yahudi, berhenti membantu si korban. Bantuannya bahkan lebih dari yang dibilang cukup. Orang Samaria ini menaikkan si korban ke keledai tunggangannya (itu artinya si orang Samaria harus berjalan kaki), membawa si korban di sebuah penginapan, lalu merawatnya satu hari penuh (waktunya yang mungkin berharga dipakai untuk merawat orang yang ia tidak kenal). Bahkan, ia meminta pemilik penginapan untuk merawat si korban dan memberi uang dari kantongnya sendiri kepada si pemilik penginapan untuk membelanjakan apa yang menjadi keperluan si korban selama di rawat di penginapan. Lebih dari itu, si orang Samaria berjanji akan datang kembali dan siap mengganti biaya ekstra dari dua dinar yang ia berikan yang mungkin dikeluarkan si pemilik penginapan. Setelah menuturkan cerita ini, Tuhan Yesus bertanya kepada si ahli Taurat. Pertanyaan sederhana dari cerita yang sepertinya menjadi contoh kasus tentang “siapa sesamaku manusia”. Tuhan Yesus bertanya dari ketiga tokoh yang muncul setelah si korban jatuh ke tangan penyamun, siapa yang menjadi sesama manusia dari si korban. Sebagai orang yang cerdas, si ahli Taurat dengan mudah menjawab, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya”, alias orang Samaria yang baik hati itu (ini menarik juga untuk diperhatikan, betapa sebagai orang Yahudi, si ahli Taurat tidak mau secara terang-terangan mengatakan “Orang Samaria yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya”. Si ahli Taurat memilih kata “orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya”. Ini jadi gambaran betapa orang Samaria, sebaik apa pun, tetap dilihat sebelah mata oleh orang-orang Yahudi).
Tentu saja jawaban si ahli Taurat betul. Tuhan Yesus untuk kedua kalinya mengatakan, “.. perbuatlah demikian”, hanya saja kali ini Tuhan Yesus menambah kata perintah “Pergilah” (Bhs. Yun. poreuomai; memiliki makna antara lain “memulai perjalanan”). Kata “pergilah” ini seakan hendak menekankan kepada si ahli Taurat untuk, “Sudah! Cukup bicara-bicara saja! Sekarang lakukan apa yang kamu ketahui!” Perintah “pergilah” yang sepertinya benar-benar harfiah memerintahkan si ahli Taurat itu pergi kembali ke kehidupannya dan mulai melakukan apa yang menjadi pengetahuannya akan isi kitab-kitab Taurat. Perintah “pergilah” yang juga bisa kita maknai sebagai perintah Tuhan Yesus kepada si ahli Taurat untuk berhenti sekedar tahu isi kitab-kitab Taurat dan mulai untuk mempraktikkan pengetahuannya itu. Perintah “pergilah” yang bisa saja kita maknai, “Sudah jangan banyak tanya dan mempermasalahkan kebenaran Firman Tuhan! Lakukan saja!”.

Pokok Pikiran 
Penekanan khotbah hari ini bukanlah pada tafsiran akan isi cerita yang Tuhan Yesus sampaikan kepada si ahli Taurat, yaitu tentang orang Samaria yang baik hati. Fokus kita adalah pada ada dua kali Tuhan Yesus berkata kepada si ahli Taurat, yaitu “... perbuatlah demikian...” dan “pergilah, dan perbuatlah demikian”. Perkataan Tuhan Yesus ini bukan saja ditujukan kepada si ahli Taurat, melainkan juga kepada kita semua.
Dua perintah Tuhan Yesus kepada si ahli Taurat, adalah perintah yang hari kita renungkan bersama, baik itu melalui khotbah hari ini maupun secara pribadi. Perintah Tuhan Yesus ini harusnya pertama-tama membuat kita berpikir apakah kita adalah orang-orang yang sudah mempraktikkan kebenaran Firman Tuhan itu di dalam kehidupan sehari-hari atau belum. Seberapa sering kita mendengar khotbah? Berapa sering kita ikut kegiatan Penelaahan Alkitab? Berapa sering kita ikut Kebaktian Penyegaran Iman/ Kebaktian Kebangunan Rohani? Seberapa rajin kita membaca Alkitab? Berapa kali kita tuntas baca Alkitab? Berapa banyak ayat Alkitab kita ingat luar kepala? Berapa banyak ayat yang kita sukai dan katakan sebagai “ayat mas”? Pertanyaan kritis terhadap diri sendiri kini adalah apakah kita menjadi orang-orang yang mempraktikkan Firman Tuhan yang telah kita dengar, renungan, baca, hafal, dan tahu, di dalam kehidupan sehari-hari?
Dua perintah Tuhan Yesus yang kita baca dari perikop ini ditujukan kepada kita juga, yaitu untuk tidak hanya menjadi pendengar Firman Tuhan yang baik, tetapi juga menjadi pelaku Firman Tuhan yang mempraktikkan di dalam seluruh aspek kehidupan kita. Kita praktikkan di tempat kita menuntut ilmu, tempat kita bekerja, tempat kita berusaha, di dalam rumah tangga dan keluarga, dalam hidup bermasyarakat dan bertetangga, apalagi di dalam hidup persekutuan kita sebagai orang percaya. Firman Tuhan katakan “kasihilah”, maka perbuatlah demikian. Firman Tuhan katakan “jangan berbuat dosa lagi”, maka perbuatlah demikian. Firman Tuhan katakan, “beritakan Injil”, maka perbuatlah demikian.

Daftar Acuan 
Aplikasi E-Sword (versi terbaru) yang di dalamnya sudah ada sejumlah tafsiran dan kajian kata-kata dalam bahasa asli Alkitab.
Aplikasi tafsir dan komentari versi android.

(T. Adama Sihite)

Minggu Keenam Sesudah Pentakosta

20 Juli 2025


Pembacaan Alkitab
Lukas 10:38-42
Nas Pembimbing
1 Petrus 4:10
Mazmur
Mazmur 15:1-5
Pokok Doa
Mendoakan Tumbuh Kembang Anak-anak Indonesia (Hari Anak Nasional - 23 Juli)
Mendoakan Jemaat Lembang (17 Juli 1955)
Mendoakan Jemaat Ciwidey
Nyanyian Tema
NKB 212:1-3 “Sungguh Inginkah Engkau Lakukan” 
Warna Liturgis
Hijau


SEMUA ADA BAGIANNYA

Pengantar 
    Sebuah lagu berbahasa Jawa dengan judul “Ojo Dibandingkѐ” menjadi viral ketika dibawakan seorang penyanyi cilik bernama Farel di HUT Ke-77 RI. Salah satu bagian liriknya mengingatkan untuk tidak membanding-bandingkan satu dengan yang lain, sebab jelas akan selalu ada perbedaan ketika segala sesuatu dibanding-bandingkan. Terlebih pembandingan akan memunculkan polemik karena yang satu digambarkan lebih unggul dari yang lainnya. Dari sinilah akan muncul iri dan dengki ketika pembandingan terjadi. Padahal, hal itu mestinya tak perlu terjadi jika semua melihat bahwa masing-masing punya bagiannya. 
Hal ini menjadi relevan ketika kita juga melihat pembandingan sering terjadi ketika seseorang masuk dalam dunia pelayanan. Membandingkan satu dengan yang lain memang pada akhirnya tak bisa dielakkan, tetapi dapat dinetralisir dengan secara objektif juga melihat bahwa semua punya bagian masing-masing dalam pelayanan. Dengan demikian, pembandingan bukanlah menjadi yang utama ketika kita masuk dalam dunia pelayanan. Tidak ada yang perlu merasa lebih berat melakukan pelayanan ketimbang yang lainnya atau melihat yang lain lebih ringan tugasnya dibandingkan kita. Untuk itulah kita saat ini akan melihat fenomena itu dari kisah Maria dan Marta yang menerima kedatangan Yesus ke rumah mereka. 

Penjelasan Teks 
    Pembacaan Alkitab kita adalah bagian dari kisah perjalanan pelayanan yang Yesus kerjakan ketika Ia datang ke dunia ini. Dalam perjalanan pelayanannya, Yesus kerap singgah di kampung bahkan rumah orang yang memercayai-Nya sebagai Mesias. Hal ini menunjukkan bahwa konteks budaya abad pertama masyarakat Yahudi berkaitan dengan praktik keramahtamahan. Secara khusus, dalam menunjukkan keramahtamahan, sang empunya rumah akan mempersiapkan makanan sebab jika tidak maka ia gagal menunjukkan keramahtamahannya. Tentu dalam konteks budaya Yahudi, perempuanlah yang memiliki tugas untuk melakukan semua pekerjaan memasak dan menyiapkan makanan. Sangat tidak biasa bagi perempuan dalam budaya Yahudi untuk bergabung dengan tamu laki-laki sebelum mereka selesai menyiapkan semua makanan. 
    Hal demikianlah yang bisa kita saksikan dalam pembacaan Alkitab saat ini. Kisah tentang singgahnya Yesus ke rumah Maria dan Marta yang dikisahkan Lukas berfokus pada keramahtamahan sang nyonya rumah yakni Marta yang sibuk mempersiapkan makanan bagi Yesus. Hal yang lumrah dilakukan seperti penjelasan sebelumnya bahwa bagian dari seorang perempuan dalam konteks budaya saat itu adalah memasak dan menyiapkan makanan bagi sang tamu. Kemudian dikisahkan bahwa Marta bersungut-sungut dan bahkan meminta Yesus untuk peduli kepadanya sebab ia kerepotan sendiri sedangkan Maria bukan membantunya mempersiapkan makanan bagi Yesus tetapi justru bergabung dengan para laki-laki mendengarkan pengajaran Yesus. Disinilah Yesus justru bukan menegur Maria tetapi Marta yang bersungut-sungut dalam melakukan bagian tugasnya yakni mempersiapkan makanan bagi-Nya. Yesus terlihat mempromosikan sebuah visi atau bahkan gambaran awal tentang kesetaraan bahwa seorang perempuan juga memiliki hak untuk belajar seperti halnya para laki-laki dan tidak semua harus sibuk di dapur untuk menyiapkan makanan, dengan mengatakan bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik baginya. 
Tentunya Yesus tak bermaksud membandingkan antara Maria dan Marta, seolah Maria paling benar dan Marta salah karena terlalu sibuk dengan pekerjaan dapurnya. Justru Yesus hendak merobohkan pembandingan yang diciptakan oleh Marta karena merasa terlampau berat mengerjakan pekerjaan dapur ketimbang Maria yang duduk mendengarkan perkataan Yesus. Kita seringkali gagal memahami ini dan justru mengulang kesalahan Marta dengan membandingkan bahwa Maria lebih baik daripada Marta, padahal bukan seperti itu maksud dari perkataan Yesus kepada Marta. Kita dapat melihat bahwa Marta ingin memastikan tamu terhormatnya yakni Yesus dan para pengikut-Nya merasa diterima di rumahnya. Tak ada yang salah dengan perbuatan Marta karena ia ingin menunjukkan keramahtamahannya sebagai nyonya rumah. Ia memilih bagian pelayanan meja dengan mempersiapkan makanan bagi Yesus dan pengikut-Nya. Hal yang berbeda dipilih oleh Maria yang mengabaikan tugas tradisionalnya untuk membantu saudara perempuannya. Maria lebih memilih untuk mendengarkan pengajaran Yesus. Frasa "duduk di kaki Tuhan dan mendengarkan" menggambarkan tindakan Maria sebagai murid. 
    Masalah dimulai justru ketika Marta membandingkan apa yang dilakukannya dengan apa yang dilakukan Maria. Disinilah Yesus memberikan pengajaran yang begitu berarti bahwa tiap-tiap orang punya bagiannya ketika memilih menjadi murid-Nya. Apa yang dilakukan Marta baik baginya, begitu pula apa yang dilakukan oleh Maria. Dari kisah ini maka kita dapat melihat keterkaitan pelayanan  Marta dan Maria dengan kehidupan bergereja kelak. Rumah Marta adalah gereja tempat di mana orang Kristen bertemu untuk beribadah, mempelajari firman Tuhan dan melakukan pelayanan meja dengan memecah-mecahkan roti. Dari kisah ini pada akhirnya kita dapat melihat bahwa polemik antara Marta dan Maria adalah tentang dua jenis pelayanan: Diakonia dan Firman. Marta mewakili pelayanan Diakonia, dan Maria mewakili pelayanan Firman. Yesus tidak lebih menyukai pelayanan Firman daripada Diakonia. Sebaliknya, Yesus tidak ingin Diakonia mengorbankan pelayanan Firman. Kedua pelayanan itu penting. Pelayanan diakonia seharusnya tidak menyerap energi dan waktu kita dan mendorong kita untuk mengabaikan Firman Tuhan, sebaliknya pelayanan Firman harus diwujudnyatakan juga lewat pelayanan Diakonia. Marta juga mewakili vita active, kehidupan yang aktif. Maria, di sisi lain, mewakili vita contemplativa, kehidupan kontemplatif. Dia duduk di kaki Yesus sebagai seorang murid dan mendengarkan Dia mengajar. Baik kehidupan yang aktif maupun kehidupan kontemplatif dibutuhkan; memilih satu di atas yang lain dapat menciptakan dikotomi yang salah, terlebih membandingkannya.
    Di kemudian hari kita dapat melihat implikasi dari kisah ini dengan pelayanan para Rasul dalam pekabaran Injil. Bertambahnya orang Kristen memperluas tanggung jawab para Rasul. Akibatnya, pelayanan diakonia menyita waktu mereka dan membuat mereka tidak dapat melayani semua janda yang sangat membutuhkan makanan (Kis. 6:1) dan mengabaikan firman Tuhan. Kedua belas rasul menyatakan bahwa tidaklah baik melalaikan Firman Tuhan untuk melayani meja (Kis. 6:2). Para murid kemudian memanggil tujuh Diaken laki-laki untuk bertanggung jawab atas pelayanan Diakonia. Dengan demikian, semua ada bagiannya, meskipun pada akhirnya mereka yang terlibat dalam pelayanan Diakonia juga turut dalam pelayanan Firman dan mereka yang terlibat dalam pelayanan Firman terlibat pula dalam pelayanan Diakonia. Dari sinilah kita kemudian memahami kisah Marta dan Maria bukanlah kisah yang pada akhirnya dipakai untuk membandingkan 2 subjek dengan pilihan pelayanan mereka, tetapi justru melihat tiap pilihan pelayanan mereka yang dikolaborasikan menciptakan suasana yang baik, pelayanan Firman tersampaikan melalui peran Maria dan pelayanan Diakonia terjadi melalui peran Marta. Ingatlah dari semuanya itu, esensi dari bagian pelayanan yang diambil oleh Marta maupun Maria adalah Kemuliaan Yesus sebagai yang utama. 

Pokok Pikiran
Pembandingan dalam tugas pelayanan harus dihindari agar kita sungguh-sungguh dapat memahami arti pelayanan dengan bagiannya masing-masing. Jika tidak, maka pembandingan tersebut akan membawa dampak negatif dalam pelayanan. Suasana pelayanan akan dipenuhi dengan iri, dengki, bahkan kecemburuan. Untuk itu, kita harus bersama-sama memaknai panggilan pelayanan dan melihat tiap pelayanan memiliki bagiannya tersendiri.
Dari kisah Marta dan Maria kita diajak untuk melihat bahwa keduanya memiliki panggilan pelayanan yang berbeda. Marta cenderung membandingkan bagian pelayanan yang ia pilih dengan bagian pelayanan yang dipilih oleh Maria. Yesus menetralisir dengan menyampaikan bahwa apa yang dilakukan Marta baik dan apa yang dilakukan oleh Maria pun baik. Kita juga diajak tidak terjebak dengan kembali membandingkan apa yang dilakukan Maria lebih baik daripada Marta. Yesus hendak meluruskan bahwa tiap-tiap bagian pelayanan yang diambil hendaknya dilakukan dengan tulus tanpa bersungut-sungut. Selain itu Yesus juga menekankan kesetaraan dalam bagian pelayanan yang diambil. Dalam tradisi Yahudi, ketika tamu datang maka para perempuan wajib mengambil pelayanan di dapur untuk mempersiapkan makanan bagi para tamu, tetapi Yesus memberi kesempatan juga bagi Maria sebagai seorang perempuan untuk mengambil bagian pelayanan untuk mendengar perkataan-Nya. Kesetaraan dalam pelayanan juga perlu ditunjukkan ketika seseorang memilih mengambil bagian dalam pelayanannya. Yesus pun tak mengkritik Marta yang mengambil pelayanan di dapur sesuai dengan tradisi Yahudi, tetapi Yesus mengkritik Marta karena bersungut-sungut dalam melakukan pelayanannya. 

Kita melihat dalam kehidupan pelayanan di gereja masa kini, seringkali terjadi pengkotak-kotakan dan pembandingan antara satu dengan yang lain. Pelayanan Firman dirasa lebih besar ketimbang pelayanan yang lainnya atau mengambil bagian dalam pelayanan sebagai seorang penatua lebih besar ketimbang pengurus komisi. Hal inilah yang perlu dihindari. Kita tak bisa membanding-bandingkan tetapi justru berkolaborasi agar pelayanan yang holistik dapat terjadi dalam kehidupan di gereja. Pada gereja mula-mula kita juga belajar dari Para Rasul bahwa mereka membagi diri dalam pelayanan dengan memanggil diaken sehingga mereka dapat berkolaborasi dan menghasilkan pelayanan yang holistik, yakni pelayanan Firman dan pelayanan meja. Untuk itu saat ini kita juga perlu melihat bahwa dalam pelayanan di gereja semua ada bagiannya. Kerjakanlah bagian kita dengan tulus dan tanpa bersungut-sungut terlebih membandingkan bahwa pekerjaan kita lebih berat ketimbang yang lain. Ingatlah bahwa keutamaan dari pelayanan ialah kemuliaan Kristus Sang Kepala Gereja. 

Daftar Acuan 
https://www.workingpreacher.org/commentaries/revised-common-lectionary/ordinary-16-3/commentary-on-luke-1038-42-5 
https://www.workingpreacher.org/commentaries/revised-common-lectionary/ordinary-16-3/commentary-on-luke-1038-42-2 

(William Alexander) 

Minggu Ketujuh Sesudah Pentakosta
27 Juli 2025


Pembacaan Alkitab
Lukas 11 : 1-13
Nas Pembimbing
Lukas 11 : 9
Mazmur
Mazmur 85 : 1-14
Pokok Doa
Mendoakan Jemaat Rangkasbitung (25 Juli 1905)
Mendoakan Jemaat Dayeuhkolot
Nyanyian Tema
KJ 460 : 1-2 “Jika Jiwaku Berdoa”
Warna Liturgis
Hijau


DOA SEBAGAI TANDA IMAN KEPADA TUHAN

Pengantar 
    Bagi kita sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, doa bukan hanya sebagai sarana untuk menyampaikan permohonan/ keinginan kita, melainkan doa juga adalah bukti atau tanda iman kepada Tuhan. Berdoa bagi kita bukan hanya hal yang sangat penting yang dicatat dalam Alkitab melainkan juga dalam perjalanan sejarah gereja (perjalanan kehidupan orang yang percaya). Doa juga menjadi hal yang sangat menentukan dalam setiap langkah kehidupan keberimanan dan pelayanan orang percaya. Ada banyak tokoh yang dalam kehidupan spiritualnya selalu mengutamakan doa yang menjadikan pelayanannya berhasil, misalnya Marthin Luther. Dia mengatakan, "Jikalau saya gagal untuk mengasingkan waktu dua jam untuk berdoa setiap pagi, maka iblis mendapat kemenangan sepanjang hari. Saya mempunyai banyak sekali pekerjaan, sehingga saya tidak dapat memulainya sebelum mengasingkan waktu tiga jam dalam doa setiap hari." Dia mempunyai semboyan, "Dia yang telah berdoa dengan baik, sudah belajar dengan baik." Buah dari ketekunannya dalam berdoa ini bukan hanya menguatkannya secara pribadi melainkan juga menjadikan pergerakan pelayanannya semakin bertumbuh dalam membawa semangat pembaruan. Nah, bagaimana dengan kita apakah doa itu hanya sebatas rutinitas semata, sekedar menumpahkan keinginan atau doa  itu adalah benar-benar sebagai tanda iman kita kepada Tuhan?

Penjelasan Teks
    Bagi orang Kristen, doa yang baik dan benar pastinya mengacu pada apa yang diperintahkan/ diajarkan oleh Tuhan Yesus, dalam hal ini adalah Doa Bapa Kami. Menarik bahwa pada bacaan saat ini penulis Injil Lukas menyampaikan Doa Bapa Kami dalam bentuk yang berbeda dengan yang ada di Injil Matius 6:9-13. Berkaitan dengan hal ini, dalam Tafsiran Alkitab Abad ke-21 memberikan penjelasan bahwa kemungkinan hal ini terjadi karena gereja mula-mula ketika mengadaptasi perkataan-perkataan Yesus itu melakukannya dengan cara yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya/keperluannya. Bentuk doa dalam Injil Lukas ini berisi sebuah sapaan dan dua pasang permohonan (dikuduskanlah namaMu dan datanglah KerajaanMu). Setelah itu barulah kebutuhan-kebutuhan si  pemohon disampaikan; Pertama, doa meminta makanan. Makanan yang dimaksudkan bukan hanya makanan biasa tetapi juga roti kehidupan, anugerah Allah yang tanpanya manusia tidak dapat hidup (ay. 3) Kedua, doa permohonan pengampunan. Ditegaskan disini bahwa pengampunan itu hanya akan diberikan kepada mereka yang memang mau mengampuni orang lain. Setelah itu si pemohon meminta agar ia dilindungi dari bencana dan pencobaan yang akan melemahkan imannya (ay. 4). Berikutnya disampaikan juga perumpamaan yang menggambarkan kegigihan seseorang yang tidak kenal malu meminta bantuan kepada temannya yang pada akhirnya temannya itu memberikan juga bantuannya. Hal ini menjadi kontras ketika disampaikan juga apa yang akan dilakukan Allah ketika kita juga gigih dalam menyampaikan permohonan kita dalam doa, sekalipun mungkin permohonan kita ada yang tidak langsung dikabulkan oleh Allah. (ay. 5-10). Jadi dalam perumpamaan ini tekanannya bukan pada orang yang meminta roti itu, melainkan pada orang yang dimintai roti itu. Dengan kata lain, kita diingatkan yakin dan percayalah bahwa Allah akan mengabulkan doa kita karena Dia adalah sahabat sejati kita. Bukan karena upaya keras kita seperti orang yang tidak tahu malu meminta bantuan sahabatnya tetapi justru pada orang yang memberinya. Demikianlah juga dengan doa yang akan dikabulkan Allah yakni tertumpu pada belas kasihan-Nya. Dalam ayat 11-13 digambarkan juga hal yang sama, sebagaimana bapak-bapak duniawi tidak akan menipu anak-anaknya dalam hal pemberian demikian juga Allah Bapa akan mengaruniakan Roh Kudus-Nya (berkat-berkat Rohani) kepada semua orang yang memintanya. Hal ini bermaksud agar kita hidup dalam sikap dan hubungan yang baik terhadap Allah sebagai anak-anak-Nya sehingga kita boleh menyapa-Nya sebagai Bapa. 
Sebagai orang Kristen seringkali kita diingatkan pada pemahaman bahwa doa itu adalah ‘nafas kehidupan’. Sekuat-kuatnya manusia menahan nafas maka ia pastinya tidak bisa bertahan lama, karena ia perlu bernafas supaya tetap hidup, demikianlah pentingnya doa dalam kehidupan seorang beriman. Doa jangan hanya dipandang sebagai rutinitas atau sebagai bagian dari ritual peribadatan kita semata. Doa merupakan salah satu bentuk komunikasi kita dengan Tuhan yang harus dijaga melalui sikap yang benar agar relasi dan hubungannya tetap terjalin baik. Seperti halnya nafas sangat penting dalam kehidupan manusia demikian juga dengan doa, karena itu doa juga merupakan tanda iman kita kepada Tuhan. Dalam doa, kita memohon kepada Tuhan supaya menjauhkan kita dari berbagai pencobaan, karena kita sadar sebagai manusia banyak memiliki kelemahan dan keterbatasan. Kita sangat membutuhkan pertolongan dan perlindungan dari Tuhan, karena itulah kita berdoa.  
Dalam Bahasa sunda ada ungkapan “Mun teu ngakal moal ngakeul, mun teu ngarah moal ngarih, mun teu ngoprék moal nyapék”. Makna denotasi dari peribahasa ini adalah jika tidak menggunakan akal tidak akan membolak-balik nasi, jika tidak mencari tidak akan mengaduk nasi rebusan, jika tidak melakukan pekerjaan tidak akan mengunyah. Dalam hidup itu kita harus bekerja keras, ulet dan tekun berusaha, termasuk juga dalam hal berdoa. “Mintalah maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan mendapat, ketoklah maka pintu akan dibukakakan bagimu” (ay.10). Ketekunan dan kegigihan sebagai sebuah “kerja keras” dalam menyampaikan permohonan kita dalam doa kepada Tuhan akan menyentuh belas kasihan Tuhan. Tuhan akan mendengar dan mengabulkan setiap doa yang disampaikan dengan kesungguhan dan keyakinan kepada-Nya, karena itulah sikap dan cara kita berdoa juga merupakan hal yang penting dalam kehidupan orang beriman. 
Dalam kenyataan, permohonan doa kita tidak selalu terwujud sesuai dengan apa yang kita minta, tetapi dalam kesemuanya itu kita tetap yakin bahwa Tuhan akan selalu memberi yang terbaik (bdk. Yer. 29:11). Seperti halnya para bapak duniawi akan memberi yang baik terhadap permintaan anak-anaknya, apalagi dengan Tuhan pastinya akan memperhatikan dan memberi yang terbaik kepada setiap orang yang menaruh harapan kepadaNya, kepada orang-orang yang dikasihi-Nya (bdk. Rm. 8:28).    

Pokok Pikiran 
Dalam bagian awal bisa disampaikan pengalaman dan kesaksian hidup orang percaya (termasuk tokoh-tokoh Kristen salah satunya adalah Marthin Luther) yang dalam kehidupannya menjadikan doa sebagai pondasi utama dalam menjalani kehidupannya. Sehingga segala jerih lelahnya membuahkan hasil yang baik sebagai buah dari ketekunannya dalam doa.
Digambarkan tentang ulasan Injil Lukas yang menyampaikan bentuk yang berbeda dalam menyampaikan perkataan Yesus tentang hal berdoa. Doa bukan hanya berisi permohonan tetapi juga sebagai sebuah upaya menjaga relasi atau hubungan dengan Tuhan yang harus dijaga dengan baik melalui sikap dan cara yang benar. 
Dalam hal doa bukan soal dikabulkan atau tidaknya permohonan kita, tetapi pada sikap kita ketika berdoa yakni dengan kesungguhan dan keyakinan bahwa Tuhan pastinya akan selalu memberi yang terbaik kepada kita. Doa adalah tanda iman kita kepada Tuhan. 

Daftar Acuan 
Veronika J, Elbers, Doa Dan Misi; Beberapa Tokoh Penting Dalam Doa Sepanjang Sejarah Misi, Seminari Alkitab Asia Tenggara: Malang, 2001. 
Ed., D.A Carson,R.T France, J.A Motyer, G.J Wenham, Tafsiran Alkitab Abad ke 21, Jilid 3 Matius -Wahyu, Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Jakarta, 2017
B.J, Boland, Tafsiran Alkitab Injil Lukas, BPK Gunung Mulia, Jakarta 1996

(Agus Paulus Husen) 







Daftar Label dari Kategori DPA Minggu GKP 2025





NEXT:
DPA Minggu GKP Agustus 2025



PREV:
DPA Minggu GKP Juni 2025

Arsip DPA Minggu GKP 2025..

Register   Login