gkp.lagu-gereja.com

Renungan GKP 2022
Minggu, 14 AGUSTUS 2022
Renungan GKP Minggu, 14 AGUSTUS 2022 - Yesaya 5:1-7 - MINGGU X SESUDAH PENTAKOSTA
#tag:

MINGGU X SESUDAH PENTAKOSTA
14 AGUSTUS 2022
Pembacaan Alkitab Yesaya 5:1-7
Nas Pembimbing Yakobus 4:7
Mazmur 82
Pokok Pikiran Buah apa yang engkau hasilkan?
Nyanyian Tema KJ 436

Pokok Doa
1. Para remaja di Jemaat (Hari Remaja Internasional 12 Agustus)
2. Pengurus bakal jemaat di GKP Warna Liturgis Hijau

Never Give Up!

PENDAHULUAN
“Never give up”, jangan pernah menyerah, adalah ungkapan yang selalu aktual sepanjang
hidup manusia. Mengapa? Karena hidup manusia sejak dilahirkan sampai saat mau
menghembuskan nafas terakhirnya, senantiasa berada dalam pergumulan memenangkan
perjuangan melawan apa yang tidak disukainya atau mencapai apa yang diinginkannya.
Dalam perjuangan begitu, manusia dihadapkan kepada berbagai kemungkinan yang dapat
melelahkan, membosankan, menyedihkan dan putus asa. Godaan datang, tetapi dalam
situasi demikian nasihat “Never give up” berlaku.
Gereja Kristen Pasundan, sebagai persekutuan orang beriman, sejak berdirinya sampai saat
ini pun dalam pergumulan perjuangannya, sama posisinya. Tema demi tema Sidang Sinode,
khususnya Sidang Sinode XXVIII berbunyi : “Dengan Karsa Dan Pembaruan Allah GKP
Mengukir Karya Dalam Pelayanan”. Dengan Tema Tahunan GKP yang berbunyi, ”
Menghadirkan Pemulihan, Membangun Kehidupan Sejahtera Bersama”, jelas tampak
adanya usaha dan perjuangan untuk menghadirkan kualitas dan kondisi kehidupan yang
lebih baik. Harapan untuk memenangkannya, sebagai umat Tuhan, hanya dengan bersandar
kepada Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus sebagai sumber kekuatan. Di dalam Dia kita
“Never give up”. Kendatipun begitu, dalam sikap “Never give up”, karena ada kekuatan
Allah yang menyertai dan melindungi kita, kita/gereja perlu senantiasa waspada. Dalam hal
apa? Karena di samping ada Tuhan yang menyertai, ada juga kuasa lain yang selalu berusaha
menggoda untuk menghalangi bahkan menggagalkan usaha gereja. Kitab Yesaya 5:1-7
memberi pelajaran penting sekitar hal ini buat kita.
PENJELASAN BAHAN
Yesaya 5, merupakan bagian dari Proto Yesaya atau Yesaya Bagian Pertama, yang meliputi
pasal 1 s/d 39. Isinya merupakan berita/nubuatan nabi Yesaya yang disampaikan nabi pada
masa Israel, Yehuda sekitar tahun 740 -” 700 SM. Israel Utara dalam kurun waktu tersebut
diperintah oleh Zakharia, Salum,Menahem, Pekahya, Pekah dan Hosea(raja ke 15-20). Suatu
kurun waktu, di mana Israel Utara yang rajanya Pekah, ditaklukkan rajanya Tiglat-Pileser dari
Asyur sekitar tahun 733 SM dan kemudian ketika raja Isarelnya Hosea, sepenuhnya dikuasai
Asyur di bawah raja Salmaneser dan seluruh penduduknya diboyong ke pembuangan di


Asyur tahun 722 SM dan hilang dari peredaran sejarah sebagai bagian dari bangsa Irael( 2
Raja 15:27-17:41)
Bagi Yehuda, kurun waktu tersebut diperintah oleh raja: Azarya(=Uzia), Yotam, Ahas dan
Hizkia( Raja ke 10-13). Yesaya 5 merupakan berita nabi kepada kerajaan ini jauh sebelum
peristiwa pembuangan ke Babel. Kerajaan Yehuda dihancurkan Nebukadnezar dari Babel
dan orangnya dibuang sebagai tawanan ke Negeri Babel tahun 586 SM. Ratusan tahun
sesudah berita Yesaya 5 ini disampaikan. Mereka dapat kembali bebas tahun 538 SM
sebagai pemulangan tahap pertama atas perintah Koresh, raja Persia.
Ketika nabi Yesaya bekerja, situasi Israel dan juga Yehuda berada dalam ketegangan
menghadapi pengaruh kerajaan Asyur yang begitu sangat berambisi mengembangkan
kekuasaannya termasuk ke daerah Israel dan Yehuda. Raja-raja Asyur yang memerintah
antara tahun 745-681 SM adalah : Tiglat-Pileser III (745-727 SM), Salmaneser V (727-722 SM),
Sargon II (722-705) dan Sanherib (705-681)(Lihat Tafsiran Alkitab Masa Kini 2, BPK Gunung
Mulia, Medio 1980, hal. 35).
Yesaya 5:1-7 jelas merupakan berita nubuatan berlaku untuk Israel secara keseluruhan, yaitu
Israel Utara dan Yehuda(perhatikan ayat 7 dan 9:7,8). Dalam hal ini Yehuda merupakan
kerajaan yang dalam sorotan khusus Tuhan. Mengapa begitu? Dari sorotan historis, kita
ketahui bahwa sejak Israel terpecah dua jadi Israel Utara ( 10 suku) dan Yehuda (2 suku:
Yehuda dan Benyamin).
Israel Utara dengan raja pertamanya Yerobeam sudah menunjukkan sikapnya yang
meninggalkan Tuhan (1 Raja 12:25-33). Ada empat penyelewengan yang dibuat Yerobeam:
1. Menghidupkan penyembahan kepada patung anak lembu dari emas dengan
menyatakan: “…Hai Israel, lihatlah sekarang allah-allahmu, yang telah menuntun
engkau keluar dari tanah Mesir."(ayat28). Patung yang satu ditempatkan di Betel
dan yang satunya di Dan (ayat 29,30).
2. Mendirikan kuil-kuil di bukit-bukit pengorbanan(ayat 31 a)
3. Mengangkat imam-iman bukan dari suku Lewi (ayat 31b)
4. Menentukan hari raya sendiri mengganti hari Raya pondok Daun( ayat 32,33)
Sikap Yerobeam begitu, jelas karena sangat terikat kepada ambisi kekuasaan dan merasa
terancam oleh Yehuda yang memiliki kota Yerusalem dan Bait Allah beserta Tabut
Perjanjiannya. Hal demikian jelas terungkap dari kata-kata Yerobeam dalam 1 Raja 12:26,27
"Kini mungkin kerajaan itu kembali kepada keluarga Daud. 27 Jika bangsa itu pergi
mempersembahkan korban sembelihan di rumah TUHAN di Yerusalem, maka tentulah hati
bangsa ini akan berbalik kepada tuan mereka, yaitu Rehabeam, raja Yehuda, kemudian
mereka akan membunuh aku dan akan kembali kepada Rehabeam, raja Yehuda."
Selanjutnya, raja-raja yang memerintah Israel Utara bukan dari garis keturunan Daud,
sehingga tidak merupakan garis keturunan yang kepadanya Tuhan mengikat perjanjian.
Berbeda dengan Israel Utara, Yehuda menjadi sorotan khusus, karena merupakan negara
yang dipimpin oleh raja-raja dalam garis keturunan langsung dari Daud. Kepada garis
keturunan inilah janji Tuhan disampaikan. Di Yehuda ada Yerusalem, Bait Allah dengan
Tabut perjanjian di dalamnya. Tetapi mengapa berita nabi juga bernada negatif bagi
Yehuda? Sebab di Yehuda juga terdapat raja-raja yang terpengaruh oleh penyembahan
kepada berhala. Dimulai oleh raja Salomo yang istri-istrinya membawa berhala mereka, lalu


raja ke 5 Yehuda, yaitu Yoram yang menikah dengan Atalia putri raja Israel Utara Ahab dan
istrinya Izebel (2 Raja 8:16-24). Seterusnya Ahazia raja ke 6, Ahas raja ke 12 menjadi raja
terjahat di Yehuda, sebagai penyembah berhala patung anak lembu, kuasa-kuasa di langit,
Baal, Molokh, berhala Damsyik dan menutup Bait Suci, bahkan rela memberikan anakanaknya sendiri sebagai korban kepada Molokh(2 Raja 16:1-4; 2 Tawarikh 28:1-4)
Ada hal istimewa tentang kedua kerajaan ini. Keduanya tercatat sejarahnya dalam Kitab


Raja-raja, yang diduga penulisnya adalah para nabi. Tetapi dalam Kitab Tawarikh, yang
diduga berasal dari para imam, raja-raja Israel Utara tidak ada. Hanya sejarah kerajaan
Yehuda yang ada. Hal itu disebabkan karena para imam hanya ada di Yehuda, di mana
Yerusalem dan Bait Allah serta Tabut Perjanjian berada (Bandingkan I. Snoek, Sejarah Suci,
BPK Gunung Mulia, 1986, hal 183) Dalam Kitab Tawarikh sangat ditonjolkan silsilah nenek
moyang Daud, peran raja Daud dan Salomo berkaitan dengan pembangunan Bait Allah.
Juga soal tabut Tuhan dan tugas para Iman dari suku Lewi. Dikisahkan juga riwayat raja-raja
Yehuda sampai puncaknya terjadi pada enam raja terakhir, yaitu Manasye, Amon, Yoahas,
Yoyakim, Yoyakhin dan Zedekia yang kelakuannya dipandang jahat di hadapan Tuhan
karena menyembah berhala, dan menajiskan Bait Allah. Akhirnya murka Tuhan dinyatakan.
Raja Nebukadnezar datang menghancurkan Yerusalem dan Bait Allah, serta dibawanya
umat Yehuda sebagai tawanan ke negeri pembuangan Babel (2 Tawarikh 36:16-21). Kitab
Tawarikh diakhiri dengan kembalinya umat Yehuda dari pembuangan di bawah kuasa
Koresh raja Persia (2 Tawarikh 36:22-23)
Yesaya 5:1-7 Bagian ini mengingatkan kita kepada pengajaran Tuhan Yesus dalam Matius
21:33-46. Ada 3 tekanan yang dinyatakan dalam Yesaya 5:1-7, yaitu:
Pertama, ayat 1-3 berupa metafora tentang seorang kekasih yang memiliki kebun anggur di
lereng bukit yang subur. Lukisan tentang Tuhan yang telah membangun Israel menjadi
suatu bangsa dan menempatkan mereka di tanah Kanaan, tanah perjanjian sebagai
miliknya, Dia mengolahnya dengan sangat baik: membuang batu-batu, Suatu lukisan
tentang Tuhan yang telah memelihara dan melindunginya dari serangan musuh-musuhnya,
Menanaminya dengan pokok anggur pilihan, lukisan tentang Israel sebagai umat pilihan
Tuhan yang dengannya Tuhan mengikat perjanjian, memberi hukum Tuhan. Mendirikan
menara penjaga, melukiskan tentang Bait Allah dengan Tabut Perjanjian, para imam, nabi
dan pimpinan agama dan bangsa. Lubang tempat memeras anggur, melukiskan mezbah di
mana umat Tuhan dapat mempersembahkan korban syukur mereka kepada Tuhan. Suatu
lukisan tentang kehidupan bangsa yang hidup dalam kasih dan kekudusan di hadapan
Tuhan (Bandingkan: Alkitab, Edisi Studi. LAI. Jakarta 2010; Wikipedia, Wikipedia,
https://bibleandbookministry.com/id/book/isaiah-1-39).
Kedua, ayat 2 akhir-ayat 4, menggambarkan kekecewaan Tuhan terhadap umat Yehuda,
yang digambarkan sebagai yang hadir tidak menjadi anggur yang baik tetapi justru menjadi
anggur asam. Kesabaran Tuhan sudah ditunjukkan dengan penantian-Nya dan segala cara
sudah dilakukan untuk memelihara dan melindungi milik-Nya, tetapi bangsa itu bandel. Ini
terungkap dengan kata-kata: “Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku
itu”(4) Suatu gambaran kehidupan yang penuh dosa dan kejahatan, tidak hidup sesuai
dengan harapan Tuhan dan sudah sukar diperbaiki.(Lihat Yesaya 9:7-10:34, Kitab Amos 2-6
dan Mika 1-3).
Ketiga, ayat 5-7 Keputusan sudah bulat, Israel akan mengalami hukuman Tuhan. Pagar duri
akan ditebang, temboknya akan dilanda sehingga kebun anggurnya akan dimakan habis dan


diinjak-injak. Tanahnya akan ditumbuhi semak, rumput, putri malu dan tidak akan turun
hujan. Suatu gambaran kehancuran Yerusalem yang pasti akan terjadi. Ayat 7, menyatakan
alasan mengapa semua itu dilakukan Tuhan: Karena Israel dan Yehuda sebagai tanaman
kegemaran Tuhan bukannya menunjukkan perilaku yang adil malah kelaliman, bukan
melahirkan kebenaran malah keonaran.
POKOK PIKIRAN
1. Sebagai gereja Tuhan di dunia, umat Tuhan diberi kepercayaan penuh untuk
berkarya. Karya yang bukan hanya membuat dirinya bahagia di dunia, tetapi juga
membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. Dalam menjalankan peran secara
konsekuen dan penuh tanggung jawab demikian, jaminan sukacita duniawi dan
rohani akan diperoleh. Tetapi karena pengaruh hawa nafsu daging (Galatia 5:19-21)
dan kuatnya usaha iblis ( 1 Petrus 5:8) umat Tuhan rentan jatuh jika hanya bersandar
kepada kekuatan dan kemampuan dirinya sendiri. Hanya kalau memandang Tuhan
dan mendengar suara Tuhan dengan setia dalam menjalankan usahanya, harapan
untuk mengalahkan godaan dapat diperoleh(Yakobus 4:7; 1 Petrus 5:9)). Karena itu
“never give up” karena dengan berpegang kepada Tuhan dengan setia merupakan
kekuatan dan harapan umat beriman dalam mencapai tujuan hidupnya.
2. Dalam menghadapi berbagai macam perkembangan dunia saat ini, disertai dengan
berbagai tantangan di masyarakat, seperti paham radikalisme dan intoleransi,
tantangan penyakit berupa pandemi Covid-19 yang masih belum tuntas, banyak
perubahan gaya hidup yang mengejutkan terjadi. Gaya orang beribadah, sikap umat
terhadap agama, pandangan kehidupan berbangsa dan bernegara dan sebagainya.
Kita juga dihadapkan kepada pemikiran kemungkinan munculnya gaya bergereja
metaverse, yang mulai banyak dibicarakan kamu muda karena kecanggihan
teknologinya. Suatu kehidupan dan tantangan besar bagi gereja karena bisa
membawa kepada kehidupan makin menyendiri, dan merasa punya banyak relasi
tetapi bukan dalam ruang konkret melainkan di dunia virtual. Umat Tuhan
dihadapkan kepada tarikan dilematik, ikut salah tidak ikut salah. Suatu dorongan
antara penyembahan kepada Allah yang harus dinyatakan dalam relasi dengan
sesama dengan penyembahan berhala yang memuaskan diri sendiri. Satu hal yang
pasti tidak boleh dilupakan bahwa akhirnya seluruh sikap hidup kita harus
dipertanggungjawabkan kepada Sang Pencipta, pemilik hidup makhluk hidup,
khususnya manusia Karena itu never give up tetap menjalin hubungan intim dengan
Tuhan, akan memberikan harapan diperolehnya jalan keluar yang terbaik dan
menyelamatkan.
(HAD)








Daftar Label dari Kategori Renungan GKP 2022





NEXT:
Renungan GKP Minggu, 17 AGUSTUS 2022 - Mazmur 80:1-4 - HUT KEMERDEKAAN KE77 REPUBLIK INDONESIA



PREV:
Renungan GKP Minggu, 7 AGUSTUS 2022 - Kejadian 15:1-6 - MINGGU IX SESUDAH PENTAKOSTA

Arsip Renungan GKP 2022..

Register   Login