gkp.lagu-gereja.com

Renungan GKP 2022
Minggu, 6 Maret 2022
Renungan GKP Minggu, 6 Maret 2022 - Roma 10:4-15 - MINGGU PRAPASKAH I
#tag:

MINGGU PRAPASKAH I
Minggu, 6 Maret 2022
Pembacaan Alkitab: Roma 10:4-15
Nas Pembimbing Roma 10:10
Mazmur 91:9-16
Pokok Pikiran Hidup benar, lakukan kebenaran!
Nyanyian Tema KJ 450
Pokok Doa 1. Panitia Pemilihan Majelis Sinode, Penasihat Majelis Sinode dan Pengawas
Perbendaharaan Sinode tahun 2022-2027
2. Panitia Pelaksana Sidang Sinode XXIX GKP tahun 2022
3. Pelaksanaan Sidang Sinode XXIX GKP Warna Liturgis Ungu

Mewujudkan Kebenaran Bersama dengan Warga Lintas Iman

PENDAHULUAN
Orang Kristen di Indonesia, secara spesifik: warga GKP, hidup berdampingan dengan rakyat Indonesia yang majemuk, termasuk dalam hal kemajemukan iman. Itulah konteks kehidupan beriman warga GKP, tidak dapat dihindari. Warga GKP juga berhadapan dengan beragam klaim kebenaran iman dari Saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Konteks kehidupan seperti itu nyatanya telah melahirkan banyak sekali pola relasi.

• Ada yang melahirkan relasi buruk, dalam bentuk saling cela.

• Ada pula yang menciptakan forum “obrolan” sebagai wadah saling berlomba-lomba menunjukkan kebenaran teoritisnya. Dalam hal ini orang begitu bangga atas klaim kebenaran menurut ajaran agamanya, yang sayangnya tidak diikuti dengan tindakan kebenaran itu sendiri. Tahu tentang kebenaran tetapi tidak menjalani hidup sesuai kebenaran itu.

• Namun ada banyak pula yang melahirkan relasi sangat membangun, di antaranya adalah dialog dan kerja sama lintas iman. Relasi semacam itu membuat setiap orang yang terlibat di dalamnya berusaha untuk berbagi kebenaran iman, menemukan titik temu, dan bertindak berdasarkan kebenaran universal tanpa kehilangan iman dirinya.

PENJELASAN BAHAN

Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat Kristen di Roma ” diyakini” sebelum ia ke Roma. Ia menulis surat ini sebagai pengantar atau kata-kata pendahuluan sekaligus sebagai bentuk perkenalan dirinya kepada jemaat di Roma, karena memang ia sendiri berencana untuk datang ke Roma. Pada masa setelahnya, ia memang betul-betul datang ke Roma. Tetapi sayangnya, itu terjadi dalam rangka hukuman mati atas dirinya. Walaupun ia belum pernah ke Roma, ia telah mendengar banyak informasi tentang jemaat Kristen di Roma dari

beberapa orang teman pelayanannya. Itulah yang mendasari dirinya menyampaikan banyak hal di dalam surat ini. Bahkan surat ini lebih terkesan sebagai traktat teologi yang menyampaikan ajaran dogmatik tentang iman Kristen. Salah satu poin penting tulisannya adalah sebagaimana tertulis pada perikop ini, Roma 10: 4-15, tentang Kebenaran.

Pada sisi lain ” berdasarkan informasi rekan-rekan pelayanannya ” Rasul Paulus menyadari betul posisi jemaat Kristen di Roma, yang saat itu sedang terjepit di antara rupa-rupa ajaran. Salah satu himpitan paling kuat adalah berasal dari warga Yahudi yang beragama Yahudi (catatan: tidak semua orang Yahudi beragama Yahudi). Bahkan juga tekanan politik dari pihak kekaisaran yang kerap kali memosisikan orang Kristen sebagai kelompok pemberontak. Di samping juga adanya konflik internal orang Kristen di Roma. Atas dasar itulah maka di dalam surat ini pun Rasul Paulus memberikan dukungan mental dan penguatan iman agar mereka betul-betul dapat menghayati kebenaran iman Kristen yang dijalaninya.

Tekanan iman dari orang Yahudi nyatanya cukup mengguncang iman orang Kristen di Roma, yaitu yang menyangkut klaim kebenaran menurut orang Yahudi berdasarkan keturunan Abraham, yaitu klaim kebenaran berdasarkan lahiriah. Bagi orang Yahudi, kebenaran tentang keselamatan itu didasari pada garis keturunan yang berasal dari Abraham. Namun, pada pasal 9, Rasul Paulus justru memberikan pencerahan bahwa kebenaran bukanlah diukur berdasarkan prestasi lahiriah manusia (9:16) melainkan atas dasar kemurahan Allah. Itu sebabnya keselamatan pun diberikan kepada bangsa-bangsa lain (9:24). Lebih lanjut pada pasal 10, ia menandaskan bahwa orang-orang Yahudi ini telah dibutakan oleh kebenaran menurut manusia (10:3), dan oleh karena itu Rasul Paulus berharap agar mereka pun dapat membuka matanya untuk melihat kebenaran berdasarkan kebenaran Allah, karena kebenaran Allah itu telah digenapi di dalam diri Tuhan Yesus (10:4).

Pada paparan-paparan selanjutnya, Rasul Paulus mengingatkan tentang betapa pentingnya kebenaran itu dinyatakan dalam bentuk tindakan. Kebenaran Firman yang amat dekat dengan kita, yaitu dalam mulut dan hati (10:5) sepatutnyalah dinyatakan dalam tindakan (10:5), sehingga dengan demikian siapa pun orangnya, dengan latar belakang etnis mana pun, suku mana pun menjadi orang-orang yang dibenarkan oleh Allah dalam laku dan tuturnya. Dengan demikian tidak ada lagi orang Yahudi ataupun Yunani (10:12), yang ada adalah orang-orang pelaku kebenaran Allah.

Rasul Paulus menyampaikan hal ini juga dalam rangka menjembatani relasi yang buruk di antara orang Kristen v.s. orang Yahudi, maupun di internal orang Kristen Roma. Singkatnya ia mau mengatakan: “stop berbicara dan mengklaim kebenaran sendiri, mulailah bangun hubungan baik berdasarkan kebenaran Allah”. Di sinilah tercermin pula harapan Rasul Paulus agar mereka dapat hidup dalam damai sejahtera.

Hal itu sepatutnya menjadi inspirasi dan juga pengingat bagi kita, warga GKP, bahwa kita hidup berdampingan dengan warga masyarakat yang amat majemuk. Klaim kebenaran iman Kristen sudah sepatutnya dinyatakan dalam laku dan tutur kata kita, yang melahirkan relasi harmonis di antara sesama anak bangsa. Kita memang akan selalu berhadapan dengan beragam hal berbeda dengan klaim-klaim kebenarannya sendiri. Belum lagi, kita akan beradapan dengan topik-topik sensitif, baik antar umat berbeda agama maupun sesama orang Kristen. Contoh: topik tentang (1) LGBT (IQ), (2) keadilan dan kesetaraan jender, (3) domba dan kambing. Begitu pula dengan topik lainnya

Lalu, di tengah-tengah klaim kebenaran menurut iman orang lain, apa yang dapat dilakukan warga GKP? Satu usulan yang dapat dijalani adalah dengan membangun relasi lintas iman yang semakin kuat, lalu bersama-sama mewujudkan kebenaran itu di dalam laku dan tutur kita, demi masyarakat yang lebih baik. Inilah wujud dari iman yang inklusif. Mari terus membangun bangsa Indonesia dengan semangat kebersamaan dan menjalani nilai-nilai kebenaran itu, bukan lagi sekedar memperdebatkan kebenaran.

POKOK PIKIRAN
1. Mengetahui Kebenaran tidak sama dengan melakukan Kebenaran
2. Berbagi Kebenaran Iman Kristen di tengah-tengah masyarakat yang majemuk
3. Melakukan Kebenaran bersama dengan warga lintas iman untuk Indonesia yang lebih baik.

(SST)



Roma 10:4-15
10:4 Hukum Agama teh kapan enggeus rengse ditedunan ku Kristus, jadi sing saha anu percaya ka Anjeunna tangtu ku Allah diangken deui.
10:5 Hal manusa bisa diangken bener ku Allah ku jalan nedunan Hukum Agama, kieu diseratkeunana ku Musa, "Saha-saha anu nurut kana Hukum Agama, tangtu hirup."
10:6 Hal manusa bisa diangken bener ku Allah ku jalan percaya, Kitab Suci nyebutkeun kieu, "Teu perlu maraneh nanya di jero hate, 'Saha nu baris naek ka sawarga?' (Maksudna pikeun ngalungsurkeun Kristus ka dunya.)
10:7 Atawa, 'Saha nu baris turun ka jero kubur?' (Maksudna ngangkat Kristus tina maot.)"
10:8 Eta kieu maksudna, "Warta ti Allah teh geus kacida santekna ka aranjeun, geus dina biwir, di jero hate aranjeun." Eta warta teh nya eta warta anu ngeunaan hal percaya tea, anu keur diwawarkeun ku sim kuring sapara kanca.
10:9 Lamun aranjeun ngaku jeung percaya yen Yesus teh Gusti, anu ku Allah geus digugahkeun tina maot, tangtu aranjeun salamet.
10:10 Ku jalan percaya, urang bisa diangken bener ku Allah, sarta ku jalan ngaku ka Anjeunna urang tangtu salamet.
10:11 Ceuk ungel Kitab Suci, "Sakur anu percaya ka Anjeunna moal kaduhung."
10:12 Ieu teh pikeun sarerea, pikeun urang Yahudi jeung bangsa-bangsa sejen, taya nu dibeda-beda. Allah teh hiji, Pangeran sarerea, anu pitulung-Na tanpa wangenan pikeun sakur anu sasambat ka Mantenna.
10:13 Sakumaha ungel Kitab Suci, "Saha-saha anu sasambat neda pitulung ka Mantenna tangtu disalametkeun."
10:14 Tapi ari henteu percaya mah rek kumaha bisa sasambat menta tulung? Jeung kumaha rek bisa percaya lamun tacan ngadenge warta tina hal eta? Jeung kumaha eta warta bisa kadenge lamun henteu diwawarkeun?
10:15 Jeung kumaha rek diwawarkeunana lamun teu aya anu diutus? Dina Kitab Suci kaungel, "Aya ku matak resep utusan daratang marawa warta anu pikabungaheun!"

---------

10:4 Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya. 10:5 Sebab Musa menulis tentang kebenaran karena hukum Taurat: "Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya." 10:6 Tetapi kebenaran karena iman berkata demikian: "Jangan katakan di dalam hatimu: Siapakah akan naik ke sorga?", yaitu: untuk membawa Yesus turun, 10:7 atau: "Siapakah akan turun ke jurang maut?", yaitu: untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati. 10:8 Tetapi apakah katanya? Ini: "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." Itulah firman iman, yang kami beritakan. 10:9 Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. 10:10 Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. 10:11 Karena Kitab Suci berkata: "Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan." 10:12 Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. 10:13 Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. 10:14 Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? 10:15 Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"







Daftar Label dari Kategori Renungan GKP 2022





NEXT:
Renungan GKP Minggu, 20 Maret 2022 - 1 Korintus 10:1-13 - MINGGU PRAPASKAH III



PREV:
Renungan GKP Rabu, 2 MARET 2022 - Yesaya 58:1-12 - RABU ABU

Arsip Renungan GKP 2022..

Register   Login