|
|
Minggu Kedua Puluh Tiga Sesudah Pentakosta 16 November 2025 Pembacaan Alkitab Lukas 21:5-19 Nas Pembimbing Lukas 21:15 Mazmur Mazmur 98:1-9 Pokok Doa Mendoakan gerakan toleransi di tengah masyarakat (Hari Toleransi Internasional - 16 November) Mendoakan kemitraan GKP dalam membangun toleransi Antar Umat Beragama di Indonesia Mendoakan Jemaat Kampung Sawah Nyanyian Tema NKB 204:1-2 ”Di Dunia Yang Penuh Cemar” Warna Liturgis Hijau BERHIKMAT DALAM YESUS SANG POKOK KEHIDUPAN Pengantar Wisdom dalam bahasa Inggris yang berarti berhikmat memiliki makna yaitu the ability to use your knowledge and experience to make good decisions and judgments, yang berarti kemampuan untuk menggunakan pengetahuan dan pengalaman sehingga mampu mengambil keputusan dan penilaian terbaik. Orang yang berhikmat adalah dia yang mampu mempertimbangkan segala sesuatunya dengan menggunakan pengetahuan melalui pembelajaran dan pendidikan, juga melalui pengertian berdasarkan pengalaman yang dialami. Semua hal tersebut dilakukan agar seseorang mampu mengambil keputusan dengan bijaksana. Kurang lebih hal ini pula yang hendak ditegaskan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 21:5-19, Tuhan Yesus mempertegas dengan mengungkapkan ‘Waspadalah” menandakan bahwa Tuhan Yesus ingin agar para murid juga setiap orang yang beriman kepada-Nya memiliki hikmat dalam melihat segala sesuatu. Hikmat ini sangatlah penting, dalam kehidupan beriman di tengah-tengah kondisi kehidupan yang begitu banyaknya orang-orang mampu melakukan hal-hal yang diluar nalar. Juga dalam kehidupan gerejawi ketika orang-orang dalam kehidupan bergereja seringkali menghadapi situasi yang tidak jarang memunculkan ragam pertanyaan ketika relasi dengan orang lain mengalami konflik, ketika dalam doa yang tekun dan begitu panjang sebuah pengharapan belum juga terjadwabkan, demikian juga ketika menghadapi ragam pengertian-pengertian teologis tertentu sehingga mulai mempertanyakan iman yang selama ini diyakini. Ragam keadaan tersebut yang membuat kita perlu untuk semakin memahami kehendak Tuhan Yesus dalam Lukas 21:5-19. Penjelasan Teks Lukas 21:5-19 adalah bagian dari nubuatan Yesus mengenai kehancuran Bait Allah, serta peringatan mengenai tanda-tanda akhir zaman. Melalui kesadaran akan keadaan tersebut Yesus menambahkan bahwa penderitaan akan dihadapi oleh setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus, mulai dari penangkapan dan penganiayaan, bahkan menjadi tawanan di penjara-penjara oleh karena iman yang dipertahankan. Juga adanya kondisi ketika banyak orang yang akan muncul dengan menggunakan nama Yesus Kristus untuk menunjukkan mengenai sebuah pengajaran, namun bagi Yesus yang hadir setelah-Nya nanti hanyalah menimbulkan ragam penyesatan mengenai janji-janji palsu perihal keselamatan, bagi Yesus orang-orang penyesat itu pastilah akan memanfaatkan situasi chaos tersebut dengan “menjual” harapan melalui situasi dan janganlah mereka diikuti. Yang menarik adalah sebuah bentuk ajakan ketika kondisi yang terjadi sepertinya chaos namun bagi Yesus hal tersebut dilihat sebagai kesempatan bagi setiap orang yang percaya untuk bersaksi menyatakan kebenaran, serta menunjukkan buah dari sebuah ketaatan iman. Rasa-rasanya Yesus hendak menegaskan, ketika kondisinya menjadi chaos janganlah takut dan menghindarinya, namun ketika iman itu teguh maka setiap orang percaya akan mampu menghadapinya, bahkan bersaksi di Tengah-tengah kondisi yang tak menentu itu. Pada ayat 5-6 kondisi chaos itu akan diawali dengan hancurnya Bait Allah yang tentu sebagai orang beriman menanggapi peristiwa itu dengan kehancuran hati, karena simbol keagamaan utama saat itu “Bait Allah” yang merepresentasikan kehadiran Takhta Allah harus hancur, dan secara psikologis mempengaruhi konstruksi beriman, bagaimana memaknai kehadiran Allah yang setia ketika seolah “Allah saja pun tak mampu mempertahankan simbol kehadirannya yaitu Bait Allah”. Dominasi kekuasaan Romawi sangatlah perlu diwaspadai, karena kuasa dan kekuatan mereka yang juga akan menjadi bencana bagi setiap orang beriman. Jikalau Bait Allah saja bisa diruntuhkan, bagaimana kehidupan orang beriman, pastilah hidup mati yang dapat dihadapi. Disinilah letak pentingnya hikmat dan kebijaksanaan dalam mengenali tanda zaman, maupun kehancurannya. Bagi Yesus setiap orang beriman membutuhkan kebijaksanaan, yaitu melalui relasi keintiman dengan Yesus Kristus. Rasanya melalui relasi yang intim dengan Yesus Kristus akan memampukan seseorang untuk tau apa yang harus dilakukan, sadar apa yang harus dikerjakan, dan berhikmat untuk menyatakan yang berharga sebagai bentuk kesaksian di tengah-tengah kondisi zaman yang tidak menentu. Oleh karena itu kita perlu mengetahui sikap macam apa yang Yesus inginkan kita lakukan di tengah-tengah kondisi zaman, juga relasi intim seperti apa yang harus kita pelihara sehingga setiap orang beriman diperlengkapi oleh kasih dan cinta-Nya, sehingga kondisi zaman seperti apapun kita sebagai orang beriman dimampukan menghadapinya. “Waspadakah”, itulah kata yang Tuhan Yesus ungkapkah sebagai bentuk kesadaran ketika hendak menghadapi ragam keadaan yang telah dijelaskan tadi. “Waspadalah” adalah kesadaran yang menekankan tentang pentingnya kemurnian iman dan menjaga kesetiaan kepada ajaran Kristus. Tuhan Yesus ingin para murid dan pengikutnya memegang teguh kebenaran yang diajarkan-Nya tanpa terpengaruh oleh klaim-klaim berlebihan mengenai janji-janji “palsu”. Kata “waspadalah” diterjemahkan dari kata Yunani βλέπετε (blepete), yang berasal dari akar kata βλέπω (blepo). Kata ini pada dasarnya berarti "melihat," tetapi seringkali digunakan dalam Perjanjian Baru untuk menyiratkan sikap hati-hati, waspada, atau memperhatikan sesuatu dengan serius. Dalam konteks Lukas 21:8, blepete menyiratkan peringatan Yesus agar para murid-Nya secara aktif menjaga diri dari penipuan dan kesesatan. Sifat kata ini adalah bentuk imperative/ perintah, yang berarti “berhati-hatilah” sebagai ajakan/ menunjukkan perintah yang serius oleh Yesus kepada para murid dan pengikutnya, perintah serius ini bukan hanya soal melihat secara fisik/ yang tampak mata, namun juga dengan memperhatikan dengan sikap yang hati-hati terhadap ancaman rohani, ancaman iman yang akan muncul. Sehingga blepete membawa makna “kewaspadaan aktif” atau yang biasa Perjanjian Baru sebut dengan berjaga-jaga, yang artinya Yesus meminta mereka untuk tidak pasif atau terlena santai-santai saja, namun secara aktif memantau keadaan di sekitar kehidupan mereka, terutama pada potensi munculnya ajaran dari orang-orang yang dapat menyesatkan. Sehingga orang yang memelihara sikap “waspada” adalah orang yang tidak akan mampu terombang-ambing melalui ungkapan orang lain, namun seseorang akan lebih teliti untuk memeriksa, mempertimbangkan, mencari tau, melakukan tanggapan terhadap hal-hal yang muncul tersebut. Oleh karena itulah melalui “waspadalah” orang beriman diajak untuk mengambil sikap discernment yang secara sederhana bermakna adalah proses yang menuntun seseorang untuk mengambil setiap Keputusan dalam hidupnya. Proses yang menuntun tersebut diupayakan melalui ragam latihan rohani dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang dekat dengan Tuhan, ketekunan dalam berdoa, kesetiaan dalam mengenali Alkitab, memiliki kebiasaan dalam memelihara hidup beribadah, secara khusus dalam aktivitas persekutuan gerejawi, maupun ragam latihan rohani lainnya. Hal ini dibutuhkan sehingga kepekaan diri pun semakin terlatih dan pertumbuhan iman semakin disegarkan. Harapannya orang-orang yang tekun dalam mengupayakan diri mengambil sikap discernment maka orang tersebut akan mampu memilih dan memilah, cermat membedakan hal satu dengan yang lain, bijak dalam menentukan pilihan dan berhikmat dalam mengambil keputusan. Semua hal tersebut berorientasi pada Kristus, bukan pada kepentingan diri. Walhasil menjadikan kehidupan beriman adalah kehidupan bermakna keterlibatan kasih Allah semakin menguasai kita agar kita tidak disesatkan melainkan bijak dalam memperjuangkan hidup baik. Hal itulah yang disebut oleh Tuhan Yesus dengan “memberikan kepadamu kata-kata hikmat” (ay. 15). Hikmat di sini bahasa Yunaninya adalah Sophia yang dalam tradisi filosofis adalah kebijaksanaan sebagai salah satu akar kata Filsafat mengenai cinta kebijaksanaan. Bagi Plato, laku filosofis adalah ketika setiap orang tidak mudah menerima realitas kehidupan apa adanya begitu saja, namun terlibat mempertanyakan, terlibat mempertimbangkan, terlibat melakukan pengecekan dengan didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan kritis yang muncul dari diri. Semua hal itu dilakukan bukan sebagai bentuk menolak realitas yang terjadi, melainkan sebagai bentuk pemeriksaan terhadap realitas yang ada. Sehingga akan didapati hal-hal yang lebih terbuka dan esensial terhadap sebuah keadaan. Situasi seperti itulah yang dibutuhkan dalam kehidupan beriman, tidak lalu menerima begitu saja realitas, namun mempertanyakannya bersama Tuhan, melalui pengetahuan Alkitabiah dan kedekatan relasi dengan Tuhan. Harapannya realitas yang muncul tidak kita terima begitu saja, melainkan menolong kita untuk hidup dalam ketaatan sempurna, tidak mudah kecewa, tidak lalu mudah sombong ketika diberkati, tidak mudah iri hati ketika sobat kita diberkati lebih, tidak mudah marah ketika kita menghadapi situasi yang menjengkelkan, maupun tetap memuji Tuhan dalam segala keadaan dan percaya hidup adalah proses iman yang penting untuk diperjuangkan. Pokok Pikiran Perubahan zaman seringkali membuat orang beriman terombang-ambing begitu deras. Percakapan dan perjumpaan semakin luas dan dalam antara umat dengan dunia luar. Ragam pengertian, asutan, maupun prinsip-prinsip tertentu dapat didapati melalui sosial media dan kemajuan teknologi yang ada. Hal tersebut bisa saja membuat orang-orang berlaku tidak jujur, melihat prinsipnya yang paling benar dari orang lain, mengubah budaya tekun menjadi budaya malas dan berdampak pada kehidupan dunia dan lingkungan secara luas. Sikap “waspada” yang Tuhan Yesus ungkapkan adalah bentuk kesadaran bahwa dunia tidak baik-baik saja. Sebagai orang beriman haruslah terlibat dalam untuk turut memeriksa realitas yang tampak, serta menghadirkan kebenaran melalui kehidupan beriman yang tampak dalam keseharian. Yesus sebagai pokok kehidupan adalah hal yang utama dalam rancangan dan perjalanan kehidupan kita. Hikmat diperoleh hanyalah melalui kedekatan dengan Tuhan Yesus Kristus. Cinta kasih dialami melalui kesetiaan iman yang teguh, maka perlulah memaknai iman tidak pada kepentingan diri sendiri, tetapi pada kemuliaan kasih Kristus sendiri yang dinyatakan dalam kehidupan kita. Agar hikmat dan kebijaksanaanlah yang muncul sebagai fenomena alternatif di tengah keadaan zaman di mana informasi dan pemberitaan diterima oleh manusia secara mentah-mentah sebagai kebenaran. Padahal kebenaran utama adalah ketika setiap orang mampu mempertimbangkan segala sesuatu, melihat segala sesuatu, mengalami segala sesuatu bersama-sama dengan cinta kasih Tuhan Sang Hikmat itu. Hidup yang penuh berkat adalah hidup beriman yang dekat dengan Kristus Sang Sumber Hikmat. Daftar Acuan https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/wisdom (Brahmana Duta Dewa) ------------------------------------------ Minggu Kristus Raja 23 November 2025 Pembacaan Alkitab Kolose 1:3-23 Nas Pembimbing Kolose 1:23 Mazmur Mazmur 46:1-12 Pokok Doa Mendoakan upaya bangsa-bangsa bagi tumbuh kembang anak-anak (Hari Anak Sedunia - 20 November) Mendoakan Jemaat Kampung Tengah Nyanyian Tema KK 601 :1-2 “Kumulai dari diri sendiri” Warna Liturgis Putih PERHATIAN KECIL BERDAMPAK BESAR Pengantar Tidak dipungkiri terkadang kita hanya menaruh perhatian kepada hal-hal yang kita anggap besar. Kita cenderung tidak menganggap penting hal kecil karena mungkin dianggap tidak berarti atau tidak akan membawa dampak besar. Padahal hal-hal besar terjadi karena ada hal-hal kecil sebelumnya. Ini berlaku untuk yang baik maupun yang buruk. Sebagai contoh, kesuksesan seseorang dalam usaha atau pekerjaannya tidak mungkin jika tidak ada langkah-langkah kecil yang ia lakukan, ia perjuangkan. Seperti sebuah ungkapan bahwa sukses adalah kumpulan dari perjuangan-perjuangan kecil yang dilakukan terus-menerus setiap hari. Demikian juga sebaliknya dengan keburukan, yang bisa diakibatkan karena menyepelekan hal-hal kecil. Sebagai contoh, kerusakan mesin kendaraan bermotor yang bisa disebabkan oleh kelalaian untuk melakukan perawatan rutin, seperti mengganti oli mesin. Awalnya, mungkin saja tidak akan dirasakan dampaknya namun semakin lama akan merusak mesin lebih cepat. Penjelasan Teks Kesadaran pentingnya memperhatikan hal kecil inilah yang dimiliki penulis surat Kolose. Memang terkait surat untuk Jemaat Kolose ini masih menjadi perdebatan karena ada tafsiran juga surat ini di tulis oleh murid Rasul Paulus (Lembaga Biblika Indonesia 2002, 360). Namun demikian surat ini masuk dalam kelompok surat-surat Rasul Paulus kepada Jemaat-jemaat. Perhatian penulis surat kepada hal-hal kecil terlihat di sini sehingga ia menuliskan surat untuk Jemaat di Kolose. Kolose bukanlah kota yang besar dan bukan pula kota yang terlihat akan membawa perubahan besar dalam kehidupan kekristenan pada masa itu seperti Kota Korintus, misalnya. Tetapi di kota ini ada paham yang sedang merebak yang disinyalir Rasul Paulus, jika dibiarkan bertumbuh maka akan memengaruhi kehidupan kekristenan bukan saja di kota Kolose tetapi bahkan menyebar ke Asia kecil. Paham itu antara lain tentang astrologi, anti hukum tetapi di saat yang sama asketisme dengan banyaknya hukum/ larangan (Barclay 2006, 150) Perikop pembacaan Alkitab kita, yang pertama, Kolose 1:3-14, memperlihatkan bagaimana penulis memberi apresiasi kepada Jemaat di Kolose terkait iman dan kasih yang terus bertumbuh di Jemaat ini. Penulis menyampaikan bahwa karena hal itu penulis bersyukur kepada Allah, “Kami selalu mengucap Syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu, karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, …” (Kol. 1:3-4) Penulis juga menyampaikan doa yang selalu dipanjatkan agar Jemaat Kolose menerima hikmat, pengertian sehingga memiliki pengetahuan yang benar tentang kehendak Tuhan dan dapat bertumbuh dan menghasilkan buah (lih. Ay.9-10) Harapan agar Jemaat Kolese dikuatkan untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar dikaitkan dengan peran Yesus Kristus yang telah memberi pengampunan dosa. Selanjutnya, pada perikop kedua, Kolose 1:15-23, penulis mengangkat kembali tentang siapa Kristus, keutamaan-Nya, dan apa yang harus umat lakukan sebagai bentuk syukur atas pengampunan yang sudah mereka terima. Ungkapan-ungkapan bahwa Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari segala yang diciptakan, sekaligus segala sesuatu ada di dalam Dia, Ia adalah kepala tubuh, yang pertama bangkit, Pendamai yang di surga dan yang di bumi. Demikianlah Kristus mendamaikan umat yang semula jauh dari Allah (lih. Ay. 15-22). Sebagai orang yang telah didamaikan, diampuni-Nya maka ayat 23 menegaskan apa yang harus umat lakukan, yaitu agar umat teguh dalam iman dan tidak terguncang berbagai ajaran. “Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak berguncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.” (ay. 23) Pokok Pikiran Melalui bacaan hari ini, kita belajar beberapa hal: Peduli dan memerhatikan hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Jika hal itu terkait dengan ajaran iman Kristen maka kita diajak untuk mengkritisi juga kebenaran-Nya. Di era yang serba terbuka dan dengan mudah setiap orang mengunggah apa pun, termasuk ajaran kekristenan yang berbeda-bahkan bertentangan dengan Firman Tuhan sendiri, umat diharapkan tidak mengabaikannya tetapi berhati-hati agar tidak membelokkan pemahaman yang sesungguhnya. Salah satu yang umat lakukan adalah memilah dan memilih hal mana yang dapat diterima sebagai informasi, mana yang harus dipelajari untuk dikritisi atau ditindaklanjuti. Jika tidak demikian, seperti makanan tidak sehat, jika dikonsumsi terus-menerus akan berdampak kurang baik bagi tubuh. Informasi (tsunami informasi) yang setiap hari memenuhi (membanjiri) beranda-beranda ruang virtual kita tidak semuanya mendatangkan manfaat. Hal kecil ini, membaca informasi, tapi tanpa saringan, tanpa kekritisan dapat berdampak besar, menyesatkan. Tekun dalam ucapan syukur dan doa sehingga memperoleh pengetahuan dan pengenalan yang benar akan Allah. Lagu Sekolah Minggu, “Baca Kitab Suci, doa tiap hari kalau mau tumbuh” menolong kita untuk memulai atau melanjutkan pengenalan tersebut. Hal yang mungkin dianggap sederhana hanya membaca dan berdoa tetapi punya dampak yang besar dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan. Pengenalan yang terus-menerus. Ketika kehidupan dipenuhi dengan berbagai hal yang membelokkan arah jalan kita maka doa menjadi salah satu cara untuk kembali kepada hal yang utama, Kristus dan ajaran-Nya. Doa untuk memohon hikmat dan pengertian dari Allah karena tidak akan bisa jika andalkan kemampuan diri sendiri. Benar atau tidaknya pemahaman dan pengenalan kita akan Kristus pada akhirnya akan terlihat dari buah yang kita hasilkan dalam kehidupan sesehari. Apakah kita menaruh kepekaan dan kepedulian terhadap apa yang dialami sesama kita, yang terjadi di tengah kebersamaan kita sebagai keluarga, jemaat dan masyarakat? Adakah kita turut memerhatikan yang kecil dan tidak terperhatikan dalam kebersamaan? Daftar Acuan William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari. Jakarta: BPK GM, 2006. Lembaga Biblika Indonesia, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2002. (Magyolin Carolina Tuasuun) Minggu Adven Pertama 30 November 2025 Pembacaan Alkitab Matius 24:36-44 Nas Pembimbing Matius 24:44 Mazmur Mazmur 122 Pokok Doa Para Perempuan Pembela Hak Asasi Manusia Para ODHA (Hari AIDS sedunia-1 Desember) Mendoakan Jemaat Karawang Nyanyian Tema KJ 260:1-3 “Dalam Dunia Penuh Kerusuhan” Warna Liturgis Ungu SUDAH SIAPKAH KITA? Pengantar Kekerasan berbasis gender, terutama kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak bisa terjadi pada siapa saja, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, bahkan lansia. Pelaku kekerasannya juga bisa siapa saja, entah itu orang asing, tetangga, pamannya, kakeknya, ayah sambung/ ayah tiri, kakak kandung/ kakak tiri, suami, guru, fungsionaris gereja bahkan pendeta. Peristiwa kekerasan juga bisa terjadi di mana saja, dan kapan saja, baik itu di tempat umum, sekolah, lingkungan gereja, dan terutama lingkungan tempat tinggal. Secara khusus, jika kita melihat pada data kasus kekerasan terhadap perempuan yang dicatat dalam Catatan Akhir Tahun (Catahu) Komnas Perempuan tahun 2023, terdapat 289.111 kasus kekerasan terhadap perempuan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Angka tersebut hanyalah jumlah kasus yang dilaporkan kepada Komnas perempuan dan Lembaga Pengada Layanan Pendampingan korban di sepanjang tahun 2023, seperti fenomena gunung es, pada kenyataannya masih banyak kasus yang tidak dilaporkan. Pada data tersebut Jawa Barat menempati peringkat pertama dengan total 51.866 kasus, DKI Jakarta peringkat ke 4 dengan 14.219 kasus dan Banten di urutan ke 7 dengan 10.532 kasus. Tiga wilayah tersebut merupakan tempat di mana GKP berkarya mewartakan terang Injil Kristus, serta menyatakan kasih dan damai kerajaan Allah. Oleh karena itu, sudah sejauh mana segenap bagian GKP ikut berperan serta dalam upaya penghapusan kekerasan seksual serta menghadirkan lingkungan yang ramah bagi kehadiran anak-anak baik di lingkungan keluarga, Gereja dan masyarakat, sebagai bagian dari cara kita menyiapkan diri dalam menyambut kedatangan Kristus untuk yang kedua kali. Penjelasan Teks Adalah hal yang biasa bagi para nabi untuk berbicara tentang hal-hal yang sudah dekat dan sudah di depan mata, untuk mengungkapkan kebesaran dan kepastiannya. Yesus juga mengungkapkan kepada para murid-Nya perihal kedatangan-Nya yang kedua kali. Dalam nubuat-Nya ini, Ia menyatakan bahwa akan terjadi perubahan besar, untuk menjadikan segala sesuatu baru, hal ini tercatat pada ayat 29-35. Namun persoalannya banyak orang pada zaman itu memahami bahwa kedatangan Yesus yang kedua kali akan terjadi pada generasi mereka, oleh sebab itu Ia menegaskan “tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.” Waktu terjadinya kedatangan Yesus untuk yang kedua kali merupakan hak kekuasaan Allah. Karena itu, jelaslah bahwa spekulasi mengenai waktu Kedatangan yang kedua itu tak lain adalah penghujatan karena orang yang berspekulasi ingin merebut rahasia milik Allah sendiri. Tugas manusia bukanlah untuk per spekulasi, melainkan bersiap diri dan berjaga-jaga. Oleh sebab itu, persiapan menuju kedatangan-Nya yang kedua kali menjadi sangat penting, bukan hanya untuk diketahui tetapi untuk dilakukan. Yesus di sini menunjukkan keadaan dunia lama ketika air bah datang pada zaman Nuh. Pada peristiwa itu, manusia merasa aman dan lengah, larut dalam makan dan minum, kawin dan mengawinkan, mereka tidak tahu sampai air bah itu datang dan mereka tetap tidak percaya. Sehingga pada akhirnya hanya Nuh dan keluarganya yang mengalami selamat. Seandainya umat manusia tahu benar bahwa segala sesuatu di dunia ini akan segera berlalu, maka seharusnya kita tidak mengarahkan mata dan hati kita kepada hal-hal tersebut seperti yang dilakukan banyak orang pada zaman Nuh. Namun banyak orang justru berpikir bahwa masih banyak waktu dan kesempatan untuk dapat memperbaiki kehidupan, sedangkan tidak ada seorang pun yang tahu apakah besok ia masih hidup. Gambaran mereka yang bekerja di ladang dan perempuan yang sedang memutar batu giling memperlihatkan peristiwa kedatangan Kristus akan terjadi kapan saja, pada saat yang tidak terduga sehingga kita bisa saja sedang berada di tempat kerja masing-masing, lalu tiba-tiba Tuhan yang penuh kemuliaan akan muncul. Untuk itu kita perlu bertanya dalam menyikapinya “Apakah saya siap untuk bertemu dengan-Nya? Dapatkah saya berdiri di hadapan-Nya?” Melalui ayat ini kita diingatkan agar kita tidak hanya sibuk dengan urusan duniawi, sehingga kita abai akan kehidupan kita dalam relasi dengan Tuhan dan sesama. Jadi, seluruh kehidupan harus merupakan persiapan terus-menerus bagi kedatangan itu. Ibarat seorang pencuri tidak mengirim surat pemberitahuan kapan ia akan mencuri di sebuah rumah, maka sudah sewajarnya bila seorang pemilik rumah yang mempunyai barang-barang berharga di rumahnya harus selalu menjaganya. Kita perlu mengingat bahwa berjaga-jaga yang dilakukan oleh seorang Kristen bagi kedatangan Kristus bukan dilakukan dalam ketakutan yang timbul karena teror atau pemahaman yang membuat gemetar, melainkan dalam penantian yang merindukan datang-Nya kemuliaan dan sukacita, penantian dalam kerinduan untuk hidup bersama Yesus dalam Kerajaan Allah. Berjaga-jaga yang dilakukan seorang Kristen bagi kedatangan Kristus adalah sebuah upaya terus menerus untuk mengisi kehidupan yang diliputi oleh sikap hidup benar, taat dan setia kepada Allah sesuai dengan ajaran dan hukum Kristus. Masa Advent mengajak umat untuk mengingat dan merayakan kehadiran Yesus di masa lampau dan sekaligus mendorong umat untuk mempersiapkan diri dalam menyambut kedatangan-Nya yang kedua kali di masa yang akan datang. Minggu ini, umat sekaligus diajak untuk ikut ambil bagian dalam Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKtP) yang dimulai dari tanggal 25 November sampai 10 Desember setiap tahunnya. Kampanye 16 HAKtP merupakan kampanye internasional yang mengajak seluruh umat manusia di seluruh dunia untuk bersama-sama ikut dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan, yang sampai saat ini ada begitu banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan. Untuk itu, GKP telah berkomitmen menjadi Gereja Ramah Anak serta Gereja Anti Kekerasan Seksual. Namun kita perlu bertanya, sudah seberapa jauh komitmen tersebut dilaksanakan oleh seluruh lingkup Gereja Kristen Pasundan? Menjadi Gereja Ramah Anak dan Gereja Anti Kekerasan Seksual tentu bukan hanya terkait dengan mempersiapkan infrastruktur di lingkungan gereja, melainkan juga Sumber Daya Insaninya (SDI). Bagaimana setiap anggota Gereja memiliki pengetahuan, serta kemampuan untuk menghadirkan sikap dan pola hidup yang mau menghormati dan menjaga kehidupan sesama, tidak melakukan kekerasan baik secara verbal -” non verbal, fisik maupun psikis di mana pun dan kapan pun kita berada. Untuk itu, dalam semangat perayaan dan penantian di masa Advent ini, Gereja perlu bersiap diri, umat perlu bersiap diri dengan membangun sikap hidup yang mau menjaga kehidupan dan tidak melakukan kekerasan. Mulai dari keluarga, pasangan suami istri, bersama membangun hidup yang penuh kasih mesra, saling bertolong-tolongan, serta menghormati dan menghargai keberadaan masing-masing. Sebagai orang tua yang membesarkan anak-anak dengan penuh kasih dan ketulusan, mengajar dan mendidik anak-anak sejak dini untuk menjaga, serta menghargai tubuh dan diri mereka sendiri serta orang lain. Semua dilakukan dalam upaya bersiap diri, agar tidak menjadi pelaku dan korban kekerasan, terutama kekerasan seksual. Pokok Pikiran Kekerasan berbasis gender merupakan bentuk kekerasan yang merusak kehidupan seseorang secara menyeluruh yang berdampak pada fisik, psikologi, sosial, ekonomi, spiritualitas bahkan sampai pada kematian, karena banyak kasus kekerasan berbasis gender berujung pada pembunuhan atau bunuh diri. Setiap tahunnya angka kekerasan berbasis gender terus meningkat, hal ini tentu harus menjadi perhatian bersama, termasuk Gereja. Oleh karena itu segenap bagian Gereja Kristen Pasundan harus ikut berperan aktif dalam upaya penghapusan kekerasan berbasis gender. Peran aktif Gereja dalam upaya penghapusan kekerasan berbasis gender tidak hanya berhenti pada tersedianya Code of Conduct (CoC) atau Pedoman Berperilaku Anti Kekerasan Seksual atau penandatanganan pakta integritas serta pencanangan Gereja Ramah Anak. Peran aktif Gereja harus diwujudnyatakan dalam berbagai program pelayanan dan pembinaan Gereja serta dilaksanakan oleh seluruh anggota Jemaat. Hal ini dapat dimulai melalui pembinaan kepada anak-anak serta pemuda-remaja, bagaimana mereka semua dibekali dengan berbagai macam pengetahuan terkait dengan keberhargaan dan otoritas pada tubuh, seksualitas, menghormati dan menghargai orang lain dan lain sebagainya. Edukasi ini dilakukan sebagai salah satu upaya Gereja bersiap diri membangun kehidupan yang nir kekerasan. Penantian akan kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali melalui perayaan Minggu Advent seharusnya menjadi ruang untuk umat mengevaluasi dan merefleksi diri, sudahkan umat menjalani kehidupan yang diisi dengan berbagai sikap kehidupan yang menghadirkan dan membangun kehidupan atau justru menghancurkan kehidupan itu sendiri? Menghadirkan dan membangun kehidupan harus menjadi bagian dari cara umat untuk hidup berjaga-jaga dalam rangka menyambut kedatangan Yesus yang kedua kali. (Cliff Edward Kasakeyan)
Daftar Label dari Kategori DPA Minggu GKP 2025 | NEXT: DPA Minggu GKP Desember 2025 PREV: DPA Minggu GKP Oktober 2025 | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |