gkp.lagu-gereja.com

Renungan GKP 2022
Minggu, 19 JUNI 2022
Renungan GKP Minggu, 19 JUNI 2022 - Boleh Menyerah! - 1 Raja-raja 19:1-8 - MINGGU II SESUDAH PENTAKOSTA
#tag:

MINGGU II SESUDAH PENTAKOSTA
Minggu, 19 JUNI 2022
Pembacaan Alkitab : 1 Raja-raja 19:1-8
Nas Pembimbing : 1 Raja-raja 19:8
Mazmur 22:20-27
Pokok Pikiran Tidak lelah melangkah karena berpegang pada janji Tuhan
Nyanyian Tema PKJ 154

Pokok Doa
1. Anggota jemaat yang bermatapencaharian di bidang pertanian, peternakan dan perikanan (Hari Krida
Pertanian 21 Juni)
2. Kaum bapak di Jemaat
Warna Liturgis Hijau

1 Raja-raja 19:1-8
19:1 Sakabeh lampah Elias jeung hal anjeunna ngabinasa nabi-nabi Baal, ku Ahab dicarioskeun ka Isebel, geureuhana.
19:2 Seug Isebel ngirim ancaman ka Elias, saurna, "Mugia kami dihukum ku para dewa, malah sing dipaehan, lamun isukan wayah kieu henteu ngabales ka maneh sakumaha kalakuan maneh ka nabi-nabi Baal!"
19:3 Elias sieuneun, tuluy kabur ka Bersyeba wewengkon Yuda, duaan jeung pangiring. Sumping ka dinya pangiringna dikantun,
19:4 ari anjeunna kebat angkatna sapoe jeput ngajugjug ka tanah gurun. Sumping-sumping brek calik ngiuhan handapeun tangkal harendong, ngarasula mundut ajal, piunjukna, "Parantos teu kiat, nun PANGERAN, mangga candak nyawa abdi, mending oge ajal."
19:5 Geus kitu tuluy nyangkere handapeun tangkal harendong, reup kulem. Sabot kitu aya malaikat noel ka anjeunna, ngalahir kieu, "Geura hudang, geura dahar!"
19:6 Elias gugah, ret ka mastakaeun bet aya roti sasiki jeung cai sakendi. Roti dituang, cai dileueut, geus kitu ebog deui.
19:7 Malaikat PANGERAN sumping deui ngagugahkeun, "Geura hudang, geura dahar, jauh keneh lalakon!"
19:8 Elias gugah, roti dituang, cai dileueut. Ku kasiat eta katuangan, anjeunna nepi ka kuat lumaku opat puluh poe opat puluh peuting, nepi ka Gunung Sinai, gunung anu suci tea.

Elia ke gunung Horeb 19:1 Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang, 19:2 maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: "Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu." 19:3 Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. 19:4 Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." 19:5 Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: "Bangunlah, makanlah!" 19:6 Ketika ia melihat sekitarnya, maka pada sebelah kepalanya ada roti bakar, dan sebuah kendi berisi air. Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula. 19:7 Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: "Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu." 19:8 Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.

Boleh Menyerah!

PENDAHULUAN
Menyerah. Satu kata ini sering kita dengar atau kita ucapkan saat kita ada dalam keadaan lelah, dikepung persoalan, dan merasa tidak berdaya menyelesaikannya, tak berdaya melanjutkan perjalanan Meskipun ada juga tipe yang pantang menyerah dan dengan lantang berseru, “kata ‘menyerah’ sudah dihapus dari kamus hidup.” Apa arti kata ‘menyerah’? Menyerah dapat berarti berserah, pasrah, memberi diri kepada yang berwenang, menurut saja (kehendak orang, mengaku kalah, tunduk (tidak akan melawan lagi) (lihat KBBI 2001, 1044) Jika melihat arti ini maka hampir dapat dipastikan siapa pun kita, anak-anak sampai kaum lansia, apa pun status dan gender kita pernah ada di posisi menyerah atau setidaknya ingin menyerah. Dan berikut kisah seorang yang luar biasa dalam pelayanannya pun sempat menyerah.

PENJELASAN BAHAN
Elia menyerah! Hal yang mengejutkan bukan? Bagaimana mungkin nabi sekaliber Elia menyerah? Elia banyak melakukan pekerjaan Allah untuk menolong keluarga seorang janda dari kesusahan (17:7-24); mengalahkan para nabi Baal agar Raja Ahab dan umat Israel bertobat, ratusan nabi Baal dikalahkannya (17:20-46). Allah sungguh menyertai Elia dalam peran dan karyanya. Nama “Elia” sendiri berarti “Tuhan adalah Allahku” (lihat Alkitab Studi 2011, 562). Namun dalam teks Pembacaan Alkitab saat ini, pasal 19:1-8 kita melihat sang nabi, Elia, sampai pada titik putus asa. Setelah melakukan banyak hal atas nama Tuhan Allah, setelah berupaya melakukan kebaikan, mendorong agar raja dan umat mau bertobat dengan mengalahkan ratusan nabi Baal, Elia mengalami burn out atau kelelahan yang luar biasa, secara fisik dan emosi, karena pekerjaan berat (lih. Wehmeier 2000, 147). Ditambah perasaan sia-sia karena tidak ada perubahan dari umat dan raja yng dilayaninya. Alih-alih berubah, Raja Ahab malah mengadukan Elia kepada Izebel, istrinya.

Tindakan Izebel, yang mengancam Elia, “Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti salah seorang dari mereka itu.” (ayat 2). Hal itu membuat kelelahan luar biasa itu ditambah dengan ketakutan. Ia berlari sampai meninggalkan bujangnya. Ia sampai di Bersyeba dan masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya. Setelah dirasa sudah jauh, Elia duduk di
bawah pohon ara. Pohon ara adalah sejenis tumbuhan yang dapat bertumbuh sampai 3 meter dan dapat memberi sedikit keteduhan (lihat Alkitab Studi 2000, 565).

Saat duduk itulah, di tengah kelelahannya, Elia meratap. Ia menyerah sampai ingin mati, seperti yang diungkapkannya, “Cukuplah itu! Sekarang, ya Tuhan, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari nenek moyangku.” (ayat 4). Dalam lelah, sedih, kecewa, dan takutnya, Elia berbaring dan tertidur (lihat ayat 5) Saat itulah Allah melalui malaikat-Nya membangunkan Elia dan memintanya untuk memulihkan fisiknya dengan makan dan minum. Usai makan dan minum, Elia kembali tidur. Allah kembali membangunkan dan meminta Elia untuk segera pulihkan diri dengan makan karena masih ada perjalanan yang harus Elia tempuh. Maka Elia pun bangun, makan dan minum, kemudian dengan kekuatan dari Allah melalui makanan dan minuman itu Elia berjalan selama empat puluh hari menuju ke Gunung Horeb.

POKOK PIKIRAN

1. Boleh menyerah. Pokok pikiran ini mungkin membuat kita mengernyitkan dahi. “Bagaimana mungkin kita menyerah? seperti tidak punya iman saja!” Ungkapan atau kalimat ini jika diucapkan kepada seseorang yang memang sedang mengalami burn out dalam menjalankan tanggung jawab (dalam keluarga, persekutuan, pendidikan, pekerjaan dan dalam komunitas lainnya) akan menambah bebannya karena ada penghakiman dalam kalimat itu bahwa yang bersangkutan tidak punya iman. Padahal dari kisah Elia kita melihat bahwa sebagai manusia, dalam segala keterbatasan kita bisa dan boleh lelah, boleh menyerah. Tantangan yang dihadapi begitu berat, persoalan yang silih berganti, masalah masa lalu yang belum selesaidan masalah masa kini yang dihadapi, serta kekhawatiran akan masa depan dapat membuat seseorang menyerah. Lalu apakah berhenti di sini? Tidak!

2. Boleh menyerah tetapi meratap, mengaduhnya hanya kepada Allah. Ini pokok pikiran kedua bahwa kita menyerah tetapi tidak pergi dari Allah. Elia menyampaikan keluhan, kesedihan, ketakutannya kepada Allah saja. Kita melihat bahwa Allah memberi waktu kepada Elia untuk meratap, untuk beristirahat dan kemudian Allah pulihkan fisik dan semangatnya. Kadang tidak cukup sekali, Allah dengan sabar tetap mendampingi orang yang sedang patah semangat patah hati, menyerah sampai kemudian beranjak dari situasi yang tidak menyenangkan itu untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan menjalankan tanggung jawab di mana pun Alah hadirkan kita.

3. Boleh menyerah tetapi tetap dekat kepada Allah. Dengan demikian kata “menyerah itu dapat diartikan memberi diri kepada yang berwenang Dalam hal ini, yang berwenang atas kehidupan kita hanyalah Allah. Allah yang terbuka terhadap ragam keadaan yang kita alami dan kita rasakan. Alllah yang bersabar memulihkan kita Allah juga yang memberikan daya tahan, daya lenting (resilient) sehingga dalam keadaan paling sulit, pun sampai kita rebah karena angin persoalan yang besar, Allah sendiri yang akan menegakkan kita kembali. Allah yang memberi kekuatan kepada umat-Nya untuk bangkit dan melanjutkan perjalanan. (MCT)








Daftar Label dari Kategori Renungan GKP 2022





NEXT:
* Renungan GKP Minggu, 24 JULI 2022 - Demi Kasih, Kebenaran Dan Keadilan - Kejadian 18:16-33 - MINGGU VII SESUDAH PENTAKOSTA



PREV:
Renungan GKP Minggu, 20 Maret 2022 - 1 Korintus 10:1-13 - MINGGU PRAPASKAH III

Arsip Renungan GKP 2022..

Register   Login