|
|
Minggu Ketujuh Belas Sesudah Pentakosta Minggu, 5 Oktober 2025 Hari Perjamuan Kudus Sedunia & Hari Pekabaran Injil Indonesia DPA HPII dan HPKD menggunakan Bahan Bacaan dari PGI Minggu Kedelapan Belas Sesudah Pentakosta 12 Oktober 2025 Pembacaan Alkitab Lukas 17:11-19 Nas Pembimbing Lukas 17:17 b Mazmur Mazmur 111:1-10 Pokok Doa Mendoakan kesejahteraan hidup para petani sebagai pejuang pangan (Hari Pangan Sedunia - 16 Oktober) Mendoakan Jemaat Kadipaten Nyanyian Tema “Pribadi Yang Mengenal Hatiku” (https://www.youtube.com/watch?v=YTRcgXi5N9E) Warna Liturgis Hijau MENYADARI KEBERADAAN DIRI SENDIRI Pengantar Banyak pengikut Kristus yang merasa aman dengan keberadaan iman dirinya sendiri kepada Tuhan Yesus. Cara hidupnya, ibadahnya dirasakan sudah cukup baik dan benar dengan melihat Ibadah tidak pernah bolos, persembahan selalu setia dilakukan. Di sisi lain, iman kristiani, sadar atau tidak, masih terikat kepada rasa aman berada dalam bentengnya sesama umat Kristen di gerejanya, Kristen yang sealiran, tapi penuh rasa curiga dan enggan berhubungan dengan yang memiliki keyakinan lain. Suatu hal yang tidak sejalan dengan amanat Tuhan Yesus supaya semuanya menjadi satu (Yoh. 17:11,21) dan perintah Tuhan untuk mengasihi sesama manusia seperti mengasihi dirinya sendiri (Mat. 22:9). Kita perlu selalu mengoreksi diri dengan alat koreksinya adalah firman Tuhan karena banyak perasaan cukup, aman, benar, didasarkan kepada pertimbangan dan ukuran pendapat sendiri dengan berbagai pertimbangan. Umat Tuhan perlu introspeksi untuk dapat menyadari di mana dirinya sendiri saat ini berada sebagai anak-anak Tuhan. Bagaimana umat Tuhan, warga gereja seharusnya menjalani kehidupannya sebagai pengikut Kristus? Salah satunya kita dapat memahami melalui bacaan dalam Lukas 17:11-19 Penjelasan Bahan Peristiwa dalam cerita ini disebutkan di perbatasan antara Samaria dan Galilea, ketika Yesus berada dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem. Di perjalanan tersebut ada sekumpulan orang kusta, jumlahnya sepuluh orang. Mereka jelas merupakan kumpulan orang yang dipaksa harus mengasingkan diri, jauh dari keramaian masyarakat umumnya. Penyakit kusta sebagai penyakit kulit yang menajiskan di dalam hukum agama Yahudi, diharuskan hidup menurut ketentuan sebagaimana tertulis dalam Kitab Imamat 13:45,46 demikian, “… harus mengenakan pakaian koyak-koyak, rambutnya terurai,… menutupi bagian bawah mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! …harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya”. Antara orang Yahudi dan orang Samaria tidak ada hubungan yang baik. Orang Samaria dengan orang Yahudi berseteru, tidak dapat bersatu, bermusuhan. Tapi yang istimewa dalam kumpulan orang kusta yang sepuluh orang tersebut, disebutkan terdapat seorang Samaria. Sembilan orang lainnya adalah orang Yahudi. Mengapa sekarang mereka dapat bersatu? Suatu bukti yang alami, bahwa penderitaan dapat menyatukan manusia, tidak pandang agama, suku atau bangsa apa. Mereka menyatu dalam penderitaan yang sama. Penderitaan telah merobohkan tembok pemisah yang biasanya ada pada saat mereka hidup dalam keadaan sehat dan normal. Ketika orang kusta mendengar ke tempat dekat mereka akan lewat Yesus, nama yang pasti sudah sangat mereka kenal melalui berita yang beredar di masyarakat, mereka sangat bersemangat dan memiliki satu harapan yang kuat bahwa Yesus dapat menolong mereka. Oleh karena itu, dengan penuh kerinduan mereka sambil tetap menjaga jarak, berteriak dari jauh. Batas minimal jarak antara yang sakit kusta dengan orang lain, sesuai aturan, adalah kira-kira 50 meter (William Barclay). Teriakan mereka: “Yesus, Guru, kasihanilah kami” (ay. 13). Ketika Tuhan Yesus mendengar teriakan mereka dari jauh itu, Ia tidak segera memberikan pernyataan yang langsung seperti “kalian sembuh”, tetapi menyuruh mereka melakukan sesuatu, yaitu "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam" (ay. 14). Kepergian ke para imam sebenarnya dilakukan jika mereka telah sembuh. Oleh para imam mereka akan dikarantina, diteliti dan selanjutnya harus mengikuti serangkaian upacara keagamaan yang detail dan rumit dengan waktu yang cukup panjang, delapan hari, sebelum akhirnya dinyatakan tahir 100% (bdk. Im. 14:1-32). Apa yang terjadi pada sepuluh orang kusta itu ditegaskan “sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.” Jadi, kesembuhan mereka terjadi ketika mereka menurut perintah Yesus. Mereka beriman kepada ucapan Tuhan Yesus, mereka sembuh. Yang menjadi pusat perhatian dalam bacaan adalah bahwa yang sembilan orang, ketika tahu mereka sembuh, mereka terus menuju ke para imam sesuai arahan Tuhan Yesus dan sesuai hukum yang tertulis dalam Imamat 14. Akan tetapi seorang, yang adalah orang Samaria, ketika tahu dia sembuh, dia tidak mengikuti yang sembilan lainnya tetapi berbalik kepada Tuhan Yesus dan dengan tersungkur, sujud di depan kaki-Nya untuk menyatakan syukur. Tidak dijelaskan alasan orang Samaria tidak pergi ke para imam sesuai anjuran Yesus dan aturan hukum agama Yahudi. Tetapi dugaan kuat dia tidak ikut menuju para imam adalah karena dia orang Samaria, bukan Yahudi. Dia merasa tidak ada ikatannya dengan aturan agama Yahudi. Kemungkinan besar lainnya andaikan dia datang pun maka para iman akan menolaknya karena dia bukan orang Yahudi, bahkan dianggap “musuh” Yahudi. Bagi orang Samaria lebih tepat dan layak untuk berbalik kepada Yesus yang memberi kesembuhan. Sembilan orang Yahudi lainnya ketika tahu bahwa kondisi mereka telah sembuh, mereka lebih ingat pada hukum yang berlaku demi mendapatkan pernyataan resmi dari para imam Yahudi bahwa mereka sembuh dan boleh bergaul bebas dengan masyarakat. Sikap mereka menunjukkan suatu kepentingan duniawi dalam diri mereka. Berdasar kemungkinan demikian, komentar Tuhan Yesus dapat dimengerti, yaitu (Luk 17:17,18):17 "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? 18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?" Ketika dalam penderitaan mereka berteriak minta tolong kepada Tuhan Yesus. Ketika sembuh mereka lupa kepada-Nya, tidak pernah kembali berterima kasih. Hanya orang asing, yang dipandang kafir oleh orang Yahudi, yaitu orang Samaria yang berbalik dan memuji Allah bersyukur kepada-Nya. Hal seperti itu mengingatkan kita kepada banyak kejadian dalam kehidupan manusia yang sama atau mirip sama. Dalam kesusahan, orang datang kepada seseorang, atau kepada Tuhan dalam doa, minta tolong. Ketika sudah berhasil lupa berterima kasih kepada sesama dan lupa bersyukur kepada Tuhan. Banyak juga anak-anak setelah dewasa kurang bahkan tidak menyatakan hormat dan syukurnya kepada orang tua yang telah melahirkan mengasuh dan membesarkannya dengan segala pengorbanannya. Pokok Pikiran Khotbah dimulai dengan mengungkapkan kecenderungan umum kehidupan umat Kristen yang merasa aman dengan Iman yang diukur berdasar aktivitas rutinnya: kebaktian Minggu, persembahan dan lainnya.. Bentuk kehidupan iman yang terbatas pada tafsiran sendiri, dalam lingkungannya sendiri sesama warga gereja, Kristen yang sealiran. Terhadap yang tidak sealiran, tidak seagama, penuh curiga, menjaga jarak seperti “musuh”. Hal yang berlawanan dengan kerinduan Kristus supaya semua menjadi satu dan mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Umat Tuhan perlu introspeksi melalui firman Tuhan sendiri. Bacaan hari ini menuntun kita. Bacaan kita mengungkapkan: Pertama, dalam kumpulan orang Yahudi yang berpenyakit kusta tersebut terdapat orang Samaria yang dipandang sebagai orang asing bahkan musuh. Ini memberi gambaran bahwa dalam penderitaan, manusia dapat lebih bersatu dibanding dalam keadaan biasa, normal. Sebagai umat Tuhan kita perlu sadar bahwa kita dipanggil Tuhan agar dalam segala keadaan. Kita harus terbuka kepada sesama dengan tidak memandang batas-batas pemisah karena kita sama-sama lemah, terancam dosa di hadapan Tuhan. Kedua, bahwa hanya satu orang Samaria atau orang asing yang sadar dan tahu berterima kasih kepada Tuhan Yesus, sang pemberi anugerah. Orang Kristen perlu sadar bahwa kita sama seperti orang Samaria, kita dapat hidup menjadi anak Allah karena kasih Allah dalam Kristus yang telah berkorban menebus dosa kita. Oleh karena itu, sikap hormat dan bersyukur kepada Tuhan harus dinyatakan dalam perbuatan konkret, misalnya kepada orang tua yang telah menjaga menolong kita, kepada gereja yang mendidik dan menjaga kehidupan rohani kita, dan kepada sesama yang menjadi kawan sekerja di dalam dunia. (Hada Andriata) ------------------------------------- Minggu Kesembilan Belas Sesudah Pentakosta Minggu, 19 Oktober 2025 Pembacaan Alkitab Lukas 18:1-8 Nas Pembimbing Lukas 18:8 Mazmur Mazmur 119:97-104 Pokok Doa Mendoakan ketahanan pangan di seluruh dunia (Hari pangan sedunia-16 Oktober) Mendoakan Jemaat Kalaksanan Nyanyian Tema PKJ 282:1,2 “Tuhan, Tolonglah, Bangunkan Iman” Warna Liturgis Hijau MEMPERKUAT IMAN MELALUI PERSEKUTUAN ORANG PERCAYA Pengantar Kondisi keimanan seseorang seringkali digambarkan sebagai suatu keadaan yang bisa naik dan turun. Saat seseorang mengalami sesuatu yang membuatnya bersukacita, maka imannya naik (kuat, semakin bertambah) dan bila seseorang mengalami sesuatu yang membuatnya bergumul karena penderitaan, ancaman, penolakan, dll., maka imannya tergoda untuk menurun (lemah, semakin berkurang). Namun, kondisi iman yang tetap kuat dalam menghadapi tantangan bukanlah suatu anomali (ketidaknormalan). Di dalam Alkitab, kita menemukan banyak contoh di mana seseorang dimampukan untuk terus gigih berjuang seturut dengan apa yang telah di firmankan Tuhan (janji-Nya), walaupun mereka berhadapan dengan tantangan, penundaan, bahkan penderitaan. Dalam sejarah kehidupan orang percaya, kita bahkan dapat menemukan kisah-kisah luar biasa, salah satunya seperti di bawah ini: Ada kisah populer tentang gunung Mokattam di Mesir yang bisa berpindah posisinya sejauh 3 km. Pada abad 10 M, Mesir berada dalam kekuasaan kekhalifahan Islam yang dipimpin oleh khalifah Al Muizz, di mana Mesir saat itu penduduknya beragama Kristen Koptik dengan pusat keagamaan berada di Alexandria dan dipimpin oleh Patriak (sejajar dengan posisi Paus di Vatican, Roma) bernama Abraam. Singkat cerita, suatu hari khalifah Al Muizz memanggil Patriak Abraam untuk membuktikan kebenaran Injil Matius 17:20, tentang iman yang memindahkan gunung. Tiga hari, waktu yang diberikan oleh khalifah Al Muizz kepada orang-orang Kristen di Mesir untuk membuktikan kebenaran Injil. Berada di tengah ancaman, orang-orang percaya saat itu bersatu hati dalam doa, memohon kuasa Tuhan melindungi. Hingga tiba di hari ke tiga, semua orang berkumpul di sisi timur gunung Mokattam. Sang Patriakh memimpin umat untuk berdoa, lalu berkumandanglah “Kyrie Eleison … Kyrie Eleison … !” (TUHAN kasihanilah kami … TUHAN kasihanilah kami…!) Setelah 400 kali ‘Kyrie Eleison’ dikumandangkan (100 kali menghadap timur, 100 kali mengadap barat, 100 kali menghadap utara dan 100 kali menghadap selatan), suasana hening kembali untuk beberapa saat, lalu seluruh umat Kristus melakukan sujud sejenak kemudian bangkit berdiri dan sang Patriak memberikan tanda salib ke arah gunung. Pada saat itulah keajaiban terjadi! Gunung tiba-tiba bergerak terangkat dari permukaan tanah sehingga sinar matahari bisa terlihat dari celah-celah antara dasar gunung yang terangkat tersebut dengan permukaan tanah! Kemudian mereka berdoa terus dan pegunungan timur Mokattam berpindah kesebelah barat dengan jarak 3 kilo meter dari Kota Cairo. https://www.nazarettour.co.id/gereja-sampah-di-cairo/ Seseorang pernah mengatakan, “Banyak doa yang tercatat dalam Alkitab itu dipanjatkan dengan “berseru” dan kata-kata dalam bahasa Ibrani dan Yunani itu memiliki arti yang sangat kuat. Meskipun ada beberapa pendapat yang berbeda, Alkitab menyebut hal itu sebagai suatu hal yang “menggoncangkan sorga", doa yang tak putus-putusnya.” (Cameron Thompson). Hal itulah yang membuat pertanyaan Yesus dalam perikop kita hari ini akan selalu relevan untuk kita jawab dalam keseharian hidup kita sebagai orang percaya ketika kita berhadapan dengan pergumulan, tantangan, penderitaan, dll., “ … apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” Penjelasan Teks Dalam bacaan kita hari ini, Yesus mengaitkan “berdoa dengan tidak jemu-jemu” (ay. 1) dengan iman (yang teguh, ay. 8) dalam bingkai eskatologis, kedatangan Yesus kedua kalinya nanti (ay. 8). Yesus menggambarkan secara kontras seorang hakim yang berkebalikan dengan apa yang diperintahkan dalam Kitab Suci Yahudi. Dalam teks-teks Alkitab, para janda dianggap sebagai kelompok yang paling miskin di masyarakat, bersama dengan kelompok rentan lainnya seperti orang miskin, anak yatim, dan penduduk asing. Karena posisi sosial dan ekonomi kelompok-kelompok tersebut yang tidak menentu, teks-teks Alkitab juga memberikan ketentuan bagi mereka, membantu memastikan bahwa mereka tidak menjadi korban eksploitasi (misal Kel. 22:21-25; 23:6-9; Ul. 24:14, 17-18; Yes. 1:17). Sangat berlainan dengan hakim dalam perumpamaan Yesus yang langsung disebut sebagai “seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapa pun” (ay. 2). Sifat hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapa pun ini pasti dikenali dengan baik oleh seorang janda, penduduk kota tersebut. Akan tetapi, pengenalan seorang janda terhadap sifat hakim yang tak benar itu tidak menghalanginya untuk terus-menerus datang kepada hakim tersebut, meminta agar sang hakim membela haknya (ay. 3). Ay. 4, kalimat “Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak.” menunjukkan gigihnya perjuangan seorang janda tersebut di suatu periode waktu secara berkala dalam mempertahankan pengharapannya menghadapi penolakan, pengabaian, penundaan dan penderitaan atas sikap yang ditunjukkan hakim tersebut. Yang menarik adalah ketika kita melihat lebih detail lagi tentang apa yang menjadi respons sang hakim di ayat 4b-5, “Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, tetapi karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku memberikan keadilan kepadanya, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya melelahkan aku." Jika kita melihat bahasa aslinya, Yunani, kata terjemahan TB2 “melelahkan” datang dari kata áπωπιάζá - hypōpiazÄ”, yang secara harafiah artinya adalah “memberikan luka pada mata”. Kata yang sama juga digunakan oleh Rasul Paulus dalam 1 Korintus 9:26-27, tentang seorang petinju yang memberikan luka pada mata lawannya. https://biblehub.com/greek/5299.htm Yesus menempatkan bahasa hakim tersebut dalam ranah metafora tinju, kedatangan secara intens seorang janda kepada hakim, dianggap seperti seorang petinju yang terus-menerus memukul hingga memberikan “luka pada mata” akibat pukulan (baca: kedatangan intens) sang janda tersebut. Akibatnya, sang hakim yang pada awalnya abai dan tidak menghormati siapa pun, akhirnya mau mendengarkan seruan sang janda. Kisah selanjutnya menjadi sangat kuat karena Yesus langsung “membenturkan” sikap seorang hakim yang tak adil dengan semua sifat buruknya dibenturkan dengan Allah yang Maha adil dan Maha baik kepada orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya (ay. 6-7). Jika seorang hakim yang tidak adil dengan semua sifat jahatnya itu saja akhirnya mendengarkan seruan yang ditujukan kepadanya secara bertubi-tubi, apalagi Allah yang Maha adil dan Maha baik yang pastinya akan menunjukkan jalan pertolongan kepada siapa pun yang berseru kepada-Nya. Narasinya belum selesai, di penghujung perikop, Yesus malah membalikkan lagi posisi pemaknaan perumpamaan tadi. Yang awalnya perbandingannya pada Hakim yang tidak adil (ay. 2-5) dibandingkan dengan Allah yang Maha adil (ay. 6-7), di ayat yang paling terakhir, justru Yesus membandingkan orang-orang yang mendengar perumpamaan tersebut dengan apa yang dilakukan oleh sang janda dalam perumpamaan tersebut, “… Tetapi, ketika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” Dengan kata lain, apakah para pendengar perumpamaan Yesus itu telah melakukan apa yang dilakukan oleh sang janda dalam perumpamaan tersebut, atau malah iman itu telah turun dan memudar karena menghadapi berbagai penolakan, penundaan, penderitaan dll.? (Atau malah di masa kini posisinya menjadi: Allah sebagai sang janda yang tidak henti-hentinya memperjuangkan, sedangkan kita adalah sang hakim yang mengabaikan perjuangan Allah?) Pokok Pikiran Setiap kita memiliki perjuangan untuk membangun kehidupan bersama. Baik sebagai keluarga, Jemaat maupun bangsa. Dalam perjuangan itu kerap kali kita berhadapan dengan pergumulan-pergumulan yang bisa membuat iman kita tergoda untuk memudar ketika yang kita perjuangkan tidak juga membuahkan hasil. Belajar dari perumpamaan tentang seorang janda yang gigih berjuang walau berhadapan dengan “hakim yang lalim”, di dalam iman kita pun kita yakin bahwa Allah yang Maha baik akan senantiasa memberikan rancangan damai sejahtera-Nya bagi kita yang tidak putus asa berjuang. Dalam kehidupan kita bersama, sebagai keluarga dan Jemaat Tuhan, sudah seharusnya kita menjadikan persekutuan orang percaya sebagai tempat di mana kita bisa memperkuat iman kita. Kehadiran kita bersama sebagai persekutuan orang percaya haruslah menjadi kebersamaan di mana setiap orang saling menguatkan, menopang, mengingatkan bahwa apa yang kita perjuangkan bersama-sama, walaupun berhadapan dengan tantangan, persoalan, penundaan, penderitaan dll., tepat pada waktu-Nya, Tuhan akan memberikan pertolongan dan jawaban terbaik-Nya bagi kita seturut dengan rancangan damai sejahtera-Nya. (Gerry Indra Pratama Atje) PEKAN KELUARGA DALAM RANGKA HUT GKP 26 OKTOBER s.d 14 NOVEMBER 2025
Daftar Label dari Kategori DPA Minggu GKP 2025 | NEXT: DPA Minggu GKP November 2025 PREV: DPA Minggu GKP September 2025 | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |