|
|
Minggu Adven Kedua 7 Desember 2025 Pembacaan Alkitab Matius 3:1-12 Nas Pembimbing Mazmur 22:28 Mazmur Mazmur 26:1-12 Pokok Doa Mendoakan para korban kekerasan terkhusus perempuan dalam rangka 16HAKtP Mendoakan perjuangan hak-hak manusia di seluruh dunia (Hari Hak Asasi Manusia - 10 Desember) Mendoakan Jemaat Katapang Nyanyian Tema KJ 24B “Dari Lembah Sengsaraku” Warna Liturgis Ungu MESIAS SEDANG DATANG: BERTOBATLAH! Pengantar Mapag Menak adalah sebuah tradisi yang dihidupi oleh masyarakat Pancanitis di Desa Nagrak, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Tradisi ini merupakan ritual penyambutan tamu dalam bentuk makanan dan arak-arakan. Dalam tradisi ini tamu akan disuguhkan dengan makanan yang berlimpah, sekitar 31 jenis makanan tradisional yang berasal dari hasil panen seperti kelapa, singkong umbi-umbian, pisang dan lainnya. Selain itu juga sebagai simbol penghormatan, tamu akan diarak di atas boneka Domba. Arak-arakan ini biasa disebut sebagai “dodombaan”. Dalam pelaksanaan kegiatan ini warga masyarakat biasanya melakukan persiapan sekitar satu minggu sebelumnya, mulai dari mengumpulkan hasil panen sampai mengolah dan menyajikannya untuk para tamu. Semua elemen masyarakat terlibat dalam pelaksanaan tradisi ini. Dalam hidup kita sehari-hari pun dalam hal menyambut tamu, terutama tamu yang cukup penting, seringkali kita melakukan hal yang sama, meskipun tidak serumit pelaksanaan tradisi Mapag Menak. Kita membersihkan rumah, merencanakan makanan yang akan kita sajikan bahkan mungkin membatalkan atau menyusun ulang agenda kegiatan kita jika bersamaan waktunya dengan kedatangan tamu kita. Masa Advent juga adalah masa penantian untuk menyambut Sang Mesias, tamu sekaligus tuan rumah kita. Apa yang sebaiknya kita lakukan dalam menanti kedatangan-Nya? Persiapan macam apa yang berkenan kepada-Nya? Teks kita hari ini menolong untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Penjelasan Teks Bacaan kita hari ini berisi seruan Yohanes Pembaptis pada para pendengarnya untuk bertobat sebagai persiapan menyambut kedatangan Sang Mesias. Dalam tradisi agama Yahudi, Mesias adalah sosok yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh umat karena akan membawa pembebasan bagi umat dari penindasan. Bahkan beberapa kali mereka mengira Mesias sudah hadir, salah satunya melalui Yohanes Pembaptis (Yoh. 1:20). Namun, dengan tegas Yohanes mengatakan ia bukan Mesias, melainkan pendahulunya yang mempersiapkan jalan bagi Sang Mesias. Dalam bacaan kita, Yohanes Pembaptis digambarkan sebagai seorang yang memakai jubah bulu unta, memakai ikat pinggang kulit dan makanannya adalah belalang padang dan madu hutan (Mat. 3:4). Gambaran sosok Yohanes Pembaptis ini dekat dengan gambaran sosok Elia dalam Perjanjian Lama yang dikenal sebagai seorang yang sangat berani menentang penyembahan berhala yang dilakukan oleh orang Israel. Yohanes Pembaptis mengajar orang banyak tentang Mesias yang akan datang dan menyerukan kepada orang banyak agar mereka memberi diri dibaptis sebagai tanda pengakuan dosa. Mendengar seruan Yohanes Pembaptis tersebut datang para penduduk dari Yerusalem, Yudea, dan Yordan. Mereka melakukan pengakuan dosa dan memberikan diri untuk dibaptis. Dengan sangat jelas Yohanes Pembaptis mengingatkan para pendengarnya bahwa Mesias yang akan datang itu akan melakukan “seleksi”. Ia menggunakan dua contoh yang sangat dikenal oleh para pendengarnya. Contoh pertama adalah kapak yang sudah tersedia/tertancap pada akar pohon. Pada waktu itu para penebang kayu biasa menancapkan kapak pada akar pohon yang sudah akan segera mereka tebang. Kapak yang tertancap tersebut merupakan penanda bahwa pohon tersebutlah yang akan mendapat giliran berikutnya untuk ditebang. Contoh kedua adalah alat penampi yang sudah siap ditangan penampi. Baik kampak maupun alat penampi yang sudah siap sedia memperlihatkan kesegeraan waktu dari tindakan seleksi, menebang dan menampi, yang akan segera terlaksana. Yohanes Pembaptis mengingatkan bahwa demikianlah yang akan terjadi ketika Mesias datang. Seperti setiap pohon yang tidak menghasilkan buah akan ditebang, dan setiap sekam akan diterbangkan angin untuk kemudian dibakar, demikian juga dengan orang-orang yang belum bertobat pada saat Mesias datang akan mendapatkan bagiannya. Kemudian Yohanes Pembaptis menyerukan, untuk itu segeralah melakukan pertobatan. Ronald J. Allen, seorang professor dari Christian Theological Seminary Indiana Polis, USA, menyebutkan bahwa seruan pertobatan yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis bukan bicara pada tataran perasaan yaitu bagaimana seorang merasa bersalah atas tindakan yang telah dilakukannya. Sebaliknya, Allen menyebutkan bahwa pertobatan yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis ada pada tataran tindakan. Menurutnya Yohanes Pembaptis menyerukan “living repentance” and not “talking repentance” pertobatan dalam tindakan dan bukan pertobatan dalam perkataan. Dalam Perjanjian Lama kata Ibrani yang dipakai untuk menunjuk pada pertobatan adalah syuv yang berarti berputar atau berbalik kembali. Kata ini mengacu pada tindakan berbalik kembali kepada Allah dari perbuatan dosa. Sedangkan dalam Perjanjian Baru kata yang dipakai untuk menunjuk pada pertobatan adalah metanoia yang berarti perubahan hati atau perubahan nyata juga dapat dimaknai sebagai memperbaiki kesalahan. Para pendengar Yohanes Pembaptis saat itu, khususnya orang Farisi dan Saduki merasa bahwa mereka tidak memerlukan pertobatan karena keselamatan telah otomatis menjadi bagian mereka sebab mereka adalah keturunan Abraham. Dengan tajam Yohanes Pembaptis menegur orang Farisi dan Saduki ini, ia bahkan menyebut mereka keturunan ular berbisa (ay. 7). Bagi Yohanes Pembaptis, semua orang memerlukan pertobatan dan tanda pertobatan itu adalah perpindahan hidup dari hidup yang lama, yang tidak berkenan kepada Allah, kepada hidup yang baru, yang lebih berkenan kepada Allah. Yohanes Pembaptis kemudian mendorong para pendengarnya untuk menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan mereka. Dalam menyambut kedatangan Mesias, umat dipanggil untuk menyelidiki hidupnya dan melihat apakah masih ada acara-cara hidup yang bertentangan dengan identitasnya sebagai umat milik Allah yang sedianya memperlihatkan cara hidup berbuah dengan cara terus menerus berupaya melakukan apa yang adil, benar, tidak curang, tidak melakukan kekerasan dalam berbagai macam bentuknya (fisik, psikis, verbal dan seksual). Jika masih ditemukan cara-cara hidup yang tidak bersesuaian dengan identitas sebagai umat Allah, umat dipanggil untuk melakukan pertobatan. Sebagaimana maknanya katanya, pertobatan berarti menyadari kejahatan yang telah dilakukannya dan berbalik dari kejahatan-kejahatan tersebut. Pada minggu Advent II ini umat didorong untuk melakukan pertobatan, baik secara individual maupun secara komunal sebagai sebuah persekutuan. Pokok Pikiran Hari ini merupakan rangkaian dalam Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Kampanye 16HAKtP) yang diperingati di seluruh dunia pada tanggal 25 November-10 Desember setiap tahunnya dengan tujuan untuk mendorong upaya perlindungan bagi para penyintas tindak kekerasan berbasis gender dan terpenuhinya hak korban. Kekerasan berbasis gender masih menjadi realita yang sangat memprihatinkan sebagaimana dicatat oleh KomNas Perempuan bahwa sepanjang tahun 2023 terdapat sebanyak 401.975 kasus yang dilaporkan dengan jenis kasus kekerasan tertinggi adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) diikuti oleh kekerasan seksual. Angka ini tentu saja harus dibaca dalam fenomena gunung es, artinya angka ini hanya sebagian keci saja dari realita yang sebenarnya. Dalam terang Kampanye 16HAKtP pertobatan berarti berusaha untuk tidak menjadi pelaku kekerasan terhadap perempuan dalam berbagai bentuknya (fisik, psikis, dan seksual). Berikut beberapa contoh bentuk tindak kekerasan berbasis gender: fisik seperti memukul, menjambak, menendang dan lain sebagainya; verbal seperti melakukan cat calling (bersiul saat perempuan lewat), body shaming atau mengomentari bentuk tubuh dan atau penampilan seseorang. Seksual seperti menyentuh, meraba tanpa persetujuan korban sampai pada pelecehan seksual dan pemerkosaan. 3. Pertobatan dalam masa Kampanye 16HAKtP berarti tidak lagi merendahkan seseorang karena jenis kelamin atau gendernya. Sebaliknya, pertobatan ditunjukan dengan ikut secara aktif mendorong usaha-usaha pencegahan dan penanganan kekerasan berbasis gender dalam setiap lingkup dimana kita ada di dalamnya. Salah satu contoh yang paling kecil adalah melakukan pembagian kerja domestic antara laki-laki dan perempuan, melakukan Pendidikan publik tentang kesehatan reproduksi, tubuh dan seksualitas semenjak dini pada anak laki-laki dan perempuan sehingga penghormatan terhadap tubuh terinternalisasi sejak dini. (Obertina Modesta Johanis) Minggu Adven Ketiga 14 Desember 2025 Pembacaan Alkitab Matius 11:2-11 Nas Pembimbing Matius 11:6 Mazmur Mazmur 146:1-10 Pokok Doa Mendoakan korban ketidakadilan dan berbagai kasus HAM di Indonesia yang belum terselesaikan Mendoakan Jemaat Kramat Nyanyian Tema “Walau Seribu Rebah” (https://www.youtube.com/watch?v=M2JHJOq8wEg) Warna Liturgis Ungu TIDAK MENJADI KECEWA DAN MENOLAK ALLAH Pengantar Dikutip dari travel.detik.com, mengisahkan kekecewaan seorang turis atas pesanan kamar hotel untuk berlibur yang kenyataannya sangat berbeda dengan harapannya. Dilansir dari Express UK pada Kamis (23/5/2024), Argentina Clarisa Murgia adalah seorang turis yang liburan ke Italia. Ia membagikan video singkat pengalamannya memesan kamar di TikTok yang memperlihatkan kamarnya yang memiliki balkon dengan pemandangan ke arah pantai. Ada sebuah kapal layar di tengah lautan, namun sepanjang waktu kapal layar itu tidak bergerak. Begitu Murgia mendekatkan diri ke balkon, ternyata pemandangan itu hanya poster raksasa. Dari dekat terlihat jelas poster itu ditempelkan ke tembok di gedung seberang. Pantas saja, perahu layar yang berada di lautan nampak tak ada pergerakan sama sekali. Murgia mengaku bahwa ia memesan penginapan itu karena tergiur dengan pemandangan laut dari balkon kamar. Ia bahkan menyewa kamar dengan fasilitas sarapan hanya untuk menikmati pemandangan tersebut. Sebenarnya apa sih kekecewaan itu? Kekecewaan adalah perasaan tidak bahagia, tidak nyaman, dan tidak menyenangkan saat seseorang atau sesuatu ternyata tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ketika kita merasa tidak bahagia karena harapan dan ekspektasi kita tidak terpenuhi, kita akan mengalami perasaan sedih atau kecewa. Kekecewaan biasanya disebabkan kesalahan diri sendiri atau orang lain. Tetapi apakah kita pernah kecewa kepada Tuhan? Orang beriman pun bisa mengalami kekecewaan oleh karena memiliki harapan dalam perjalanan hidupnya ketika mengikut Tuhan. Bukan saja kehidupan spiritual yang membaik, tetapi juga kehidupan ekonomi, pendidikan yang lancar, kehidupan keluarga yang harmonis, kesehatan yang terjaga. Namun kenyataan akhirnya tidak sesuai harapan: ekonomi merosot, pendidikan yang tersendat-sendat karena kendala biaya, mengalami sakit, terjadi konflik dengan anggota keluarga, dan sebagainya. Keadaan tersebut dapat membuat seseorang kecewa dan meragukan Tuhan. Bagaimana sikap yang benar saat merasakan kekecewaan? Kita dapat belajar dari pengalaman iman Yohanes Pembaptis. Penjelasan Teks Kekecewaan juga dirasakan oleh Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis dikenal sebagai pahlawan iman, seorang nabi besar, voor rijder/ pembuka jalan bagi kedatangan Mesias. Ia mempunyai posisi yang paling unik. Ia adalah nabi terakhir dalam Perjanjian Lama, dan juga nabi pemula dalam Perjanjian Baru. Ia mengakhiri seluruh Perjanjian Lama dan merintis Perjanjian Baru. Melalui Yohanes-lah segala yang dinubuatkan nabi-nabi Perjanjian Lama menjadi suatu puncak pernyataan yang jelas tentang Mesias kepada manusia. Melalui Yohanes juga seluruh zaman setelah Kristus dapat melihat bahwa dialah yang memberi petunjuk untuk zaman selanjutnya, yakni bahwa Kristus membuka Perjanjian Baru dengan darah yang dicurahkan, "lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia" (Yoh. 1:29). Kisah kelahiran Yohanes juga menakjubkan, lahir dari seorang perempuan tua yang sebelumnya divonis mandul, berani dan tidak kenal kompromi mengkhotbahkan pertobatan tentang kedatangan Kerajaan Allah dan Sang Mesias, meskipun harus menghadapi raja Herodes, yang berkuasa atas negeri itu. Nabi lain mungkin berpikir panjang untuk mengecam kesalahan seorang penguasa, namun Yohanes dengan berani melakukannya. Yohanes menegur Raja menegur raja wilayah Galilea, Herodes, yang mengambil Herodias, istri saudaranya sendiri (Mat. 14:3-4) serta segala kejahatannya (Luk. 3:19-20). Akibatnya Yohanes dijebloskan ke dalam penjara. Murid-murid Yohanes diizinkan menjenguk di penjara, dan melalui mereka ia mengetahui apa yang Yesus kerjakan. Selama beberapa waktu di dalam penjara, Yohanes mulai merasa kecewa. Kekecewaannya ditunjukkan dengan meminta murid-muridnya datang kepada Yesus untuk bertanya apakah benar Yesus adalah Sang Mesias? Sebenarnya pertanyaan ini bukanlah karena Yohanes meragukan bahwa Yesus adalah Sang Mesias. Ucapan Yohanes "Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia." (Yoh. 1:29), merupakan tanda bahwa Yohanes sangat mengenal Yesus sebagai Mesias. Kalau begitu mengapa dia masih mempertanyakan Yesus? Yang dipertanyakan Yohanes adalah mengapa dirinya dibiarkan di dalam penjara. Salah satu tanda kedatangan Sang Mesias adalah dia akan memberikan kelepasan dari penjara kepada orang-orang yang terkurung (Yesaya 61:1). Dari dalam penjara, Yohanes telah mendengar dari murid-murid yang mengunjunginya bahwa Yesus telah melakukan begitu banyak tanda-tanda mukjizat, tetapi Yohanes dibiarkan di dalam penjara. Apa yang Yohanes harapkan tentang kuasa dan kebesaran Yesus, ternyata kini tidak dapat ia lihat kenyataannya. Apa yang Yesus kerjakan tidak sesuai pengharapannya. Namun, Yohanes melakukan tindakan yang benar saat mengalami kekecewaan, ia bertanya kepada pihak yang tepat, yaitu Tuhan Yesus. Yohanes tidak mau berlama-lama berada dalam kekecewaan, ia mengungkapkan melalui pertanyaan yang langsung ia tujukan kepada yang dapat memberikan jawaban benar, yaitu Yesus. Jawaban Yesus “Pergilah, dan beritahukanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, penderita penyakit kulit ditahirkan, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat. 11:4-5). Yesus menjawab pertanyaan dengan menyampaikan pekerjaan-pekerjaan-Nya sebagai penggenapan dari nubuat nabi Yesaya (Yes. 29:18, 35:5-6, 6:11), tetapi juga menambahkan dua hal, yakni penderita penyakit kulit ditahirkan, dan orang mati dibangkitkan. Hal ini semakin memperjelas ke-Mesias-an Yesus. Dengan jawaban ini, Yesus mengajar Yohanes Pembaptis untuk melihat tanda-tanda ke-Mesias-an-Nya bukan hanya dengan hal-hal yang sesuai harapannya, tetapi jauh lebih luas cakupannya, yaitu tanda-tanda yang telah dinyatakan Yesus di tengah-tengah orang Israel bahkan dunia. Lalu, Tuhan Yesus memberikan kesimpulan dari pengajaran-Nya bagi Yohanes dengan sebuah kalimat penting: “berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku” (Mat. 11:6). Berbahagialah untuk apa setiap karya yang Tuhan sudah kerjakan, meskipun tidak seperti yang kita harapkan. Setiap hal yang Tuhan sudah kerjakan menyatakan kemuliaan-Nya. Setiap hal yang telah Kristus kerjakan menyatakan bahwa Dialah Sang Mesias. Tuhan menginginkan agar Yohanes Pembaptis berbahagia, tidak menjadi kecewa dan menolak Yesus, walaupun dia akan terus berada di dalam penjara hingga akhirnya dia mati di tangan Herodes. Apakah ini akhir yang tragis? Tidak. Ini adalah akhir dari seorang yang menjadi pendahulu bagi Mesias, dan ketika 'Sang Mesias itu semakin besar, Yohanes semakin kecil' (Yoh. 3:30). Apa respons Yesus tentang pertanyaan Yohanes? Yesus bukan saja menjawab dan membuktikan ke-Mesiasan-Nya, tetapi juga memuji Yohanes sebagai seorang nabi yang memiliki prinsip yang teguh dan mempraktikkan gaya hidup sederhana dengan hidup di padang gurun, menjalankan tugas kenabiannya dengan setia (Mat. 11:7-10). Sekalipun untuk menjalani itu semua ia dihina sebagai orang yang kerasukan setan (Mat. 11:18). Di mata Yesus, Yohanes Pembaptis memiliki keunggulan dari nabi-nabi lain, yakni ia adalah perintis jalan bagi Yesus, Mesias itu sendiri; kedatangan-Nya adalah penggenapan dari nubuat nabi Maleakhi (Mal. 3:1). Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku”, merupakan kalimat yang berlaku bagi kita semua. Sama seperti kekecewaan Yohanes, kekecewaan juga bisa kita semua alami saat kita mengharapkan sesuatu tetapi apa yang kita harapkan tidak terjadi, ketika tekanan hidup begitu berat, ekonomi merosot, pendidikan yang tersendat-sendat karena kendala biaya, mengalami sakit, terjadi konflik dengan anggota keluarga, dan sebagainya. Menghadapi kekecewaan memang tidak mudah. Salah satu penyebab kekecewaan dalam hidup orang beriman adalah ketika kita memaksakan Tuhan yang tidak terbatas, masuk ke dalam pikiran dan rencana kita yang terbatas. Padahal Tuhan menginginkan sebaliknya, kita yang terbatas masuk dan berserah ke dalam rencana dan kehendak Tuhan yang tidak terbatas. Tuhan di dalam kedaulatan-Nya bisa memakai keadaan apa pun pada akhirnya untuk kemuliaan-Nya, termasuk memakai kekecewaan kita. Bertanyalah kepada Tuhan, sebab bertanya kepada Tuhan dalam situasi kecewa tidaklah salah. Jangan ragu untuk mencurahkan isi hati dan kekecewaan kita, bertanya seperti Yohanes Pembaptis kepada Yesus. Teruslah bertekun dalam doa dan membaca Alkitab. Tuhan sanggup menopang, menghibur dan menguatkan kita untuk terus berjalan dalam iman. Di saat kita merasa kecewa dan sendirian, sesungguhnya Yesus tidak akan pernah meninggalkan kita. Pokok Pikiran Kekecewaan merupakan hal yang manusiawi, dialami setiap orang, saat harapannya tidak sesuai dengan kenyataan. Rasa kecewa bisa saja terjadi terhadap pasangan kita, anggota keluarga, Jemaat, bahkan dalam hidup bermasyarakat, bahkan orang bisa kecewa terhadap Tuhan. Apakah wajar kecewa terhadap Tuhan? Bukan saja dalam kehidupan orang beriman, tokoh Alkitab, pahlawan iman juga mengalami kekecewaan, yaitu Yohanes pembaptis. Karena pelayanannya, ia dipenjara, dan kehadiran serta karya Yesus sebagai Mesias tidak juga membuatnya bebas dari penjara. Yohanes kemudian mempertanyakan apakah benar Yesus adalah Sang Mesias? Jawaban Yesus menyadarkan Yohanes bahwa dia memaksakan Tuhan yang tidak terbatas, masuk ke dalam pikiran dan rencananya yang terbatas. Padahal Tuhan menginginkan sebaliknya, manusia yang terbatas masuk dan berserah ke dalam rencana dan kehendak Tuhan yang tidak terbatas. Jangan ragu untuk mencurahkan isi hati dan kekecewaan kita kepada Tuhan, dan terus bertekun dalam doa dan membaca Alkitab. Tuhan sanggup menopang, menghibur dan menguatkan kita untuk terus berjalan dalam iman. Di saat kita merasa kecewa dan sendirian, sesungguhnya Yesus tidak akan pernah meninggalkan kita. Menjelang Natal, kita kembali diingatkan bahwa kehidupan orang percaya baik pribadi maupun persekutuan bukan hanya kegembiraan tapi juga tidak luput dari kesulitan dan tantangan kehidupan, namun hidup yang terus berpengharapan Tuhan terus nyatakan bagi kita yang mau hidup setia. Daftar Acuan https://www.gkikayuputih.or.id/kecewa-kepada-tuhan/ https://www.hokimtong.org/www/365-renungan/kecewa-dengan-tuhan-1/?getpdf=1 https://reformed.sabda.org/yohanes_pembaptis_pelita_yang_terpasang_dan_bercahaya https://pemuda.stemi.id/reforming_heart/yesus-dan-yohanes-pembaptis (Robert Nixon Kindangen) Minggu Adven Keempat 21 Desember 2025 Pembacaan Alkitab Matius 1:18-25 Nas Pembimbing Matius 1:20 Mazmur Mazmur 80:1-8 Pokok Doa Mendoakan peran kaum Ibu dalam menghadirkan kesejahteraan hidup di tengah keluarga (Hari Ibu Nasional - 22 Desember) Mendoakan persiapan Natal di Jemaat masing-masing Mendoakan Jemaat Lembang Nyanyian Tema KK 547:1-3 “Janganlah Kau Takut” Warna Liturgis Ungu KELAHIRAN-NYA MENJADIKAN KITA BERANI MENGHADAPI KENYATAAN Pengantar Apa yang menjadikan seseorang berani menghadapi kenyataan dalam hidupnya. Acapkali seseorang tidak menghargai proses yang saat ini telah Tuhan tetapkan bagi kita dan seluruh keberadaan hidup kita. Manusia menutup mata ketika apa yang dialaminya tidak sesuai dengan apa yang diinginkan sehingga manusia cenderung untuk mengelak dan bahkan tidak bisa menerima bahwa apa yang saat ini berlangsung dalam kehidupannya adalah bagian dari kenyataan hidup yang sepatutnya diterima dengan lapang dada. Harus diakui bahwa kapasitas Resiliensi (daya lenting) setiap manusia berbeda-beda dan hal ini yang menentukan sejauh mana seseorang dapat dengan berani dalam merespons hal-hal yang terjadi dalam dinamika kehidupannya. Oleh karena itu kelahiran Kristus jelas menjadi momentum yang tepat untuk dijadikan kesempatan melangkah dengan keyakinan penuh bahwa kita dapat menghadapi realitas kehidupan kita. Penjelasan Teks “Yusuf bermaksud menceraikannya dengan diam-diam” (bdk. Ay. 19). Kalimat ini menggambarkan bahwa Yusuf hendak mengambil jalan pintas untuk secepatnya keluar dari situasi yang tidak mudah untuk diterimanya dalam kondisi Yusuf ketika itu yang masih dalam status bertunangan dengan Maria. Konsekuensi sosial yang harus diterima oleh Yusuf memiliki seorang anak dengan status demikian menjadikan dia takut untuk menerima tanggung jawab itu. Hal tersebut secara realitas menjadi sesuatu yang sangat dipahami sebagai hal yang berat untuk ditanggung seseorang. Yusuf ada dalam posisi dilema yang luar biasa karena hal itu adalah hal yang sulit untuk dipahami akal sehat. Sikap Yusuf untuk menceraikan Maria secara diam-diam hendak diambil olehnya karena dia tidak ingin ada keributan dan masalah yang akan mencemarkan nama baik mereka. Yusuf sangat berhitung luar biasa (tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu) (bdk. ay. 20) terhadap informasi yang dia terima. Sementara Yusuf menimbang-nimbang hal itu lalu malaikat datang dan memberikan semua penjelasan kepada Yusuf mengenai semua yang terjadi. Inilah momentum Yusuf dikuatkan sehingga bisa menerima apa yang dimaksudkan oleh Malaikat itu. Yusuf diberikan kekuatan oleh malaikat bahwa dia tidak usah takut untuk mengambil Maria sebagai istrinya karena anak yang dikandungnya adalah berasal dari Roh Kudus. Mungkin ketakutan Yusuf sebagai manusia adalah bahwa Maria telah memiliki anak dari orang lain sehingga Yusuf sangat mempertimbangkan dan sulit untuk menerima. Setelah diketahui bahwa anak yang dikandung maria itu berasal dari Roh Kudus dan yang memberikan informasi pun dari seorang malaikat Tuhan maka Yusuf membuka dirinya untuk menerima hal tersebut. Identitas detail yang diberikan oleh malaikat bahwa yang akan lahir itu seorang anak laki-laki, akan dinamakan Yesus, kelak Anak itu akan menyelamatkan umat manusia dari dosa, akan menggenapi yang difirmankan Tuhan oleh nabi, menjadi penjelasan yang bisa diterima oleh Yusuf bahwa semua yang terjadi ini adalah inisiatif dari Allah sendiri dan oleh karena itu Yusuf terpanggil untuk menerima dan menjalankan maksud Tuhan itu. Penjelasan Malaikat Tuhan tentang kelahiran anak yang dikandung Maria memberikan pesan yang sangat baik untuk direfleksikan lebih mendalam bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan Yusuf adalah bagian dari rancangan yang Tuhan percayakan dalam kehidupannya. Tuhan memiliki rancangan besar dibandingkan dengan apa yang diinginkan oleh Yusuf, bahkan rancangan Tuhan sangat detail dan presisi. Hanya diperlukan respon yang iklas untuk melangkah bersama Tuhan dan tinggal menyaksikan bagaimana Tuhan sendiri yang berperkara bersama dengan kita meskipun jalannya berat dan sangat melelahkan. Inilah yang secara normatif juga kita gumuli dan rasakan sebagai manusia. Keadaan dimana hal yang kita tidak harapkan terjadi ditengah hidup kita tapi demikianlah cara Tuhan menyatakan karyanya bagi umat yang dikasihiNya. Maksud Tuhan lebih besar dari hanya sekedar keinginan kita sebagai manusia yang terbatas. Pokok Pikiran Kelahiran Kristus menjadikan Yusuf takut untuk menerimanya dikarenakan Yusuf tidak mengerti maksud Tuhan. Sama seperti manusia yang acapkali memiliki rasa takut akan hal-hal yang tidak dimengerti. Ketakutan adalah sesuatu yang manusiawi dan alamiah, tetapi itulah yang menjadikan seseorang berbeda dalam memaknai imannya percayanya, yakni keberanian untuk percaya kepada Tuhan sang pemilik jalan dan hidup manusia. Menjadi pengikut Kristus maka kita akan selalu ditantang untuk menerima dengan kepercayaan penuh bahwa kita akan didampingi dalam melalui situasi-situasi yang tidak meyakinkan secara manusia dengan segala kapasitas yang kita akui sangat terbatas dalam segala hal. Realitas atau kenyataan hidup dapat kita jalani dengan tetap tenang karena kita meyakini bahwa tangan kita akan selalu dituntun oleh Tuhan. Kehadiran Malaikat Tuhan memberikan jaminan bahwa maksud Tuhan itu dinyatakan bagi Yusuf untuk kepentingan yang hanya Tuhan sendiri yang tahu, tetapi maksud Tuhan itu memiliki dasar dan maksud baik bagi umat manusia. Maksud Tuhan acapkali melalui jalan terjal dan sulit untuk kita lalui, tetapi sesuai dengan janji penyertaan-Nya, maka Tuhan akan menyediakan sesuatu yang besar di depan bagi mereka yang mau menjalani maksud Tuhan tersebut dengan sukacita. Cara Tuhan memang tidak bisa diikuti dengan nalar atau logika kita sebagai manusia. Hal tersebut harus kita terima dan kita diharapkan dapat berdamai dengan hal itu, karena selama kita memaksakan diri membaca cara Tuhan dengan cara kita, maka yang terjadi kita akan selalu kesulitan bahkan kecewa dengan apa yang saat ini kita hadapi dan jalani. Momentum Natal sepatutnya menjadi pemicu penguatan spiritual kita kepada Tuhan. Makna kelahiran Kristus memiliki bobot yang penting dan krusial untuk menjadikan kita para pengikutNya sadar bahwa kita memang dipanggil untuk percaya. Jangankan ajaran yang Yesus sampaikan, kelahiran-Nya saja sepatutnya sudah cukup menjadikan kita semua semakin teguh dan berani. (Sains Pieter Surlia) Malam Natal 24 Desember 2025 Pembacaan Alkitab Yesaya 9:1-6 Nas Pembimbing Yesaya 9:1 Mazmur Mazmur 96:1-13 Pokok Doa Ibadah Natal 2025 di Indonesia dan dunia Nyanyian Tema KJ 107:1-3 “Terbitlah Dalam Kegelapan” Warna Liturgis Putih SANG TERANG MENGATASI KESURAMAN Pengantar Ada dua pernyataan inspiratif dari penulis awanama, demikian: “where the situation becomes the most bleak, the light is seen to shine most brilliantly” (Di saat situasi menjadi semakin suram, cahaya terlihat bersinar semakin terang) dan “when you see only the dark, know the light will soon return” (Ketika Anda hanya melihat kegelapan, ketahuilah bahwa terang akan segera kembali). Dari kedua ungkapan itu, terkesan kuat bahwa kondisi terang selalu lebih baik dari keadaan gelap dan suram. Terang selalu lebih dibutuhkan di saat gelap, bahkan terang selalu menjadi pilihan yang diharapkan di saat jalan hidup manusia mengalami gelapnya malam pekat, seperti halnya penderitaan. Namun, di saat pengalaman malam pekat yang terjadi kian tak terperikan, terdengarlah suara yang menyerukan “seorang anak telah lahir untuk kita” (Yes. 9:5a). Seorang Anak yang menjanjikan terang untuk menggantikan kekelaman hidup. Anak itu adalah Sang Terang yang akan menegakkan keadilan dan kebenaran, serta kedamaian hati manusia dan dunia. Pada Malam Natal 2025 ini, kita menghayati janji TUHAN dinyatakan dengan tak terduga dan waktunya selalu indah menurut pandangan-Nya. Di saat manusia memandang suatu hal sungguh terlalu sulit untuk ditolong, justru pertolongan TUHAN selalu nyata melalui kelahiran dan karya Anak-Nya yang tunggal sebagai Penasihat Ajaib, Raja Damai, dan Sang Terang Sejati. Penjelasan Teks Bangsa yang manakah yang dimaksud dalam kata pembuka pada ayat 1? Para ahli berbeda pendapat tentang hal ini. Ada yang menyebut teks ini tergolong pada periode sebelum pembuangan (preexilic period), tetapi juga ada yang menggolongkannya pada periode setelah pembuangan (postexilic period). Ada yang merujuknya pada bangsa Israel (Efraim di Utara), tetapi ada yang merujuknya pada bangsa Yehuda di Selatan. Namun, terlepas dari itu semua, ada penggambaran yang jelas bahwa ada suatu bangsa, yang adalah umat TUHAN, sedang mengalami masa-masa kegelapan (“Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan,” ay. 1a). Tema yang sedang ditonjolkan dari teks ini adalah kontras antara ‘gelap’ dan ‘terang’. Penggambaran yang telah berulang-ulang disampaikan dalam Yesaya 5:20, 30. Bangsa yang terhukum ini terlebih dahulu telah menjadikan rancu kontras keduanya, yang menyebutkan “kejahatan itu baik” dan “kebaikan itu jahat”; mengubah “kegelapan menjadi terang” dan “terang menjadi kegelapan” (Yes. 5.20). Kepada bangsa yang seperti inilah ditimpakan kepadanya “gelap yang menyesakkan” dan “terang menjadi gelap karena awan-awan” (Yes. 5:30). Penggambaran yang sama pada Yesaya 8 sebelum pembacaan teks kita saat ini pada Yesaya 9. Dikatakan di sana bahwa bangsa ini mengalami “kesesakan dan kegelapan, kesuraman yang mengimpit, dan mereka akan dibuang ke dalam kabut” (Yes. 8:22). Dengan latar bangsa yang seperti itu, teks ini adalah janji (promise) untuk membangkitkan harapan hidup. Bangsa ini akan melihat titik terang di kejauhan, setelah melalui terowongan gelap yang panjang. Teks ini hendak menggugah para pembaca dan pendengarnya untuk percaya (believe) bahwa “momen gelap (pasti) akan berlalu.” Namun demikian, umat diyakinkan bahwa perlu ada intervensi ilahi untuk menjadikan momen terang terjadi bagi mereka yang terlalu lama hidup dalam gelap. Di sini terungkap tegas bahwa ada harapan. Keyakinan/ kepercayaan umat itu sedang dibangkitkan sehingga berbuah harapan. Harapan itu dihayati untuk mencapai tiga skema. Pertama, adanya kebebasan atau kemerdekaan dari dominasi, seperti saat TUHAN memberikan kemenangan dalam situasi yang mustahil bagi Gideon untuk mengalahkan bangsa Midian dalam peristiwa “the day of Midian” (lih. Hak. 7). Simbol yang dipakai dalam teks ini adalah “kuk, gandar, dan tongkat,” yang telah menaklukkan dan menindas umat Allah (ay. 3). Karena itu, yang diperlukan oleh bangsa yang telah sekian lama ada dalam kesuraman ditindas oleh bangsa asing adalah kebebasan atau kemerdekaan. Hal itu dapat terjadi hanya jika umat memercayakan diri pada pertolongan TUHAN; sebab segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia, menjadi mungkin bagi Allah. Kedua, adanya kedamaian atau perdamaian dari masa-masa peperangan. Jaminan perdamaian dapat diwujudkan hanya jika simbol-simbol peperangan itu diselesaikan. Simbol yang dipakai dalam teks ini adalah “sepatu tentara dan jubah penuh darah,” yang harus dibakar di dalam api supaya tidak dapat digunakan kembali (ay. 4). Karena itu, yang diperlukan oleh bangsa yang telah sekian lama ada dalam kesuraman ditindas oleh bangsa asing adalah perdamaian dan kedamaian hati umat Allah. Ketiga, adanya figur pemimpin atau raja yang memerintah umat Allah dengan penuh keadilan dan sejahtera. Muatan janji ini dimulai dengan berita “seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita” (ay. 5). Kepemimpinan yang tidak bisa lagi dipenuhi oleh raja-raja Israel/Yehuda keturunan Daud. Kepemimpinan yang hanya dapat terjadi kepada keturunan Daud yang disematkan kepadanya nama-nama ilahi, yaitu “Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” (ay. 5). Dengan janji yang menumbuhkan harapan di hati umat, maka hanya kuasa ilahi yang dapat menghadirkan cahaya-terang, memulihkan kegembiraan umat, dan membangun kembali kekuatan kepada bangsa yang memperoleh restu Allah lagi. “Kecemburuan Allah” (ay. 6c), dimaksudkan untuk menunjukkan kasih-setia-Nya atas umat-Nya, adalah alasan bahwa TUHAN berperan sebagai pihak yang bertindak langsung bagi pemulihan umat-Nya. Dengan demikian, intervensi Allah harus dilihat sebagai wujud anugerah karena prakarsa-Nya, bukan sebagai upaya manusia untuk memperoleh damai sejahtera. Hanya Allah yang mampu mengerjakan keadilan dan kebenaran di sepanjang masa pemerintahan-Nya. Dengan demikian, titik penting hadirnya cahaya dalam kehidupan bangsa yang berjalan dalam kegelapan adalah lahirnya “Sang Anak untuk bangsa ini.” Kondisi malapetaka, kesuraman, dan penderitaan umat tidak boleh terjadi selamanya. Sejarah hidup manusia adalah milik TUHAN Allah. TUHAN mampu membalikkan keadaan. Janji keselamatan ini pasti akan dipenuhi. TUHAN adalah Allah yang sangat prihatin akan keselamatan umat-Nya. “Kecemburuan-Nya” artinya kekuatan cinta-Nya tidak akan membiarkan kekelaman yang menimpa umat-Nya terus berlanjut. Janji pada teks ini membentuk lintasan harapan yang menjangkau masa depan yang akan diwujudkan melalui kepemimpinan yang setia pada rencana Allah bagi umat-Nya, segenap manusia dan dunia. Rencana Allah untuk terciptanya keadilan, kebenaran, keamanan, dan perdamaian. Pemimpin yang terlahir atas prakarsa Allah, yaitu Anak-Nya yang tunggal. Pemimpin yang kelahirannya menumbuhkan harapan ketika asa itu sulit dimiliki; menghadirkan secercah terang ketika gelap terlalu pekat untuk berlalu; menghadirkan damai di saat rasa penuh gejolak dengan perselisihan. Harapan dari lahirnya Sang Anak-Terang untuk mengatasi kesuraman di hati umat Allah, segenap manusia di dunia; baik dahulu maupun sekarang. Pokok Pikiran Kondisi terang selalu lebih baik daripada kondisi gelap apalagi suram. Pada negara-negara yang mengalami empat musim, penduduknya lebih menyukai musim semi dan panas daripada musim gugur apalagi dingin. Seringkali ada ungkapan, berkunjunglah di bulan-bulan peralihan dari gelap ke terang"dari awan mendung ke terang matahari"daripada sebaliknya, dari terang ke masa-masa gelap. Berefleksi dari teks PL di momen Malam Natal, kita mendapati bahwa teks ini hendak menularkan suatu pengharapan iman yang besar di hati “bangsa yang berjalan dalam kegelapan”. TUHAN akan mengubah kekelaman umat-Nya menjadi suatu sukacita besar. Mereka akan melihat terang"suatu terang yang besar"dan kepada mereka akan diberikan seorang anak yang akan menjadi Raja Damai. Di momen Malam Natal 2025 ini, representasi “bangsa yang berjalan dalam kegelapan” bukan hanya bagi umat Allah di periode sebelum dan sesudah Pembuangan saja, melainkan kepada umat TUHAN di masa kini. Kepada pengalaman-pengalaman malam pekat dan gelap-suram itu, tersampaikan berita bahwa seorang anak telah lahir “untuk kita” dan “kepada kita” (Yes. 9:5). Seorang Anak yang dijanjikan itu juga akan ada “bersama dengan kita” (baca: Immanuel, lih. Yes. 7:14 dan Yes. 8:8, 10). Sang Anak-Terang yang akan tinggal bersama-sama dengan umat Allah, baik dahulu maupun sekarang, akan mengatasi segala bentuk pengalaman gelap dan suram. Daftar Acuan Pareira, Berthold A. 2006. Kritik Sosial Politik Nabi Yesaya: Yesaya 1-12. Malang: Dioma. Seitz, Christopher R. 1993. Isaiah 1-39: Interpretation: a Bible commentary for teaching and preaching. Louisville, KY: John Knox Press. Tull, Patricia K. 2010. Smyth & Helwys Bible Commentary: Isaiah 1-39. Georgia, GA: Smyth & Helwys Publishing. Watts, John D. W. 2004. Isaiah 1-33. Revised Ed. Volume 24. Michigan, MI: Zondervan. (Leonard Bayu Laksono) Natal 25 Desember 2025 Pembacaan Alkitab Yesaya 52:7-10 Nas Pembimbing Yesaya 52:7 Mazmur Mazmur 97:1-12 Pokok Doa Perdamaian di Palestina, Ukraina, dan upaya gencatan senjata Nyanyian Tema KJ 426:1,3,4 “Kita Harus Membawa Berita” Warna Liturgis Putih DUNIA DALAM BERITA KESELAMATAN Pengantar Pada dekade 1980-an dan 1990-an, program televisi bertajuk ‘Dunia Dalam Berita’ menjadi tontonan wajib setiap jam 9 malam yang hanya berlangsung selama 30 menit saja. Televisi Republik Indonesia (TVRI)"sebagai perusahaan televisi negara"memiliki hak siar untuk menayangkan ‘Dunia Dalam Berita’. Meskipun, pada tahun 1990-an sudah ada beberapa televisi swasta, seperti Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) dan Surabaya/ Surya Citra Televisi (SCTV), tetapi setiap jam 9 malam semua televisi swasta langsung merelai TVRI untuk segera menayangkan program ‘Dunia dalam Berita’. Pada saat itu, ‘Dunia Dalam Berita’ menjadi satu-satunya program yang menyajikan berita baik peristiwa yang terjadi di dalam negeri maupun di mancanegara. ‘Dunia Dalam Berita’ telah menjadi tontonan yang menyenangkan (menurut penilaian Penulis) karena telah menjadi jendela untuk mengetahui situasi dan kondisi di “dunia luar” yang sulit sekali diakses pada saat itu. Terlepas dari konten berita mancanegara tersebut, sebagai penonton kita sangat menikmati sekaligus menjadi tahu informasi dari berita-berita yang disampaikan oleh para pewarta berita tersebut. Hal penting dari Perayaan Natal kristiani adalah ada pewarta yang menyampaikan kabar sukacita (baca Injil) bahwa Sang Juru selamat terlahir ke dalam dunia untuk keselamatan manusia, dunia, dan semesta. Pada Natal tahun 2025, kita menghayati teks Yesaya 52 tentang kabar keselamatan yang dinyatakan kepada Sion setelah sekian lama mereka menantikan janji keselamatan itu digenapi. Dari teks itu, kita juga menghayati bahwa ada berita sukacita bagi dunia; bahwa dunia menjadi bagian isi dari berita keselamatan. Renungan ini mengandung pesan bahwa bukan hanya ada berita bagi dunia, melainkan juga ada “dunia dalam berita,” yang TUHAN anugerahkan dan wartakan. Penjelasan Teks Lembaga Alkitab Indonesia (TB2) memberi judul bagian ini, yaitu ‘Kabar Baik bagi Sion.’ Sesungguhnya, narasi dan pewartaan tentang keselamatan bagi bangsa, yang dalam pembuangan (Yehuda), telah dimulai pada bagian kedua kitab Yesaya (Pasal 40-48). Namun, pada kitab Yesaya 52 ini, Sion harus bersiap-siap menerima kabar baik itu semakin mendekat. Dengan demikian, mereka harus bangkit dari perkabungan dan ikatan tawanan, serta menjadi bangsa yang bermartabat untuk memperoleh kekuatannya kembali. Dalam hal ini, TUHAN bertindak sebagai penebus umat-Nya tanpa bayaran apa pun dan menegakkan Nama-Nya di hati umat-Nya. TUHAN tampil sebagai Allah yang berbicara langsung dan bertindak untuk menyelamatkan umat-Nya dan memerdekakan Putri Sion (ay. 1-6). Kabar tentang TUHAN yang bertindak menyelamatkan bangsa Yehuda itu ditandai dengan datangnya sang pembawa kabar-berita (ay. 7). Para pewarta itu telah diutus dari Babel menuju ke Yerusalem (lih. Yes. 40:1-11/9). Suatu kenyataan bahwa para pewarta itu harus menaiki dan melampaui gunung yang tinggi dan berbukit-bukit. Oleh karena itu, kedatangannya ke Yerusalem terlihat dari kejauhan dari atas bukit-bukit itu dan mendatangkan sukacita. Mereka disambut dengan kata-kata, “Betapa indahnya... langkah-langkah orang yang membawa berita” (ay. 7a). Namun, ini bukan hanya sekadar “langkah-langkah”, melainkan menunjuk pada bagian tubuh pewarta itu, yaitu “kaki-kakinya.” Ironisnya, yang disebut indah bukanlah bagian tubuh lainnya dari pewarta tersebut, tetapi justru kakinya. Jika kita membayangkan bahwa dengan medan perjalanan yang jauh dan melewati bukit-bukit, bukankah kondisi kakinya akan banyak lecet dan berdarah. Kaki-kaki yang berjumpa dengan jalanan berbatu, banyak kerikil tajam, berduri, dan berdebu. Akan tetapi, dari kondisi kaki yang seperti itu, justru kaki-kaki itulah yang bertahan untuk lekas-lekas menyampaikan warta baik bagi Sion. Meskipun kaki-kaki itu penuh luka, tetapi tetap mengukuhkan pewarta untuk mengatakan bahwa “Allahmu memerintah sebagai Raja!” (ay. 7c). Berturut-turut pewarta itu menyampaikan kondisi sukacita ketika Allah memerintah umat-Nya kembali, yaitu: penuh “damai sejahtera, kebaikan, dan keselamatan” (ay. 7b). Situasi yang telah sekian lama tidak dialami, baik oleh umat yang ada di Babel maupun yang ada di Yerusalem/Sion. Kini, mereka mendengar dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa situasi hidup mereka akan berubah segera. Terlebih bagi umat yang berada di Yerusalem, para saksi yang melihat kedatangan pewarta yang menyerukan keselamatan dan sejahtera, bagi mereka hal itu sama seperti melihat “TUHAN kembali ke Sion” (ay. 8). Memang mereka melihat utusan TUHAN, tetapi rasanya mereka seperti sedang melihat TUHAN sendiri; karena kabar damai sejahtera dan keselamatan itu sungguh dinyatakan. Karena itu, luapan sorak-sorai tak terbendung untuk merayakan TUHAN yang datang, bukan TUHAN yang menjauh pergi. Dari reruntuhan Yerusalem, yang telah sekian lama hanya terdengar ratap tangis, maka akan ada kegembiraan dan sorak-sorai (ay. 9). Dari duka yang mendalam karena ditinggalkan penduduknya, Yerusalem mendapat penghiburan karena akan ada gelombang orang-orang yang kembali ke Yerusalem. Dari perasaan ditinggalkan oleh Allah, Yerusalem mendapati kembali bahwa “TUHAN menghibur umat-Nya.” Dari perasaan rendah diri sebagai hamba dari bangsa-bangsa penakluk, Yerusalem diyakinkan bahwa TUHAN telah menebus mereka (bahkan, tanpa bayaran apa pun!). Kesukacitaan ini tidak hanya menjadi perasaan partikular umat yang ada di Yerusalem, tetapi menjadi kesaksian universal bagi semua bangsa di dunia. Damai sejahtera Allah tidak hanya terbatas pada wilayah-wilayah Yehuda saja, tetapi meluas sampai ke ujung bumi. Keselamatan yang menyuka-citakan itu bukan hanya menjadi pengalaman bangsa yang ditebus dan dimiliki Allah, melainkan menjadi kesempatan yang juga dapat dialami oleh dunia yang menyambut keselamatan hanya dari Allah yang hidup (ay. 10). Berita yang diwartakan oleh para pewarta itu, tidak hanya bagi Yehuda, Yerusalem/Sion, atau bangsa Israel saja, tetapi berita keselamatan bagi dunia. Sejak saat itu dunia telah menjadi cakupan kasih setia TUHAN yang menyelamatkan dan menghidupkan. Dengan demikian, ada tiga hal yang dapat dihayati melalui teks Yesaya 52:7-10 ini, yaitu: Pertama, adanya subjek pewarta kabar. Orang-orang yang berdedikasi untuk sigap, bergegas, tiada menyerah, tidak lelah, dan tahan derita untuk bisa “berlari” sampai ke tujuan untuk memastikan dari mulut dan kesaksian dirinya bahwa orang-orang akan mendengar kabar-berita yang menyelamatkan. Kedua, adanya isi (content) kabar baik. Dunia yang penuh kesedihan, kesuraman, dan penderitaan berkepanjangan akan lebih senang mendengar kabar baik, daripada kabar buruk. Kabar baik bukan hanya mendatangkan kegembiraan, melainkan menumbuhkan daya hidup/juang. Kabar baik menjadi momen berharga untuk meraih kesempatan memperjuangkan hidup menjadi lebih baik. Ketiga, adanya dampak (impact) yang meluas bagi dunia. Alat ukur untuk menentukan bahwa subjek dan konten (pewarta dan wartanya) memberi pengaruh yang baik adalah ketika dampak itu mengubahkan seseorang atau sesuatu dari cakupan yang kecil menjadi meluas dan menyebar. Dampak signifikan itu adalah ketika ada perubahan kondisi dari reruntuhan menjadi tembok-tembok kokoh; dari sedih menjadi gembira; dari kedukaan menjadi kesukaan; dari jatuhnya harga diri menjadi pulihnya martabat; dan dari putus asa menjadi tumbuhnya harapan. Pokok Pikiran Natal adalah berita keselamatan dari TUHAN. Momen Natal dapat menjadi momen pewartaan bahwa keselamatan bagi manusia dan dunia adalah prakarsa dari TUHAN Allah. TUHAN mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi serupa dengan manusia. Inkarnasi-Nya (menjadi daging) adalah jalan damai untuk menyatakan kasih-Nya yang besar bagi manusia dan dunia. Esensi dari “Natal adalah pemberitaan”, yaitu: adanya subjek pewarta, isi kabarnya, dan dampaknya. Natal memperkenalkan Tuhan Yesus sebagai pewarta kabar baik; tetapi Ia juga adalah isi kabar baik itu sendiri, serta Ia telah berdampak bagi dunia, sebab Ia adalah Juruselamat dunia yang terlahir ke dunia. Akan tetapi, kita semua adalah manifestasi Natal pada masa kini, yaitu orang-orang yang siap diutus sebagai pewarta kabar baik dan memberi dampak bagi dunia melalui kehadiran dirinya sebagai umat-Nya. Natal juga menugaskan kita semua untuk melanjutkan tradisi apostolik bahwa Gereja Kristen menjadi pewarta-pewarta kabar keselamatan yang dipersaksikan dari lingkup-lingkup terkecil dari kehidupan kita sampai dengan ke segala ujung-ujung bumi, dunia, dan segenap ciptaan. Dengan demikian, diperlukan para pewarta yang kaki-kakinya kuat dan yang tidak mudah menyerah untuk mencapai tujuan. Dari teks Yesaya ini, sama seperti berita yang menunjukkan kepedulian dan keberpihakan TUHAN kepada Sion, maka Natal menggugah kita semua untuk menyatakan kepedulian dan keberpihakan pada dunia. Biarlah dunia menjadi bagian dari isi berita keselamatan yang prakarsanya dari Allah. Daftar Acuan Barth, Marie-Claire. 19964. Kitab Yesaya Pasal 40-55. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Elliott, Mark W. and Thomas C. Oden. 2007. Isaiah 40-66: Volume 11. Illinois, IL: InterVarsity Press. Hanson, Paul D. 1995. Isaiah 40-66: Interpretation: a Bible commentary for teaching and preaching. Louisville, KY: John Knox Press. Watts, John D.W. 2005. Isaiah 34-66. Revised Ed. Volume 25. Michigan, MI: Zondervan. (Leonard Bayu Laksono) Minggu Pertama Sesudah Natal 28 Desember 2025 Pembacaan Alkitab Matius 2:13-23 Nas Pembimbing Mazmur 148:13 Mazmur Mazmur 148:1-14 Pokok Doa Berdoa bagi keutuhan Indonesia dan perdamaian dunia, serta anak-anak korban kekerasan dan peperangan. Mendoakan Jemaat Pacet Nyanyian Tema KJ 413:1-3 “Tuhan Pimpin Anak-Mu” Warna Liturgis Putih MEMULIAKAN TUHAN, MENJAMIN MASA DEPAN ANAK-ANAK Pengantar Natal selalu menjadi momen yang penuh kebahagiaan. Bukan karena kita bisa membagi banyak hadiah dalam pesta atau perayaan Natal, tetapi justru karena kita mendapatkan kembali kehidupan yang begitu bernilai di dalam Kristus. Kelahiran Kristus membangkitkan harapan baru, yang membuat kita melihat setiap kelahiran atau natalitas sebagai momen harapan. Anak-anak yang terlahir dalam keluarga kita adalah harapan dan masa depan. Mereka adalah hadiah terindah dalam kehidupan kita, bagaimanapun proses kejadian dan kelahiran mereka. Tidak ada anak yang lahir karena kecelakaan. Tidak ada anak yang tidak diinginkan. Setiap kelahiran ada dalam desain Tuhan. Setiap anak yang lahir dari rahim seorang perempuan terjadi karena diinginkan Tuhan. Lalu, bagaimana seharusnya kita menyambut kehadiran mereka dan memuliakan Tuhan yang telah menghadiahi kita dengan kehadiran anak-anak kita? Hari ini kita akan belajar bersama dari Injil Matius 2:13-23, sekaligus mempertautkannya dengan Mazmur yang kita baca di hari ini. Kiranya kita akan mendapatkan inspirasi untuk terus memuliakan Tuhan bersama dengan anak-anak kita. Penjelasan Teks Injil Matius yang kita baca hari ini dibagi ke dalam tiga perikop yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Ayat 13-15 bercerita tentang penyingkiran Yusuf ke Mesir bersama Maria dengan membawa bayi Yesus. Penyingkiran mereka terjadi karena ada rencana pembunuhan terhadap bayi Yesus Kristus oleh penguasa politik. Herodes melihat Yesus Kristus sebagai saingan, suksesor, yang mengancam takhtanya. Herodes tidak rela kehilangan kuasa. Ia tidak mau pengaruhnya redup dan hilang. Olwh karena itu, bayi Yesus yang disebut sebagai Raja bagi orang Yahudi itu, harus dihilangkan. Lalu ia pun menyusun rencana jahat untuk membunuh anak-anak orang Yahudi. Herodes menjadi simbol dari kesewenang-wenangan pemimpin. Ia adalah manifestasi dari otoritarianisme. Herodes adalah pemuja kekuasaan dan sosok pembawa kematian. Mengetahui rencana pembunuhan yang dirancang Herodes, Yusuf kemudian mengambil Yesus dan ibu-Nya lalu mereka menyingkir ke Mesir. Tindakan Yusuf adalah tindakan penyelamatan. Ia bertanggung-jawab untuk hidup dan masa depan Yesus. Di sini kita melihat bagaimana seorang Yusuf dan Maria begitu memproteksi Yesus dari kuasa kematian yang mengancam. Apa yang dilakukan pasangan ini mencerminkan naluri dan kasih sayang orang tua, yang akan selalu ada untuk anak-anak mereka. Orang tua akan selalu rela melakukan apa saja demi kehidupan dan keselamatan anak-anaknya. Dalam pelarian ke Mesir itu, Yesus juga sesungguhnya sedang dipersiapkan oleh Allah untuk nanti kembali dan melayani. Dari tempat pelarian itu, Ia dipanggil untuk melakukan karya besar, bukan hanya bagi orang Yahudi, tetapi bagi semua suku bangsa di dunia. Allah melalui Yusuf dan Maria memelihara Anak-Nya. Dengan merawat Yesus, Maria dan Yusuf sesungguhnya sedang merawat masa depan kehidupan. Di ayat 16-18, kita membaca brutalitas seorang Herodes. Dengan bengis ia membantai anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah. Hingga terdengarlah ratapan pilu di Rama. Ibu-ibu sangat bersudah hati, mereka menderita dengan hebat karena pembantaian tersebut. Tak ada yang lebih menyedihkan daripada seorang ibu yang kehilangan anaknya. Kematian seorang anak bagi seorang ibu bukan hanya berarti kehilangan seseorang yang amat dicintai, tetapi dia kehilangan hidup dan harapannya sendiri. Oleh karena itu, ibu-ibu yang menderita karena kematian anak-anak mereka tidak ingin dihibur. Terlalu sakit derita yang mereka alami, dan sebaik apa pun penghiburan yang dilakukan, anak-anak mereka tidak kembali lagi. Di sini kita mendapati, betapa sakitnya kehilangan atau kematian itu. Kematian menjadi hal yang paling ditakuti oleh manusia secara eksistensial. Lalu, pada ayat 19-23 kita membaca Yusuf dan Maria kembali ke tanah Israel. Namun karena situasi yang belum terlalu kondusif, mereka kemudian memutuskan untuk tinggal di Nazaret. Mengapa? Sebab ancaman kematian dan pembunuhan itu masih ada. Bayang-bayang kematian terus menghantui. Bagian ini memperlihatkan kepada kita bagaimana proses merawat dan mendidik anak di tengah tantangan dan ancaman sungguh tidak mudah. Nazaret juga dikenal sebagai kota yang jahat. Di sana orang-orang kecil bermukim. Di antara mereka terdapat banyak penduduk yang tidak terpelajar, dan mereka hidup dalam kondisi ekonomi yang tidak terlalu baik. Akan tetapi, di situlah Yesus dibesarkan. Di tempat yang menurut kata orang banyak jahat, Yesus tumbuh sebagai orang baik. Ia hidup benar di mata Allah, Bapa-Nya. Hal itu terjadi supaya genaplah firman, bahwa Yesus akan disebut “Orang Nazaret.” Dari tempat yang tidak dilirik orang, dari situ justru datang seorang Mesias. Di kota yang sarat kejahatan dan dianggap tidak ada masa depan, justru harapan dan masa depan datang dari sana. Realitas yang dikisahkan oleh Matius itu mengingatkan pembaca, bahwa tidak masalah manusia itu lahir di mana, yang terpenting adalah bagaimana ayah dan ibu merawatnya. Yang penting adalah bagaimana keluarga mendidik anak-anak dan melindungi mereka dari berbagai ancaman. Yang terpenting adalah keluarga menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi pertumbuhan anak-anak. Yusuf dan Maria mengambil langkah berani. Mereka meninggalkan kampung halaman mereka, kemudian tinggal sebagai orang asing di Mesir. Ketika lingkungan asal mereka tidak lagi menjadi ruang yang aman, mereka pergi demi masa depan anak dan keluarga mereka. Lebih baik tinggal di negeri asing dengan aman, daripada berada dalam ketidakamanan dan ancaman di kampung sendiri. Dan hal yang paling mendasar dari tindakan berani Yusuf dan Maria adalah karena Allah menyatakan hal itu kepada mereka. Melalui malaikat, Yusuf diminta oleh Allah untuk pergi. Artinya, sikap dan tindakan berani yang diambil itu berdasarkan pada kehendak dan pimpinan Tuhan. Karena Tuhan, Yusuf dan Maria berani bertindak, sebab Allah menjadi jaminan mereka. Tuhan menjadi pelindung mereka, sejak mereka keluar dari kampung halaman, tinggal di negeri asing, sampai kembali lagi ke tanah Israel dan hidup di Nazaret. Proses panjang ini menjadi bagian dari cara kerja Allah untuk membentengi keluarga Yusuf dan mempersiapkan Yesus untuk tampil kelak sebagai Mesias bagi seluruh umat manusia. Kalau Herodes adalah representasi dari pemuja kuasa dan kematian, Yesus Kristus justru hadir sebagai jalan, kebenaran, dan kehidupan. Allah Bapa sendiri memang mempersiapkan-Nya untuk itu. Namun, karya Allah itu terjadi di dalam dan melalui keluarga. Yusuf dan Maria selaku ayah dan ibu dari manusia Yesus menjadi sosok penting dalam desain Allah itu. Pokok Pikiran Pengkhotbah dapat memulai khotbah dengan menyuguhkan realitas sosial mengenai anak-anak yang tumbuh tanpa harapan. Mereka terjebak dalam persoalan busung lapar, kemiskinan, atau kasus-kasus kriminal yang melibatkan anak, seperti perdagangan anak, dll. Realitas ini tentu menjadi tantangan yang seharusnya dihadapi dengan rasa tanggung-jawab oleh gereja dan orang percaya. Natal yang dirayakan oleh gereja dan orang percaya memberikan energi baru dalam menghadapi realitas tersebut. Gereja yang memuliakan Tuhan dalam perayaan Natal tidak bisa memuji Sang Bayi Natal tanpa tindakan yang menjamin masa depan anak-anak yang tidak memiliki jaminan masa depan. Anak-anak yang bermasa depan tidak hanya harus dijamin hak-haknya untuk hidup, seperti sandang, pangan, dan papan, mereka juga harus mendapatkan pengasuhan dan pendidikan yang baik. Orang tua yang baik harus menyadari bahwa anak adalah titipan Tuhan. Demikian juga dengan gereja dan pemerintah. Pemerintah tidak boleh bersikap seperti Herodes, yang bukannya menjamin masa depan anak dengan perlindungan dan jaminan sosial, tetapi justru menjadi ancaman. Pengkhotbah dapat mengangkat dan mengkritisi kebijakan pemerintah, apakah pemerintah mendukung masa depan setiap anak, atau malah hanya berpihak kepada anak-anak dari kalangan tertentu saja. Dalam konteks keluarga, pengkhotbah dapat menjadikan sikap Yusuf dan Maria sebagai role model bagi para orang tua di masa kini, yang sangat memproteksi anak dari berbagai ancaman. Saat ini, mungkin ancaman yang didapatkan oleh anak-anak berbeda dengan ancaman yang dihadapi oleh bayi Yesus dan bayi-bayi yang lain di masa itu. Saat ini, anak-anak diperhadapkan dengan ancaman dari teknologi informasi, pergaulan bebas, juga masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, gizi buruk, dan ketiadaan akses pada pendidikan yang baik dan bermutu. Maka, proses pendidikan di tengah keluarga harus dilakukan dengan serius guna membangun kesadaran anak. Dan orang tua mesti melakukan pendidikan dengan keteladanan untuk memproteksi anak-anak dari berbagai ancaman, serta mendorong agar mereka juga mendapatkan pendidikan formal yang baik. Anak-anak dengan pendidikan yang baik, entah itu formal maupun informal, adalah jaminan masa depan gereja, masyarakat, bangsa dan negara, bahkan dunia. Karena itu, mari kita membangun masa depan mereka sebagai wujud ibadat kita kepada Tuhan (Hariman A. Pattianakotta) Akhir Tahun 31 Desember 2025 Pembacaan Alkitab Pengkhotbah 3: 1-15 Nas Pembimbing Pengkhotbah 3: 11 Mazmur Mazmur 101:1-8 Pokok Doa Mendoakan persiapan memasuki tahun 2026 Nyanyian Tema "Tuhan Selalu Menolongku" (https://www.youtube.com/watch?v=qaf0E0PXOEQ) Warna Liturgis Putih MESIN WAKTU Pengantar Jika aku bisa, 'ku akan kembali 'Ku akan merubah takdir cinta yang 'kupilih Meskipun tak mungkin, walaupun 'ku mau Membawa kamu lewat mesin waktu. Sedikit penggalan syair dalam sebuah lagu yang diciptakan oleh seorang seniman dengan nama panggung Budi Doremi. Lagu ini tentu sudah tidak asing terdengar ditelinga setiap kita terutama anak-anak yang lahir tahun 2000-an. Lagu yang menceritakan tentang perjalanan kisah cinta yang berakhir kemudian menjadi penyesalan bagi seseorang yang telah menyia-nyiakan pasangannya. Meskipun dalam imajinasinya dengan menggunakan mesin waktu ia berusaha untuk memperbaiki setiap kesalahan-kesalahan yang pernah dibuatnya, namun ia pun tersadar bahwa hal tersebut sudah tidak mungkin kembali dan yang harus dilakukannya saat ini adalah menerima keadaan serta berdamai dengan masa lalu. Tepat beberapa jam lagi bersama kita akan merayakan pergantian tahun, tentu selama bulan demi bulan berlalu begitu banyak hal yang terjadi dalam kehidupan setiap kita entah menjadi pelajaran hidup dengan cara yang menyenangkan maupun melalui cara yang menyakitkan, itulah proses hidup. Menjadi pertanyaan adalah apakah kita benar-benar mau merefleksikan hal tersebut dan berkomitmen untuk menanggapinya dan berupaya agar berubah menjadi pribadi yang lebih baik diwaktu yang akan datang? Atau hanya terjebak dalam mesin waktu yang membuat kita terkurung dalam ruang imajinasi kita sendiri? Penjelasan Teks Kitab Pengkhotbah adalah salah satu dari beberapa kitab dalam perjanjian lama yang termasuk dalam golongan kitab sastra hikmat yang ditulis oleh Salomo. Salomo menyadari keterbatasan manusia dalam memahami tujuan dari semua yang terjadi. Pada teks pembacaan ini diawali dengan judul perikop yakni “untuk segala sesuatu ada waktunya” seakan menggiring para pembaca bahwa kehidupan yang kita jalani bagaikan sebuah film yang penuh dengan scene-scene tertentu dan Allah yang menjadi sutradaranya. Teks ini ditulis karena melihat situasi dan kondisi pada saat itu dimana kehidupan orang-orang Yahudi yang ditindas oleh pemerintah Yunani atau Mesir. Ada sebuah tafsiran yang mengatakan bahwa manusia seolah terperangkap dalam lingkaran waktu yang terus berputar tiada henti, sehingga penting bagi kita untuk coba melihat secara lebih mendalam mengenai setiap ayat yang dibagi menjadi dua bagian besar. Pertama ayat 1-8 memperlihatkan bahwa dalam kehidupan ini kita sebagai manusia bukan hanya merasakan segala sesuatu yang terjadi saja namun apa pun yang terjadi dalam dunia ini merupakan petunjuk bagi manusia untuk menyadari bahwa Allah adalah Sang Pencipta yang mempunyai otoritas akan setiap ciptaan-Nya. Sebab segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan manusia tentu memiliki maksud dan bukan sekedar berputar dalam lingkaran waktu saja. Oleh sebab itu pada ayat-ayat tersebut mengatakan hal yang berlawanan namun pasti dirasakan atau dialami oleh manusia, seperti sebuah peristiwa yang menjadi bagian melekat dalam kehidupan manusia (pada ayat 2 “ada waktu untuk lahir dan ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam dan ada waktu untuk mencabut yang ditanam”). Semua memiliki waktunya masing-masing mungkin fasenya berbeda karena itulah yang menjadi warna sebuah dinamika kehidupan dalam berproses. Selanjutnya pada ayat 9-15 menunjukkan bagaimana Allah bekerja untuk kebaikan manusia sesuai dengan waktu-Nya. Kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan akan membawa pada pemahaman tentang makna yang tersirat bahwa Allah yang memegang kendali atas hidup manusia serta Allah juga yang menentukan setiap hal sehingga dari seluruh proses kehidupan yang dialami akan sampai pada tujuan yang terbaik (semua akan indah pada waktu-Nya). Ketetapan-ketetapan yang telah Allah rancang dari awal kemudian diberikan kepada manusia sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan-Nya, tetapi bukan berarti jika demikian manusia memasrahkan kehidupannya dan menjalani hanya sekedar formalitas saja seakan terjebak dalam imajinasi waktu dengan keputusasaan. Teks ini ingin menegaskan kepada para pembaca agar dapat memahami dengan baik eksistensi kehidupannya dan juga eksistensi Allah yang berdaulat atas kehidupan seluruh umat manusia. Sebagai manusia yang terbatas mungkin seringkali tidak mengerti bagaimana cara Allah bekerja dalam kemahakuasaan-Nya. Otak manusia ibaratkan danau yang tidak mungkin dapat menyelami pemikiran Allah yang seluas samudera tidak semua pertanyaan yang terbesit dalam benak dapat menemukan jawaban karena keterbatasan itu sendiri. Pernyataan ini terdapat dalam ayatnya yang ke 11, lalu pada ayat selanjutnya “makan dan minum” dikatakan sebagai pemberian Allah yang kemudian dapat dinikmati oleh manusia. Kedua hal tersebut merupakan kebutuhan pokok yang disinggung secara sederhana dengan maksud supaya manusia dapat menjalani kehidupannya dengan rasa syukur karena tidak melulu proses kehidupan harus diterima dengan cara yang menyakitkan atau menyulitkan, disaat kita berhasil memaknai, menyadari, dan menghayati kebaikan Allah bagi ciptaan-Nya maka perihal waktu yang berharga dalam setiap fasenya tidak membuat kita terlena dan terjebak pada zona nyaman kepasrahan dalam hidup. Meskipun apa yang telah Allah ciptakan dan sediakan itu mutlak adanya, sebagai manusia yang diberikan akal budi maka seharusnya kita mengetahui setiap langkah menuju hari depan yang lebih baik, agar rencana Allah dapat dinyatakan kepada setiap kita pribadi lepas pribadi. Melalui rasa ketidakpastian juga dapat membuat kita senantiasa mengingat serta menghayati bahwa hanya Tuhan saja yang mengetahui masa depan dengan demikian menjadi ajakan bagi setiap manusia untuk berserah tetapi tidak menyerah. Dalam menghayati pergantian tahun umat diajak untuk senantiasa mengevaluasi, mengintrospeksi, serta merenungkan berbagai macam peristiwa yang sudah dapat dilalui, entah itu peristiwa yang menyenangkan maupun peristiwa yang menyakitkan. Karena proses kehidupan akan terus berjalan, pembentukan yang Tuhan sediakan bagi manusia merupakan ketetapan yang sudah mutlak dan pasti harus dilalui, untuk melihat sejauh mana ketaatan manusia sebagai ciptaan. Dalam rangka kebaktian akhir tahun ini kita pun turut mensyukuri hari demi hari yang telah Tuhan anugerahkan bagi setiap kita dan menghayatinya dengan perjamuan kudus akhir tahun. Kiranya perjamuan kudus yang bersama kita lakukan tidak sekedar menjadi formalitas rutin saja tetapi benar-benar membawa kita pada refleksi bahwa kehidupan akan terus berjalan seturut dengan waktu dan kehendak Tuhan oleh sebab itu sebagai manusia kita pun harus belajar dan berproses menjadi pribadi yang bijaksana dan tidak menyerah pada keadaan namun berserah. Pokok Pikiran Segala sesuatu ada waktunya, dengan demikian kita pun diajak untuk dapat menyadari bahwa setiap musim yang terjadi dalam kehidupan kita mempunyai tujuan dan Allah yang memegang kendali atas setiap waktu yang ada. Jangan terlena dengan mesin waktu (imajinasi kita sendiri) yang membuat kita berada di zona nyaman, sehingga kita tidak bertumbuh. Bangun dan sadarlah jalani apa yang harus dijalani, jangan pernah menyia-nyiakan waktu yang sudah Tuhan karuniakan tetapi gunakanlah itu dengan baik sebagai bentuk ungkapan syukur. Kesadaran akan waktu yang Tuhan berikan sebagai anugerah membuat kita berserah kepada Tuhan seutuhnya, disaat kita menyadari bahwa Tuhan yang berdaulat atas kehidupan manusia. Sebagai manusia pun kita diajak dan diingatkan kembali untuk menjadi pribadi yang taat dan senantiasa menanggapi setiap persoalan hidup dengan bijak. Karena ketidakpastian membuat kita sadar akan keterbatasan dan kelemahan kita sebagai manusia yang membutuhkan Tuhan. Salomo sebagai penulis dari Kitab Pengkhotbah pun ingin memberitahukan kepada kita bahwa sebagai manusia marilah bergembira dan menikmati apa yang sudah Tuhan sediakan serta tetaplah berbuat baik. Sebab apa yang sudah Tuhan lakukan merupakan suatu yang kekal (tidak dapat diubah). Karya Tuhan adalah Alfa dan Omega, rencana yang sudah Tuhan rancang merupakan hal yang tidak terpikirkan oleh manusia karena tidak mungkin manusia yang memiliki kapasitas berpikir seluas danau dapat menyelami pemikiran Tuhan yang seluas samudera. Daftar Acuan Jennifer L. Koosed, (Per)Mutations Of Qohelet: Reading the Body in Book, LIBRARY OF HEBREW BIBLE/ OLD TESTAMENT STUDIES, New York: Library of Congress Cataloging, 2006. Glendy S. Umboh, “HIDUP DALAM LINGKARAN WAKTU: (Sebuah Kajian Hermeneutik Pengkhotbah 3: 1-15 Mengenai Semua Ada Waktunya)”, Vol. 1 No. 1: (Manado 2020). (Williams D. Tanamal) Awal Tahun 1 Januari 2026 Pembacaan Alkitab Bilangan 6:22-27 Nas Pembimbing Matius 28:20 Mazmur Mazmur 8:1-7 Pokok Doa Nyanyian Tema ”Aku diberkati” (https://www.youtube.com/watch?v=HJ2AlFnw11M) Warna Liturgis Putih AKU DIBERKATI Pengantar Selamat Tahun baru 2026 untuk saudara semua. Tahun 2025 sudah dilewati dengan seluruh dinamika kehidupan yang boleh terjadi, sekalipun sampai saat ini tidak semua pengharapan yang digumuli dapat digapai dan diselesaikan. Walau demikian, kasih setia Allah senantiasa memberkati ” itulah yang selalu diyakini semua orang percaya. Setiap orang tentu membutuhkan berkat, sebab dengan menerima berkat kehidupan dapat dinikmati dan dijalani dengan baik. Menurut KBBI, kata “Berkat” itu diartikan sebagai karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia. Dengan pengertian ini wajar bila manusia sangat menantikan berkat. Pada Tahun 2026 ini, setiap orang tentu memiliki resolusi hidup. Ini menjadi salah satu berkat yang dinantikan. Resolusi ini tentu dapat digapai dengan keyakinan Allah memberkati kehidupan semua orang. Keyakinan ini didukung Firman-Nya dalam Kitab Bilangan 6:22-27. Penjelasan Teks Kitab Bilang biasa juga disebut “di Padang Gurun”, sebab besar bagian isi kitab ini menuliskan pengalaman hidup bangsa Israel di Padang Gurun setelah keluar dari tanah Mesir. Selama 40 tahun bangsa Israel mengembara di Padang Gurun. Itu merupakan perjalanan yang menjadikan penderitaan dan hukuman kepada umat karena mereka bersungut-sungut dan meragukan Allah. Walau demikian, Allah tetap beserta dan memberkati mereka. Pada ayat 24, “Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau”, kata “melindungi” di sini menggunakan kata Ibrani Shamar yang dapat juga diartikan sebagai dijaga, diperhatikan, dipelihara, dipedulikan dan juga dirawat. Pengertian ini mengarahkan setiap orang untuk meyakini dengan berkat Allah, setiap orang akan mampu melangkah dengan semangat serta penuh kepercayaan diri khususnya di tahun yang baru 2026 ” dan segala yang jahat, yang mendatangkan malapetaka serta keburukan akan dihalau sebab Allah melindungi. Pada ayat. 25, “Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia”, kata “kasih karunia” berasal dari kata Ibrani Khawnan yang dapat diartikan juga sebagai disayang ataupun diselamatkan. Betapa spesialnya orang yang menerima kasih karunia Allah sebab orang itu tentulah ada di dalam hati Allah, menjadi orang yang khusus seperti mencintai dan dicintai pasangan ” pengorbanan apa pun akan dilakukan. Pada ayat 26, “Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera”, kata menghadapkan wajah menunjukkan bahwa Ia tidak berpaling atau membuang wajah-Nya melainkan memperhatikan selalu jalan kehidupan manusia dengan setia. Allah juga memberi “damai sejahtera” yang biasa orang Kristen katakana dalam menyapa yakni Shalom. Kata Shalom yang dapat juga dipahami sebagai kecukupan, ketenangan dan menghadirkan sukacita. Dalam menjalani tahun 2026, semua orang sangat memerlukan shalom bukan hanya untuk dirinya tetapi juga menghadirkannya kepada orang lain ” khususnya di dalam keluarga. Semua berkat Allah akan tercurah kepada orang percaya dengan syarat kehidupan didasarkan dalam nama Tuhan (ay. 27). Dengan segala berkat yang Allah berikan dalam penjelasan di atas tentu setiap orang akan mampu menjalani kehidupan di tahun 2026 dengan baik sebab Allah senantiasa memberkati. Bulatkanlah keyakinanmu bahwa sekalipun perjalanan kehidupan tahun 2026 akan terasa seperti di “padang gurun”, Allah tetap besertamu, melindungimu, dan menghadirkan damai sejahtera kepadamu ” itulah berkat-Nya yang akan engkau tuai di tahun 2026 ini. Pokok Pikiran Kehidupan yang dipenuhi berkat adalah kehidupan yang didasarkan dalam nama Tuhan (ay. 27). Berkat adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan setiap orang. Tidak ada satu pun orang yang menolak berkat dan Allah dengan kasih setianya begitu murah memberkati semua orang ” khususnya orang-orang yang mencintai-Nya. Jalan kehidupan tentu tidak bisa dipahami akan baik-baik saja, ada kalanya baik ada kalanya buruk. Tetapi di dalam Allah, sekalipun kehidupan yang melanda, setiap orang akan mampu menghadapinya dengan penyertaan dan berkat Allah. Daftar Acuan Alkitab TB-2 KBBI.web.id (Johanes K. Arevalo) Kumpulan Penulis DPA Minggu & KRT: Pdt. Em. Engkih Gandakusumah, S.Th Pdt. Em. Krisna Ludia Suryadi, S.Th Pdt. Em. Lelly Frida Yohanes, S.Th., M.Pd Pdt. Em. Hada Andriata, DPS Pdt. Dr. Hariman A. Pattianakotta Pdt. T. Adama A. Sihite, Th.M Pdt. Daniel Adi Priyatmoko, M.Si Pdt. Audra Stivani Rumsayor, Th.M Pdt. Andris Suhana, S.Si Pdt. Yusi Sri Wahyuni, S.Si Pdt. Titin Meryati Gultom, Th.M. Pdt. Yakobus Givan Aditia Prasetyo, S.Fil Pdt. Dedanimrod Simatupang, M.Th Pdt. Felix Prasetyo Adi, S.Si (Teol) Pdt. Ricki Albett Sinaga, S.Fil Pdt. Rasima T.E.F. Manalu, S.Si Pdt. Thomas Raharjo Prihartono, S.Th Pdt. Wahju Satrio Wibowo, Ph.D Pdt. Maria Aprina, M.Si. Teol Pdt. Adholfina Tamberongan, S.Si Pdt. Heryanto Pakpahan, S.Si Pdt. Sri Yusuf Wibowo Pujihartanto, S.Si Pdt. Erna Demosti Butar-butar, S.Si., MM Pdt. Yoga Willy Pratama, M.Th Pdt. Elsa Novita Tureay, M.Th Pdt. Em. Agustria Empi, Drs., M.Min Pdt. Alfa Gracia Kaniagara Setra, S.Si (Teol) Pdt. William Alexander Hendarmin, S.Si (Teol) Pdt. Agus Paulus Husein, M.Si Pdt. Anna Savira, S.Th Pdt. Hars Seasar Valentino, S.Si (Teol) Pdt. Suluh Sutia, S.Si Pdt. Budi Triadi Kaidun, S.Th Pdt. Judistian Pratama Hutauruk, M.Th Pdt. Jujun Noormalia Madjiah, S.Th Pdt. Gerry Indra Pratama Atje, S.Si Pdt. Brahmana Duta Dewa, S.Si (Teol) Pdt. Dr. Magyolin Carolina Tuasuun Pdt. Cliff Edward Kasakeyan, S.Si Pdt. Obertina Modesta Johanis, M.Th Pdt. Robert Nixon Kindangen, S.Si Pdt. Sains Pieter Surlia, S.Si., M.I.Kom Pdt. Leonard Bayu Laksono Dalope, M.Si Pdt. Johanes Kristian Arevalo Sitorus, S.Si (Teol) Pdt. Nathalia K. Baiin, S.Si (Teol) Vik. Shella Venya G Mawene, M.Th Vik. Nia Mardyanti Sirait, S.Si (Teol) Vik. Williams Dikjaya Tanamal, S.Fil Tasingkem, M.Th
Daftar Label dari Kategori DPA Minggu GKP 2025 | PREV: DPA Minggu GKP November 2025 | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |