|
|
Minggu Ketiga Belas Sesudah Pentakosta 7 September 2025 Pembacaan Alkitab Lukas 14:25-35 Nas Pembimbing 1 Tesalonika 1:6-7 Mazmur Mazmur 119:33-40 Pokok Doa Mendoakan budaya baca masyarakat (Hari Literasi Sedunia-8 September) Mendoakan Jemaat Depok (6 September 1953) Mendoakan Jemaat Jatinegara Nyanyian Tema NKB 179:1,4 “Lama ‘Ku Enggan Mengikut Jalan Tuhan” atau KJ 376:1,3,4 “Ikut Dikau Saja, Tuhan” Warna Liturgis Hijau TAK SEKADAR MENJADI PENGIKUT Pengantar Tak keliru rasanya mengatakan bahwa pada umumnya seseorang bangga ketika memiliki banyak pengikut. Di zaman serba digital ini sejumlah platform sosial media memiliki fasilitas follow, ‘mengikuti’. Pemilik sosial media tentu senang bila sosial medianya memiliki banyak follower, atau pengikut. Mereka juga berupaya sedemikian rupa agar platformnya menarik dan hal itu mengakibatkan pertambahan pengikut. Dampaknya tentu banyak, misalnya terkait dengan pengaruh, tingkat kepercayaan, bahkan juga materi. Tentu saja hal itu wajar-wajar saja. Di bidang politik atau sosial kemasyarakatan lazim saja terjadi ada semacam perlombaan banyak-banyakan pengikut. Makin banyak pengikutnya, makin besar pula kekuatan sosial, atau pengaruh dan daya tekannya. Hal itu kita bisa rasakan ketika tiba musim pemilu/ pilkada atau ketika terjadi demonstrasi. Dalam bidang keagamaan atau kerohanian pun rasanya sama. Kita bangga bila agama kita punya banyak pengikut. Pernyataan bahwa agama Kristen adalah agama yang penganutnya terbanyak di dunia sering diangkat atau ditampilkan dengan bangga (bahkan terkadang dengan nada superior) oleh sebagian kalangan Kristen. Ketika gereja (atau organisasi keagamaan) kita punya banyak anggota (atau pengikut) ada terselip rasa bangga, bukan? Namun, apa yang Kristus perlihatkan bertolak belakang dengan kondisi di atas. Ketika orang berbondong-bondong mengikuti-Nya justru Yesus terkesan hendak membatasi. Mari kita dalami apa alasan di balik sikap-Nya itu. Penjelasan Teks Dalam bagian sebelumnya (Luk. 14:15-24) dengan suatu perumpamaan, Lukas menarasikan undangan Allah kepada manusia (dalam hal ini orang Yahudi) untuk masuk dalam kerajaan-Nya. Namun, ternyata orang-orang yang Allah undang itu mengajukan banyak alasan untuk mengelak dari undangan tersebut. Dengan kata lain, Allah mengajak manusia untuk mengikuti-Nya, tetapi dengan sadar mereka menampik ajakan tersebut. Sebaliknya, dalam bagian ini (khususnya Luk. 14:25-33) Lukas menampilkan narasi bahwa ada orang-orang yang dengan sadar mau mengikuti Allah. Frasa “banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus” (ay. 25) bukan sekadar menjadi pembuka adegan baru kisah perjalanan Yesus, melainkan juga memberi kontras dengan narasi sebelumnya. Orang-orang Yahudi, yang mengikat perjanjian dengan Allah, ternyata banyak di antaranya yang menolak Yesus, Sang Kristus, yang datang dari Allah. Oleh karena itulah Allah membuat ikatan perjanjian dengan dengan bangsa-bangsa lain. Allah membuka tangan-Nya kepada bangsa-bangsa lain dan mereka berhak juga mendapatkan karunia yang sama yang Allah janjikan kepada umat Israel. Hal ini menggemakan teologi Injil Lukas bahwa kasih dan keselamatan yang Allah anugerahkan bukan hanya berlaku bagi orang Israel, melainkan juga bagi bangsa-bangsa lain. Namun, pertanyaan selanjutnya segera menyusul: apa artinya mengikut Yesus? Syarat dan konsekuensi apa yang akan dihadapi? Dalam narasi yang dipaparkan oleh Lukas ini setidaknya ada tiga syarat yang mesti dipenuhi untuk menjadi pengikut Yesus. Pertama, kesediaan untuk melepaskan (ay.26). Apa yang dilepaskan? Segala sesuatu yang menghalanginya untuk hidup dalam persekutuan bersama Allah. Dengan menggunakan gaya bahasa hiperbola atau melebih-lebihkan, Yesus berkata bahwa orang yang tidak membenci orangtua atau kerabatnya tidak layak menjadi pengikut-Nya. Gaya bahasa seperti ini lazim dalam tuturan orang-orang Semit, termasuk orang Yahudi, untuk memberi penekanan yang besar atas isu yang sedang dibahas, yakni perihal mengikut Yesus (Allah). Dikatakan oleh Pastur Gianto bahwa ungkapan “membenci” itu menggambarkan sikap tidak memihak. Artinya, ketika kita mengikut Yesus menuju Kerajaan Allah kita diingatkan agar tidak memihak pada ikatan-ikatan kekerabatan. Bukan karena ikatan kekerabatan itu bertentangan dengan nilai-nilai yang Yesus pegang. Namun, ikatan-ikatan kekerabatan tersebut " bahkan juga ikatan dalam hal kepemilikan atau harta benda (ay. 33) " tak boleh membatasi kita dalam perjalanan menuju Kerajaan Allah. Dalam ungkapan yang lain, Andar Ismail mengatakan bahwa ungkapan hiperbolis itu hendak menegaskan bahwa tuntutan Yesus itu jauh lebih penting daripada yang paling penting. Memelihara relasi dengan keluarga adalah salah satu hal yang terpenting. Namun, mengikuti Yesus merupakan hal yang jauh lebih penting dibandingkan dengan yang paling penting. Kedua, kesediaan berkorban dan menanggung derita (ay. 27). Syarat ini tidak berarti bahwa seorang yang mengikut Kristus harus mencari-cari salib atau sengaja mencari-cari penderitaan. Namun, dengan berjalan bersama Yesus, seseorang pasti berjumpa dengan berbagai peristiwa yang memedihkan, menyengsarakan, atau yang menuntutnya untuk berkorban. Dengan berjalan bersama Yesus sudah tentu kita akan sampai pada tujuan, yakni kemuliaan bersama Yesus, tetapi ada harga yang harus dibayar, yakni perjuangan yang menuntut pengorbanan. Patut diperhatikan juga bahwa frasa “memikul salib” jangan dilepaskan dari frasa “mengikut Aku”. Dengan hanya menuntut “memikul salib”, kita akan jatuh pada penderitaan tanpa ujung. Bukan itu yang diinginkan oleh Kristus. Kita menjadi rekan seperjalanan Kristus memanggul salib. Kita pasti merasakan bahwa salib itu berat, tetapi kita juga yakin bahwa Kristus memanggulnya bersama kita. Ketiga, komitmen untuk menjadi berguna (ay. 34-35). Dengan menjadi pengikut, seseorang bukan sekadar berjalan di belakang orang yang dia ikuti. Ia memperlihatkan dampak yang terjadi pada dirinya sebagai akibat dari relasi dengan orang yang diikutinya. Seorang yang mengikut Kristus itu baik sebagaimana garam itu baik. Namun, seseorang akan menjadi pengikut Kristus yang sia-sia bila hidupnya tidak memberi manfaat, sama seperti garam yang tawar. Seorang yang mengikut dan mengiringi Yesus, dalam suka dan duka, semestinya belajar dan menempa diri sedemikian rupa sehingga menjadi berguna di tengah ladang dunia. Sebagai pengikut Kristus seseorang mengambil peran, entah kecil atau besar, bagi penyebaran Injil. Ketiga syarat ini mestilah ditimbang baik-baik oleh siapa pun yang mau berjalan bersama Kristus. Lukas menceritakan bahwa Yesus mengangkat dua contoh kasus bagaimana seseorang mesti mengambil keputusan baik-baik sebelum memutuskan mengikuti-Nya. Pertama adalah kasus seorang yang hendak mendirikan menara, yang biasanya merujuk pada menara penjaga di perkebunan anggur. Lalu kasus kedua adalah seorang raja yang berencana pergi berperang. Kedua kasus ini menekankan bahwa ketika pertimbangan seseorang kurang cermat, pekerjaan atau rencananya akan berantakan di tengah jalan. Bagi Yesus, seseorang tak boleh setengah hati kalau mau mengikuti-Nya. Sekali seseorang memutuskan untuk mengikuti-Nya, ia harus mengerahkan komitmen sepenuhnya. Pokok Pikiran Tiap orang yang menyebut dirinya pengikut Kristus bukanlah seperti seorang yang berjalan mengekor saja di belakang Yesus. Ia bukan berjalan begitu saja tanpa berpikir. Justru Yesus menuntut kita mempertimbangkan dengan masak-masak mengapa pada akhirnya kita mengambil keputusan untuk mengikut Yesus. Mengikut Yesus bukan berarti membeo (meniru) apa kata orang, tetapi sungguh-sungguh mempelajari apa arti Yesus bagi hidupnya. Dengan demikian, ada tanggung jawab gereja untuk terus memperlengkapi warga Jemaat untuk mendapatkan pengenalan dan pemahaman yang benar tentang Yesus Kristus. Sebagai tubuh Kristus, tiap orang pun saling menopang, menghibur, menguatkan agar komitmen mengikut Kristus yang ada pada diri masing-masing terus tumbuh dan kuat mengakar. Pengikut Kristus tak cukup hanya memiliki label “beragama Kristen”. Mengikut Kristus haruslah berarti menjadi murid Kristus. Itu artinya seseorang belajar mendalami kehendak Kristus dengan sungguh-sungguh. Ia belajar agar corak hidupnya berpadanan dengan kehendak Yesus. Menjadi murid Kristus berarti, sebagaimana dikatakan oleh Andar Ismail, belajar mengubah apa yang perlu kita utamakan dalam hidup, lalu belajar memahami apa yang diutamakan oleh Tuhan Yesus. Dalam hal itu tentu ada pilihan-pilihan yang harus dibuat, yang kerap kali sulit karena bersinggungan dengan hal-hal yang biasa kita jalani, atau hal-hal yang kita genggam erat, atau hal-hal yang kita cintai. Kita tidak boleh sekadar menjadi pengikut, yang mengambil jarak dengan apa yang menjadi pekerjaan Kristus di tengah gereja atau dunia. Dengan sedih William Barclay mengungkapkan bahwa salah satu kendala yang dihadapi oleh gereja adalah banyak pengikut Kristus yang berdiri jauh-jauh dan amat sedikit yang mau menjadi murid sejati. Oleh karena itu, menjadi pengikut Kristus berarti mengambil peran, entah besar ataupun kecil, di tengah dunianya. Dengan demikian ia menunjukkan kebermanfaatannya di tengah lingkungannya. Daftar Acuan Barclay, William. Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Injil Lukas (terj.). Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996. Bergant, Dianne dan Karris, Robert (ed.). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru (terj.). Yogyakarta: Kanisius, 2002. Gianto, A. “Injil Lukas 14:25-33 Hari Minggu Biasa XXIII/C” https://santoantonius.blogspot.com/2010/09/injil-lukas-1425-33-hari-minggu-biasa.html Ismail, Andar. Selamat Mengikut Dia!: 33 Renungan tentang Kristus. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997. (Jujun Noormalia Madjiah) Minggu Keempat Belas Sesudah Pentakosta (Bulan Doa Alkitab LAI) 14 September 2025 Pembacaan Alkitab Lukas 15:1-10 Nas Pembimbing 2 Timotius 3:15-16 Mazmur Mazmur 14:1-7 Pokok Doa LAI dalam upaya mewujudkan tema kerjanya Mendoakan Sekolah Tinggi Filsafat Teologi - Jakarta (STFT-J) Mendoakan Palang Merah Indonesia dan para pendonor (Hari PMI-17 September) Warga Jemaat yang sedang menjauh dari persekutuan Mendoakan Jemaat Pangharepan Cikembar (11 September 1886) Mendoakan Jemaat Betlehem Kampung Teko (16 September 2024) Mendoakan Jemaat Sindangjaya (17 September 1989) Nyanyian Tema “Di Tengah Ombak” https://www.youtube.com/watch?v=Bp9BK9V5ez0 atau KK 601 “Kumulai Dari Diri Sendiri” Warna Liturgis Hijau YANG KECIL DAN RENDAH ITU BERHARGA BAGI TUHAN Pengantar Setiap September kita sebagai mitra Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dan bersama gereja-gereja di seluruh Indonesia diajak untuk merayakan Bulan Doa Alkitab (BDA). Artinya sepanjang September kita diberi kesempatan untuk menghayati dan mensyukuri hadirnya Alkitab di Bumi Nusantara dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh penggunanya. Selain itu di bulan September kita juga diajak untuk merayakan bulan Sekolah Tinggi Filsafat Teologi-Jakarta (STFT-J) karena GKP adalah salah satu pendiri dan gereja pendukung STFT-Jakarta. Melalui peringatan bulan STFT-Jakarta dan BDA GKP dipanggil untuk terus mendorong warga Jemaat agar semakin banyak yang minat membaca Alkitab dan belajar mendalami firman Tuhan sebagai dasar mengajarkan kebenaran. Di bawah terang tema kerja LAI tahun 2025, yaitu “Spiritualitas Alkitab: firman Ilahi hikmat sejati” (Ams. 8) kita diajak untuk menghayati kasih Tuhan yang memulihkan. Spiritualitas Alkitab dapat diartikan sebagai proses penyembuhan ilahi atas hubungan yang rusak antara manusia dengan Allah. Kita akan melihat bagaimana Allah di dalam Yesus Kristus memulihkan hubungan yang rusak dengan mencari yang hilang dalam perumpamaan domba yang hilang dan dirham yang hilang. Penjelasan Teks Orang Farisi mempersoalkan para pemungut cukai yang datang kepada Yesus. Orang Farisi dan ahli Taurat, menganggap pemungut cukai itu begitu rendah, mereka itu sampah masyarakat yang seharusnya dihindari. Mereka tidak pantas diajar, Yesuspun tidak pantas makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa. Siapa yang dimaksud pemungut cukai dan orang berdosa dalam nas ini? Pemungut cukai yang ditunjuk pada nas tersebut adalah orang-orang Yahudi yang bekerja untuk Penjajah Roma, karena pemungut cukai itu dianggap pengkhianat terhadap bangsanya sendiri, dianggap rakus, pemeras karena upah mereka diambil dari pungutan pajak lebih dari yang seharusnya. Para pemungut cukai dianggap najis ketika beribadah di Bait Allah, mereka disamakan dengan orang-orang berdosa pada umumnya seperti perempuan-perempuan sundal (pelacur). Ironisnya, para pemungut cukai dan orang berdosa itu justru mendekati Yesus untuk mendengarkan firman Tuhan, sedangkan orang Farisi dan ahli-ahli taurat mendekati Yesus dengan maksud mencari kesalahan dan mengkritik Yesus. Pemimpin agama Yahudi ini sombong rohani. Mereka protes “Mengapa Yesus menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka?" Yesus menjawab protes mereka melalui perumpamaan ini: ketika Aku menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka itu adalah seperti seorang yang bersukacita karena telah menemukan kembali miliknya yang berharga itu setelah melalui proses pencarian yang cukup rumit. Seperti seorang gembala yang menemukan seekor dombanya yang hilang setelah pencarian dalam waktu yang lama, menggendongnya pulang dan bersukacita dengan semua sahabat-sahabatnya. Di sini kita menemukan dua sikap dan cara pandang yang berbeda antara Yesus dengan orang Farisi dan ahli Taurat. Yesus memandang bahwa “akan ada kesukaan besar di surga apabila seorang berdosa bertobat”, sedangkan orang Farisi dan ahli Taurat memandang sebaliknya, bahwa orang berdosa tidak pantas dikasihi. Yesus menegur orang Farisi dan ahli Taurat tentang pemikiran teologi mereka yang sudah jauh menyimpang dari ajaran dan Firman Tuhan. Yesus menerima bahkan mencari orang-orang berdosa, mencari orang-orang yang dianggap tidak layak dan rendah. Seperti ketika ada satu domba yang hilang, maka sang gembala-lah yang berinisiatif mencari sampai menemukan domba yang hilang itu. Yesus menerima orang-orang berdosa bukan karena mereka yang datang, Yesus tidak menunggu secara pasif tetapi Yesus secara aktif mencari orang yang berdosa itu sampai menemukannya. Yesus mencari orang berdosa yang bersedia ditemukan oleh Allah di dalam Yesus Kristus. Seperti ketika ada satu domba yang hilang, maka sang gembala-lah yang dengan aktif mencari sampai menemukan domba yang hilang itu. Posisi aktif ada pada sang gembala, bukan pada si domba. Siapakah yang dimaksud dengan “domba yang hilang” itu? Nabi Yesaya berkata: “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri,…” (Yes. 53:6). Perumpamaan domba yang hilang dan dirham yang hilang ini mengajak kita berpikir, apa yang akan terjadi kalau tidak ada yang melihat dan menolong domba yang tersesat itu? Domba yang tersesat itu berada dalam bahaya besar, bingung karena tidak tahu arah, takut, cemas dan pasti kehilangan damai sejahtera Allah. Apa yang akan terjadi kalau Tuhan tidak melihat dan menemukan domba yang sedang tersesat? Apa yang akan terjadi ketika domba yang tersesat itu dibiarkan? Kalau domba yang sesat itu adalah kita, bagaimana perasaan kita ketika kita ditemukan, digendong dan dipulihkan? Betapa besar kasih Allah kepada kita, walau kecil dan lemah di mata dunia tetapi tetap berharga di mata Allah. Lantas apa yang akan kita perbuat untuk merespon kasih Tuhan itu? Berserah diri dan tunduk pada Firman Tuhan, siap diproses untuk diperlengkapi, bersedia dipimpin dalam kuasaNya. Apakah kita bersedia ditemukan dan menyambut kasih Allah itu dengan segenap hati kita atau justru lari semakin jauh untuk bersembunyi karena takut dan malu atas pelanggaran yang membuat kita tersesat? Apa kata Alkitab? Ingatlah juga bahwa sejak kecil engkau telah mengenal kitab suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Bersedia diperbaiki terus menerus karena kita berharga di mata Tuhan. Semakin rajin membaca Alkitab karena di situlah kita temukan jalan yang benar, yang mengajar kita menyadari kesalahan, supaya kita mau bertobat, relasi kita dengan Tuhan dan sesama yang telah rusak dapat dibetulkan. Alkitab adalah navigator, yang mengarahkan kita agar kita tidak tersesat. Alkitab mempunyai otoritas menegur kesalahan. Alkitab membuat kita menemukan ketenangan seperti seorang yang menemukan kembali miliknya yang berharga. Alkitab tidak membiarkan kesalahan, Alkitab adalah berita anugerah yang mengubahkan, mendidik orang untuk hidup benar (2 Tim. 3:15-16) yang rusak dibetulkan karena kita berharga di mata Tuhan. Hati Allah selalu tertuju pada kita. Ia tetap memedulikan kita. Mungkin orang lain sudah tidak lagi menaruh harapan pada kita, tetapi Allah tidak begitu. Ia akan terus mencari kita. Allah adalah Allah yang Maha Pengampun. Ia selalu merindukan kita. Apakah kita juga merindukan saudara-saudara kita yang telah tersesat? Lama tidak bergabung karena sakit, mereka yang minder karena kehilangan pekerjaan, jabatan, disisihkan, dianggap tidak pantas karena telah berbuat dosa. Mereka membutuhkan kehadiran dan lawatan kasih dari kita, mereka yang hilang, cari dan temukan karena mereka juga berharga di mata Tuhan. Pokok Pikiran GKP dan Gereja di seluruh Indonesia sebagai mitra LAI diajak untuk merayakan Bulan Doa Alkitab di sepanjang September. Pada tahun 2025 ini LAI mengusung tema kerja “Spiritualitas Aliktab: firman Ilahi hikmat sejati” (Ams. 8). Di bawah tema ini kita diajak untuk menghayati kasih Tuhan yang memulihkan. Spiritualitas Alkitab dapat diartikan sebagai proses pemulihan ilahi atas hubungan yang rusak antara manusia dengan Allah. GKP sebagai salah satu pendiri dan mitra Sekolah Tinggi Filsafat Teologi”Jakarta (STFT-J) diajak untuk mensyukuri kehadiran STFT-J yang telah menjadi salah satu lembaga yang menghantar para lulusannya membaktikan diri di GKP. Kedua perumpamaan ini menekankan hilangnya milik yang berharga lalu sang pemilik berinisiatif untuk mencari sampai menemukan miliknya yang berharga itu. Hal Ini tidak sepaham dengan sikap orang Farisi yang keberatan dengan sikap Yesus dalam menyambut orang berdosa yang mendatangi Dia. Mengapa mereka tidak mau bersukacita dengan orang berdosa yang bertobat? Itulah yang dijawab oleh perumpamaan ini. Kita diajak untuk merenungkan beberapa hal: Apa yang akan terjadi kalau tidak ada yang melihat dan mencari domba yang tersesat itu? Domba yang tersesat itu berada dalam bahaya, bingung karena tidak tahu arah, takut, cemas seperti seorang yang kehilangan dirham miliknya yang berharga itu. Apa yang akan terjadi kalau domba yang tersesat itu dibiarkan? Mari bersyukur karena kita dicari, telah ditemukan oleh Tuhan Yesus Kristus dan digendong dalam dekapan kasih-Nya karena Ia memandang walaupun kecil dan lemah tetapi kita berharga di mata Tuhan. (Lelly Frida Sundoro) Minggu Kelima Belas Sesudah Pentakosta 21 September 2025 Pembacaan Alkitab Lukas 16:1-13 Nas Pembimbing Matius 10:16 Mazmur Mazmur 113:1-9 Pokok Doa Mendoakan perjuangan perdamaian di seluruh negara (Hari Perdamaian Sedunia - 21 September) Mendoakan Jemaat Jatiranggon Nyanyian Tema PKJ 271:1-3 “Janganlah Kumpulkan Harta” atau KJ 363:1,2 “Bagi Yesus Kuserahkan” Warna Liturgis Hijau CERDIK DI DALAM KASIH TUHAN YESUS Pengantar Di masyarakat, kita mengenal fabel, cerita yang menggambarkan watak dan budi manusia yang pelakunya diperankan oleh binatang. Fabel yang popular diantaranya tentang kancil yang cerdik. Salah satunya, intinya: seekor kancil yang tertangkap petani, dapat melepaskan dirinya. Waktu melarikan diri, terhalang sungai yang airnya dalam. Kancil mencoba membuat rakit, tetapi seekor buaya menggigit kaki belakangnya. Kancil berkata bahwa badannya terlalu kecil, dagingnya sedikit jika dimakan sekarang apalagi jika dibagi-bagi dengan buaya lainnya. Dia usul agar dirinya dilepaskan dan diizinkan makan supaya badannya jadi lebih besar, sesudah itu buaya bisa memakannya bersama buaya lainnya. Usul disetujui. Setelah makan, kancil kembali dan minta izin untuk menghitung berapa banyak buaya yang akan makan memakannya. Buaya diminta agar semua berjejer dari pinggir dekat kancil sampai seberang. Disetujui, kancil melompat-lompat di atas buaya, menghitungnya. Setelah sampai di seberang kancil loncat ke darat dan kabur sambil teriak, “maaf saya belum mau mati”. Sebagai pengikut Kristus, kita menghadapi banyak masalah. Perlu memiliki kecerdikan mengatasinya. Tuhan Yesus mengingatkan (Mat. 10:16) “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” Bagaimana caranya? Bacaan kita berbicara tentang seorang bendahara cerdik yang tidak jujur dalam menyelamatkan masa depan dirinya. Apa hubungannya dengan kita? Penjelasan Bahan Perumpamaan dalam perikop Lukas 16:1-13 dipandang para penafsir sebagai perikop yang sukar dan menimbulkan multi tafsir. Perumpamaan yang dikemukakan Tuhan Yesus menggambarkan tentang perilaku bendahara yang tidak jujur (Ing.rascal = bangsat). Suatu sikap yang dapat terjadi di mana pun. Di Palestina pada zaman itu, banyak tuan tanah yang tidak langsung menggarap tanahnya. Dalam penggarapan tanah atau ladangnya, mereka mempercayakannya kepada seorang pengelola sebagai manajer dan yang sekaligus merangkap juga menjadi bendaharanya. Tetapi bendahara yang dikemukakan dalam perumpamaan yang dikemukakan Tuhan Yesus ini adalah seorang yang tidak jujur. Majikannya pun tahu kelakuan bendaharanya itu. Karena itu dia akan memecatnya tetapi sebelumnya, bendahara itu diminta memberi pertanggungjawabannya. Waktu itulah sang bendahara menunjukkan kecerdikannya yang brilian. Ia tahu bagaimana harus berbuat untuk menyelamatkan dirinya jika dia sudah dipecat nanti. Setidaknya seperti dikatakannya, nanti ”ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka” (Luk. 16:4). Jalan yang dia tempuh adalah mempengaruhi para penghutang kepada tuannya. Itu tentu mudah bagi dia sebab bendahara pasti sudah punya hubungan dekat dengan mereka melalui transaksi yang mereka lakukan dengan dirinya. Ia memanggil orang-orang yang berhutang kepada tuannya dan menyuruh mereka menuliskan jumlah yang lebih rendah dari utang mereka yang sebenarnya. Nampaknya jumlah potongan terhadap yang berhutang minyak lebih besar daripada yang berutang gandum. Tetapi sebenarnya tidak, nilainya sama sebab harga gandum lebih mahal daripada minyak. Dengan tindakan demikian bendahara mendapatkan dua keuntungan. Pertama, ia telah menanamkan rasa hutang budi dalam diri orang-orang yang ditolongnya itu. Kedua, yang lebih efektif, yaitu bahwa bendahara telah melibatkan orang-orang yang ditolongnya ke dalam perbuatan tidak baik si bendahara. Jika keadaan memburuk, bendahara berada dalam posisi yang kuat untuk melakukan sedikit pemerasan secara bijaksana kepada mereka. Yang memunculkan kesulitan dalam penafsiran adalah pernyataan Tuhan Yesus yang menyatakan sikap tuannya yang dikatakan-Nya, “tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik” (ay. 8). Kesan yang kita tangkap: Yesus sepertinya memihak sikap licik bendahara tidak jujur tersebut. Bagaimana kita memahaminya? Setidaknya, ada empat pelajaran atau pesan moral di dalamnya: Pertama, “anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.” (bdk. Ay.8). Ini dapat diartikan jika saja orang Kristen bersemangat dan cerdik dalam usahanya mencapai kebaikan sebagaimana manusia dunia dalam usahanya mendapatkan uang dan kenyamanan, maka orang kristen akan menjadi manusia yang lebih baik. Seandainya orang beriman memberikan perhatian yang sama besarnya pada hal yang menyangkut jiwa mereka seperti yang dilakukannya ketika menyangkut urusan duniawi mereka, maka mereka akan menjadi manusia yang lebih baik. Kekristenan kita hanya akan menjadi nyata dan efektif bila kita menyediakan waktu dan usaha sebanyak seperti waktu kita melakukan untuk aktivitas duniawi. Kedua, harta benda harus digunakan untuk memperkuat persahabatan yang memiliki nilai kehidupan nyata dan permanen (bdk. ay. 9). Itu dapat dilakukan dalam dua cara: 1) melalui perbuatan yang berdampak pada kekekalan. Para rabi Yahudi mengatakan: “Orang kaya menolong orang miskin di dunia ini, sedang orang miskin menolong orang kaya di dunia yang akan datang”. Orang Yahudi punya keyakinan: amal yang diberikan kepada orang miskin akan bermanfaat bagi manusia di dunia yang akan datang. Kekayaan seseorang yang sebenarnya, bukan terletak pada apa yang dia miliki, tetapi pada apa yang dia berikan (bdk. Mat.25:1-45). 2) “Harta milik bukanlah suatu dosa, tetapi merupakan suatu tanggung jawab besar dan orang yang menggunakannya untuk menolong sesamanya berarti sudah melaksanakan tanggung-jawab itu.” Ketiga, “Siapa yang setia dan benar dalam perkara kecil akan setia dan benar juga dalam perkara besar.” Orang tidak akan dapat mencapai posisi lebih tinggi jika di tingkat rendah dia tidak dapat menunjukkan kemampuannya dalam kejujuran dan kebenaran (bdk. ay. 10-11). Tuhan Yesus mengajarkan yang intinya bahwa apa yang dimiliki manusia di dunia ini pada dasarnya bukanlah miliknya sendiri, tidak akan dapat dibawa mati. Milik orang sebenarnya yang dapat dibawa ke surga adalah perbuatan menggunakan hal-hal duniawi untuk kebaikan dalam kasih di dunia ini. Keempat, seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan (bdk. ay. 13). Seorang tuan/ majikan zaman dulu secara eksklusif memiliki hamba/ budaknya. Atas dasar itu semua majikan menguasai dan menentukan sepenuhnya sepak terjang budak/ hambanya. Sepanjang waktu, budak jadi hamba bagi tuannya. Demikian juga seorang yang mengabdi kepada Allah tidak bebas merdeka sekehendak hati atau bekerja paruh waktu. Seorang hamba Tuan yang mengikatkan dirinya kepada Tuhan Allah tidak dapat mengabdi kepada yang lain, dalam hal ini Mamon. Pokok Pikiran Ada empat pokok pikiran yang dapat dikembangkan untuk disampaikan dalam khotbah berkaitan dengan tema “cerdik dalam kasih Tuhan Yesus.” Fabel kancil yang cerdik dapat dipakai sebagai pembuka. Orang Kristen perlu cerdik dan bersemangat dalam usahanya menyalurkan kasih Kristus secerdik yang dilakukan manusia dunia dalam usahanya mendapatkan uang dan kenyamanan duniawi. Dengan begitu kehidupan kita hanya akan menjadi nyata dan efektif. Harta milik duniawi bukanlah suatu dosa, tetapi harus ditempatkan secara cerdik dalam kesadaran bahwa apa yang dimiliki manusia di dunia ini bukanlah miliknya. Harta milik duniawi adalah suatu “tanggung jawab besar” yang dipercayakan kepada manusia untuk dipergunakan menolong sesama manusia yang sangat membutuhkannya. Artinya, dalam memanfaatkan harta milik, kita harus sadar: Kekayaan seseorang yang sebenarnya bukan pada apa yang dimilikinya, tetapi pada apa yang dia berikan. Ingat Matius 25:1-45, milik sendiri yang sebenarnya adalah apa yang akan diperolehnya di surga yaitu buah perbuatannya di dunia ini. Dalam kasih Yesus, kita menggunakan harta duniawi untuk membuat kehidupan lebih mudah juga bagi orang lain. Besar atau kecil talenta yang diberikan Tuhan kepada kita, berlaku pedoman: “Siapa yang setia dan benar dalam perkara kecil akan setia dan benar juga dalam perkara besar”. Orang tidak akan dapat mencapai posisi lebih tinggi, ke kehidupan kekal, jika di tingkat rendah di dunia ini dia tidak menunjukkan kesetiaan, kejujuran dan kebenaran. Dalam hidup sebagai pengikut Kristus kita diingatkan supaya hati dan perbuatan kita tidak bercabang, tidak dapat menyembah atau mengabdi kepada Allah bersama-sama dengan Mamon. Daftar Acuan William Barclay, The Daily Study Bible, The Gospel of Luke, Saint Andrew Press, 1971 I.Howard Marshall (Alih Bahasa: Hulman Sinaga), Lukas, Tafsiran Alkitab Abad ke 21, jilid 3, Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1994 (Hada Andriata) Minggu Keenam Belas Sesudah Pentakosta 28 September 2025 Pembacaan Alkitab Lukas 16:19-31 Nas Pembimbing Galatia 6:10 Mazmur Mazmur 91:1-16 Pokok Doa Komitmen bersama untuk melakukan kebenaran dan kebaikan Penyandang disabilitas (Hari Tuna Rungu Sedunia - 28 September) Mendoakan Jemaat Juntikebon Nyanyian Tema KJ 424 : 1,2,4 “Yesus Menginginkan Daku” atau “Hidup ini adalah Kesempatan” https://www.youtube.com/watch?v=dSUEq1k-P2E Warna Liturgis Hijau JANGAN LELAH MELAKUKAN KEBAIKAN! Pengantar Sebuah desa mengalami gangguan listrik akibat hampir seharian penuh hujan turun dengan derasnya. Kejadian ini mengakibatkan desa tersebut mengalami kegelapan selama satu minggu penuh dan berdampak pada pekerjaan harian penduduk yang membutuhkan penerangan listrik dalam pekerjaannya, sehingga banyak pekerjaan bahkan aktivitas yang lainnya menjadi terhambat, dan berdampak besar terhadap segala hal termasuk dalam segi ekonomi penduduk. Mendengar kejadian tersebut, hampir semua pemilik toko yang berada di desa tetangga berbondong-bondong pergi ke desa itu untuk menawarkan dan menjual persediaan lilin yang mereka miliki. Kebutuhan lilin pun meningkat. Pada saat darurat seperti ini, beberapa pemilik toko berbaik hati memberi dengan cuma-cuma lilin tersebut sebagai bentuk kepedulian mereka. Namun, beberapa pemilik toko lainnya memanfaatkan situasi tersebut dengan menjual lilin-lilin itu dengan harga yang cukup fantastis. Orang-orang di desa itu tidak terlalu memusingkan, sebab mereka membutuhkannya. Dari situasi ini memperlihatkan ada tipe orang yang berbeda. Tipe yang pertama, yaitu tipe orang yang memikirkan kepentingan orang lain atau sesamanya, dan tipe yang kedua, yaitu tipe orang yang mencari kepentingan sendiri. Melihat situasi tersebut, bagaimana seharusnya kita menyikapinya? Kita diajak untuk tidak jatuh pada sikap yang keliru. Sebagai anak-anak Tuhan yang dididik dalam kasih, jadikanlah hal itu sebagai sarana bagi kita untuk menyalurkan kebaikan. Apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai. Barangsiapa menabur kebaikan akan memanen kebaikan dan barangsiapa menabur keburukan akan memanen keburukan. Penjelasan Teks Injil Lukas 16:19-31 adalah kisah Lazarus dan orang kaya. Nama Lazarus adalah bentuk latin dari Eliezer yang berarti Allah adalah pertolonganku. Lazarus adalah seorang pengemis, tubuhnya dipenuhi dengan borok begitu banyaknya. Sedangkan orang kaya yang disebutkan dalam Injil Lukas 16 ini namanya tidak diberitahukan atau disebutkan, tetapi yang pasti orang kaya itu menyombongkan kekayaannya di depan umum. Ia hidup dalam kemewahan, selalu mengenakan pakaian yang bagus, dikatakan dalam bacaan ia berpakaian jubah ungu. Jubah yang dipakai orang kaya itu adalah pelukisan bagi jubah yang biasanya dipakai oleh Imam Besar atau para raja. Ia juga berpesta dalam kemewahan setiap hari. Kata pesta di sini biasanya dipakai untuk suatu cara makan bagi seorang yang sangat halus cita rasanya dalam hal makan dengan suguhan yang mahal-mahal. Jadi ia hanya makan makanan yang terbaik, makan dengan teman-temannya dengan banyak daging dan ia lakukan ini setiap hari. Dalam ayat 20-21, Lazarus tepat berada di luar pintu rumah orang kaya itu, Lazarus terbaring dan ingin menghilangkan laparnya, menantikan segala remah yang jatuh dari meja orang kaya itu. Meskipun Lazarus hadir di rumah orang kaya itu, ia berada tepat di luar pintu rumah orang kaya itu, tetapi orang kaya itu mengabaikan Lazarus. Pada itu orang kaya itu menganggap sebagai sesuatu yang sewajarnya bahwa orang lain itu miskin dan menderita. Di kalangan orang Yahudi terdapat anggapan, bahwa Tuhanlah yang menentukan semuanya, mujur dan malang, sakit dan sehat, aib dan mulia, juga kemiskinan dan kekayaan. Dalam ayat 22-23 diceritakan tentang nasib keduanya. Kemudian dikatakan matilah keduanya. Di samping itu tentang keduanya ditambahkan satu hal, yaitu ciri kematian keduanya. Ketika Lazarus mati, ia langsung dibawa ke surga oleh para malaikat ke pangkuan Abraham. Tidak lama setelahnya orang kaya itu juga mati dan dikuburkan. Namun, orang kaya itu tidak masuk ke surga. Sebaliknya, ia pergi ke alam maut dimana ia menderita sengsara menerima siksaan yang hebat. Orang kaya itu memandang ke atas dan melihat Abraham di surga dan secara mengejutkan ia juga melihat Lazarus di pangkuan Abraham. Bagaimana ini bisa terjadi? Keadaan berubah di dunia lain, Lazarus berada dalam kemuliaan dan orang kaya itu berada dalam penderitaan. Ayat 24-25, dalam kesengsaraannya orang kaya itu meminta pertolongan kepada Abraham, supaya ia menyuruh Lazarus untuk meringankan penderitaannya. Orang kaya itu berseru kepada Abraham, “Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat menderita dalam nyala api ini.” Abraham mengingatkan orang kaya itu bahwa ia telah menerima banyak berkat dan anugerah selama ia berada di bumi, namun sekarang posisi mereka terbalik, Lazarus menerima banyak berkat dan banyak penghiburan, sementara orang kaya itu tersiksa. Lazarus menuai berkat dan anugerah yang datang dari menjalani kehidupan yang baik, sementara orang kaya itu menuai hasil dari ketidakpedulian yang telah ia buat dalam hidupnya, yaitu menderita sengsara di alam maut. Orang kaya itu tidak melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Ayat 27-31, nasib orang kaya itu tidak dapat lagi diubah, ia telah melewatkan waktu dan kesempatan baik yang seharusnya ia pergunakan sebelumnya. Menyadari hal itu ia ingat kepada lima orang saudaranya yang agaknya memiliki sikap hidup yang sama sepertinya. Orang kaya itu meminta pada Abraham agar Lazarus kembali ke bumi “ke rumah bapakku” untuk memperingatkan mereka mengenai pengadilan yang akan mereka hadapi. Tetapi permintaan itu ditolak. Ayat 29, “Tetapi, kata Abraham: Mereka memiliki Musa dan para nabi. Hendaklah mereka mendengarkannya.” Ungkapan “Musa dan para nabi,” yakni kitab-kitab dari Alkitab yang kita sebut sebagai Perjanjian Lama. Dengan perantaraan kitab itu yang memuat kesaksian orang-orang di zaman itu mengenai suara Allah, itu sudah cukup. Sebab dengan mempelajari kitab Taurat dan para nabi itu manusia akan memperoleh hidup yang sejati dengan mengasihi Allah dan sesamanya. Bacaan ini menjadi sebuah peringatan yang hebat terhadap pengadilan yang akan diterima manusia dan mengandung perenungan, ajakan untuk bertobat bagi manusia atas apa yang kita tabur dalam kehidupan kita sehari-hari, apakah itu perhatian, kepedulian, kasih, kedamaian, kebahagiaan, kemurahan hati? Atau ternyata apakah yang kita tabur itu adalah hal-hal yang bersifat negatif? Ketidakpedulian, keegoisan? Hasil yang orang kaya itu terima atau apa yang ia tuai itu adalah hasil dari bentuk ketidakpeduliannya kepada Lazarus. Bahwa ia memang melihat segala penderitaan dan kebutuhan dari Lazarus, tetapi ia tidak begitu menanggapi penderitaan Lazarus. Ia melihat sesama manusia ada dalam penderitaan dan kelaparan, tetapi ia tidak memberi perhatian kepada orang yang menderita itu, ia tidak berbuat apa-apa. Ia adalah contoh dari seorang yang tidak mempergunakan apa yang ia miliki dengan bijak dan benar. Dari sikap yang dimiliki orang kaya itu juga, ia memperlihatkan dirinya seperti seorang yang tidak mempunyai kebenaran Firman Tuhan dalam dirinya. Sebab jika seorang mempunyai kebenaran Firman Tuhan dalam dirinya, dimana pun dan kapan pun ia berada, dan ia melihat ada kesukaran dan kesulitan, maka ia akan memberi diri untuk saling menopang sesamanya. Maka, mari kita perlu berhati-hati dengan pilihan kita. Kita akan menuai apa yang kita tabur. Benih mana yang akan kita pilih untuk ditabur dalam hidup kita hari ini, besok, dan seterusnya? Jadi, pergunakanlah waktu dan kesempatan yang diberikan kepada kita. Dengan pertolongan Roh Kudus, kita akan mengerti dan memahami apa yang hendak dikatakan Allah kepada kita. Mari mengingat bahwa peziarahan kita di dunia ini sebagai sarana bagaimana kita dapat menemukan dan menyalurkan kebaikan itu. Maka, mari berbuatlah baik dan terus memancarkan teladan kasih Tuhan dalam hidup kita. Biarlah melalui perkataan, perbuatan, dan tingkah laku kita, nama Yesus, Tuhan kita dimuliakan. Pokok Pikiran Pada dasarnya manusia memiliki hati nurani, ada sesuatu yang membuat hati manusia tergerak untuk berbuat. Ditambah lagi manusia sejak kecil selalu ditanami dengan konsep moral atau nilai-nilai kebaikan, dari orang tua, teman, dan saudara. Terlebih gereja juga memainkan peranan besar dalam hal ini. Manusia diciptakan sempurna adanya, berarti kebaikan itu sungguh-sungguh ada di dalam hati kita. Maka jangan pernah kita merasa kita tidak bisa berbuat baik, merasa bukan orang yang sempurna, dan lain sebagainya. Kenyamanan dalam hal materi dapat membuat mata dan telinga kita tertutup dengan apa yang sedang terjadi di sekitar kita. Sama dengan yang terjadi pada kisah orang kaya dan Lazarus, tentulah mata orang kaya itu sering melihat Lazarus, sebab Lazarus terbaring di depan pintu rumahnya. Tetapi ia tidak memedulikan Nasib Lazarus. Sebab bisa ia menganggap biasa saja dan sewajarnya hal tersebut terjadi. Kehidupan adalah proses bagi kita berziarah untuk menyalurkan kebaikan bagi sesama. Daftar Acuan Barclay, William. 2017. Pemahaman Alkitab setiap hari: Injil Lukas. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Boland, B.J, dan P.S. Naipospos. 1982. Tafsiran Lukas (9:51-24:53) Jilid II. Jakarta: BPK Gunung Mulia. (Nathalia K. Baiin)
Daftar Label dari Kategori DPA Minggu GKP 2025 | NEXT: DPA Minggu GKP Oktober 2025 PREV: DPA Minggu GKP Agustus 2025 | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |