gkp.lagu-gereja.com

Renungan GKP 2022
Minggu, 20 FEBRUARI 2022
Renungan GKP Minggu, 20 FEBRUARI 2022 - PENGHARAPAN PALSU? - Yeremia 17:5-10 - MINGGU VI SESUDAH EPIFANIA
#tag:

MINGGU VI SESUDAH EPIFANIA
Minggu, 20 FEBRUARI 2022
Pembacaan Alkitab Yeremia 17:5-10
Nas Pembimbing Yeremia 17:7
Mazmur 1
Pokok Pikiran Mengandalkan Tuhan dalam segala sesuatu
Nyanyian Tema KJ 364:1-3
Pokok Doa 1. Pemerintah RI dan kebijakannya
2. Perjuangan keadilan sosial di masyarakat (Hari
Keadilan Sosial Dunia -” 20 Februari)
3. Panitia pemilihan MS, PPS dan PMS 2022-2027
Warna Liturgis Hijau

PENGHARAPAN PALSU?

PENDAHULUAN
Pandemi Covid-19 berlangsung cukup lama, sudah berjalan enam belas bulan ketika tulisan ini disusun. Ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia, ada banyak orang yang berpikir bahwa kita tidak dapat menghadapi pandemi, ekonomi akan runtuh karena sektor ekonomi yang sangat terdampak. Banyak perusahaan, kantor dan pabrik harus tutup, dan tidak sedikit yang melakukan pemutusan hubungan kerja dengan karyawannya karena tidak memiliki uang untuk membayar gaji ke karyawan. Mal, pasar dan toko-toko banyak yang tutup akibat PPKM.

Gereja merasakan imbasnya ketika kegiatan peribadahan dilakukan dari rumah masing-masing. Hal ini berdampak pada penurunan jumlah penerimaan persembahan warga jemaat. Tidak bisa dipungkiri banyak gereja khawatir apakah uang gereja cukup untuk membiayai seluruh program pelayanan gereja yang tetap harus berjalan, atau tidak. Meskipun sudah melakukan berbagai penyesuaian program dan pemangkasan anggaran, serta upaya penghimpunan persembahan dari anggota jemaat, namun tetap saja kekhawatiran tetap ada. Amat disayangkan kita lupa gereja adalah milik Tuhan. Di tengah-tengah situasi pandemi, kita diajak untuk berefleksi, apakah sudah benar-benar berserah dan mengandalkan Tuhan atau belum?

PENJELASAN BAHAN
Kitab Yeremia dipahami berasal dari Nabi Yeremia yang dipanggil Tuhan untuk menjadi nabi sejak ia masih sangat muda (Yer. 1:6-7). Berdasarkan data yang ada di Alkitab (2 Taw 29:1; 36:2, 5, 9, 11), masa pelayanan Yeremia mencapai lebih dari 40 tahun, selama kurun waktu 5 pemerintahan raja Yehuda, masing-masing Yosia, Yoahas, Yoyakim, Yoyakhin dan Zedekia. Ia menyampaikan banyak teguran dan peringatan kepada bangsanya, agar mereka mau bertobat dan kembali kepada Tuhan. Namun sangat disayangkan bangsanya tidak mau mendengarkan seruan yang berasal dari Tuhan, sehingga Tuhan menghukum bangsanya dengan menyerahkan mereka ke tangan Nebukadnezar.

Secara teologis dan idiom, ayat 5-8 masih berhubungan dengan Mazmur 1. Pada ayat 5 dituliskan,
“Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia”. Kata kutuk di sini mengandung sebuah seruan
yang harus diperhatikan oleh pembacanya dan menunjukkan kebalikan dari berkat yang berasal dari
Tuhan. Kata “mengandalkan” merujuk pada perasaan aman, jadi kalimat ini mau mengatakan bahwa
orang yang merasa aman dengan kekuatannya sendiri akan mengalami kutukan atau keadaan di
mana mereka tidak diberkati Tuhan. Dalam kaitan dengan umat Tuhan, kalimat ini menunjukkan
seruan yang bertujuan untuk menegur umatnya ketika mereka justru meletakkan kepercayaannya
pada sekutu politik mereka bukan pada janji Tuhan.

Namun yang terutama, teguran ini ditujukan kepada orang Israel yang selalu menyembah Tuhan di
Yerusalem namun secara bersamaan menyembah dewa-dewa Kanaan. Hal ini bukan hanya sekadar
kelalaian yang dilakukan oleh umat Tuhan melainkan sebuah penolakan dan pemberontakan kepada
Tuhan. Orang Israel terikat pada perjanjian dengan Tuhan, di mana Tuhan menjadi satu-satunya Allah
dalam hidup mereka dan mereka adalah umat kepunyaan-Nya dan oleh karena itu maka sudah
seharusnya mereka hanya beribadah kepada Tuhan, Allah Abraham, Allah Ishak dan Yakub. Meski
pun kenyataannya tidak demikian.

Di ayat 6, Yeremia menyampaikan akibat yang akan terjadi kepada mereka yang meninggalkan
Tuhan. Yeremia memberikan gambaran bahwa mereka akan menjadi seperti semak belukar di
padang gurun yang gersang, semak yang tidak berdaun, gundul sama sekali karena tidak ada air.
Sebuah kondisi kekeringan yang luar biasa sehingga semak belukar pun tidak dapat tumbuh, padahal
semak belukar merupakan salah satu tumbuhan yang bisa hidup di tempat yang panas. Jadi
ungkapan ini mau menegaskan bahwa mereka yang meninggalkan Tuhan hidupnya akan kering dan
mati karena tidak memperoleh kehidupan yang berasal dari Tuhan, padahal Tuhan merupakan
sumber kehidupan manusia.

Sebaliknya, mereka yang hidup dalam percaya pada Tuhan akan hidup dalam kebaikan dari Tuhan.
Hidupnya akan mengalami berkat terus menerus seperti pohon yang tumbuh di tepi sungai, karena
akarnya menerima air di sepanjang tahun sehingga ia tumbuh dengan subur. Meskipun suatu saat
kekeringan melanda namun pohon itu akan tetap hidup bahkan berbuah.

Ayat 9-10, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu .... Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin ....”, Yeremia mengingatkan bahwa hati manusia bisa sangat buruk sehingga dapat menipu diri kita sendiri dan terkadang mendorong kita pada sebuah delusi. Kita bahkan tidak dapat mengetahui apa isi hati kita sendiri dan apa yang akan dilakukannya ketika diperhadapkan pada sebuah godaan. Jika kita tidak dapat mengetahui hati kita sendiri maka sudah seharusnya tidak menggantungkan pengharapan kehidupan pada diri kita sendiri dan orang lain. Hati kita mungkin dapat menyembunyikan hal yang buruk dari diri kita sendiri atau orang lain, namun Tuhan akan tetap mengetahuinya. Kita dapat menipu orang lain namun kita tidak dapat menipu Tuhan. Sebab Dia menilai seseorang bukan berdasar pada penampilan luarnya, Dia melihat dan mengetahui isi hati kita, Dia dapat menyelidiki hati sedemikian rupa. Oleh karea itu kita harus terus berupaya menjaga hati kita sendiri dalam kemurnian kepada Tuhan.

POKOK PIKIRAN
1. Kesuksesan dalam bekerja, naik jabatan, usaha yang berhasil, namun ternyata kegagalan, sakit penyakit dan musibah juga dapat membuat hati kita beralih pada Tuhan. Ada banyak peristiwa dalam kehidupan yang dapat membuat kita melupakan Tuhan dan menggantungkan pengharapan hidup pada kekuatan diri kita sendiri atau orang lain, harus disadari bahwa semua itu adalah pengharapan yang palsu karena tidak dapat memberikan kehidupan.
2. Kita harus memahami bahwa seharusnya sebagai umat kepunyaan Allah, kita harus mengandalkan Tuhan untuk menjadi sumber pengharapan dalam kehidupan ini, bukan pada harta benda atau kekuatan diri sendiri, karena pada hakikatnya semua itu fana dan pengharapan yang palsu itu dapat mendorong kita melakukan segala sesuatu yang tidak berkenan kepada Tuhan.
3. Mengandalkan Tuhan bukan berarti kita tidak perlu melakukan apa pun, Tuhan ingin kita tetap berusaha semaksimal mungkin dalam menjalani hidup yang penuh tantangan ini, dan bersamaan dengan itu tetap mengarahkan pengharapan iman dan taat hanya pada Tuhan sumber kehidupan.

(CEK)







Daftar Label dari Kategori Renungan GKP 2022





NEXT:
Renungan GKP Minggu, 27 FEBRUARI 2022 - DIMENGERTI DAN DILAKUKAN - Keluaran 34:29-35 - MINGGU TRANSFIGURASI



PREV:
Renungan GKP Minggu, 30 JANUARI 2022 - DENGARKANLAH DIA! - Nehemia 8:1-13 MINGGU III SESUDAH EPIFANIA

Arsip Renungan GKP 2022..

Register   Login