gkp.lagu-gereja.com

Renungan GKP 2022
Minggu, 27 FEBRUARI 2022
Renungan GKP Minggu, 27 FEBRUARI 2022 - DIMENGERTI DAN DILAKUKAN - Keluaran 34:29-35 - MINGGU TRANSFIGURASI
#tag:

MINGGU TRANSFIGURASI
Minggu, 27 FEBRUARI 2022
Pembacaan Alkitab Keluaran 34:29-35
Nas Pembimbing Yosua 1:9
Mazmur 99
Pokok Pikiran Firman Tuhan untuk dilakukan dan diamalkan, bukan
untuk sekadar diketahui
Nyanyian Tema NKB 117
Pokok Doa 1. Rencana penyusunan program kerja di Jemaat dan
klasis-klasis GKP
2. Rencana rapat kerja klasis-klasis GKP
3. Proses pemilihan anggota MS, PPS dan PMS 2022-
2027, dan pelaksanaan Sidang Sinode XXIX GKP tahun
2022
Warna Liturgis Putih

DIMENGERTI DAN DILAKUKAN

PENDAHULUAN
Sebagai seorang yang beriman, kita bersama-sama mengetahui bahwa Firman Tuhan adalah
pedoman hidup yang bukan hanya sekadar dibaca, didengar, dan dimengerti, tetapi juga dilakukan
dalam kehidupan sehari-hari. Namun sayangnya, sering kali kita hanya berhenti pada sikap
memahami Firman Tuhan dan tidak melakukannya dalam kehidupan kita. Banyak orang beriman tahu
dan mengerti tentang apa yang disampaikan dalam Firman Tuhan tetapi lalai dalam
mengeksekusinya dalam kehidupan sehari-hari. Ada banyak faktor yang membuat kita sebagai
seorang yang beriman hanya berhenti pada pemahaman Firman Tuhan saja. Untuk itu dalam minggu
ini kita bersama-sama hendak diingatkan kembali bahwa sebagai seorang yang beriman kita perlu
untuk mengerti dan memahami Firman Tuhan terlebih melakukannya dalam kehidupan kita. Dalam
Minggu Transfigurasi ini kita bersama mencoba memahami apa yang terjadi pada Bangsa Israel
tatkala Tuhan memberikan Firman-Nya kepada Musa dalam dua loh batu serta memahami kemuliaan
Tuhan yang terpancar dalam diri Musa usai memberikan Firman-Nya dalam dua loh batu itu.

PENJELASAN BAHAN
Pembacaan Alkitab kita saat ini merupakan penggalan dari kisah di mana Tuhan memberikan dua loh
batu yang baru yang berisi Firman Tuhan kepada Bangsa Israel melalui Musa di Gunung Sinai. Kisah
ini tidak terlepas dari kisah sebelumnya di pasal 32 di mana Tuhan sudah memberikan dua loh batu
yang berisi Firman Tuhan kepada Bangsa Israel melalui Musa, tetapi Musa hancurkan karena melihat
tindakan Bangsa Israel yang menyimpang dari Firman Tuhan karena menyembah anak lembu emas
(Kel. 32:19). Bangsa Israel tahu dan mengerti tentang segala Firman Tuhan yang telah disampaikan
kepada mereka melalui perantaraan Musa, tetapi mereka tidak melakukannya. Mereka tahu bahwa
mereka tidak boleh menduakan Tuhan, tetapi karena kekhawatiran mereka bahwa Musa tak kunjung
turun dari Gunung Sinai mereka justru membuat ilah anak lembu emas untuk memimpin jalan
mereka. Bangsa Israel itu lupa bahwa sejak keluar dari tanah Mesir hingga saat itu, yang memimpin
mereka dalam perjalanan adalah Tuhan. Kekhawatiran mereka bukan membuat mereka datang
kepada Tuhan tetapi justru membuat mereka lari dari Tuhan dan mencari ilah lain. Maka murkalah

Musa dan menghancurkan dua loh batu yang berisi Firman itu sebagai bentuk kekesalannya karena
Bangsa Israel tidak melakukan Firman Tuhan dalam kehidupan mereka.
Kisah berlanjut dalam pembacaan Alkitab kita saat ini di mana Musa kembali menerima perintah
Tuhan untuk datang kembali kepada-Nya ke Gunung Sinai membawa dua loh batu yang baru yang
akan dituliskan kembali segala Firman oleh Tuhan. Menariknya, usai Tuhan menuliskan segala Firman-
Nya di atas dua loh batu yang baru itu, Musa turun dengan kulit muka yang bercahaya sehingga
Bangsa Israel takut mendekatinya bahkan mata mereka tidak mampu melihat cahaya kemuliaan
Tuhan sehingga Musa harus menyelubungi mukanya. Para penafsir mengutarakan bahwa
bercahayanya muka Musa adalah pancaran dari kemuliaan Tuhan yang tampak berkaitan dengan dua
loh batu yang berisi Firman Tuhan yang dibawa oleh Musa. Tuhan menunjukkan kemuliaan-Nya
melalui Musa yang membawa Firman Tuhan untuk melegitimasi Kemuliaan Tuhan kepada Bangsa
Israel yang tegar tengkuk -” bahwa Firman Tuhan bukan hanya untuk dimengerti saja tetapi juga
untuk dilakukan dalam kehidupan mereka.

Kisah dalam Perjanjian Lama ini menjadi tonggak dalam kehidupan Kekristenan di kemudian hari.
Kisah Transfigurasi ini juga terjadi dalam diri Yesus yang dikisahkan Lukas 9:28-36 di mana Yesus juga
dipermuliakan di atas gunung dan wajah-Nya berkilauan. Pun demikian Firman Tuhan itu menjadi
daging dalam diri Yesus Kristus. Perbedaan mendasar dalam kisah transfigurasi Musa dan Yesus
adalah Pertama, bahwa Musa membawa Firman Tuhan pada dua loh batu tetapi Yesus Kristus
menuliskan dalam loh-loh daging (hati manusia). Kedua, Musa mengenakan selubung pada mukanya
agar mata umat Israel yang tidak mampu melihat cahaya kemuliaan Allah dapat berkomunikasi
dengan Musa tetapi Yesus Kristus tidak sebab ia adalah Roh Allah dan di mana Roh Allah ada, di situ
ada kemerdekaan .

Dengan demikian sebagai pengikut Kristus kita bersama-sama diajak untuk mengingat bahwa Firman
Tuhan itu dekat dengan kita. Dengan mudah kita mengerti tentang Firman Tuhan itu karena setiap
hal telah diteladankan melalui sikap hidup Yesus Kristus. Maka, kita bersama memahami bahwa kita
tidak cukup mengerti Firman Tuhan tetapi juga melakukannya dalam kehidupan. Kita bersama-sama
menyadari bahwa masa-masa sekarang ini ketika kita berjibaku dengan pandemi, kita butuh tindakan
nyata dari keimanan kita. Kita butuh aksi nyata, sehingga Firman Tuhan tidak lalu begitu saja tetapi
kita terapkan dalam kehidupan, sehingga setiap orang yang berjumpa dengan kita dapat melihat
kemuliaan Tuhan lewat Firman-Nya yang kita hidupkan setiap hari.

POKOK PIKIRAN
1. Firman Tuhan telah diberikan bagi setiap kita. Kita mengerti dan memahaminya, tetapi kita
juga diminta untuk mengamalkan Firman Tuhan dalam laku kehidupan kita. Ketika Firman
Tuhan mengajar hal mengasihi sesama, maka lakukanlah dengan cara menunjukkan kasih
kepada sesama. Saat Firman Tuhan mengajar kita untuk hidup dalam kebenaran, maka sudah
sepatutnya kita harus hidup dalam kebenaran Firman Tuhan. Firman Tuhan bukan hanya untuk
didengar dan diketahui, tetapi harus dilakukan.
2. Dalam Firman Tuhan ada pancaran Kemuliaan Tuhan, maka kita semua diminta untuk dapat
memancarkan Kemuliaan Tuhan dalam Firman-Nya lewat tindakan nyata kita.
3. Kita belajar dari Bangsa Israel untuk tidak menjadi umat yang tegar tengkuk, yang hanya
sekadar mengerti tanpa mau untuk melakukan Firman Tuhan. Jadilah umat Tuhan yang mau
terus berkontribusi dalam kehidupan kita saat ini sehingga kita menjadi pengikut Kristus yang
melakukan pengajaran dan teladan-Nya. (WAH)






Daftar Label dari Kategori Renungan GKP 2022





NEXT:
Renungan GKP Rabu, 2 MARET 2022 - Yesaya 58:1-12 - RABU ABU



PREV:
Renungan GKP Minggu, 20 FEBRUARI 2022 - PENGHARAPAN PALSU? - Yeremia 17:5-10 - MINGGU VI SESUDAH EPIFANIA

Arsip Renungan GKP 2022..

Register   Login