gkp.lagu-gereja.com

DPA Minggu GKP 2025
DPA Minggu GKP Agustus 2025
#tag:

Minggu Kedelapan Sesudah Pentakosta

3 Agustus 2025


Pembacaan Alkitab
Lukas 12 : 13-21
Nas Pembimbing
Lukas 12 : 15
Mazmur
Mazmur 107:1-9
Pokok Doa
Mendoakan para Pengelola Keuangan dan Aset GKP (Para Bendahara, PPJ, PPS)
Mendoakan Jemaat Depok
Nyanyian Tema
PKJ 271:1-3 “Janganlah Kumpulkan Harta” 
Warna Liturgis
Hijau


BIJAKSANA DALAM MENGGUNAKAN BERKAT TUHAN

Pengantar 
    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, orang kaya adalah orang yang memiliki banyak harta, baik berupa uang, properti, investasi maupun sumber daya bernilai; orang yang memiliki lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan normal. Kekayaan bisa dilihat dari berbagai aspek seperti material, kultural, psikologis. Berdasarkan pemahaman di atas, maka kekayaan melingkupi banyak hal, bukan hanya sekedar material. Iman kristen meyakini bahwa kekayaan adalah  berkat Tuhan sama seperti kesehatan, nafas kehidupan, kesempatan untuk berkarya dan masih banyak lagi.
    Terkait dengan harta berupa materi, ada beberapa tipe orang dalam menggunakan kekayaannya menurut Alexandra L Erzsebet N, yaitu:
Amasser, yaitu orang yang selalu merasa bahagia dan menikmati setiap momen dalam mengelola keuangan, mereka memiliki keinginan untuk masa kini maupun masa depan, 
Axoider yaitu orang yang merasa tidak kompeten dan mudah kewalahan jika dihadapkan dengan hal-hal yang menyangkut keuangan. Cenderung tidak tahu dan tidak peduli dengan berapa banyaknya uang yang dimiliki, dipinjamkan, dan dibelanjakan. 
Hoarder, yaitu orang-orang yang suka menabung dan memprioritaskan tujuan keuangan di atas segalanya, cenderung rutin mengevaluasi keuangan secara teratur
Spender yaitu orang-orang yang gemar menggunakan uangnya untuk membeli barang/jasa guna mendapat kepuasaan dan kebahagian sesaat, sulit menabung, sulit memprioritaskan kebutuhan dari keinginan.

Dari  keempat penjelasan di atas, Saudara termasuk tipe yang mana? Apa yang harus kita lakukan dalam mengelola berkat yang sudah Tuhan Allah berikan? Hal ini penting sebab kekayaan materi tidak menjamin kebahagiaan dan keamanan hidup. Teks yang kita baca akan menjelaskan bagaimana sikap Tuhan Yesus dalam menghadapi kekayaan materi.

Penjelasan Teks 
    Teks Alkitab yang kita baca saat ini mengisahkan bahwa Yesus sedang mengajarkan para murid, tiba-tiba datang seseorang yang sangat ingin memperoleh bagian/ warisan dari keluarganya. ia pun mengutarakan keinginannya itu kepada Yesus, agar Yesus mau berbicara kepada saudaranya yang kaya raya untuk memberikan sebagian hartanya kepadanya. Sikap orang itu menunjukkan bahwa ia tidak peka terhadap hal-hal hakiki yang baru Yesus ajarkan kepada orang-orang Farisi yang digambarkan dengan tindakan membersihkan cawan dan pinggan, tetapi hanya bagian luarnya saja, sedangkan bagian dalamnya penuh dengan barang-barang rampasan. Sementara diyakini bahwa bagian dalam dan bagian luar cawan dan pinggan itu adalah milik Allah. Tindakan orang tersebut memperlihatkan keserakahannya terhadap harta materi (Luk. 11:39-42). Yesus memang biasa menolong orang-orang untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi, hal itu karena wibawa yang Yesus  miliki. Namun dalam hal ini, Yesus menghindari permintaan orang yang meminta harta warisan tersebut, dengan mengatakan siapakah yang telah mengangkat-Nya menjadi hakim. Yesus justru meminta setiap orang untuk berjaga-jaga dan waspada terhadap harta yang berlimpah agar tidak terjebak pada keserakahan dan ketidakpedulian kepada sesama. Sebab kekayaan materi tidak menjamin kebahagiaan dan keamanan hidup yang sejati. Karena yang benar-benar penting dalam hidup ini adalah bagaimana kita dapat hidup kaya di hadapan Allah dan berjaga-jaga untuk tidak terjebak dalam keserakahan 
    Keserakahan adalah keinginan berlebihan untuk memiliki lebih banyak harta, yang sering membuat kita melupakan nilai-nilai rohani dan membangun hubungan dengan Tuhan dan sesama. Keserakahan membuat kita terjebak dalam pengejaran harta duniawi yang tidak ada habisnya. Keserakahan berarti kehausan untuk memiliki lebih banyak. 
    Teks yang kita baca berbicara tentang orang kaya. Orang kaya tentu membuat iri banyak orang. Sedemikian banyaknya harta kekayaannya, orang kaya itu tidak memiliki ruang untuk menyimpan hartanya, sehingga ia membuat lumbung-lumbung yang lebih besar untuk menyimpan kekayaannya dan merencanakan hidup yang nyaman dengan menikmati kekayaannya itu. Tetapi ia bodoh karena tidak memiliki kepekaan dan kepedulian kepada orang lain. Apabila rohnya diambil dari raganya, maka orang itu akan pergi meninggalkan hartanya, dan harta itu menjadi tidak berguna. Yesus mengingatkan para murid untuk mempergunakan harta yang Tuhan anugerahkan dengan bijaksana, sehingga saat kematian itu datang harta yang dimiliki sudah dapat dimanfaatkan dengan baik oleh sesama sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Kekayaan bukan hanya menunjuk kepada hal untuk mencukupi kebutuhan pribadi dan keluarga, melainkan juga harus berkarya di hadapan Tuhan dengan cara mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya terlebih dahulu. Adalah hal yang lazim bagi orang-orang di Palestina untuk berdebat dengan para nabi yang dihormati, termasuk memperdebatkan hal-hal yang membingungkan. Dalam bacaan kita, orang banyak mengajak Yesus berdebat tentang uang, semula Yesus menolak berdebat mengenai uang. Namun Yesus berpikir, saat itu adalah saat yang tepat untuk menjelaskan sikap-Nya dan pengikut-Nya terhadap hal-hal yang material. Artinya hal-hal yang material tetap memiliki nilai yang baik, baik bagi mereka yang berkelimpahan maupun yang berkekurangan. Penjelasan Yesus adalah:
Terhadap mereka yang memiliki kelimpahan, Yesus menceritakan tentang orang kaya yang bodoh. Yang menyimpan hartanya dalam lumbung-lumbung sampai tidak ada lagi tempat untuk menyimpan harta itu, tetapi ia tidak memiliki inisiatif untuk membagikan Sebagian hartanya kepada sesamanya yang membutuhkan yang mungkin ada di sekitarnya. Dari cerita ini nampak:
Orang kaya itu tidak pernah sanggup untuk melihat sesuatu yang lebih jauh dari dirinya. Orang kaya itu hanya memusatkan segala sesuatu pada dirinya, sehingga sulit baginya untuk memberikan hartanya kepada orang lain. Daripada memberinya kepada orang lain, lebih baik ia menyimpannya untuk dirinya sendiri.
Orang kaya itu tidak pernah melihat lebih jauh dari dunia ini. Segala sesuatu yang dilakukan/ dipikirkan hanyalah atas dasar kehidupan di sini dan saat ini. Ia berpikir bahwa hidupnya sangat lama, dan kelak ia masih bisa menikmati hartanya yang berlimpah
Yesus menyampaikan perkataannya kepada mereka yang berkekurangan tepatnya mengenai kekuatiran. Orang boleh saja kuatir, namun hendaknya menyerahkan kekuatirannya itu kepada Allah. Orang diharapkan tetap mengusahakan apa yang bisa diusahakan, selebihnya menyerahkan kepada Allah.

    Sementara di Palestina, kekayaan seringkali dimengerti dalam bentuk pakaian yang mahal, tentu bila disimpan maka ngengat akan merusaknya, akhirnya tidak berharga lagi. Namun bila seseorang menggunakan jiwanya dengan pakaian kehormatan, kemurahan, kebaikan maka tidak ada apapun yang dapat membinasakannya. Apabila seseorang mencari harta sorgawi, maka hatinya akan berpaut juga ke sorga. Apabila hatinya mencari harta dunia, maka hatinya akan terpaut juga di dunia. Melalui penjelasan ini Yesus ingin agar kita mau belajar untuk menggunakan berkat yang Tuhan karuniakan secara bijaksana. Jangan terlalu kuatir karena Allah akan mencukupkan apa yang kita butuhkan.
    Hal yang penting adalah menjadi kaya di hadapan Tuhan bukan hanya secara materi. Kekayaan sejati terdiri atas iman dan kasih yang dinyatakan dalam penyangkalan diri dan hal mengikut Yesus.  Kekayaan di hadapan Tuhan berarti memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan, hidup dalam ketaatan, kasih, dan pelayanan kepada sesama. Orang yang benar-benar kaya adalah mereka yang telah memperoleh kemerdekaan dari perkara-perkara dunia oleh kepercayaan bahwa Alalh Bapa adalah Allah mereka yang tidak akan meninggalkan mereka.

Pokok Pikiran 
Kekayaan sifatnya sementara. Kekayaan tidak menjamin kita untuk memperoleh kebahagiaan dan keamanan dalam hidup. Kita diminta untuk menggunakan kekayaan dengan bijaksana selama kita masih memiliki nafas kehidupan. Kekayaan itu bukan hanya milik kita, melainkan juga milik sesama yang dititipkan kepada kita. 
Banyak hal yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Berkat materi, kesehatan, kehidupan, kesempatan untuk berkarya, keluarga yang mengasihi kita, teman-teman yang peduli kepada kita. Bersyukur dengan cara peduli dan berbagi kepada sesama.
Bila kita memiliki berkat materi yang melimpah, hendaknya kita menggunakannya secara bijaksana. Tetap memiliki kepekaan dan kepedulian kepada orang-orang yang ada di sekitar kita. Orang kaya yang dikisahkan dalam teks saat ini memiliki kekayaan harta yang sangat melimpah, tetapi ia miskin dalam kepekaan dan kepedulian termasuk terhadap saudaranya. Yesus mengajarkan agar para murid waspada dan berhati-hati terhadap kekayaan yang melimpah. Hidup yang kita jalani ini hanya sementara. Ada saatnya kita akan meninggalkan dunia ini termasuk harta kekayaan. Harta itu tidak akan dibawa mati. Sekali kita masih hidup berkaryalah dengan harta yang kita miliki yakni menjadi berkat bagi sesama.

Daftar Acuan 
Alexandra, Erzsebet N, Boglarka Z, Types and Attitudes That Effect Financial indebtedness. International Journal of Social Science and Economic Research, Volume 2, Issues 9
Alkitab Edisi Studi, Lembaga Alkitab Indonesia, 2012, hal 1692-1693
Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 Matius-Wahyu, Yayasan Komunikasi Bina kasih / OMF, 1982 , hal 224-225
Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, Dianne Bergant CSA; Robert J Karris OFM, Lembaga Biblika Indonesia, Kanisius, 2002 hal.128
Pemahaman Alkitab Setiap Hari, Lukas, William Barclay; BPK Gunung Mulia, 2000, hal. 235-242
https://manadopost.jawa.post.com
https://alkitab.sabda.org

(Anna Savira)

Minggu Kesembilan Sesudah Pentakosta

10 Agustus 2025
Pembacaan Alkitab
Lukas 12 : 22-34
Nas Pembimbing
Lukas 12 : 22
Mazmur
Mazmur 33:10-22
Pokok Doa
Mendoakan pelestarian adat lokal di sekitar GKP (Hari Masyarakat Adat-9 Agustus)
Mendoakan Jemaat Garut
Nyanyian Tema
PKJ 302 “Jangan Kuatir” atau “Jangan Kamu Kuatir” https://www.youtube.com/watch?v=pTe5UBd_xlQ 
Warna Liturgis
Hijau


JANGAN KHAWATIR, ALLAH MENCUKUPKAN

Pengantar
    Sebuah firma akuntansi, Deloitte, mengadakan survei terhadap kaum milenial (generasi Y). Survei tersebut mengusung topik, “apa yang menjadi kekhawatiran kaum milenial?” Jawabannya beragam dan mengerucut dalam beberapa bentuk, biaya hidup (40%), perubahan iklim (23%), kriminalitas (19%), pelayanan kesehatan (19%) dan sulit mendapat pekerjaan (18%). Fakta tersebut menegaskan bahwa kekhawatiran dalam diri manusia adalah nyata. Khawatir adalah rasa takut terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti. Khawatir itu normal, wajar dan manusiawi. Bahkan dalam situasi dan kondisi tertentu kita justru perlu merasa khawatir, sehingga kita punya ‘alarm’ diri dalam menjalani dan menghadapi kehidupan ini. Akan tetapi, masalah akan datang ketika kekhawatiran mengontrol diri kita dan bukan sebaliknya. Rasa khawatir dapat mengalihkan dunia kita sehingga kita mengabaikan apa yang menjadi prioritas dalam kehidupan ini. Oleh sebab itu, mari kita merefleksikan perasaan tersebut melalui firman Tuhan dalam Injil Lukas 12:22-34. 

Penjelasan Teks
    Peristiwa Yesus mengajar tentang hal kekhawatiran kepada para murid tidak dapat dilepaskan dari peristiwa sebelumnya. Jika kita melihat perikop sebelumnya (Luk. 12:13-21), seseorang meminta Yesus untuk campur tangan dalam urusan pembagian warisan (ay. 13). Alih-alih orang tersebut mendapatkan angin segar, justru ia mendapatkan peringatan, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah berasal dari kekayaannya itu.” Entah siapa yang menjadi sasaran atas peringatan Yesus, bisa jadi si pemohon oleh karena ia menginginkan warisan yang bukan menjadi haknya atau kepada saudaranya yang ingin menguasai sepenuhnya warisan tersebut. Namun yang pasti, orang banyak mendengar peringatan Yesus pada saat itu. Peringatan ini disambung dengan sebuah perumpamaan seorang kaya yang memiliki tanah berlimpah, banyak gandum dan harta. Ia membangun lumbung yang lebih besar agar dapat menampung semua yang dimilikinya. Tetapi Allah mengambil jiwanya, maka sia-sialah apa yang sudah dikumpulkan. Sang orang kaya tersebut menjadi gambaran manusia yang kaya di hadapan dunia, namun miskin di hadapan Allah.
    Perumpamaan tersebut menguak sisi kehidupan manusia ketika berbicara soal harta. Allah tidak pernah melarang kita untuk menjadi kaya, karena dengan harta kita dapat menjadi berkat bagi orang lain. Namun atas nama harta, berapa banyak dari kita yang menjadi tamak, menjadi hamba uang, menghalalkan segala cara untuk memperoleh kekayaan, memperkaya diri sendiri tanpa mempedulikan sesama, mengkhawatirkan harta bukan keluarga atau tidak merasa cukup atas berkat yang sudah Allah berikan.
    Ketika Yesus menyampaikan hal kekhawatiran, kita dapat melihat bahwa Yesus berjaga-jaga agar pikiran dan hati murid-murid-Nya tidak berkutat pada hal-hal yang bersifat materi, apalagi menjadi tamak karenanya (seperti perumpamaan orang kaya yang bodoh). Ia mengantisipasi agar mereka tidak khawatir atas apa yang mereka makan dan pakai ketika menjadi pengikut-Nya. Materi, makanan, dan pakaian memang penting dalam kehidupan ini, tetapi yang lebih penting adalah kehidupan itu sendiri (ay. 23). Mengapa Yesus menekankan kehidupan? Dalam kata Yunani, kehidupan diterjemahkan psuché (dibaca: psoo-khay’), kata tersebut memiliki arti ‘jiwa,’ ‘kepribadian’ atau ‘identitas khas seseorang.’ Melalui arti tersebut, kita dapat menebak maksud Yesus dalam perikop ini. Ia bukan hanya menyuruh para murid untuk tidak khawatir, melainkan juga hendak membentuk identitas mereka sebagai seorang murid Kristus.
    Selanjutnya, Yesus memberikan beberapa ilustrasi agar para murid dapat memahami apa yang Ia maksud. “Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur, tidak menuai, dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, tetapi Allah memberi mereka makan.” Ada fakta unik tentang kehidupan burung berbulu hitam ini. Saat telur gagak menetas, anak gagak tidak serta-merta berbulu hitam namun putih. Di sini peristiwa unik terjadi, sang induk akan meninggalkan anaknya begitu saja, karena mungkin sang induk sadar bahwa warna bulunya berbeda. Lalu bagaimana anak-anak gagak mencari makan tanpa sang induk? Ternyata tubuh anak gagak mempunyai aroma yang menjadi daya tarik bagi serangga atau ulat untuk mendekat, sehingga melalui proses tersebut anak gagak dapat memperoleh makanan. Saat anak gagak tumbuh dewasa dan bulunya berubah menjadi hitam, barulah sang induk gagak kembali.
    Selain burung gagak, Yesus juga menggunakan ilustrasi bunga bakung. Bunga ini termasuk tumbuhan tahunan yang dapat tumbuh di mana saja (liar). Mulai dari hutan, pegunungan, padang rumput hingga rawa. Selain itu, bakung juga memiliki 110 spesies berbeda. Artinya, bakung dapat menawarkan ratusan keindahan yang berbeda-beda. Tidak heran jika Yesus membandingkan bunga tersebut dengan apa yang dipakai (kain ungu) oleh Raja Salomo. Seindah-indahnya pakaian raja, tetapi keindahannya tidak mampu menandingi keindahan bunga bakung. Dua fakta (gagak dan bakung) tersebut memperjelas ilustrasi yang Yesus sampaikan kepada para murid. Anak gagak yang ditinggal induknya dan tidak berdaya tetap diberi makan dan dipelihara kehidupannya oleh Allah. Bakung dengan berbagai spesies dan warnanya bak diberi pakaian yang indah, Allah pun yang menciptakannya. Jika anak gagak (hewan) diberi makan dan bakung (tumbuhan) diberi keindahan, maka apa yang menjadi kekhawatiran kita dalam menjalani kehidupan ini? Lagi pula kekhawatiran tidak menambah sehasta pada jalan kehidupan kita. Artinya, kekhawatiran tidak dapat membuat hidup kita lebih panjang atau lebih lama walau hanya satu detik.
    Berikutnya, apa yang Yesus katakan di akhir-akhir perikop ini, “Tetapi, carilah kerajaan-Nya, dan semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” B.J. Boland dalam tafsirnya menjelaskan, kita boleh berdoa kepada Allah untuk meminta segala kebutuhan kehidupan kita, termasuk makanan dan pakaian. Dalam doa, kita juga dapat mengadukan setiap kesusahan dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, dahulukanlah doa agar Kerajaan-Nya datang ke dalam kehidupan kita. Jadilah warga Kerajaan Allah sehingga kita memperoleh kehidupan yang ‘tulen’ dan ‘sejati,’ barulah kita meminta ini dan itu. Dalam konteks ini, Kerajaan Allah menjadi pusat kehidupan kita sebagai murid-murid Kristus.
    Pada bagian akhir, Yesus memberikan sebuah perintah yang sangat ekstrim, “Juallah segala milikmu dan berilah sedekah!” Kita tentu mengingat kisah Yesus menyuruh seorang muda yang kaya untuk menjual hartanya dan mengikut Dia. Sang pemuda kaya tersebut pergi dalam kesedihan, karena begitu banyak hartanya. Perintah Yesus pada ayat 33 mempunyai konteks yang sama dengan peristiwa seorang muda yang kaya, yaitu soal kemelekatan hati terhadap harta/materi/kekayaan. Seolah kita baru bisa hidup ketika memiliki harta yang melimpah. Tidak heran Yesus mengatakan, “Sebab, di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Artinya, bukan soal perkara menjual atau tidak menjual harta, karena sekalipun kita seorang yang miskin maka tidak ada jaminan bahwa kita tidak melekatkan hati dan diri pada apa yang kita miliki.  

Pokok Pikiran
Seorang seniman Indonesia, Sujiwo Tejo, pernah mengatakan, “Menghina Tuhan tak perlu dengan umpatan dan membakar kitab-Nya. Khawatir besok kamu tak bisa makan saja itu sudah menghina Tuhan.” Khawatir memanglah manusiawi dan wajar, namun ketika kita terus menerus khawatir dalam kehidupan ini maka tanpa sadar kita sedang mengkerdilkan pemeliharaan-Nya dalam kehidupan kita. Ingatlah bahwa Tuhan yang kita imani adalah Allah yang menyediakan dan mencukupkan (El-Jireh).
Ketika Yesus mengatakan bahwa hidup itu lebih daripada apa yang kita makan dan apa yang kita pakai, maka di saat yang sama Yesus hendak menegaskan identitas kita sebagai pengikut-Nya. Identitas pengikut Kristus bukan ditentukan oleh apa yang kita makan atau apa yang kita pakai. Bukan ditentukan dari seberapa banyak harta yang kita miliki. Akan tetapi, identitas tersebut dilihat dari sejauh mana diri kita bermakna dan bermanfaat bagi sesama kita. Maukah kita memberi makan bagi mereka yang lapar, memberi pakaian bagi mereka yang telanjang?
Kemelekatan kita pada harta/ materi dapat membuahkan ketamakan. Selanjutnya, ketamakan menjadi sumber kesalahan yang membuahkan banyak kesalahan lainnya. Tindak korupsi yang tidak mengenal waktu dan tempat, seorang menghilangkan nyawa sesamanya demi uang asuransi, selalu merasa kurang padahal apa yang didapat sudah lebih dari cukup bahkan berlebih. Semuanya itu merupakan bentuk-bentuk dari ketamakan, maka lihatlah harta/materi sebagai alat yang dititipkan Allah dalam kehidupan dan bukan melihat itu sebagai tujuan dari kehidupan.



(Hars Seasar Valentino)

Minggu Kesepuluh Sesudah Pentakosta

17 Agustus 2025

HUT RI
Pembacaan Alkitab
Lukas 12 : 49-59
Nas Pembimbing
Lukas 12 : 51
Mazmur
Mazmur 82 : 1-8
Pokok Doa
Mendoakan Bangsa Indonesia (HUT RI ke 80 tahun - 17 Agustus 1945)
Mendoakan Jemaat Palalangon (17 Agustus 1902)
Mendoakan Jemaat Gunung Putri
Nyanyian Tema
KJ 376 : 1,2,4 “Ikut Dikau Saja Tuhan” atau 
KJ 446 : 1,3,4 “Setialah”
Warna Liturgis
Hijau


YUK, PERANG!

Pengantar 
    “Merdeka! Merdeka! Merdeka!” itulah salam nasional bagi Bangsa Indonesia, yang secara yuridis tertuang dalam Maklumat Pemerintah tanggal 31 Agustus 1945 dan resmi diterapkan sejak tanggal 1 September 1945. Pada masa pra-kemerdekaan, salam ini kadang bersanding dengan salam “Sekali merdeka tetap merdeka!” dan “Merdeka atau Mati!”, yang menjadi simbol perjuangan menggapai kemerdekaan. Pada masa pasca proklamasi kemerdekaan, salam ini dimaknai sebagai simbol kobaran semangat mempertahankan kemerdekaan. Salam ini terus terpelihara sampai masa sekarang dengan menambahkan makna semangat nasionalisme, yang bahkan pada kesempatan berbeda, Presiden Sukarno pernah berujar, “Kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi.” Semangat nasionalisme seperti ini nampaknya perlu terus dipelihara dan diturunkan dari generasi ke generasi Indonesia.
Di balik salam tersebut, terdapat latar belakang yang dipenuhi dengan banyak kisah patriotik dalam nuansa peperangan dan gerakan pemberontakan demi menggapai kerinduan bersama, yaitu bangsa yang merdeka dan berdaulat. Terhadap latar belakang itu - saya sangat yakin - tidak akan satu pun orang Indonesia yang memandang bahwa peperangan itu sebagai sesuatu yang salah, apalagi berdosa. Sebaliknya, orang Indonesia akan menghormati dan memuliakannya sebagai wujud bakti bagi Ibu Pertiwi. Semangat peperangan serupa itu tampaknya juga diserukan oleh Tuhan Yesus, sebagaimana tercermin dalam teks Injil Lukas 12: 49-59. Benarkah demikian? Peperangan macam apa yang Tuhan Yesus serukan? Mari kita ulas.

Penjelasan Teks 
Injil Lukas selalu menarik untuk didiskusikan. Beberapa hal menarik itu, di antaranya adalah (1) keteraturan tulisan, sebagaimana tertulis juga pada pasal 1:3, (2) fokus pada data-data yang dapat dipercaya dan kadang harus menimbulkan perbantahan (bdk. Luk. 2:34-35), dan (3) peran penting Roh Kudus dalam seluruh rangkaian pemberitaan Kabar Baik, mulai dari masa pra-Natal sampai dengan peristiwa kenaikan Tuhan Yesus. Nah, dari sudut pandang itu, sekarang kita lihat perikop Lukas 12:49-59.
Jika kita amati dari perikop dan sesudahnya, khususnya sepanjang pasal 12 dan lanjut ke pasal 13, nampak jelas bahwa topik-topiknya tersusun sedemikian rupa untuk merangkai pesan yang sambung-menyambung, begitu rapih, disertai dengan perdebatan yang memperlihatkan pertentangan terhadap topik-topiknya. Di awal pasal 12, Lukas dengan sangat lugas mengajukan “kemunafikan orang Farisi” (ay. 1), yang pada gilirannya memperlihatkan bahwa pada kenyataannya ada banyak orang yang juga munafik (tampil dalam 2 wajah berbeda), yaitu:
takut kepada Allah v.s. takut kepada manusia (ay. 4-7),
berani mengakui v.s. menyangkal Anak Manusia (ay. 8-12) sekaligus topik tentang peran penting Roh Kudus dalam hidup seseorang dalam rangka menyatakan kebenaran,
kaya-miskin di dunia v.s. kaya-miskin di hadapan Allah (ay. 13-21), hal ini didasari pada  pemahaman orang Yahudi bahwa kekayaan dianggap sebagai simbolisasi hidup yang diberkati dan demikian akan serta merta akan mendapat jaminan keselamatan, 
mencari (=mengejar) Kerajaan Allah v.s. materi (ay. 22-24), dan 
kesetiaan-kedisiplinan v.s. ceroboh (ay. 35-48).
Semua topik itu memperlihatkan bahwa ada kecenderungan banyak orang untuk berposisi cari aman dengan mengikuti arus dunia walaupun hati nuraninya sebenarnya menghendaki agar dirinya mengikuti jalan kebenaran. Singkat kata, banyak orang berkecenderungan menjadi munafik karena terpaksa mengikuti arus dunia.
Sementara itu, sepanjang pasal 13 kita menemukan beragam pertentangan, misalnya dalam 3 topik pertama di pasal ini, yaitu:
Tentang penderitaan (ay. 1-5), di mana ada anggapan bahwa dosa yang lebih berat akan mengakibatkan penderitaan yang juga lebih berat. Ini mirip dengan topik yang dibahas dalam kisah Ayub.
Tentang kesempatan (ay. 6-9), yang memperlihatkan bahwa Allah telah memberikan kesempatan untuk seseorang bertobat, tapi akan ada masanya bahwa kesempatan itu sudah tidak ada lagi, oleh karena itu maksimalkanlah kesempatan yang ada untuk menjalani hidup pertobatan. 
Tentang pilihan melakukan perbuatan baik di dalam kondisi harus bertentangan dengan hukum (ay. 10-17).

Dari sisi ini, maka perikop ayat 49-59, khususnya pada ayat 49-50-1, seolah menjadi titik tengah yang hendak memberi penegasan bahwa kehadiran Tuhan Yesus adalah dalam rangka membuka mata semua orang yang selama ini hidup mendua dan munafik. Berpura-pura mengikuti para pemuka agama yang korup dan pemilik kekuasaan, padahal hatinya bertolak belakang. Kehadiran firman-Nya menjadi seperti api yang membakar untuk memurnikan logam. Kehadiran-Nya membuat orang merenung berkali-kali dan menerima-Nya sebagai kebenaran bahkan menjadikannya imannya bertumbuh secara mandiri. Itulah apa yang akan membuat banyak orang dapat dengan jelas menerima kebenaran.
Pada saat yang sama, perenungan akan kebenaran-kebenaran firman-Nya akan menjadikan peperangan batin pada diri tiap orang. Di dalam batinnya akan melihat secara jelas memilah kebenaran sesuai dengan kehendak Allah dan kemunafikan sikap demi mendapat tempat di hadapan manusia. Peperangan batin inilah yang akan menjadikannya berani menentukan pilihan tegas untuk langkahnya sesuai kebenaran firman-Nya. Bukan hanya dalam konteks peperangan batin atas diri sendiri, peperangan ini juga berimbas pada peperangan di antara sesama anggota keluarga. Masing-masing anggota keluarga akan saling berproses menemukan kebenaran; yang masih hidup dalam kemunafikan akan berhadapan dengan yang telah dengan jelas menemukan kebenaran firman-Nya. Bahkan dapat terus meluas bukan hanya di antara sesama anggota keluarga. Ketika kemunafikan terbuka secara gamblang, ada kecenderungan dari pihak-pihak munafik itu akan memunculkan beragam reaksi yang pastilah akan lahir beragam bentuk pertentangan.
Sedangkan ayat 54-59 (ay. 57) adalah seruan keras Tuhan Yesus agar tiap orang dapat mengambil sikap secara mandiri - tidak ikut-ikutan - menentukan langkah imannya secara mandiri. Biarlah kehidupan iman seseorang tidak melulu bergantung pada “fatwa” pemuka agama yang korup dan munafik, melainkan hidup melalui proses batin secara mandiri; menemukan kebenaran iman melalui kejernihan relasi dirinya dengan Tuhan.
Bagi kita sebagai bangsa Indonesia masa kini, bertepatan dengan peringatan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, kita perlu menyadari bahwa kita sedang berada dalam dua medan peperangan, yaitu peperangan iman dan peperangan dengan semangat nasionalisme. Tanpa kita sadari ada banyak hal yang merongrong keimanan kita dan yang menggerus keutuhan kita sebagai bangsa. Ada banyak hal yang juga menjadikan kita kehilangan kemerdekaan iman maupun bangsa. Nampaknya kita pun mulai perlu merinci dan mengidentifikasinya.
Pertama, dalam konteks peperangan iman, kita perlu memulainya dari diri sendiri, yaitu berperang melawan diri sendiri, yang penuh dengan ego keagamaan atau sebaliknya yaitu mencari aman bersembunyi di balik arus umum. Di luar itu, agaknya tidak sulit bagi kita untuk menemukan beragam topik yang di dalamnya muncul beragam pertentangan, misal: mitos bahwa LGBT adalah pihak yang lebih berdosa ketimbang warga Jemaat lain yang “umum”. Semoga kita cukup berani untuk mengambil posisi sebagai warga gereja yang menyatakan kemurnian hati nurani demi menyuarakan kebenaran firman-Nya. Kedua, dalam konteks peperangan semangat nasionalisme, semoga kita cukup berani dan bangga menjadi Indonesia, yang tercermin dari bahasa, tradisi, nilai-nilai luhur, kearifan lokal, dan beragam bentuk ke-Indonesia-an lainnya.
Dari semua itu, sadarilah bahwa kita tentu akan berhadapan dengan beragam pertentangan lanjutannya. Namun demikian, “yuk berperang”. Berperang melawan ego keagamaan kita, yang membuat kita tidak dapat melihat kebenaran secara jelas. Berperang melawan beragam mitos iman yang tidak sesuai dengan hati nurani namun kita malas mempertentangkannya. Berperang melawan kebiasaan salah kaprah yang menggerus semangat nasionalisme kita. Berperang melawan beragam belenggu kebodohan. Berperang demi menuju pada kemandirian iman dan kemerdekaan bangsa yang berdaulat.

Pokok Pikiran
Para pendahulu bangsa ini telah berperang (=berjuang) dalam semangat nasionalismenya demi menggapai kemerdekaan dan kedaulatan bangsa. Tuhan Yesus juga berperang melawan beragam ketidakbenaran, bahkan penyesatan, demi memerdekakan iman kita.
Pada posisi kita saat ini, kerap kali kita berhadapan dengan kondisi tertentu yang membawa kita pada beragam kemunafikan, entah karena memang “cari aman”, entah karena memang ditakut-takuti oleh para pemuka agama yang korup atau pun penguasa, entah karena kita sendiri hanya sekedar ikut arus
Para pendiri bangsa dan Tuhan Yesus kiranya dapat menjadi inspirasi agar kita mampu berperang dalam keimanan dan semangat nasionalisme kita demi mencapai iman yang mandiri dan kemerdekaan kedaulatan bangsa Indonesia.
Peperangan kita adalah peperangan batin mengalahkan ego dan arogansi diri. Peperangan kita adalah perjuangan melepaskan diri dari belenggu mitos iman, yaitu tradisi maupun kebiasaan-kebiasaan salah kaprah, yang memenjarakan nilai-nilai kemanusiaan. Peperangan kita adalah perjuangan demi kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.

(Suluh Sutia)

Minggu Kesebelas Sesudah Pentakosta

24 Agustus 2025


Pembacaan Alkitab
Lukas 13 : 10-17
Nas Pembimbing
Lukas 13 : 13
Mazmur
Mazmur 71 : 1-11
Pokok Doa
Berdoa bagi setiap orang yang memiliki   keterbatasan fisik. 
Berdoa bagi pergumulan setiap keluarga.
Mendoakan Jemaat Sadang (20 Agustus 1981)
Mendoakan Jemaat Haurgeulis
Nyanyian Tema
PKJ 17:1-2 “Mari Kita Puji” atau 
PKJ 125 “Dia Sanggup”
Warna Liturgis
Hijau


DILEPASKAN DARI IKATAN YANG MEMBELENGGU 

Pengantar 
Hidup dalam ketidaksempurnaan fisik tentu tidak mudah diterima oleh siapapun. Karena ruang gerak jadi sangat terbatas, kehidupan sosial pun demikian. Tapi jika mau belajar menerima keadaan diri sendiri, termasuk ketidaksempurnaan fisik, maka semua pandangan tadi dapat diatasi. Menerima keadaan diri sendiri merupakan salah satu bukti cinta kepada diri sendiri. Berpikir positif adalah modal utama untuk dapat menerima keadaan diri, bahwa kekurangan fisik bukan halangan untuk mengembangkan diri, bersosialisasi dan beribadah. Jika hubungan dengan diri sendiri sudah terbangun baik, maka rasa percaya diri pun akan naik dan hubungan dengan orang lain bisa dirajut secara baik, bisa jadi ikut meningkat.
Kisah Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang sakit bungkuk karena dirasuki roh selama delapan belas tahun di kota Kapernaum, terletak di tepi Danau Galilea. Banyak nilai positif yang kita jumpai dari pengalamannya. Bisa jadi karena keadaannya, ia mendapatkan perlakuan istimewa atau malah sebaliknya, mendapatkan perundungan dari orang-orang di sekitarnya. Bagaimana kisahnya?

Penjelasan Teks 
Adalah seorang perempuan yang datang ke salah satu rumah ibadah saat Yesus mengajar di sana di kota Kapernaum. Perempuan ini adalah sosok yang tangguh. Mengapa dikatakan demikian? Karena perempuan ini adalah sosok yang mencoba berdamai dengan kesusahannya selama delapan belas tahun, tanpa ada jeda waktu walau hanya sejenak saja untuk melepaskan kesusahannya itu. Bagaimana model kesusahannya? Model kesusahannya hanya sakit bungkuk. Tidak terlihat lumpuh. Tidak buta. Tidak timpang. Tidak bisu dan tidak tuli. Tapi lebih dalam lagi, Yesus melihat apa yang tidak dilihat orang banyak, yaitu apa yang menjadi penyebabnya? Roh jahat! Roh jahat yang menguasai tubuh perempuan itu. Kuasa roh jahat begitu kuat mengikat, membelenggu sampai bungkuk tubuhnya.
Bagaimana caranya roh jahat itu bisa masuk ke dalam tubuh perempuan tersebut? Apakah karena dia sengaja mengundang dan mengikat perjanjian dengannya? Kita tidak tahu! Namun ketika Yesus melihat perempuan itu, rasa belas kasihan muncul, lalu  Ia memanggilnya dan berkata, "Hai ibu, penyakitmu telah sembuh." Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. Tanpa waktu lama, tanpa obat dan hanya sekejap saja. Seketika itu juga hanya dengan sentuhan tangan Yesus lepaslah ikatan kuasa roh jahat yang membelenggunya, maka ia pun bisa berdiri tegak. Setiap orang sakit ingin segera disembuhkan; segera dilepaskan dari kesusahannya. Perempuan itu mengalami pertolongan Tuhan dan sembuh seketika. Semua itu terjadi karena kuasa Yesus yang mengalir dalam tubuhnya. Di sini terungkap fakta, jamahan kuasa tangan Yesus itu menyembuhkan. Perkataan-Nya adalah berkat yang menyempurnakannya.
Orang banyak yang sedang belajar bersama Yesus menjadi saksi. Keheranan dan takjub, mereka pun bersukacita. Tapi di balik sukacita perempuan tersebut yang telah sembuh, ada orang yang terguncang imannya, yaitu kepala rumah ibadat, ia gusar karena penyembuhan di hari Sabat. Kegusaran kepala rumah ibadat dijawab langsung oleh Yesus, kata-Nya, "Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antara kamu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?"
Benar bahwa hari Sabat adalah hari Tuhan, tetapi bukan berarti pada hari itu manusia tidak boleh melakukan kebaikan. Hewan ternak saja dilepaskan dari ikatannya supaya ia dapat minum, apalagi manusia yang lebih berharga di mata Tuhan, tentu harus ditolong dan dilepaskan dari ikatan yang membelenggunya. Berharga di mata Tuhan orang-orang terbuang. Pada waktu Yesus berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya. 

Apa pesan Firman Tuhan bagi kita saat ini?
Pertama, semua manusia pasti mengalami kesusahan dalam hidupnya, beragam kesusahan itu seperti 'tangan gurita yang akan melilit hidup mengikat kuat seperti mencengkram mangsanya.' Dalam kondisi demikian, tidak semua orang siap dan sanggup menemukan jalan keluarnya. Ada yang menyerah ditengah jalan, lalu pasrah. Putus asa selamanya lalu segera mengakhiri hidupnya. Perempuan ini tidak menyerah, tak kalah oleh keadaan. Tak menyerah pada nasib. Baginya hidup harus jalan terus apapun masalah yang dialaminya. Makanya boleh dikatakan selama ini ia berdamai dengan kesusahannya. Kita pun bisa meneladani sikap perempuan tegar, kuat dan tangguh ini, sebab di balik semua itu ada tangan Tuhan yang menolong kita. Pada konteks perempuan yang disembuhkan, Yesuslah yang melihat, bukan perempuan itu yang berteriak meminta kesembuhan. Artinya, tanpa kita minta pun, bila Yesus berkehendak menolong, membebaskan dari ikatan yang membelenggu hidup, maka terjadilah demikian.

Kedua, "Ia (Yesus) memanggil..." Artinya pertolongan dari Tuhan juga harus ada upaya dari kita minimal datang kepada Tuhan. Ibarat ungkapan 'gayung bersambut.' Dan ingat tidak mustahil bahwa “penyembuhan” itu bisa terjadi di rumah ibadah, saat datang beribadah. Hati kita menjadi tenang setelah mendengar Firman Tuhan, karena menemukan solusi atas masalah hidup yang sedang dialami. Mari kita tajamkan telinga lalu dengarlah suara panggilan Tuhan. Datang dan dekatilah suara itu. Pertajam kepekaan rasa untuk menjawab panggilan Tuhan, siapa tahu Tuhan menantikan dan menolong kita di sana seperti yang diterima perempuan tadi. Ibrani 10:25 "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."

Ketiga, pilih mana, terikat pada roh jahat atau terikat pada Yesus? Bila memilih terikat pada roh jahat dengan segala kesenangannya, maka kita akan memikul beban berat sepanjang hidup. Bila memilih terikat pada Yesus, maka kita akan dibebaskan dari ikatan belenggu beban hidup dan akan diberi-Nya kelegaan. Matius 11:28 "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." Tapi sayang ada orang Kristen hidup tanpa memiliki kewaspadaan yang cukup terhadap gerakan kuasa kegelapan yang berusaha mengikat, membelenggu kehidupannya. Kuasa kegelapan selalu berusaha agar orang Kristen tidak terikat pada Yesus, tetapi terikat oleh yang lain. Apa wujud keterikatan lain itu? Bisa apa pun yang diingininya. Cirinya adalah ketika Tuhan tidak lagi menjadi satu-satunya yang membahagiakan hidupnya, maka pasti di situlah ada kuasa lain yang disembahnya. Waspadalah!

Keempat, kebaikan harus diciptakan atau dilakukan oleh kita setiap saat, kapan pun dan di manapun. Karena setiap perbuatan baik, walau sederhana, kecil atau sedikit saja, tidak akan dilupakan Tuhan. Tuhan Yesus telah meneladankan hal tersebut. Setiap kebaikan yang kita lakukan, sesungguhnya akan sangat menolong orang tersebut dari kesusahannya. Dengan demikian kita pun bisa menjadi 'sang pembebas' ikatan belenggu orang lain walau tak sesempurna yang Yesus lakukan. Bukankah itu yang dikehendaki Tuhan Yesus?  Galatia 6:2 "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus."

Cara lain berbuat baik diteladankan Firman Tuhan kali ini, adalah:
Jangan menghakimi sesama. Menghakimi orang lain, berarti menciptakan beban hidup yang baru baginya dan kita tidak menjadi 'sang pembebas' seperti diinginkan Tuhan Yesus. Matius 7:2 "Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."
Sebagai umat dan Jemaat Tuhan, mari kita bergerak bersama. Ringankan tangan untuk memberi. Ringankan langkah kaki untuk mendatangi yang kesulitan. Ringankan ketulusan hati untuk menabur banyak kebaikan. Tuhan Yesus sang pembebas ikatan belenggu, memberkati upaya kita sekalian. Jadilah berkat bagi sesama! Amin.

Pokok Pikiran
Banyak model kesusahan yang dialami oleh manusia, baik secara pribadi maupun secara kelompok. Baik kesusahan secara fisik maupun secara psikis. Mau tidak mau, siap tidak siap, kesusahan itu dapat menjadi bagian dari kehidupan kita yang tidak terpisahkan.
Umat belajar supaya bukan fokus pada persoalan yang sedang dihadapi, melainkan fokuslah pada solusinya. Supaya energi yang kita miliki tidak banyak terbuang. Salah satu tindakan yang sangat tepat adalah kembali kepada Tuhan Yesus, itu adalah solusi yang tepat, terutama bagi orang yang percaya, sebab Yesus adalah 'Sang Pembebas sejati' ikatan belenggu dosa yang menjadi sumber kesukaran hidup.
Umat diajak untuk menjadi 'sang pembebas' bagi kesulitan hidup sesamanya. Banyak cara sederhana yang dapat umat lakukan untuk mewujudkan hal tersebut. Salah satunya adalah menjadi sahabatnya atau menjadi teman curhatnya. Bahkan bisa juga menjadi tenaga konselor geratis bagi mereka yang sangat membutuhkan pertolongan. Dimana pertolongan yang diberikan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan.

Daftar Acuan  
https://alkitab.app/v/b6f72deffa01


(Budi Triadi Kaidun)

Minggu Kedua Belas Sesudah Pentakosta

31 Agustus 2025


Pembacaan Alkitab
Lukas 14 : 1-14
Nas Pembimbing
Amsal 25 : 6-7
Mazmur
Mazmur 81 : 1-8
Pokok Doa
Mendoakan Para Pemimpin Bangsa Indonesia
Mendoakan Jemaat Ciranjang (28 Agustus 1984)
Mendoakan Jemaat Jatiasih
Nyanyian Tema
NKB 193 : 1,4 “Aku Hendak Berhati Tulus”
Warna Liturgis
Hijau


BELAJAR RENDAH HATI 

Pengantar
    Epictetus, seorang filsuf Stoa pernah berujar, “Mustahil kita dapat belajar dari sesuatu yang kita anggap sudah tahu, Anda tidak dapat belajar jika Anda berpikir telah mengetahui semuanya. Anda tidak akan menjadi lebih baik jika Anda sudah merasa bahwa Andalah yang terbaik!” Ucapan Epictetus ini menyiratkan pesan tentang pentingnya memiliki kerendahan hati untuk belajar. Manusia itu disebut sebagai makhluk pembelajar dan syarat utama seorang makhluk pembelajar adalah sikap rendah hati. Prinsip atau semangat yang sama dapat kita sematkan pada gereja. Seperti yang kita yakini bahwa gereja bukan hanya tentang organisasi atau lembaga keagamaan yang ditandai dengan gedungnya, tetapi lebih dari itu gereja adalah persekutuan orang-orang percaya. Oleh karena itu, sebagai gereja, kita harus juga menjadi gereja pembelajar, yaitu gereja yang dengan rendah hati senantiasa mau belajar. Pertanyaannya kemudian, belajar apa? Gereja perlu terus belajar untuk menjadi relevan bagi dunia. Gereja perlu terus belajar untuk menjadi bagian dari solusi bagi berbagai isu-isu kemanusiaan yang ada di sekitarnya. Kita, sebagai Gereja Kristen Pasundan harus terus belajar agar bisa mewujudkan visi “Menjadi Gereja bagi Sesama” secara konsisten dan relevan. Jika gereja tidak memiliki kerendahan hati untuk terus belajar, lama-kelamaan gereja tidak lagi dibutuhkan. 

Penjelasan Teks
    Kisah ini menjadi kisah ketiga mengenai Yesus yang diundang makan di rumah seorang Farisi. Sudah menjadi kelaziman bagi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat untuk dapat secara bergantian saling mengundang dalam sebuah jamuan makan. Biasanya jamuan dilakukan pada hari Sabat di siang hari setelah mereka pulang dari rumah ibadah. Agak mengherankan sebenarnya ketika kita menjumpai Yesus diundang dalam acara mereka. Pada masa itu, undangan jamuan makan lebih dari sekadar acara makan bersama. Kita dapat melihat sifat dari jamuan makan ini dari siapa yang diundang dan di mana jamuan makan tersebut berlangsung, bagaimana tempat duduk diatur dan apa yang dibahas di sekitar meja makan. Pada akhirnya, jamuan makan tersebut menjadi forum untuk meneguhkan status, reputasi, pergaulan, dan memperlihatkan pengaruh yang dimiliki. Oleh karena itu, banyak orang berharap dan senang jika dapat diundang oleh orang yang memiliki status lebih tinggi darinya. Sebagai undangan, seseorang juga akan senang jika ia dapat menjadi tamu kehormatan dalam sebuah jamuan. Dalam kebiasaan jamuan pada masa itu, tempat duduk akan disusun sesuai peringkat status sosial. Tempat bagi tamu yang paling dihormati adalah di samping tuan rumah. Maka, posisi tempat duduk benar-benar menentukan status sosial dan semua tamu undangan berharap-harap untuk mendapatkan tempat terhormat (bdk. ay. 7). Jamuan itu berlangsung bak pertunjukan strata sosial. 
Dari segi status sosial masyarakat, Yesus bukan bagian dari mereka. Kehadiran Yesus di sana menunjukkan bahwa Ia selalu berupaya untuk bersikap baik kepada orang-orang Farisi itu, bahkan Yesus juga memberi pengajaran kepada mereka. Kita tidak tahu motif sesungguhnya dari sang tuan rumah ketika mengundang Yesus. Mungkin saja untuk mempermalukan Yesus. Kemungkinan lain, mereka ingin tahu respons Yesus terhadap mereka. Maka tak heran semua mata tertuju pada Yesus dan mereka memperhatikan Yesus dengan begitu seksama. Di saat yang sama, dengan leluasa Yesus juga memperhatikan perilaku semua tamu undangan yang hadir. Mereka punya satu kesamaan yaitu sama-sama mencari dan menginginkan duduk di tempat yang terhormat. 
    Realitas itulah yang membuat Yesus berkomentar supaya orang-orang di sana tidak cepat berasumsi menganggap diri sebagai tamu terhormat, karena itu akan mempermalukan diri mereka sendiri. Yesus mengajarkan mereka dua hal penting tentang kerendahan hati. Pertama, supaya setiap orang tidak meninggikan diri. Yesus mengajarkan bahwa seseorang dihormati bukan semata-mata dari status sosial yang disandangnya, melainkan juga dari perilaku rendah hati yang muncul dari dalam dirinya. Ini memperlihatkan jalan Injil yaitu bagi mereka yang mencari kerendahan hati akan menemukan bahwa Tuhan meninggikan mereka. Kedua, tentang orang-orang yang akan diundang dalam jamuan makan. Yesus membayangkan dua daftar tamu yang sangat berbeda. Di daftar pertama ada kelompok orang-orang yang biasa diundang seperti sahabat-sahabat, saudara, keluarga, dan tetangga yang kaya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan untuk membalas undangan yang mereka terima. Di daftar kedua ada orang-orang yang tidak biasa diundang ” tidak pernah diperhitungkan untuk diundang seperti orang-orang miskin, orang-orang cacat, lumpuh, dan buta. Mereka jelas orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk membalas undangan yang mereka terima. Yesus menasihati agar mereka tidak terus-menerus mengundang orang-orang yang dapat memberikan balasan yang sepadan, melainkan mengundang orang-orang yang statusnya rendah dan hina di mata masyarakat. Nasihat Yesus ini lebih khusus diarahkan pada orang-orang Farisi agar mereka mau berbagi meja dengan orang-orang rendah dan hina itu, yang tidak dapat memberikan balasan yang sepadan. Dengan demikian, mereka dapat menghidupi nilai-nilai Kerajaan Allah.
    Pengajaran Yesus ini tergolong radikal karena bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku umum. Meskipun radikal, melalui nasihat tersebut, Yesus tidak mengatakan bahwa mereka harus mengecualikan sahabat dan keluarga mereka dan hanya makan bersama orang-orang miskin, lumpuh, dan buta. Pesan penting Yesus yang sesungguhnya adalah bahwa semua orang sama layaknya untuk diundang. Meskipun mereka tidak dapat membalas, mereka tetap layak untuk duduk satu meja dengan orang lain. Kalaupun berpikir tentang “balasan”nya, maka balasan itu akan diperoleh saat hari kebangkitan orang-orang benar. Artinya, balasan yang didapat adalah hidup kebangkitan yang dianugerahkan oleh Allah. Begitupun dalam Kerajaan Allah, semua orang setara. Tantangannya adalah apakah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bersedia memperluas daftar tamu undangan sehingga lebih banyak orang yang bisa merasakan keramahtamahan mereka? Untuk bisa mengundang orang-orang di kelompok yang kedua, tentu dibutuhkan kerendahan hati dari sang pengundang. Sesungguhnya, Tuhan Yesus hendak mengajak bahkan menantang mereka untuk belajar menjadi pribadi-pribadi yang rendah hati. Pengajaran, nasihat, dan sekaligus tantangan Yesus ini menjadi teguran yang keras bagi semua orang yang hadir dalam jamuan saat itu. Yesus mengajak mereka untuk belajar rendah hati dalam sikap hidup sehari-hari, salah satunya bersedia merangkul dan memperlakukan orang-orang yang berbeda status sosialnya secara setara. Yesus menantang mereka untuk keluar dari zona nyaman yang selama ini mereka hidupi. Yesus juga sedang mengajarkan orang-orang Farisi dan para tamu undangan pada saat itu untuk tentang prinsip keadilan sosial. 

Pokok Pikiran
Keberadaan kita sebagai gereja tidak dapat terpisah dari konteks masyarakat tempat gereja itu berada. Gereja Kristen Pasundan berada dalam konteks masyarakat Jawa bagian barat yang memiliki beraneka ragam pergumulan. Kita sadar bahwa kita memiliki visi bersama untuk menjadi gereja bagi sesama. Dalam kesadaran tersebut, gereja dipanggil untuk memberikan kontribusi yang positif dan relevan bagi persoalan-persoalan nyata yang ada di sekitarnya. Namun, bukan berarti GKP memiliki jawaban atau solusi untuk persoalan-persoalan publik yang ada. Maka dari itu, untuk mewujudkan panggilan itu kita perlu memiliki kesediaan untuk belajar mengenai berbagai hal yang dapat menunjang serta memperlengkapi diri untuk menjadi gereja bagi sesama. 
Gereja tidak dapat berkontribusi dalam persoalan-persoalan keadilan sosial jika kita tidak mengerti isu ini secara memadai. Kita tidak dapat memberikan kontribusi yang relevan pada isu-isu kemanusiaan terkini jika tidak memiliki wawasan yang cukup. Begitupun dalam persoalan-persoalan lain. Gereja harus mau terus belajar dan memperlengkapi diri dengan berbagai wawasan untuk dapat menawarkan jawaban. Dalam hal ini, bukan hanya gereja sebagai institusi, tetapi juga seluruh bagian gereja yang hidup berbaur di tengah-tengah masyarakat. Belajar dari pengajaran Tuhan Yesus, sebagai gereja kita harus mau memberi diri keluar dari zona nyaman di dalam ruang-ruang peribadahan yang privat menuju ruang-ruang publik. Belajar rendah hati memang tidak mudah, karena lawannya adalah diri sendiri. Dengan kesediaan untuk keluar dari zona nyaman dan dengan rendah hati terus belajar maka GKP bisa terus bertumbuh dan menjadi gereja bagi sesama.

Daftar Acuan
Chen, Diane G. Luke: A New Covenant Commentary. Eugene: Cascade Books, 2017.
Harun, Martin. Lukas: Injil Kaum Marginal. Yogyakarta: PT Kanisius, 2019. 

(Judistian Pratama Hutauruk)







Daftar Label dari Kategori DPA Minggu GKP 2025





NEXT:
DPA Minggu GKP September 2025



PREV:
DPA Minggu GKP Juli 2025

Arsip DPA Minggu GKP 2025..

Register   Login